Dalam Kakawin Sutasoma, suatu 'tutur' tulisan Mpu Tantular, sebuah 'buddhakawya' - Buddhis kakawin/kavya, yang ditulis pada abad ke-14, dilepaskannya atau ditanggulanginya ketiga sifat tersebut dilukiskan dalam tiga peristiwa yang dialami oleh Pangeran Sutasoma.
Pertama, ada denawa digdaya berwajah gajah yang disebut gajavaktra, "Wajah Gajah" yang dirasuki oleh Ganesa, mengancam akan menghancurkan Sutasoma. Sang pangeran menaklukkannya dengan 'senjata ampuh' yang dikeluarkan dari semadinya, Ganesa menarik diri dari diri Gajavaktra. Gajavaktra luluh dan menjadi murid Sutasoma.
Kemudian seekor naga yang merasa berkuasa di daerah itu menghalangi jalan Sutasoma dan murid barunya. Pertarungan antara Gajavaktra dan naga pun terjadi dan naga nyaris terbakar menjadi abu oleh api yang keluar dari Gajavaktra, jika pangeran Sutasoma tidak ikut campur. Naga kemudian menjadi murid pengikut Sutasoma.
Kejadian berikutnya adalah yang paling penting, di mana sang pangeran bertemu dengan seekor induk harimau, yang didorong oleh rasa lapar, berpikir untuk memakan anaknya sendiri. Sutasoma menawarkan tubuhnya sebagai makanan kepada induk harimau dan sang harimau membunuhnya dengan merobek dadanya dan meminum darahnya. Di bawah pengaruh darah bodhisatwa, sang harimau betina menyesali perbuatannya dan berharap agar sang pangeran dapat dihidupkan kembali dan, setelah Indra memenuhi keinginannya, induk harimau menjadi murid ketiga Sutasoma. "Jataka Induk Harimau - Vyāghrī-jātaka" dimasukkan ke dalam garapan kakawin.
Meskipun diceritakan peristiwa-peristiwa itu terjadi di luar, tetapi yang ingin dijadikan pawisik (bisikan) adalah ketiga sifat, yaitu kedigdayaan seperti Gajavaktra, ambek kekuasaan sang naga, dan pemikiran yang menghalalkan apa pun seperti induk harimau, pada akhirnya, semuanya dapat ditanggulangi dengan masing-masing cara yang tepat.
Juga di abad ke-18-19, Sri Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta, menulis dalam karya sastra beliau yang berupa tembang macapat "Serat Wulang Reh” tentang ketiga sifat ini.
https://jv.wikisource.org/wiki/Serat_Wulangreh.
Dalam bahasa Jawa Kuno, "wulang" berarti ajaran, sedangkan "reh" artinya jalan, aturan, laku, cara untuk mencapai sesuatu, atau tuntunan. Wulangreh dapat dimaknai sebagai suatu pembelajaran atau tuntunan untuk kita semua.
Pada pupuh gambuh, sifat Adigang dilambangkan oleh "Kijang", Adigung oleh "Gajah (esthi)" dan Adiguna oleh "Ular".
Serat Wulangreh Pupuh Gambuh
4:
Ana pocapanipun / adiguna adigang adigung / pan adigang kidang adigung pan esthi / adiguna ula iku / telu pisan mati samyoh.
Ada kiasan yang berbunyi adiguna, adigang, adigung, adigang kiasan kijang, adigung kiasan gajah, dan adiguna kiasan ular. Ketiganya mati bersamaan.
5:
Sikidang umbagipun / ngendelaken kebat lumpatipun / pan si gajah ngendelaken gung ainggil / ula ngendelaken iku / mandine kalamun nyakot.
Tabiat si kijang adalah menyombongkan kecepatannya berlari, si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar, sedangkan si ular menyombongkan bisanya yang ganas bila menggigit.
6:
Iku upamanipun / aja ngendelaken sira iku / suteng Nata iya sapa kumawani / iku ambege wong digung / ing wasana dadi asor.
Itu perumpamaannya, janganlah kau menyombongkan diri karena putra raja sehingga merasa tidak mungkin ada yang berani, itu tabiat yang adigang, ujung-ujungnya justru merendahkanmu.
7:
Adiguna puniku / ngandelaken kapinteranipun / samubarang kabisan dipundheweki / sapa pinter kaya ingsun / togging prana nora enjoh.
Watak adiguna adalah menyombongakan kepandaiannya, seluruh kebisaan berpikir adalah miliknya. Siapa yang pandai seperti aku, padahal akhirnya tidak sanggup.
8:
Ambek digang puniku / angungasaken kasuranipun / para tantang candala anyenyampahi / tinemenan boya purun / satemah dadi geguyon.
Tabiat orang adigung adalah menyombongkan keperkasaan dan keberaniannya, semuanya ditantang berkelahi, bengis, dan suka mencela. Tetapi jika benar-benar dihadapi, ia tak akan mampu melawan, bahkan jadi bahan tertawaan.
9:
Ing wong urip puniku / aja nganggo ambek kang tetelu / anganggowa rereh ririh ngatiati / den kawangwang barang laku / den waskitha solahing wong.
Dalam kehidupan, jangan kau kedepankan tiga tabiat tersebut, berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati. Perhatikan segala tingkah laku, waspadai segala perilaku kita.
Hal ini menarik. Karena jika dilihat sekilas, itulah karakteristik yang ingin kita miliki sehingga kita dapat mengandalkannya dalam menjalani hidup.
Kekuatan baik fisik maupun yang tidak kasat mata, seperti harta, pendukung, dan koneksi. Kekuasaan melalui status kelahiran, kedudukan, atau jabatan. Kepandaian yang meyakinkan atau kecerdikan dalam berpikir, bersiasat, atau berdebat.
Ternyata, hal-hal ini yang sebetulnya berguna, tetapi karena tujuan utamanya adalah untuk 'saya', jadi jika tanpa kearifan dan kewaskitaan, sifat-sifat ini hanya akan mengaburkan fakta dan menghalangi pengetahuan kita tentang apa yang ada.
Padahal yang terpenting dalam hidup adalah kebisaan untuk melihat apa yang sebenarnya ada. Dengan melihat yang lebih jeli, keputusan yang kita ambil akan membawa manfaat dan menjauhkan penderitaan. Dengan kewaspadaan, kita akan selalu dapat melangkah yang lebih mantap, menghapus kegundahan.
Maka yang dianjurkan dalam Wulang Reh:
Ing wong urip puniku / aja nganggo ambek kang tetelu / anganggowa rereh ririh ngatiati / den kawangwang barang laku / den waskitha solahing wong.
Ing (dalam) wong (orang) urip (hidup) puniku (itu), aja (jangan) nganggo (memakai, melakukan) ambek (watak) kang (yang) tetelu (tiga itu).
Anganggowa (berlakulah, pakailah) rereh (pelan-pelan, sabar) ririh (halus, cermat) ngati–ati (hati-hati).
Den (di) kawangwang (lihat dengan seksama) barang (sembarang, semua) laku (tindak-tanduk), kang (yang) waskitha (tajam dalam mengamati) solahing (perilaku) wong (kita, manusia, orang).
Dalam hidup seseorang itu, janganlah melakukan tiga watak tersebut.
Berlakulah sabar, cermat, dan hati-hati.
Perhatikanlah dengan seksama dalam semua tindak-tanduk, yang tajam dalam mengamati perilaku kita.
Pada mulanya, mungkin dicarikan obat penawar - pratipakṣa, atau lawan dari tiga sifat tadi, tetapi pada akhirnya, inilah jurus-jurus pamungkas yang jauh lebih ampuh, munculnya 'wirapaksa', keberanian dan kemantapan hati dari dalam:
REREH RIRIH NGATI-ATI lan WASKHITA - Sabar, Cermat, Hati-hati dan Waskita.
Penerapannya sangat menyeluruh. Seperti peribahasa Jawa yang mengatakan "Manuk mencok dudu pencokane" - Burung hinggap bukan mengandalkan ranting, tetapi keyakinan dalam dirinya bahwa meskipun membutuhkan sesuatu, pada akhirnya yang dapat diandalkan adalah kemampuannya sendiri. Bagi sang burung, bukan kekuatan ranting hinggapannya yang diandalkan, tetapi tahu bahwa walaupun ranting itu patah, sang burung akan tetap dapat terbang lagi.
***
Ditulis oleh Upasaka Salim Lee pada tanggal 18 Agustus 2024.






