Teks Topikal

Kompas Jalan Penggugahan: Warisan Tersembunyi Bodhipathakrama Atiśa bagi Tradisi Tahapan Jalan

Perjalanan Atiśa
Pada tahun 1040, Atiśa bersama Naktso meninggalkan India, berangkat menuju Tibet.

Setelah menempuh perjalanan selama dua tahun, mereka tiba di Tolung (stod lung), ibu kota Kerajaan Purang-Guge.

Atiśa menetap di Tolung selama tiga tahun. Dalam masa itu, beliau memberikan ajaran-ajaran yang kemudian melahirkan karya agungnya, bodhipathapradīpa—Suluh Penerang Jalan Penggugahan (1042–1045).

Karena menjalin hubungan yang sangat dekat dengan Naktso, Atiśa kemudian melakukan perjalanan ke tanah kelahiran sahabatnya itu, Mangyul, dan tinggal di sana selama satu tahun.

Mangyul dan Tiga Distrik Ngari

Mangyul adalah salah satu dari “tiga distrik” (mnga’ ris skor gsum) di wilayah Ngari. Tiga distrik tersebut adalah Purang, Guge, dan Mangyul.

Mangyul (“banyak lembah”) juga dikenal sebagai Ngari Me (Ngari Hilir), terletak di perbatasan Tibet dan Nepal, terutama disebut sebagai wilayah lintasan antara dua negeri tersebut. Sekitar tahun 1265, Mangyul berkembang menjadi kerajaan Tibet di bawah kekuasaan Sakya di Tibet Barat Daya.

Mengajar di Ü dan Tsang

Dari Mangyul, Atiśa dan Naktso melanjutkan perjalanan ke Ü dan Tsang. Di sana, Atiśa menerima banyak undangan untuk mengunjungi vihara-vihara dan memberikan ajaran. Mereka tiba di Tsang pada tahun 1046 dan mencapai Samye pada tahun 1047.

Nyetang dan Penulisan Bodhipathakrama

Atiśa menghabiskan lima tahun terakhir hidupnya di Nyetang, di lembah Kyichu bagian selatan, dekat Lhasa. Atas permintaan tulus murid utamanya, Dromtönpa, beliau menulis dan mengajarkan Bodhipathakrama (1050–1053).

Setahun setelah wafatnya, sebuah vihara didirikan di Nyetang untuk menyemayamkan jasadnya.

Pada tahun berikutnya, 1056, Dromtön mendirikan Vihara Reting, yang kemudian menjadi awal berdirinya tradisi Kadam. Nyetang terletak sekitar dua belas mil di barat daya Lhasa.

Transmisi BodhipathapradipaBodhipathakrama dan Lahirnya Tradisi Ajaran “Tahapan Jalan” (lam rim, pathakrama)

Lebih dari seribu tahun yang lalu, Dīpaṃkara Śrījñāna — salah satu biksu India yang belajar selama 12 tahun di bumi Nusantara dan murid lulusan Mahāvihāra Muara Jambi — diundang ke Tibet untuk memimpin kebangkitan kembali Buddhadharma di masa yang penuh gejolak setelah keruntuhan Kekaisaran Tibet.

Pengaruh Śrī Dīpaṃkara terhadap Buddhadharma Tibet terus bergema hingga kini, lebih dari satu milenium kemudian, menginspirasi jutaan umat Buddha di Asia Tengah dan seluruh dunia.

Tidak lama setelah tiba di Tibet, atas permintaan murid dan pelindungnya, Raja Jangchub Ö Mahāpaṇḍita Śrī Dīpaṃkara menulis bodhipathapradīpa (byang chub lam gyi sgron ma), Suluh Penerang Jalan Penggugahan.

Teks ringkas berisi enam puluh delapan bait ini dianggap sebagai prototipe dari seluruh karya Tahapan Jalan (lam rim) yang kemudian menjadi ciri khas literatur Buddhis Tibet.

Seorang sejarawan menyebut karya ini sebagai “salah satu teks India paling berpengaruh yang diterima oleh bangsa Tibet,” dan “model utama bagi sistem monastik Buddhis Tibet selama seribu tahun berikutnya.”

Sekitar sepuluh tahun kemudian, menjelang akhir hayatnya, atas permintaan berulang dari murid terdekatnya, Dromtön Gyalwai Jungné, Atiśa menulis bodhipathakrama (byang chub lam gyi rim pa), Tahapan Jalan Penggugahan.

Karya ini menyajikan kurikulum lengkap Buddhadharma, menuntun seorang praktisi dari perenungan tentang kelahiran manusia yang berharga hingga pencapaian pengetahuan sempurna kebuddhaan melalui kewaskitaan dan semadi nondual.

Beliau merangkum seluruh aspek latihan spiritual, membentuk kerangka sistematis yang kemudian menjadi fondasi bagi tradisi lam rim, pathakrama, Tahapan Jalan, dalam Buddhadharma Tibet.

Pewarisan dan Warisan

Ajaran bodhipathakrama diwariskan secara rahasia kepada murid-murid tingkat lanjut dan tidak disebarluaskan.

Walau sama dalam kedalaman dan pengaruhnya dengan bodhipathapradīpa, teks ini jarang disebut dalam tradisi Tibet di kemudian hari. Namun, sesungguhnya bodhipathakrama menjadi sumber tersembunyi bagi seluruh tradisi Tahapan Jalan dan fondasi bagi banyak sistem ajaran Buddhis Tibet setelahnya.

Di dalamnya terkandung petunjuk awal mengenai bodhicitta (tekad penggugahan atau pikiran kebangunan), ikrar bodhisatwa, instruksi penunjukan langsung (ngo sprod) serta praktik kesadaran nondual tingkat tinggi.

Berkat penemuan kembali naskah-naskah penting baru-baru ini, karya berharga ini kini tersedia bagi dunia melalui publikasi buku Atiśa’s Stages of the Path to Awakening: Together with Commentaries and Ritual Texts karya James B. Apple (Wisdom Publications, 2025).

Ketersembunyian bodhipathakrama disebabkan oleh beberapa kondisi tradisi pemikiran, historis dan kultural berikut:
Bodhipathakrama menyebut aturan Vinaya Mahāsāṃghika yang tidak diadopsi dalam Buddhadharma Tibet.
Bodhipathakrama menampilkan pendekatan Atiśa sendiri terhadap filsafat Madhyamaka, berbeda dari aliran-aliran dan pengertian-pengertian yang berkembang kemudian di Tibet.
Bodhipathakrama menekankan kewaskitaan dan semadi nondual daripada praktik tantra.
Bodhipathakrama disusun sebagai ajaran penyimpulan yang lengkap, ajaran pamungkas, instruksi ‘rahasia’ bagi murid-murid terdekat yang berkapasitas tertinggi sehingga penyebarannya sangat terbatas.

***

Suatu Pengantar oleh Upasaka Salim Lee untuk retret 1-6 November 2025 berjudul:

Kilauan Buddhadharma: Tahapan Jalan Penggugahan, Bodhipathakrama,

byang chub lam gyi rim pa (lam rim)

Teks utama kerangka ajaran Buddha karya tulisan Sri Dipamkara Srijnana Atiśa

Baca Lebih Lanjut