Sutta Pali

Vinaya Cullavagga V.33 (Vinaya II 139, 1-16)

Suatu ketika ada dua bersaudara bernama Yamelu dan Tekula, dari keluarga Brahmana yang memiliki suara yang indah dan dapat melafal dengan jelas. Mereka mendatangi Buddha … dan berkata:

“Bhante, dewasa ini ada banyak biksu dari berbagai nama, dari berbagai keturunan, dari berbagai negeri dan berbagai suku, yang telah meninggalkan kehidupan berumah tangga (ber-pabbaja). Mereka merusak kata-kata Buddha dengan nirutti (dialek, bahasa, sebutan) mereka masing-masing (lokal/setempat). Mari kita teruskan dan lestarikan (aropema) kata-kata Buddha (buddhavacana) dalam chanda (cara sebagaimana Veda diingat dan dilafalkan).”

Buddha menegur keras mereka, “Bagaimana kalian bisa berkata begitu, orang-orang dungu, ‘Mari kita teruskan dan lestarikan (aropema) kata-kata Buddha (buddhavacana) dalam chanda (cara sebagaimana Veda diingat dan dilafalkan)’? Orang-orang dungu, hal ini tidak membantu menumbuhkan keyakinan orang-orang yang tidak percaya, tidak membuat kebajikan meningkat, dan ini adalah anggapan keliru dari sebagian kecil orang.”

Setelah menegur mereka dan menyampaikan suatu ajaran Dharma, beliau berkata kepada para biksu, “Kata-kata Buddha seyogianya tidak dilestarikan dalam chanda. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, dia melakukan pelanggaran kategori dukkhata. Para biksu, saya instruksikan, kata-kata Buddha (buddhavacana) harus dipelajari secara seksama sesuai dengan dialek, bahasa, sebutan setempat (sakāya niruttiya).

***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center. Juli 2018.

Baca Lebih Lanjut