Sutta Pali

Sutta Canki: Dengan Canki (Canki Sutta: With Canki) [Majjhima Nikaya 95]

… Pada waktu itu Bhagavan sedang duduk, bertegur sapa dan berbincang-bincang dengan beberapa Brahmana yang sangat senior. Waktu itu seorang murid keturunan Brahmana bernama Kapadika sedang duduk dalam perkumpulan tersebut: masih muda, kepala tercukur, 16 tahun umurnya, menguasai tiga Veda – kosa kata, liturgi, fonologi – serta etimologi dan sejarah, yang merupakan keterampilan kelima; terampil dalam ilmu bahasa dan tata bahasa, menguasai kosmologi dan tanda-tanda manusia agung (mahāpurusalakkhaṇa). Sewaktu para Brahmana yang sangat senior sedang berbincang-bincang dengan Bhagavan, dia terus-menerus menyela dan menginterupsi pembicaraan mereka.

Kemudian Bhagavan menegurnya, “Yang Mulia Bharadvaja, janganlah menyela dan menginterupsi ketika para Brahmana yang sangat senior sedang berbincang-bincang. Tunggulah hingga mereka selesai berbicara.”

Ketika ini dikatakan, Brahmana Canki berkata kepada Bhagavan, “Sahabat Gotama, janganlah menegur murid Brahmana, Kapadika. Dia adalah kulaputra, berpengetahuan, orang yang bijaksana (pandita), fasih berbicara. Dia mampu mengikuti perbincangan ini dengan Sahabat Gotama.”

Kemudian muncul pemikiran dalam diri Bhagavan, “Ya, murid keturunan Brahmana ini, Kapadika, mestinya menguasai teks-teks dari tiga Veda sehingga para Brahmana begitu menghormatinya.”

Kemudian muncul pemikiran dalam diri Kapadika, “Sewaktu Samana Gotama bertatap mata denganku, saya akan mengajukan beliau suatu pertanyaan.”

Mengetahui pikiran Kapadika, Bhagavan bertatap mata dengannya. Kapadika berpikir, “Samana Gotama mengalihkan perhatiannya pada saya. Bagaimana jika saya mengajukan beliau suatu pertanyaan.” Lalu dia berkata kepada Bhagavan, “Sahabat Gotama, mengenai kidung-kidung klasik para Brahmana – yang diturunkan melalui transmisi lisan dan tertera dalam kitab ajaran mereka – para Brahmana menyimpulkan dengan pasti bahwa “Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.” Bagaimana pendapat Sahabat Gotama mengenai hal ini?”

“Bharadvaja, katakanlah padaku, di antara para Brahmana, apakah ada seorang pun yang mengatakan, ‘Ini saya tahu; ini saya lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah?’”

“Tidak, Sahabat Gotama.”

“Dan apakah ada di antara guru para Brahmana atau guru dari gurunya hingga tujuh generasi sebelumnya yang mengatakan, ‘Ini saya tahu; ini saya lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah?’”

“Tidak, Sahabat Gotama.”

“Dan di antara para Brahmana di masa lalu, pencipta kidung-kidung, penyusun kidung-kidung – kidung-kidung klasik yang dilantunkan, dilafalkan, dan dikumpulkan di mana para Brahmana masa kini masih lantunkan, lafalkan, mengulang apa yang dikatakan, mengulang apa yang diucapkan, yakni Atthaka, Vamaka, Vamadeva, Vessamitta, Yamataggi, Angirasa, Bharadvaja, Vasettha, Kassapa, dan Bhagu: apakah ada satu pun di antara mereka yang mengatakan, ‘Ini kami tahu; ini kami lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah?’”

“Tidak, Sahabat Gotama.”

“Jika demikian Bharadvaja, tampaknya tak seorang pun di antara para Brahmana yang mengatakan, ‘Ini saya tahu; ini saya lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Dan tak satu pun di antara guru para Brahmana atau guru dari gurunya hingga tujuh generasi sebelumnya yang mengatakan, ‘Ini saya tahu; ini saya lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Dan tak satu pun di antara para Rsi Brahmana di masa lalu, pencipta kidung-kidung, penyusun kidung-kidung … tak satu pun yang mengatakan, ‘Ini kami tahu; ini kami lihat; hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’”

Seandainya ada deretan orang-orang buta, masing-masing berpegangan pada orang di depannya: orang yang pertama tidak melihat, orang yang di tengah tidak melihat, orang yang terakhir tidak melihat. Begitu pula, pernyataan yang dibuat para Brahmana adalah seperti deretan orang-orang buta, di mana: orang yang pertama tidak melihat, orang yang di tengah tidak melihat, orang yang terakhir tidak melihat. Jadi Bharadvaja, bagaimanakah pendapatmu: jika begitu, bukankah keyakinan para Brahmana tersebut tidak berdasar?”

“Sahabat Gotama, para Brahmana menjunjung ini bukan semata-mata karena keyakinan. Mereka juga menjunjungnya karena tradisi yang turun-temurun.”

“Bharadvaja, pertama-tama engkau membicarakan keyakinan. Sekarang engkau mengatakan tradisi yang turun-temurun. Ada lima hal yang bisa membawa dua kemungkinan di sini dan sekarang. Apakah kelima hal tersebut? Keyakinan (saddhā), rasa suka/menyukai hal itu (ruci), tradisi yang turun-temurun (anussava), tampak masuk akal dari perumpamaan yang digunakan (ākāraparivitakka), dan menerima itu setelah menganalisisnya (diṭṭhinijjhānakkhanti). Inilah lima hal yang bisa membawa dua kemungkinan di sini dan sekarang. Lalu ada hal-hal tertentu yang dianut secara kokoh karena keyakinan namun itu sia-sia, hampa, dan keliru. Ada hal-hal tertentu yang tidak dipegang secara kokoh karena keyakinan namun itu sejati, faktual, dan tidak keliru. Ada hal-hal tertentu yang karena rasa suka … tradisi yang benar-benar turun-temurun … tampak sangat masuk akal … Ada hal-hal tertentu yang sudah dianalisis namun itu sia-sia, hampa, dan keliru. Ada hal-hal tertentu yang tidak melalui analisis namun itu sejati, faktual, dan tidak keliru. Dalam kasus-kasus seperti itu, tidaklah tepat bagi seseorang yang berpengetahuan, seseorang yang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar untuk menyimpulkan secara pasti, ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’”

“Namun Sahabat Gotama, bagaimana bisa disebut menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar? Sejauh mana seseorang bisa disebut menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar.”

“Jika ada orang yang mempunyai keyakinan, yang membuat pernyataan ‘Ini keyakinan saya’ – itu menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Namun sebenarnya dia belum dapat menyimpulkan secara pasti, ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Bharadvaja, itulah yang disebut menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Saya katakan ini adalah menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar, namun ini belum mengerti apa yang dianggap benar.”

“Jika ada orang yang karena rasa suka (menyukai hal itu) … mengikuti tradisi yang turun-temurun … tampak masuk akal dari perumpamaan yang digunakan … menerima itu setelah menganalisisnya – dan menyatakan ‘Ini dapat saya terima, setelah menganalisisnya’ – itu menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Namun sebenarnya dia belum dapat menyimpulkan secara pasti, ‘Hanya ini yang benar; yang lainnya salah.’ Bharadvaja, itulah yang disebut menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Saya katakan ini adalah menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar, namun ini belum mengerti apa yang dianggap benar.”

“Ya, Sahabat Gotama, inilah yang disebut menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Kami menganggap ini menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Namun bagaimana bisa disebut mengerti apa yang dianggap benar? Sejauh mana seseorang bisa disebut mengerti apa yang dianggap benar? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang mengerti apa yang dianggap benar.”

“Bharadvaja, ada kejadian di mana seorang biksu menetap di desa atau kota tertentu. Lalu seorang perumah tangga atau putra perumah tangga pergi menemuinya dan mengamati apakah biksu tersebut mempunyai tiga kualitas mental – kualitas yang didasari ketamakan (lobha), kualitas yang didasari penolakan (dosa), kualitas yang didasari delusi (moha): ‘Dalam diri biksu ini, apakah ada kualitas yang dilandasi ketamakan, di mana citta-nya diliputi kualitas ini sehingga dia mungkin berkata, “Saya tahu” padahal dia tidak tahu, atau berkata “Saya melihatnya,” padahal dia tidak melihatnya; atau dia mungkin menganjurkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang jangka panjangnya akan membawa kerugian dan penderitaan untuk orang tersebut?’ Dengan mengamati biksu tersebut, dia tahu, ‘Dalam diri biksu ini, tiada satu pun kualitas yang didasari ketamakan … perbuatan dan ucapannya tidak dilandasi ketamakan. Dan Dhamma yang beliau ajarkan adalah dalam, sulit dilihat, sulit direalisasi, damai, murni, bebas dari dugaan, mendalam, hanya dapat dialami oleh para bijaksana (pandita). Dhamma demikian tak dapat dengan mudah diajarkan oleh seseorang yang diliputi ketamakan.”

Setelah mengamati bahwa biksu tersebut bebas dari kualitas yang dilandasi ketamakan, lalu dia mengamati biksu tersebut sehubungan dengan kualitas yang dilandasi penolakan (dosa): ‘Dalam diri biksu ini, apakah ada kualitas yang dilandasi penolakan, di mana citta-nya diliputi kualitas ini sehingga dia mungkin berkata, “Saya tahu” padahal dia tidak tahu, atau berkata “Saya melihatnya,” padahal dia tidak melihatnya; atau dia mungkin menganjurkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang jangka panjangnya akan membawa kerugian dan penderitaan untuk orang tersebut?’ Dengan mengamati biksu tersebut, dia tahu, ‘Dalam diri biksu ini, tiada satu pun kualitas yang didasari penolakan … perbuatan dan ucapannya tidak dilandasi penolakan. Dan Dhamma yang beliau ajarkan adalah dalam, sulit dilihat, sulit direalisasi, damai, murni, bebas dari dugaan, mendalam, hanya dapat dialami oleh para bijaksana (pandita). Dhamma demikian tak dapat dengan mudah diajarkan oleh seseorang yang diliputi penolakan.

Setelah mengamati bahwa biksu tersebut bebas dari kualitas yang dilandasi penolakan, lalu dia mengamati biksu tersebut sehubungan dengan kualitas yang dilandasi delusi (moha): ‘Dalam diri biksu ini, apakah ada kualitas yang dilandasi delusi, di mana citta-nya diliputi kualitas ini sehingga dia mungkin berkata, “Saya tahu” padahal dia tidak tahu, atau berkata “Saya melihatnya,” padahal dia tidak melihatnya; atau dia mungkin menganjurkan orang lain untuk melakukan sesuatu yang jangka panjangnya akan membawa kerugian dan penderitaan untuk orang tersebut?’ Dengan mengamati biksu tersebut, dia tahu, ‘Dalam diri biksu ini, tiada satu pun kualitas yang didasari delusi … perbuatan dan ucapannya tidak dilandasi delusi. Dan Dhamma yang beliau ajarkan adalah dalam, sulit dilihat, sulit direalisasi, damai, murni, bebas dari dugaan, mendalam, hanya dialami oleh para bijaksana (pandita). Dhamma demikian tak dapat dengan mudah diajarkan oleh seseorang yang diliputi delusi.

Dengan mengamati bahwa biksu tersebut bebas dari kualitas yang dilandasi delusi, timbullah keyakinan terhadap biksu tersebut. Dengan timbulnya keyakinan, dia mendatanginya dan menjalin kedekatan dengannya. Menjalin kedekatan dengannya, dia menyimak. Dengan menyimak, dia mendengarkan Dhamma. Dengan mendengarkan Dhamma, dia mengingat Dhamma. Dengan mengingat Dhamma, dia menyelami makna ajaran-ajaran tersebut. Dengan menyelami maknanya, dia menerima itu setelah menganalisisnya. Dengan menerima ajaran setelah menganalisisnya, timbullah keinginan. Dengan adanya keinginan, timbullah kemauan (berkomitmen secara aktif). Dengan adanya kemauan, dia berkontemplasi (secara harafiah: “menimbang,” “membandingkan”). Dengan berkontemplasi, dia mengerahkan usaha. Dengan mengerahkan usaha, dia menghayati apa yang dianggap benar dengan tubuhnya dan melihat apa yang dianggap benar dengan menyelaminya melalui ketajaman pikiran (panna).

“Bharadvaja, inilah yang disebut mengerti apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang mengerti apa yang dianggap benar. Saya katakan ini adalah mengerti apa yang dianggap benar, namun ini belum menghayati apa yang dianggap benar.”

“Ya, Sahabat Gotama, inilah yang disebut mengerti apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang mengerti apa yang dianggap benar. Kami menganggap ini mengerti apa yang dianggap benar. Namun bagaimana bisa disebut menghayati apa yang dianggap benar? Sejauh mana seseorang bisa disebut menghayati apa yang dianggap benar? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang menghayati apa yang dianggap benar.”

“Bharadvaja, menumbuhkan, mengembangkan dan menjalankan kualitas-kualitas tersebut: itulah menghayati apa yang dianggap benar. Demikianlah akhirnya seseorang menghayati apa yang dianggap benar. Saya katakan ini adalah menghayati apa yang dianggap benar.”

“Ya, Sahabat Gotama, inilah yang disebut menghayati apa yang dianggap benar. Demikianlah seseorang akhirnya menghayati apa yang dianggap benar. Kami menganggap ini menghayati apa yang dianggap benar. Namun kualitas apa yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang kualitas yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar.”

“Bharadvaja, mengerahkan usaha adalah yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar. Jika seseorang tidak mengerahkan usaha, dia tak akan menghayati apa yang dianggap benar. Karena mengerahkan usaha, dia akhirnya menghayati apa yang dianggap benar. Oleh karena itu, mengerahkan usaha adalah yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar.”

“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk mengerahkan usaha? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang kualitas yang paling membantu untuk mengerahkan usaha.”

“Bharadvaja, berkontemplasi adalah kualitas yang paling membantu untuk mengerahkan usaha. Jika seseorang tidak berkontemplasi, dia tak akan mengerahkan usaha. Karena berkontemplasi, dia mengerahkan usaha. Oleh karena itu, berkontemplasi adalah yang paling membantu untuk mengerahkan usaha.”

“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk berkontemplasi? …”
Berkemauan … Jika seseorang tidak mempunyai kemauan, dia tak akan berkontemplasi …”
“Lalu kualitas apa yang paling membantu agar mempunyai kemauan? …”
Ada keinginan … jika tidak ada keinginan, seseorang tak akan mempunyai kemauan …”
“Lalu kualitas apa yang paling membantu agar ada keinginan? …”

Menerima ajaran setelah menganalisisnya … Jika seseorang tidak menerima ajaran dengan menganalisisnya, tak akan ada keinginan …”

“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk menerima ajaran setelah menganalisisnya? …”

Menyelami maknanya … Jika seseorang tidak menyelami maknanya, dia tak akan menerima ajaran setelah menganalisisnya …”

“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk menyelami makna ajaran? …”
Mengingat Dhamma … Jika seseorang tidak mengingat Dhamma, dia tak akan menyelami maknanya …”
“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk mengingat Dhamma? …”

Dhammadhāraṇāya pana bho gotama, katamo dhammo bahukāro? Dhammadhāraṇāya bahukāraṃ dhammaṃ mayaṃ bhavantaṃ gotamaṃ pucchāmāti.


"Hearing the Dhamma... If one didn't hear the Dhamma, one wouldn't remember the Dhamma..."

Mendengarkan Dhamma … Jika seseorang tidak mendengarkan Dhamma, dia tak akan mengingat Dhamma …”

Dhammadhāraṇāya kho bhāradvāja, dhammasavanaṃ bahukāraṃ no cetaṃ dhammaṃ suṇeyya, nayidaṃ dhammaṃ dhāreyya. Yasmā ca kho dhammaṃ suṇāti, tasmā dhammaṃ dhāreti tasmā dhammadhāraṇāya dhammasavanaṃ bahukāranti.

“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk mendengarkan Dhamma?”
Menyimak … Jika seseorang tidak menyimak, dia tak akan mendengarkan Dhamma … ”
“Lalu kualitas apa yang paling dibutuhkan untuk menyimak? …”
Menjalin kedekatan … Jika seseorang tidak menjalin kedekatan, dia tak akan menyimak …”
“Lalu kualitas apa yang paling membantu untuk menjalin kedekatan? …”
Mendatangi … Jika seseorang tidak mendatangi, tidak akan ada jalinan kedekatan …”

“Lalu kualitas apa yang paling diperlukan untuk mendatangi? Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang kualitas yang paling diperlukan untuk mendatangi.”

“Bharadvaya, keyakinan adalah kualitas yang paling membantu untuk mendatangi. Jika tidak ada keyakinan [terhadap seseorang], dia tidak akan mendatangi [orang tersebut]. Karena adanya keyakinan, dia mendatangi. Oleh karena itu, keyakinan adalah paling membantu untuk mendatangi.”

“Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar dan Sahabat Gotama telah menjawab tentang menjaga kesinambungan atas apa yang dianggap benar. Kami senang, setuju, dan bahagia. Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang mengerti apa yang dianggap benar dan Sahabat Gotama telah menjawab tentang mengerti apa yang dianggap benar. Kami senang, setuju, dan bahagia. Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang menghayati apa yang dianggap benar dan Sahabat Gotama telah menjawab tentang menghayati apa yang dianggap benar. Kami senang, setuju, dan bahagia. Kami menanyakan Sahabat Gotama tentang kualitas yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar dan Sahabat Gotama telah menjawab tentang kualitas yang paling membantu untuk menghayati apa yang dianggap benar. Kami senang, setuju, dan bahagia. Apa pun yang kami tanyakan kepada Sahabat Gotama, beliau sudah menjawabnya. Kami senang, setuju, dan bahagia.”

“Sebelumnya kami berpikir, ‘Siapakah para “samana” berkepala botak ini, orang-orang rendah, keturunan berkulit gelap dari kaki Brahma? Memangnya mereka siapa bisa mengerti Dhamma?’ Tetapi sekarang Sahabat Gotama telah menginspirasi kami cinta kasih kontemplatif untuk para samana, keyakinan kontemplatif untuk para samana, penghormatan kontemplatif untuk para samana. Luar biasa, Bhagavan! Luar biasa! Seperti halnya membetulkan sesuatu yang posisinya terbalik, menyingkap apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada mereka yang tersesat, atau membawa pelita dalam kegelapan sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat wujud, begitu pula melalui banyak penalaran Bhagavan telah membuat Dhamma menjadi jelas. Saya mengandalkan Bhagavan Gotama, Dhamma, dan Sangha para biksu. Agar Bhagavan Gotama mengingat saya sebagai upasaka yang mengandalkan Tiratana (Tiga Permata), mulai hari ini, sepanjang hidup.”

***

Sumber Bahasa Inggris: "Canki Sutta: With Canki" (MN 95), translated from the Pali by Thanissaro Biksu. https://www.dhammatalks.org/suttas/MN/MN95.html.


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Revisi: September 2018.

Baca Lebih Lanjut