“Ada Brahmana dan samana yang memegang ajaran ini, menganut pandangan ini: ‘Apa pun yang dialami seseorang – menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bukan menyenangkan bukan pula tidak menyenangkan – semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa lampau.’”
“Ada Brahmana dan samana yang memegang ajaran ini, menganut pandangan ini: ‘Apa pun yang dialami seseorang – menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bukan menyenangkan bukan pula tidak menyenangkan – semuanya disebabkan tindakan penciptaan oleh suatu makhluk agung.’”
“Ada Brahmana dan samana yang memegang ajaran ini, menganut pandangan ini: ‘Apa pun yang dialami seseorang – menyenangkan, tidak menyenangkan, atau bukan menyenangkan bukan pula tidak menyenangkan – semuanya tanpa sebab dan tak tergantung kondisi.’”
“Setelah menghampiri para Brahmana dan samana yang memegang ajaran bahwa ... ‘Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa lampau,’ saya katakan pada mereka: ‘Apakah benar kalian menganut pandangan bahwa ... “Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya disebabkan oleh apa yang telah dilakukan di masa yang lampau?” Demikian saya tanyakan, mereka mengakuinya, ‘Ya.’ Lalu saya katakan pada mereka, ‘Jika memang demikian, seseorang membunuh makhluk hidup itu dikarenakan oleh apa yang telah dilakukan di masa lampau. Seseorang mencuri ... berperilaku seks yang keliru ... berkata tidak benar ... berkata memecah-belah ... berkata menyakitkan ... berkata tidak bermanfaat ... iri hati ... dengki ... berpandangan keliru, itu dikarenakan oleh apa yang telah dilakukan di masa lampau.’
Ketika seseorang benar-benar mengandalkan pengertian bahwa apa yang telah dilakukannya di masa lampau adalah penyebab segala sesuatu, dengan sendirinya para bhikkhu, tidak akan ada keinginan, tidak ada upaya [pemikiran] untuk mengatasinya, ‘Ini seharusnya dilakukan. Ini seharusnya tidak dilakukan.’
Dengan demikian, tanpa memutuskan mana yang benar dan yang dapat diandalkan sehubungan dengan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, maka tiada bedanya antara seorang samana dengan orang yang hidup dalam kebingungan dan ketidakwaspadaan. Inilah sanggahan saya yang pertama terhadap para Brahmana dan samana yang menganut ajaran dan pandangan demikian.
“Setelah menghampiri para Brahmana dan samana yang memegang ajaran bahwa ... ‘Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya disebabkan tindakan penciptaan oleh suatu makhluk agung,’ saya katakan pada mereka: ‘Apakah benar kalian menganut pandangan bahwa ... “Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya disebabkan tindakan penciptaan oleh suatu makhluk agung?”’ Demikian saya tanyakan, mereka mengakuinya, ‘Ya.’ Lalu saya katakan pada mereka, ‘Jika memang demikian, seseorang membunuh makhluk hidup itu dikarenakan tindakan penciptaan oleh suatu makhluk agung. Seseorang mencuri ... berperilaku seks yang keliru ... berkata tidak benar ... berkata memecah-belah ... berkata menyakitkan ... berkata tidak bermanfaat ... iri hati ... dengki ... berpandangan keliru, itu dikarenakan tindakan penciptaan oleh suatu makhluk agung.’
Ketika seseorang benar-benar mengandalkan pengertian bahwa segala sesuatu diciptakan oleh suatu makhluk agung, dengan sendirinya para bhikkhu, tidak akan ada keinginan, tidak ada upaya [pemikiran] untuk mengatasinya, ‘Ini seharusnya dilakukan. Ini seharusnya tidak dilakukan.’
Dengan demikian, tanpa memutuskan mana yang benar dan yang dapat diandalkan sehubungan dengan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, maka tiada bedanya antara seorang samana dengan orang yang hidup dalam kebingungan dan ketidakwaspadaan. Inilah sanggahan saya yang kedua terhadap para Brahmana dan samana yang menganut ajaran dan pandangan demikian.
“Setelah menghampiri para Brahmana dan samana yang memegang ajaran bahwa ... ‘Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya tanpa sebab dan tak tergantung kondisi,’ saya katakan pada mereka: ‘Apakah benar kalian menganut pandangan bahwa ... “Apa pun yang dialami seseorang ... semuanya tanpa sebab dan tak tergantung kondisi?”’ Demikian saya tanyakan, mereka mengakuinya, ‘Ya.’ Lalu saya katakan pada mereka, ‘Jika demikian, seseorang membunuh makhluk hidup tanpa sebab dan tak tergantung kondisi. Seseorang mencuri ... berperilaku seks yang keliru ... berkata tidak benar ... berkata memecah-belah ... berkata menyakitkan ... berkata tidak bermanfaat ... iri hati ... dengki ... berpandangan keliru, adalah tanpa sebab dan tak tergantung kondisi.’
Ketika seseorang benar-benar mengandalkan pengertian bahwa segala sesuatu adalah tanpa sebab dan tak tergantung kondisi, maka para bhikkhu, tidak akan ada keinginan, tidak ada upaya [pemikiran] untuk mengatasinya, ‘Ini seharusnya dilakukan. Ini seharusnya tidak dilakukan.’
Dengan demikian, tanpa memutuskan mana yang benar dan yang dapat diandalkan sehubungan dengan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan, maka tiada bedanya antara seorang samana dengan orang yang hidup dalam kebingungan dan ketidakwaspadaan. Inilah sanggahan saya yang ketiga terhadap para Brahmana dan samana yang menganut ajaran dan pandangan demikian.
“Ada tiga cara pandang filosofis – yang ketika dikaji secara seksama, dipertanyakan melalui penalaran, dan dikritik para bijaksana – di mana walaupun mereka memberi penjelasan sebaliknya, namun tetap terjebak dan bersikukuh pada pemikiran dan pandangan yang sama.”
“Akan tetapi Dhamma yang saya ajarkan ini adalah tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu. Dan Dhamma apa yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu?”
‘Enam unsur’ adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.
‘Enam lingkup indrawi’ adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.
‘Delapan belas penyidikan pikiran’ adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.
‘Empat Kenyataan Ariya’ adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.
‘“Enam unsur’” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.’ Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, itu dikatakan? Ada enam unsur: unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin, unsur ruang, unsur kesadaran. ‘“Enam unsur” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada hal tersebut, itu dikatakan.
‘“Enam lingkup indrawi” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu.’ Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, itu dikatakan? Ada enam lingkup indrawi: lingkup indrawi mata, lingkup indrawi telinga, lingkup indrawi hidung, lingkup indrawi lidah, lingkup indrawi tubuh, lingkup indrawi pikiran. ‘“Enam lingkup indrawi” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada hal tersebut, itu dikatakan.
‘“Delapan belas penyidikan pikiran” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, itu dikatakan? Melihat wujud melalui mata, seseorang menyidik wujud yang dapat berfungsi sebagai landasan untuk bahagia, seseorang menyidik wujud yang dapat berfungsi sebagai landasan untuk tidak bahagia, seseorang menyidik wujud yang dapat berfungsi sebagai landasan upekkha. Mendengar suara melalui telinga ... Mencium bebauan melalui hidung ... Mencicip rasa melalui lidah ... Merasakan sentuhan melalui tubuh... Mengetahui objek mental melalui kekuatan pikir, seseorang menyidik objek mental yang dapat berfungsi sebagai landasan untuk bahagia, seseorang menyidik objek mental yang dapat berfungsi sebagai landasan untuk tidak bahagia, seseorang menyidik objek mental yang dapat berfungsi sebagai landasan upekkha. ‘“Delapan belas penyidikan pikiran” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada hal tersebut, itu dikatakan.
‘“Empat Kenyataan Ariya” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada apa, itu dikatakan?
“(Karena) ketergantungan pada enam unsur, terbentuklah embrio. Setelah terbentuknya embrio, muncullah nama-rupa. Dengan adanya nama-rupa sebagai prasyarat muncullah enam lingkup indrawi. Dengan adanya enam lingkup indrawi sebagai prasyarat muncullah kontak. Dengan adanya kontak sebagai prasyarat muncullah sensasi. Untuk orang yang mengalami sensasi, saya nyatakan, ‘Ini dukkha.’ Saya nyatakan, ‘Ini timbulnya dukkha.’ Saya nyatakan, ‘Ini berhentinya dukkha.’ Saya nyatakan, ‘Ini jalan yang menghantarkan pada berhentinya dukkha.’
“Dan apakah kenyataan Ariya tentang dukkha? Dilahirkan adalah dukkha, penuaan adalah dukkha, kematian adalah dukkha; kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan adalah dukkha; bertemu dengan hal yang tidak disukai adalah dukkha, berpisah dengan hal yang disukai adalah dukkha, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah dukkha. Singkatnya, kelima upadana khandha adalah dukkha. Inilah kenyataan Ariya tentang dukkha.”
“Dan apakah kenyataan Ariya tentang timbulnya dukkha?”
“Dengan adanya kesalahpengertian (avijja) sebagai prasyarat, muncullah sankhara. Dengan adanya sankhara sebagai prasyarat, muncullah kesadaran (vinnana). Dengan adanya kesadaran sebagai prasyarat, muncullah nama-rupa. Dengan adanya nama-rupa sebagai prasyarat, muncullah enam lingkup indrawi (ayatana). Dengan adanya enam lingkup indrawi sebagai prasyarat, muncullah kontak (phassa). Dengan adanya kontak sebagai prasyarat, muncullah sensasi (vedana). Dengan adanya sensasi sebagai prasyarat, muncullah rasa tak berkecukupan (tanha). Dengan adanya rasa tak berkecukupan sebagai prasyarat, muncullah rasa butuh (upadana). Dengan adanya rasa butuh sebagai prasyarat, muncullah bhava (‘menjadi’). Dengan adanya bhava sebagai prasyarat, muncullah kelahiran (jati). Dengan adanya kelahiran sebagai prasyarat, muncullah penuaan dan kematian (jaramarana), kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan. Demikianlah timbulnya seluruh kumpulan dukkha dan penderitaan.”
“Inilah yang disebut kenyataan Ariya tentang timbulnya dukkha.”
“Dan apakah kenyataan Ariya tentang berhentinya dukkha itu?”
“Dengan berhentinya dan berhentinya tanpa sisa kesalahpengertian, berhentilah sankhara. Dengan berhentinya sankhara, berhentilah kesadaran. Dengan berhentinya kesadaran, berhentilah nama-rupa. Dengan berhentinya nama-rupa, berhentilah enam lingkup indrawi. Dengan berhentinya enam lingkup indrawi, berhentilah kontak. Dengan berhentinya kontak, berhentilah sensasi. Dengan berhentinya sensasi, berhentilah rasa tak berkecukupan. Dengan berhentinya rasa tak berkecukupan, berhentilah rasa butuh. Dengan berhentinya rasa butuh, berhentilah bhava. Dengan berhentinya bhava, berhentilah kelahiran. Dengan berhentinya kelahiran, berhentilah penuaan dan kematian, kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan. Demikianlah berhentinya seluruh kumpulan dukkha dan penderitaan.”
“Inilah yang disebut kenyataan Ariya tentang berhentinya dukkha.”
“Dan apakah kenyataan Ariya tentang jalan yang menghantarkan pada berhentinya dukkha itu? Tepatnya, itu adalah Delapan Jalan Ariya (Ariya Attangika Magga): cara pandang yang tepat/lengkap (samma-ditthi), pikiran yang tepat (samma-sankappa), ucapan yang tepat (samma-vaca), perbuatan yang tepat (samma-kammanta), penghidupan yang tepat (samma-ajiva), upaya yang tepat (samma-vayama), sati yang tepat (samma-sati), dan samadhi yang tepat (samma-samadhi). Inilah kenyataan Ariya tentang jalan yang menghantarkan pada berhentinya dukkha.”
‘“Empat Kenyataan Para Ariya” adalah Dhamma yang saya ajarkan yang tak terbantahkan, tanpa cacat, tanpa cela, tak dapat ditemukan kesalahannya oleh para Brahmana dan samana yang tahu’: Demikian dikatakan. Dan merujuk pada hal tersebut, itu dikatakan.”
***
Sumber: "Tittha Sutta: Sectarians" (AN 3.61), translated from the Pali by Thanissaro Bhikkhu. Access to Insight (Legacy Edition), 30 November 2013, http://www.accesstoinsight.org/tipitaka/an/an03/an03.061.than.html.
Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh tim Potowa Center.
Revisi: Desember 2017.






