Pada suatu waktu, Bhagava sedang tinggal di Savatthi di Hutan Jeta, Taman Anathapindika. Di sana Bhagava berbicara kepada para bhikkhu demikian: "Para bhikkhu." "Bhante," jawab mereka. Bhagava berkata demikian:
2. "Para bhikkhu, saya akan memberikan penjelasan tentang keadaan tanpa konflik. Dengarkan dan perhatikan baik-baik apa yang saya katakan."
"Baiklah, Bhante," jawab para bhikkhu. Bhagava berkata demikian:
3. "Seseorang seyogianya tidak mengejar keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya; dan dia seyogianya tidak mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya.
Jalan Tengah yang menghindari kedua hal buntu ini telah ditemukan oleh Yang Maha Sempurna (Tathagata) – menghasilkan pandangan, menghasilkan pengetahuan – menghantarkan pada kedamaian, pada pemahaman langsung, pada Penggugahan, pada Nibbana.
Seseorang seyogianya tahu apa itu “membesar-besarkan” dan apa itu “menganggap remeh” dan dengan tahu keduanya, dia seyogianya tidak membesar-besarkan atau menganggap remeh tetapi hanya membicarakan Dhamma.
Dia seyogianya tahu apa itu kebahagiaan, dan dengan tahu itu, dia seyogianya mengupayakan kebahagiaannya sendiri.
Dia seyogianya tidak berkata-kata tersirat (terselubung) dan dia seyogianya tidak berkata-kata terang-terangan/blak-blakan.
Dia seyogianya berbicara tanpa tergesa-gesa, tanpa terburu-buru.
Dia seyogianya tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat, dan dia seyogianya tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari.
Inilah ringkasan Penjelasan Keadaan Tanpa konflik.
4. "Seseorang seyogianya tidak mengejar keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya; dan dia seyogianya tidak mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya.”
Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
Mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan ini adalah jalan yang keliru. Tidak mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah tanpa penderitaan, tanpa gejolak, tanpa keputusasaan dan tanpa kegelisahan, dan ini adalah jalan yang benar.
Mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan ini adalah jalan yang keliru. Tidak mengejar penyiksaan diri, menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah tanpa penderitaan, tanpa gejolak, tanpa keputusasaan dan tanpa kegelisahan, dan ini adalah jalan yang benar.
Jadi, merujuk pada hal inilah, dikatakan, “Seseorang seyogianya tidak mengejar keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya; dan dia seyogianya tidak mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya.”
5. “Jalan Tengah yang menghindari kedua hal buntu ini telah ditemukan oleh Yang Maha Sempurna (Tathagata) – menghasilkan pandangan, menghasilkan pengetahuan – menghantarkan pada kedamaian, pada pemahaman langsung, pada Penggugahan, pada Nibbana.” Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
Tepatnya itu adalah Delapan Jalan Ariya (Ariyo aṭṭhaṅgiko maggo), yakni: cara pandang yang terintegrasi (sammā-diṭṭhi), pikiran/motivasi yang terintegrasi (sammā sankappa), ucapan yang terintegrasi (sammā-vācā), perbuatan yang terintegrasi (sammā-kammanta), penghidupan yang terintegrasi (sammā-ājīva), usaha yang terintegrasi (sammā-vāyāma), sati yang terintegrasi (sammā-sati), samadhi yang terintegrasi (sammā-samādhi).
Jadi, merujuk pada inilah, dikatakan "Jalan Tengah ... pada Nibbana."
6. “Seseorang seyogianya tahu apa itu “membesar-besarkan” dan apa itu “menganggap remeh” dan dengan tahu keduanya, dia seyogianya tidak membesar-besarkan atau menganggap remeh tetapi hanya membicarakan Dhamma”; demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
7. Jadi, para bhikkhu, bagaimana “membesar-besarkan” dan “menganggap remeh” serta gagal untuk hanya membicarakan Dhamma, bisa terjadi?
Jika seseorang berkata, “Semua yang mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” maka dia menganggap remeh sebagian orang.
Jika seseorang berkata, “Semua yang tidak mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan maupun kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” maka dia membesar-besarkan orang tertentu.
Jika seseorang berkata, “Semua yang mengejar penyiksaan diri, menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” maka dia menganggap remeh sebagian orang.
Jika seseorang berkata, “Semua yang tidak mengejar penyiksaan diri, menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan maupun kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” maka dia membesar-besarkan orang tertentu.
Jika seseorang berkata, “Semua yang tidak meninggalkan belenggu bhava (“menjadi”), mereka diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” maka dia menganggap remeh sebagian orang.
Jika seseorang berkata, “Semua yang telah meninggalkan belenggu bhava (“menjadi”), mereka tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan maupun kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” maka dia membesar-besarkan orang tertentu.
Inilah bagaimana “membesar-besarkan” dan “menganggap remeh” serta gagal untuk hanya membicarakan Dhamma, terjadi.
8. Dan para bhikkhu, bagaimana agar tidak “membesar-besarkan” maupun tidak “menganggap remeh” tapi hanya membicarakan Dhamma?
Jika seseorang tidak berkata, ““Semua yang mengejar penyiksaan diri, menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” tapi berkata “Karena ‘mencengkeram’ itulah, maka seseorang diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” maka dia hanya membicarakan Dhamma.
Jika seseorang tidak berkata, “Semua yang tidak mengejar penyiksaan diri, menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya, mereka tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” tapi berkata “Karena ‘tidak mencengkeram’ itulah, maka seseorang tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” maka dia hanya membicarakan Dhamma.
Jika seseorang tidak berkata, “Semua yang tidak meninggalkan belenggu bhava (“menjadi”), mereka diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang keliru,” tapi berkata, “Selama belenggu bhava telah ‘ditinggalkan,’ bhava ‘ditinggalkan,’ maka dia hanya membicarakan Dhamma.
Jika seseorang tidak berkata, “Semua yang telah meninggalkan belenggu bhava (“menjadi”), mereka tidak mengalami penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan mereka telah memasuki jalan yang benar,” tapi berkata, “Ketika belenggu bhava telah ditinggalkan, bhava ditinggalkan, maka dia hanya membicarakan Dhamma.
Jadi merujuk pada inilah dikatakan, “Seseorang seyogianya tahu apa itu “membesar-besarkan” dan apa itu “menganggap remeh” dan dengan tahu keduanya, dia seyogianya tidak membesar-besarkan atau menganggap remeh tetapi hanya membicarakan Dhamma.”
9. “Dia seyogianya tahu apa itu kebahagiaan, dan dengan tahu itu, dia seyogianya mengupayakan kebahagiaannya sendiri’: demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
Para bhikkhu, ada lima ikatan keinginan indrawi. Apa kelima hal itu?
Wujud (rupa), dikenali melalui mata, yang didambakan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terkait dengan keinginan indrawi dan menyebabkan munculnya ketertarikan (raga).
Suara, dikenali melalui telinga, yang didambakan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terkait dengan keinginan indrawi dan menyebabkan munculnya ketertarikan (raga).
Bebauan, dikenali melalui hidung, yang didambakan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terkait dengan keinginan indrawi dan menyebabkan munculnya ketertarikan (raga).
Cita rasa, dikenali melalui lidah, yang didambakan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terkait dengan keinginan indrawi dan menyebabkan munculnya ketertarikan (raga).
Sentuhan, dikenali melalui tubuh, yang didambakan, diinginkan, menyenangkan dan disukai, terkait dengan keinginan indrawi dan menyebabkan munculnya ketertarikan (raga).
Inilah lima ikatan keinginan indrawi.
Lalu, kesenangan dan kegembiraan yang timbul karena kelima ikatan keinginan indrawi ini disebut kesenangan indrawi, di mana merupakan kesenangan atas sesuatu yang menjijikkan, kesenangan yang kasar, kesenangan biasa (bukan Ariya). Saya katakan kesenangan seperti ini seyogianya tidak ditumbuhkan, tidak dikembangkan, seyogianya tidak dilakukan berulang-ulang, dan seyogianya ditakuti.
Lalu, para bhikkhu, bebas dari keinginan indrawi, bebas dari kualitas mental yang tidak bajik (akusala), saya memasuki dan bersemayam dalam jhana pertama, disertai kemampuan menyelidiki (vitakka) tingkat awal dan kemampuan menganalisa (vicara), dengan kebahagiaan dan rasa nyaman (di tubuh) yang muncul dari penyendirian.
Dengan kemampuan menyelidiki tingkat awal dan kemampuan menganalisa yang tenang, saya memasuki dan bersemayam dalam jhana kedua, dengan rasa yakin dan citta yang terintegrasi, bebas dari vitakka dan vicara, dengan kebahagiaan dan rasa nyaman yang muncul dari samadhi.
Dengan memudarnya kenyamanan (piti), saya bersemayam dalam upekkha, sati, sampajana dan masih merasakan rasa nyaman di tubuh, saya memasuki dan bersemayam dalam jhana ketiga yang dinyatakan oleh para Ariya, ‘Dia bersemayam dalam kenyamanan dan memiliki upekkha dan sati.’
Dengan ditinggalkannya rasa senang dan tidak senang, dan menghilangnya keinginan dan penolakan sebelumnya – saya memasuki dan bersemayam dalam jhana keempat: yang tanpa menyenangkan maupun tidak menyenangkan, dan sati yang murni berkat upekkha.
Inilah yang disebut kebahagiaan dari pengentasan diri, yang merupakan kebahagiaan dari penyendirian, kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan Penggugahan. Saya katakan kebahagiaan seperti ini seyogianya ditumbuhkan, dikembangkan, seyogianya dilakukan berulang-ulang, dan seyogianya tak perlu ditakuti.
Jadi merujuk pada inilah, dikatakan, “Dia seyogianya tahu apa itu kebahagiaan, dan dengan tahu itu, dia seyogianya mengupayakan kebahagiaannya sendiri.”
10. “Dia seyogianya tidak berkata-kata tersirat (terselubung) dan dia seyogianya tidak berkata-kata terang-terangan/blak-blakan. Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
Para bhikkhu, ketika seseorang tahu kata-kata tersirat ini tidak benar, tidak tepat dan melukai, dia seyogianya tidak mengutarakannya. Jika dia tahu kata-kata tersirat itu benar, tepat, tapi melukai, dia harus berusaha untuk tidak mengutarakannya. Tapi jika dia tahu kata-kata tersirat itu benar, tepat dan bermanfaat, dia bisa mengutarakannya di waktu yang tepat.
Para bhikkhu, jika seseorang tahu bahwa kata-kata yang terang-terangan/blak-blakan itu tidak benar, tidak tepat dan melukai, dia seyogianya tidak mengutarakannya. Jika dia tahu kata-kata yang terang-terangan/blak-blakan itu benar, tepat, tapi melukai, dia harus berusaha untuk tidak mengutarakannya. Tapi jika dia tahu kata-kata yang terang-terangan/blak-blakan itu benar, tepat dan bermanfaat, dia bisa mengutarakannya di waktu yang tepat.
Jadi merujuk pada inilah, dikatakan, “Dia seyogianya tidak berkata-kata tersirat (terselubung). Dia seyogianya tidak berkata-kata terang-terangan/blak-blakan.”
11. 'Dia seyogianya berbicara tanpa tergesa-gesa, tanpa terburu-buru.' Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan? Para bhikkhu, ketika seseorang berbicara tergesa-gesa, tubuhnya menjadi lelah, pikirannya bergejolak, suaranya tegang, dan tenggorokannya serak, juga ucapan dari seseorang yang berbicara terburu-buru itu tidak jelas dan sulit dipahami.
Para bhikkhu, ketika seseorang berbicara tergesa-gesa, tubuhnya menjadi lelah, pikirannya bergejolak, suaranya tegang, dan tenggorokannya serak, juga ucapan dari seseorang yang berbicara terburu-buru itu tidak jelas dan sulit dipahami.
Jadi merujuk pada inilah, dikatakan, “Dia seyogianya berbicara tanpa tergesa-gesa, tanpa terburu-buru.”
12. ‘Dia seyogianya tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat. Dia seyogianya tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari. Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, ini dikatakan?
Dan bagaimana seseorang bersikeras menggunakan bahasa setempat dan mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari?
Para bhikkhu, di daerah-daerah yang berbeda-beda, benda yang sama, ada yang menyebutnya "piring" (pati) atau ada yang menyebutnya "mangkuk" (patta) atau ada yang menyebutnya "bejana" (vittha) atau ada yang menyebutnya "piring kecil” (sarava) atau ada yang menyebutnya "panci" (dharopa) atau ada yang menyebutnya "pot" (pona) atau ada yang menyebutnya "cangkir" (hana) atau ada yang menyebutnya "baskom" (pisila). Jadi, apa pun sebutannya di suatu lokasi, dia menggunakan istilah itu, bersikeras dan memaksa, "Hanya ini yang benar, yang lainnya salah." Inilah bagaimana seseorang bersikeras menggunakan bahasa setempat dan mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari.
Dan bagaimana seseorang tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat dan tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari?
Para bhikkhu, di daerah-daerah yang berbeda-beda … ada yang menyebutnya “baskom" (pisila). Jadi, apa pun sebutannya di suatu lokasi, dia menggunakan istilah itu, tanpa bersikeras, (demikian): "Tampaknya, orang-orang yang patut dimuliakan ini berbicara dengan merujuk pada ini." Inilah bagaimana seseorang tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat dan tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari.
Jadi merujuk pada inilah, dikatakan, ‘Dia seyogianya tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat. Dia seyogianya tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari.”
13. Para bhikkhu, mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi demikian: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah diliputi penderitaan, gejolak, keputusasaan dan kegelisahan, dan ini adalah jalan yang keliru; karenanya, itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, tidak mengejar kenikmatan kesenangan dari keinginan-keinginan indrawi demikian: rendah, barbar, kasar, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah tanpa penderitaan, tanpa gejolak, tanpa keputusasaan dan tanpa kegelisahan, dan ini adalah jalan yang benar; karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah diliputi penderitaan … dan ini adalah jalan yang keliru; karenanya, itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, tidak mengejar penyiksaan diri: menderita, biasa (bukan Ariya) dan berbahaya adalah tanpa penderitaan … dan ini adalah jalan yang benar; karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, Jalan Tengah yang telah ditemukan oleh Yang Maha Sempurna (Tathagata) – menghasilkan pandangan, menghasilkan pengetahuan – menghantarkan pada kedamaian, pada pemahaman langsung, pada Penggugahan, pada Nibbana, adalah keadaan tanpa penderitaan … dan ini adalah jalan yang benar: karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, “membesar-besarkan” dan “menganggap remeh” serta gagal untuk hanya membicarakan Dhamma, adalah diliputi penderitaan dan ini adalah jalan yang keliru; karenanya, itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, tidak “membesar-besarkan” maupun tidak “menganggap remeh” dan hanya membicarakan Dhamma, adalah tanpa penderitaan dan ini adalah jalan yang benar; karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, kesenangan dari keinginan indrawi, yang merupakan kesenangan atas sesuatu yang menjijikkan, kesenangan yang kasar, kesenangan biasa (bukan Ariya), adalah diliputi penderitaan … dan ini adalah jalan yang keliru; karenanya, itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, kebahagiaan dari pengentasan diri, yang merupakan kebahagiaan dari penyendirian, kebahagiaan kedamaian, kebahagiaan Penggugahan, adalah tanpa penderitaaan … dan ini adalah jalan yang benar; karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, kata-kata tersirat yang tidak benar, tidak tepat dan melukai … itu menimbulkan konflik.
Kata-kata tersirat yang benar, tepat tapi melukai … itu menimbulkan konflik.
Kata-kata tersirat yang benar, tepat tapi bermanfaat … itu tidak menimbulkan konflik.
Kata-kata terang-terangan/blak-blakan yang tidak benar, tidak tepat dan melukai … itu menimbulkan konflik.
Kata-kata terang-terangan/blak-blakan yang benar, tepat tapi melukai … itu menimbulkan konflik.
Kata-kata terang-terangan/blak-blakan yang benar, tepat dan bermanfaat … itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, ucapan yang terburu-buru adalah diliputi penderitaan … itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, ucapan yang tidak terburu-buru adalah tanpa diliputi penderitaan … itu tidak menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, bersikeras menggunakan bahasa setempat dan mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari adalah diliputi penderitaan … itu menimbulkan konflik.
Para bhikkhu, tidak bersikeras menggunakan bahasa setempat dan tidak mengabaikan pemakaian bahasa sehari-hari, adalah tanpa penderitaan, tanpa gejolak, tanpa keputusasaan dan tanpa kegelisahan, dan ini adalah jalan yang benar; karenanya, itu tidak menimbulkan konflik.
Jadi, para bhikkhu, kalian seyogianya berlatih demikian: kita seyogianya tahu keadaan yang menimbulkan konflik dan kita seyogainya tahu keadaan yang tidak menimbulkan konflik, dan dengan tahu hal ini, kita akan memasuki jalan tanpa konflik.
Lalu, para bhikkhu, Subhuti adalah Kulaputra yang telah memasuki jalan tanpa konflik.
Inilah yang dikatakan oleh Bhagava. Para bhikkhu bergembira dan bersuka cita atas kata-kata Bhagava.
***
Jadi, para bhikkhu, kalian seyogianya berlatih demikian: kita seyogianya tahu keadaan yang menimbulkan konflik dan kita seyogainya tahu keadaan yang tidak menimbulkan konflik, dan dengan tahu hal ini, kita akan memasuki jalan tanpa konflik.
Lalu, para bhikkhu, Subhuti adalah Kulaputra yang telah memasuki jalan tanpa konflik.
Inilah yang dikatakan oleh Bhagava. Para bhikkhu bergembira dan bersuka cita atas kata-kata Bhagava.
***
Sumber: Buddhist Publication Society, Sri Lanka, translated by Bhikkhu Ñanamoli.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Juli 2017.
Baca Lebih Lanjut
- Lima yang Sebaiknya Diingat (Paccavekkhitabbāni): Sutta Abhiṇhapaccavekkhitabbaṭhāna [Aṅguttara Nikāya 5.57]
- Sutta Ani: Pasak (Ani Sutta: The Peg) [SN 20.7]
- Sutta Vajirūpama: Sutta Bagaikan Berlian (Diamond Sutta) [AN 3]
- Sutta Saddhammapatirūpaka: Sutta Mengenai Tiruan Dhamma Sesungguhnya (A Counterfeit of the True Dhamma) [SN 16.13]
- Sutta Anāgata-bhayāni: Sutta Mengenai Bahaya-Bahaya di Masa Mendatang (The Discourse on Future Dangers) [AN 5:79]






