"Manava, para makhluk adalah pemilik karma, pewaris karma, lahir dari karma, terhubung melalui karma, dan karmalah penentu mereka. Karmalah yang membedakan di antara para makhluk: ada yang rendah dan ada yang mulia.”
"Saya tidak memahami makna rinci pernyataan Guru Gotama yang diucapkan secara singkat tanpa penjelasan mendetail. Akan baik sekali jika Guru Gotama mengajarkan saya Dhamma sehingga saya bisa memahami secara rinci makna dari pernyataan singkat beliau."
"Jika demikian, Manava, dengarkanlah dan perhatikanlah dengan seksama. Saya akan mengutarakannya." "Baiklah, Guru Gotama," jawab Subha, Manava. Bhagava berkata:
"Manava, ada wanita atau pria yang membunuh makhluk hidup, brutal, ‘tangan penuh darah,’ selalu membunuh, tidak mempunyai welas asih terhadap para makhluk. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan, di alam rendah, alam neraka. Jika saat tubuhnya hancur, setelah kematian – dia tidak terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan, di alam rendah, alam neraka – tapi terlahir di alam manusia, maka dia akan berumur pendek di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab berumur pendek: membunuh makhluk hidup, brutal, ‘tangan penuh darah,’ selalu membunuh, tidak mempunyai welas asih terhadap para makhluk.”
"Tapi ada wanita atau pria, setelah meninggalkan pembunuhan terhadap makhluk hidup, menghindari tindakan membunuh makhluk hidup, hidup dengan meninggalkan tongkat pemukul, meninggalkan pisau, hidup dalam sila, mempunyai welas asih dan simpati terhadap kesejahteraan semua makhluk. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan, alam dewa. Jika saat tubuhnya hancur, setelah kematian – dia tidak terlahir kembali di alam yang menyenangkan, alam dewa – tapi terlahir di alam manusia, maka dia akan berumur panjang di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab berumur panjang: meninggalkan pembunuhan terhadap makhluk hidup, menghindari tindakan membunuh makhluk hidup, hidup dengan meninggalkan tongkat pemukul, meninggalkan pisau, hidup dalam sila, mempunyai welas asih dan simpati terhadap kesejahteraan semua makhluk.”
"Ada wanita atau pria yang mencelakai makhluk hidup dengan tinjunya, dengan bongkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika saat tubuhnya hancur, setelah kematian – dia akan terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan sakit-sakitan di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab sakit-sakitan: mencelakai makhluk hidup dengan tinju, dengan bongkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau.”
"Ada wanita atau pria yang tidak mencelakai makhluk hidup dengan tinjunya, dengan bongkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan terlahir sehat di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab mempunyai kesehatan: tidak mencelakai makhluk hidup dengan tinjunya, dengan bongkahan, dengan tongkat, atau dengan pisau.”
"Ada wanita atau pria yang mudah marah dan mudah kesal; bahkan atas kritikan kecil sekalipun, mudah tersinggung, terusik, dengki dan dendam; menunjukkan rasa jengkel, tidak suka dan getir. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika dia terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan terlahir buruk rupa di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab buruk rupa: mudah marah dan mudah kesal; bahkan atas kritikan kecil sekalipun, mudah tersinggung, terusik, dengki dan dendam; menunjukkan rasa jengkel, tidak suka dan getir.”
"Ada wanita atau pria yang tidak mudah marah dan tidak mudah kesal; sekalipun banyak dikritik, tidak mudah tersinggung, tidak terusik, tidak dengki dan tidak dendam; tidak menunjukkan rasa jengkel, tidak suka maupun getir. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan terlahir rupawan di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab rupawan: tidak mudah marah dan tidak mudah kesal; sekalipun banyak dikritik, dia tidak mudah tersinggung, tidak terusik, tidak dengki dan tidak dendam; tidak menunjukkan rasa jengkel, tidak suka maupun getir.”
"Ada wanita atau pria yang iri hati. Dia iri, cemburu, dan mendambakan apa yang orang lain dapatkan, ingin dihormati, dihargai, dipuji dan disanjung. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika dia terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan terlahir tanpa mempunyai pengaruh. Inilah sebab tak mempunyai pengaruh: iri, cemburu, dan mendambakan apa yang orang lain dapatkan, ingin dihormati, dihargai, dipuji dan disanjung.”
"Ada wanita atau pria yang tidak iri hati. Dia tidak iri, tidak cemburu, dan tidak mendambakan apa yang orang lain dapatkan, tidak mencari penghormatan, penghargaan, pujian atau sanjungan. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir kembali di alam manusia, maka dia akan mempunyai pengaruh di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab mempunyai pengaruh: tidak iri, tidak cemburu, dan tidak mendambakan apa yang orang lain dapatkan, tidak mencari penghormatan, penghargaan, pujian atau sanjungan.”
“Ada wanita atau pria yang tidak mempersembahkan makanan, minuman, pakaian, alas kaki, karangan bunga, wewangian, minyak oles, tempat tidur, tempat tinggal, atau pelita kepada para Brahmana atau para samana. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir miskin di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab terlahir miskin: tidak mempersembahkan makanan, minuman, pakaian, alas kaki, karangan bunga, wewangian, minyak oles, tempat tidur, tempat tinggal, atau pelita kepada para Brahmana atau para samana.”
“Tetapi ada wanita atau pria yang mempersembahkan makanan, minuman, pakaian, alas kaki, karangan bunga, wewangian, minyak oles, tempat tidur, tempat tinggal, atau pelita kepada para Brahmana atau para samana. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir kaya. Inilah sebab mempunyai kekayaan berlimpah: mempersembahkan makanan, minuman, pakaian, alas kaki, karangan bunga, wewangian, minyak oles, tempat tidur, tempat tinggal, atau pelita kepada para Brahmana atau para samana.”
"Ada wanita atau pria yang keras kepala dan arogan. Dia tidak memberi hormat pada mereka yang layak dihormati, tidak berdiri dari tempat duduknya untuk mereka di mana seseorang seharusnya berdiri dari tempat duduknya, tidak memberikan tempat duduk untuk mereka di mana seseorang seharusnya memberikan tempat duduk, tidak memberi jalan untuk mereka di mana seseorang seharusnya memberi jalan, tidak mengagungkan mereka yang layak diagungkan, tidak menghormati mereka yang layak dihormati. Tidak menjunjung mereka yang layak dijunjung, atau tidak menghargai mereka yang layak dihargai. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir rendah di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab terlahir rendah: keras kepala dan arogan, tidak memberi hormat pada mereka yang layak dihormati, tidak berdiri dari tempat duduknya … tidak memberikan tempat duduk … tidak memberi jalan … tidak mengagungkan … tidak menghormati … tidak menjunjung … maupun tidak menghargai mereka yang layak dihargai.”
“Tetapi ada wanita atau pria yang tidak keras kepala maupun tidak arogan. Dia memberi hormat pada mereka yang layak dihormati, berdiri dari tempat duduknya … memberikan tempat duduk … memberi jalan … mengagungkan … menghormati … menjunjung … menghargai mereka yang layak dihargai. Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir agung di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab terlahir agung: tidak keras kepala maupun tidak arogan, memberi hormat pada mereka yang layak dihormati, berdiri dari tempat duduknya … memberikan tempat duduk … memberi jalan … mengagungkan … menghormati … menjunjung … menghargai mereka yang layak dihargai.”
"Ada wanita atau pria yang ketika mengunjungi seorang Brahmana atau samana, tidak bertanya: ‘Bhante, apakah tindakan yang bermanfaat (kusala) itu? Apakah tindakan yang tak bermanfaat (akusala) itu? Apa yang patut dicela? Apa yang bebas dari rasa bersalah? Apa yang harus ditumbuhkembangkan? Apa yang tak seharusnya ditumbuhkembangkan? Apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa penderitaan dan dukkha untuk jangka panjang? Atau apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan untuk jangka panjang?’ Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang tidak menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir dungu di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab terlahir dungu: ketika mengunjungi seorang Brahmana atau samana, tidak bertanya: ‘Apakah tindakan yang bermanfaat (kusala) itu? ... Atau apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan untuk jangka panjang?’”
"Ada wanita atau pria yang ketika mengunjungi seorang Brahmana atau samana, bertanya: ‘Bhante, apakah tindakan yang bermanfaat (kusala) itu? Apakah tindakan yang tak bermanfaat (akusala) itu? Apa yang patut dicela? Apa yang bebas dari rasa bersalah? Apa yang harus ditumbuhkembangkan? Apa yang tak seharusnya ditumbuh-kembangkan? Apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa penderitaan dan dukkha untuk jangka panjang? Atau apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan untuk jangka panjang?’ Setelah menjalankan dan melakukan tindakan-tindakan demikian, saat tubuhnya hancur, setelah kematian, dia terlahir kembali di alam yang menyenangkan … Jika dia terlahir di alam manusia, maka dia akan terlahir pandai di mana pun dia dilahirkan. Inilah sebab terlahir pandai: ketika mengunjungi seorang Brahmana atau samana, bertanya: ‘Apakah tindakan yang bermanfaat (kusala) itu? ... Atau apa yang telah saya lakukan, yang akan membawa kesejahteraan dan kebahagiaan untuk jangka panjang?’”
“Jadi, Manava, cara hidup yang menyebabkan umur pendek membuat orang berumur pendek, cara hidup yang menyebabkan umur panjang membuat orang berumur panjang; cara hidup yang menyebabkan sakit-sakitan membuat orang sakit-sakitan, cara hidup yang menyebabkan sehat membuat orang sehat; cara hidup yang menyebabkan buruk rupa membuat orang buruk rupa, cara hidup yang menyebabkan rupawan membuat orang rupawan; cara hidup yang menyebabkan kurangnya pengaruh membuat orang tak berpengaruh; cara hidup yang menyebabkan pengaruh membuat orang berpengaruh; cara hidup yang menyebabkan miskin membuat orang miskin; cara hidup yang menyebabkan kaya membuat orang kaya; cara hidup yang menyebabkan terlahir rendah membuat orang terlahir rendah; cara hidup yang menyebabkan terlahir agung membuat orang terlahir agung; cara hidup yang menyebabkan dungu membuat orang dungu; cara hidup yang menyebabkan pandai membuat orang pandai.”
Para makhluk adalah pemilik karma, pewaris karma, lahir dari karma, terhubung melalui karma, dan karmalah penentu mereka. Karmalah yang membedakan di antara para makhluk: ada yang rendah dan ada yang mulia …
Ketika hal ini dikatakan, Subha, Manava, putra dari Todeyya berkata kepada Bhagava: “Luar biasa, Bhagava! Luar biasa! Seperti halnya membetulkan sesuatu yang posisinya terbalik, menyingkap apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada mereka yang tersesat, atau membawa lampu dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat wujud, begitu pula melalui banyak penalaran Guru Gotama telah membuat Dhamma menjadi jelas. Saya mengandalkan Guru Gotama, Dhamma, dan Sangha para bhikkhu. Agar Guru Gotama mengingat saya sebagai seorang upasaka yang mengandalkan beliau, mulai hari ini, sepanjang hidup.”
***
Sumber: "Cula-kammavibhanga Sutta: The Shorter Analysis of Action" (MN 135), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.135.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Januari 2019.





