“Begitu pula, di masa mendatang, akan ada para biksu yang tidak mau mendengarkan ketika ajaran-ajaran, kata-kata dari Tathagata, dilafalkan – ajaran yang mendalam, bermakna dalam, transenden, mengenai sunnata (gambhīrā gambhiratthā lokuttarā suññatapaṭisaṃyuttā). Mereka tidak menyimaknya, tidak menaruh perhatian untuk memahaminya, tidak menganggap ajaran-ajaran ini patut dimengerti atau dikuasai. Tetapi mereka akan tertarik ketika ajaran-ajaran berupa karya-karya literatur, dilafalkan – karya-karya para pujangga, yang nadanya indah, penyampaiannya elegan, karya orang-orang yang bukan ahlinya, kata-kata para Savaka. Mereka akan menyimaknya dan menaruh perhatian untuk memahami ajaran-ajaran demikian. Mereka akan menganggap ajaran-ajaran ini patut dimengerti dan dikuasai.
“Dengan demikian, menghilangnya ajaran-ajaran, kata-kata dari Tathagata akan terjadi – ajaran yang mendalam, bermakna dalam, transenden, mengenai sunnata (gambhīrā gambhiratthā lokuttarā suññatapaṭisaṃyuttā).
“Oleh karena itu, kalian seharusnya melatih diri demikian: ‘Kami akan mendengarkan ketika ajaran-ajaran, kata-kata dari Tathagata, dilafalkan – ajaran yang mendalam, bermakna dalam, transenden, mengenai sunnata (gambhīrā gambhiratthā lokuttarā suññatapaṭisaṃyuttā). Kami akan menyimaknya, menaruh perhatian untuk memahaminya, menganggap ajaran-ajaran ini patut dimengerti dan dikuasai.’ Demikianlah kalian seharusnya melatih diri.”
***
Sumber: "Ani Sutta: The Peg" (SN 20.7), translated from the Pali by Thanissaro Biksu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/sn/sn20/sn20.007.than.html.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Mei 2019.





