Sutta Pali

Sutta Yoga: Terikat (Yoga Sutta: Bondage) Yogasuttaṃ [AN 4.10]

“Para biksu, ada empat ikatan. Apakah keempat ikatan tersebut? Terikat kesenangan indrawi (kāmayoga), terikat ‘ingin menjadi/menjelma’ (bhavayoga), terikat pandangan (diṭṭhiyoga), dan terikat kesalahpengertian (avijjāyoga).”

Terikat Kesenangan Indrawi (Kāmayoga)

“Dan para biksu, apakah terikat kesenangan indrawi (kāmayoga) itu? Para biksu, itu adalah ketika seseorang tidak mengerti timbulnya (samudaya), hilangnya (atthagama), nikmatnya (assāda), kerugiannya (ādīnava), dan ditinggalkannya (nissaraṇa) kesenangan indrawi – sebagaimana adanya. Barangsiapa yang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya kesenangan indrawi; (maka) mengenai kesenangan indrawi, dia dirongrong ketertarikan terhadap kesenangan indrawi (kāmarāga), berharap mendapat kenyamanan dari kesenangan indrawi (kāmanandi), menyukai kesenangan indrawi (kāmasineha), mabuk akan kesenangan indrawi (kāmamucchā), dahaga akan kesenangan indrawi (kāmapipāsā), kecanduan akan kesenangan indrawi (kāmapariḷāha), terkekang kesenangan indrawi (kāmajjhosāna), merasa kekurangan dan mendambakan kesenangan indrawi (kāmataṇhā): para biksu, inilah yang disebut terikat kesenangan indrawi. Karenanya, terikat kesenangan indrawi.”

Terikat ‘Ingin Menjadi/Menjelma’ (Bhavayoga)

“Dan apakah terikat ‘ingin menjadi’ (bhavayoga) itu? Para biksu, itu adalah ketika seseorang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya ‘ingin menjadi’ – sebagaimana adanya. Barangsiapa yang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya ‘ingin menjadi’; (maka) mengenai ‘ingin menjadi,’ dia dirongrong ketertarikan ‘ingin menjadi’ (bhavarāgo), berharap mendapat kenyamanan dari ‘ingin menjadi’ (bhavanandi), menyukai ‘ingin menjadi’ (bhavasineha), mabuk ‘ingin menjadi’ (bhavamucchā), dahaga ‘ingin menjadi’ (bhavapipāsā), kecanduan ‘ingin menjadi’ (bhavapariḷāha), terkekang ‘ingin menjadi’ (bhavajjhosāna), merasa kekurangan dan mendambakan ‘ingin menjadi’ (bhavataṇhā): para biksu, inilah yang disebut terikat ‘ingin menjadi.’ Karenanya, terikat kesenangan indrawi dan terikat ‘ingin menjadi.’”

Terikat Pandangan (Diṭṭhiyoga)

“Dan apakah terikat pandangan (diṭṭhiyoga) itu? Para biksu, itu adalah ketika seseorang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya pandangan – sebagaimana adanya. Barangsiapa yang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya pandangan; (maka) mengenai pandangan, dia dirongrong ketertarikan terhadap pandangan (diṭṭhirāga), berharap mendapat kenyamanan dari pandangan (diṭṭhinandi), menyukai pandangan (diṭṭhisineha), mabuk akan pandangan (diṭṭhimucchā), dahaga akan pandangan (diṭṭhipipāsā), kecanduan akan pandangan (diṭṭhipariḷāha), terkekang pandangan (diṭṭhiajjhosāna), merasa kekurangan dan mendambakan pandangan (diṭṭhitaṇhā): para biksu, inilah yang disebut terikat pandangan. Karenanya, terikat kesenangan indrawi, terikat ‘ingin menjadi,’ dan terikat pandangan.”

Terikat Kesalahpengertian (Avijjāyoga)

“Dan apakah terikat kesalahpengertian (avijjāyoga) itu? Para biksu, itu adalah ketika seseorang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya enam lingkup kontak indrawi – sebagaimana adanya. Barangsiapa yang tidak mengerti timbulnya, hilangnya, nikmatnya, kerugiannya, dan ditinggalkannya enam lingkup kontak indrawi; (maka) mengenai kesalahpengertian terhadap enam lingkup kontak indrawi, dia dirongrong penyangkalan akan pengertian: para biksu, inilah yang disebut terikat kesalahpengertian.”

Oleh karena itu, terikat kesenangan indrawi, terikat ‘ingin menjadi’ (bhava), terikat pandangan, dan terikat kesalahpengertian: terikat dengan pengalaman dan pikiran yang tidak bajik dan tidak bermanfaat – menyebabkan kilesa, menciptakan penjelmaan baru, tidak menyenangkan, mengakibatkan dukkha, serta membawa kelahiran, penuaan, dan kematian yang berkelanjutan di masa mendatang – karenanya, itu disebut ‘tiada damai, atau tiada reda dari ikatan.’ Para biksu, inilah keempat ikatan.



Terikat kesenangan indrawi, dan terikat ‘ingin menjadi’ (bhava),

Terikat pandangan, dan terselimuti kesalahpengertian,

Makhluk-makhluk mengalami kelahiran dan kematian dalam samsara.


Tapi mereka yang mengerti sepenuhnya keinginan indrawi dan segala aspek dari ‘ingin menjadi’ (bhava),

Menghilangkan ikatan pandangan, dan tak lagi terikat kesalahpengertian,

Bebas dari semua ikatan: mereka adalah para bijaksana (Muni) yang mengatasi semua ikatan.


***

Sumber: “Yoga Sutta: Bondage” (AN 4.10), translated from the Pali by K. Nizamis. Access to Insight (BCBS Edition), 2 November 2013. http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an04/an04.010.niza.html.


Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Mei 2018.

Baca Lebih Lanjut