Sutta Pali

Pertikaian di Dalam Sangha (Dissensions in the Order) [The Culla Vagga, Seventh Khandhaka]

Waktu itu, Bhagava sedang menetap di Anupiya, kota suku Malla. Waktu itu, yang paling terkemuka di antara pemuda-pemuda suku Sakya telah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk mengikuti jejak Bhagava.

Waktu itu ada dua kakak-beradik dari suku Sakya, Mahanama dan Anuruddha. Anuruddha dibesarkan dalam kemanjaan; dia memiliki tiga rumah bertingkat, satu untuk musim dingin, satu untuk musim panas, dan satu untuk musim hujan. Selama empat bulan tinggal di rumah musim hujan, dia dilayani oleh wanita-wanita yang memainkan musik (nippurisehi turiyehi), dan dia tidak turun dari lantai atas kediamannya.

Saat itu Mahanama berpikir: ‘Yang paling terkemuka di antara pemuda-pemuda suku Sakya sudah meninggalkan kehidupan berumah tangga untuk mengikuti jejak Bhagava, tapi dari keluarga kita sendiri, tidak ada yang ber-pabbaja meninggalkan kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu, saya atau Anuruddha, akan meninggalkan kehidupan berumah tangga.’ Lalu dia pergi menemui Anuruddha, dan berkata demikian kepadanya, ‘Jika engkau tidak ber-pabbaja, saya akan ber-pabbaja.’

‘Saya terbiasa hidup nyaman. Tidak mungkin saya meninggalkan kehidupan berumah tangga dan ber-pabbaja. Engkau saja yang ber-pabbaja.’

‘Tetapi ayolah, oh Anuruddha tercinta, saya akan menceritakan kepadamu apa yang harus dilakukan dengan hidup berumah tangga. Pertama-tama, engkau harus membajak sawah. Setelah itu, engkau harus menanam. Setelah itu, engkau harus mengairinya. Setelah itu, engkau harus mengeringkan airnya. Setelah itu, engkau harus mencabut rumput-rumput liar (niddâpeti). Setelah itu, engkau harus memanennya. Setelah itu, engkau harus mengangkut hasil panen. Setelah itu, engkau harus mengikatnya menjadi bundel. Setelah itu, engkau harus menumbuknya (maddâpeti). Setelah itu, engkau harus memisahkan jerami. Setelah itu, engkau harus membuang kulit sekam. Setelah itu, engkau harus menampinya. Setelah itu, engkau harus menyimpannya (atiharâpeti). Setelah itu, engkau harus melakukan hal yang sama di tahun depan, dan hal yang sama lagi di tahun berikutnya.

‘Pekerjaannya tak akan pernah selesai: pekerjaannya tak akan berakhir! Oh! Kapan pekerjaan kita akan selesai? Kapan pekerjaan kita akan berakhir? Jika demikian, kapan kita bisa menikmati kesenangan lima indrawi dan beristirahat?

Ya! Anuruddha tercinta, pekerjaannya tidak pernah selesai; pekerjaan kita tak akan berakhir. Bahkan ketika ayah dan leluhur-leluhur kita telah tiada, pekerjaan mereka masih tetap belum selesai.’

‘Pikirkanlah tentang kewajiban-kewajiban hidup berumah tangga. Saya akan meninggalkan kehidupan berumah tangga dan ber-pabbaja.’

Lalu Anuruddha pergi menemui ibunya, dan berkata kepadanya: ‘Ibu, saya ingin meninggalkan kehidupan berumah tangga dan ber-pabbaja. Mohon berikan izin.’

Dan setelah berkata demikian, ibunya menjawab Anuruddha: ‘Oh Anuruddha tercinta, kalian berdua adalah putra semata wayangku tercinta, yang sangat saya sayangi, di mana [dalam diri kalian] tidak saya temukan hal negatif apa pun. Meskipun jika suatu hari ajal membuat saya berpisah dengan kalian, itu pun di luar keinginanku; bagaimana mungkin sewaktu masih hidup, saya rela kalian meninggalkan kehidupan berumah tangga dan ber-pabbaja?’

Dan untuk kedua kalinya Anuruddha dari Sakya melakukan permohonan yang sama, tapi dia mendapat jawaban yang sama. Dan ketiga kalinya Anuruddha dari Sakya melakukan permohonan yang sama kepada ibunya.

Pada waktu itu, yang memerintah suku Sakya adalah Raja Bhaddiya; dan dia adalah sahabat Anuruddha. Berpikir bahwa Raja Bhaddiya tidak mungkin meninggalkan kehidupan berumah tangga, ibu Anuruddha berkata kepada anaknya: ‘Anuruddha tercinta, seandainya Bhaddiya, Raja Sakya meninggalkan kehidupan berumah tangga, engkau juga boleh ber-pabbaja.’

Lalu Anuruddha dari Sakya pergi menemui Bhaddiya raja Sakya, dan berkata kepadanya: ‘Sahabatku, pengentasan diri saya, terhalang karenamu.’

‘Jika demikian, sahabatku, agar halangan tersebut hilang. Demi dirimu, itu akan saya lakukan – meninggalkan kehidupan berumah tangga sesuai keinginanmu.’

‘Mari, sahabatku, mari kita berdua meninggalkan kehidupan berumah tangga bersama-sama!’

‘Sahabatku, saya tidak dapat meninggalkan kehidupan berumah tangga. Apa pun selain itu yang engkau minta, akan saya lakukan. Ber-pabbaja-lah sendiri.’

‘Sahabatku, ibuku mengatakan kepadaku jika engkau meninggalkan kehidupan berumah tangga, saya juga boleh melakukannya. Dan sekarang engkau juga mengatakan, “Jika pengentasan dirimu terhalang karenaku, agar rintangan tersebut hilang. Demi dirimu, itu akan saya lakukan – meninggalkan kehidupan berumah tangga sesuai keinginanmu.” Mari, sahabatku, mari kita berdua meninggalkan kehidupan berumah tangga bersama-sama!’

Waktu itu, orang-orang selalu berkata benar dan selalu menepati janji. Bhaddiya, raja Sakya berkata kepada Anuruddha dari Sakya: ‘Sahabatku, tunggulah selama tujuh tahun. Setelah tujuh tahun, kita akan meninggalkan kehidupan berumah tangga bersama-sama.’

‘Tujuh tahun terlalu lama, sahabatku. Saya tidak bisa menunggu selama tujuh tahun.’

Dan penawarannya diajukan menjadi enam tahun, lalu menjadi satu tahun, tujuh bulan dan satu bulan, dan bahkan dua minggu, tapi jawabannya tetap sama. Akhirnya raja berkata, ‘Tunggulah selama tujuh hari, sahabatku, sementara saya menyerahkan kerajaan ini kepada anak-anakku dan saudara-saudaraku.’

‘Tujuh hari tidak terlalu lama. Saya akan menunggu selama itu’ (jawab Anuruddha). Lalu Bhaddiya, Raja Sakya, Anuruddha, dan Ananda, dan Bhagu, dan Kimbila, dan Devadatta – seperti sebelumnya mereka sering pergi ke tempat untuk bersenang-senang dengan empat jajaran pengawal – saat itu juga mereka pergi dengan empat jajaran pengawal, dan Upali sang tukang cukur pergi bersama mereka, menjadi bertujuh seluruhnya.

Setelah menempuh jarak tertentu, mereka mengutus penggiring mereka untuk pulang, dan mereka tiba di wilayah di negeri tetangga, dan melepas semua barang-barang mewah mereka, serta membungkusnya dengan baju mereka dan mengikatnya menjadi satu, dan berkata kepada Upali sang tukang cukur: ‘Upali yang baik, sekarang engkau boleh pulang. Barang-barang ini akan dapat mencukupi kebutuhan hidupmu.’

Tetapi selagi berjalan pulang, Upali sang tukang cukur berpikir: ‘Orang-orang Sakya sangat garang. Mereka akan berpikir sayalah yang membawa pemuda-pemuda itu pada jalan kehancuran, dan mereka akan membunuh saya. Tetapi karena pemuda-pemuda suku Sakya ini akan meninggalkan kehidupan berumah tangga dan ber-pabbaja, mengapa saya tidak ikut serta?’ Lalu dia menurunkan bungkusan (dari punggungnya), dan menggantungnya di atas pohon, dan berkata, ‘Agar ini menjadi hadiah bagi siapa pun yang menemukannya,’ dan dia kembali ke tempat di mana para pemuda Sakya berada.

Para pemuda Sakya melihat Upali datang dari kejauhan, dan ketika melihatnya, mereka berkata kepadanya: ‘Untuk apa engkau kembali, Upali yang baik?’

Lalu dia menceritakan kepada mereka apa yang dipikirkannya dan apa yang dia lakukan dengan bungkusan tersebut, dan mengapa dia kembali.

‘Engkau telah melakukan hal yang benar, dengan tidak kembali, Upali yang baik (jawab mereka); para Sakya sangat garang, dan mungkin mereka akan membunuhmu.’

Lalu mereka membawa serta Upali sang tukang cukur bersama mereka menuju tempat di mana Bhagava berada. Setibanya di sana, mereka bersujud kepada Bhagava, dan duduk di satu sisi. Dan selagi duduk, mereka berkata kepada Bhagava: ‘Bhagava, kita, suku Sakya sangat angkuh. Dan Bhagava, Upali sang tukang cukur ini sudah lama menjadi pelayan kita. Agar Bhagava menahbiskannya menjadi Sangha terlebih dahulu sebelum kami, agar kami dapat memberi penghormatan, serta bersujud dengan tangan terulur kepadanya (sebagai sesepuh), dan dengan demikian, agar keangkuhan orang-orang Sakya sirna.

Lalu Bhagava pertama-tama menahbiskan Upali sang tukang cukur, dan kemudian para pemuda dari suku Sakya, menjadi anggota Sangha. Dan Bhikkhu Bhaddiya, sebelum masa vassa itu berakhir, berhasil menguasai Tiga Panna (tisso vigga), Bhikkhu Anuruddha memperoleh penglihatan dewa (dibbakakkhu), Bhikkhu Ananda merealisasi hasil Sotappati (‘masuk arus’; sotâpattiphala), dan Devadatta memperoleh iddhi yang dapat dicapai meskipun oleh mereka yang belum memasuki Jalan Agung (pothugganikâ iddhi).

Lalu pada waktu itu, Bhikkhu Bhaddiya, yang menyendiri di hutan, di kaki pohon, dalam kesunyian, berseru berulang-ulang dengan penuh kegembiraan: ‘Oh bahagianya! Oh bahagianya!’ Dan sejumlah bhikkhu pergi menghadap Bhagava, bersujud di hadapannya, dan duduk di satu sisi. Dan setelah mereka [memberi tahu Bhagava tentang hal ini], serta menambahkan, ‘Bhagava, pastinya Bhikkhu Bhaddiya tidak bahagia dengan kehidupan suci; tapi dia berucap demikian karena mengingat kebahagiaan dari kekuasaan yang dimiliki sebelumnya.’

Lalu Bhagava berkata kepada salah seorang bhikkhu: ‘Pergilah, oh bhikkhu, dan panggillah Bhikkhu Bhaddiya atas nama saya, katakan padanya, “Bhikkhu Bhaddiya, Guru memanggilmu.”’

‘Baiklah, Bhagava’ kata bhikkhu tersebut, mengikuti kata-kata Bhagava. Dan dia mendatangi Bhaddiya, dan menyampaikan pesan tersebut kepadanya.

‘Baiklah,’ kata Bhikkhu Bhaddiya, mengikuti kata bhikkhu tersebut; dan dia pergi menemui Bhagava, bersujud kepadanya, dan duduk di satu sisi. Dan setelah duduk, Bhagava berkata kepada Bhikkhu Bhaddiya:

‘Apakah benar, seperti yang mereka katakan bahwa engkau Bhaddiya, menyendiri di hutan, di kaki pohon, dalam kesunyian, berseru berulang-ulang dengan penuh kegembiraan: “Oh bahagianya! Oh bahagianya!” Bhaddiya, apa yang ada di benakmu ketika engkau melakukan demikian?’

‘Bhagava, dulu ketika saya seorang raja, saya memiliki pengawal yang melayani saya baik di dalam maupun di luar kediaman-kediaman pribadi saya, di dalam maupun di luar kota, dan di dalam [perbatasan] negeri saya. Bhagava, meskipun saya dijaga dan dilindungi demikian, saya merasa takut, cemas, curiga, dan khawatir. Tetapi sekarang Bhagava, meskipun berada di dalam hutan, di bawah pohon, dalam kesunyian, saya tidak merasa takut atau cemas, curiga maupun khawatir; saya bersemayam dengan tenteram, tenang (pannalomo), aman (paradavutto), dengan pikiran sedamai menjangan (migabhûtena ketasâ). Bhagava, ketika mengingat hal ini, saya berseru berulang-ulang, “Oh bahagianya! Oh bahagianya!”’

Kemudian setelah mendengar hal itu, Bhagava mengutarakan kidung ini:
‘Orang yang tidak menyimpan pikiran negatif dalam dirinya,

Yang tidak mempermasalahkan sesuatu harus begini atau begitu,

Keadaannya penuh sukacita, bebas dari kepedihan atau kekhawatiran,

Mereka tidak hanya melihat, tapi benar-benar mencapai alam para dewa!’


***
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.

Juli 2017.

Baca Lebih Lanjut

Pertikaian di Dalam Sangha (Dissensions in the Order) [The Culla Vagga, Seventh Khandhaka] | Potowa Dharma Center