Kesan Belabar Lebaran 2019: Ajaran yang Dalam, Kita Belajar Agar Paham
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Belajar Bareng (Belabar) bersama Om Salim, tahun ini diselenggarakan pada 1-7 Juni 2019, dengan topik “Mengukur Ruang Angkasa ke Arah Timur: Prajna, Upaya, Sutra Pembelah Vajra, dan Lanjutannya.” Materi ini tidak mudah untuk dipahami, namun para peserta belajar untuk menggali dan meresapi makna ajaran yang dalam. Hingga di penghujung Belabar, merekahlah rasa terima kasih pada Buddhadharma, yang berwujud tekad untuk terus menjadi pribadi yang peduli, tidak mengutamakan ‘sosok aku’ dan menjadi bermanfaat untuk banyak orang.
***
Saya teringat dua nasi bungkus yang saya terima di hari ke-3 setelah gempa pada 5 Agustus 2018, dari teman yang hari itu khusus memberikan bantuan logistik di posko kami. Sebuah rasa syukur yang tak terhingga, dengan berurai air mata saya menerima pemberian nasi bungkus tersebut. Satu nasi bungkus tersebut kami makan bertiga: saya, anak, dan suami. Satu bungkus lagi, saya berikan kepada keponakan untuk berbagi pada saudara yang lain. Sungguh rasa nikmat tak terhingga, karena sudah 3 hari kami hanya makan nasi dan kerupuk. Terlebih sudah 3 hari anakku tidak minum susu. Dengan nasi bungkus itu, anakku mau makan banyak dan bisa tidur nyenyak malam itu. Mungkin bagi banyak orang, nasi bungkus tidaklah berarti apa-apa, tapi sungguh saya sangat mensyukuri itu.
Begitu pula Belabar ini yang bisa diibaratkan seperti rasa lapar akan pengetahuan Dharma sebagai bekal menjalani hidup. Banyak buku Dharma yang saya miliki, tetapi sangat berbeda dengan datang dan belajar langsung di Belabar ini, karena di sini kita belajar bersama Sangha (komunitas). Saya sangat merasakan manfaat dari pengetahuan yang Guru ajarkan, tentang Aku, Anatta, Buddhasetra, dan cara untuk berbuat kebaikan yang sesungguhnya.
Terima kasih saya sampaikan kepada Om Salim yang sangat menginspirasi saya untuk mempraktikkan Dharma ini. Mempraktikkan ajaran Buddha. Terima kasih kepada teman-teman Potowa yang sudah memfasilitasi kehadiran saya. Kalian luar biasa. Semoga suami saya bisa mengikuti Belabar tahun depan, sehingga kami bisa memiliki pengetahuan yang sama dalam Buddhadharma. Anumodana!
***
Ini adalah tahun ke-5 saya mengikuti Belabar. Dalam 1-2 tahun terakhir ini, banyak kejadian yang saya alami, yang membuat saya lebih mengerti tentang apa yang Om bagikan ke kita. Satu dua tahun pertama mengikuti Belabar, banyak hal yang belum ‘klik’ bagi saya, karena mungkin belum banyak hal yang saya alami. Mendengar cerita teman-teman di Belabar juga rasanya, “Hmm, memang sampai segitunya, ya?”
Hingga hal-hal tersebut terjadi pada diri saya sendiri, menghadapi begitu banyak up and down dalam hidup, penolakan dalam diri, tidak siap menerima perubahan, di sana saya baru sadar betapa berharganya saya memiliki kesempatan untuk belajar Dharma. Melihat semangat teman-teman untuk belajar, apa yang teman-teman lakukan dalam hidup, begitu juga Om yang begitu semangat sharing Dharma ke kita, mengingatkan saya betapa berharganya hidup dan menghargai hari-hari kita. Semoga semua dari kita bisa terus bertumbuh dan bermanfaat bagi keluarga, teman, dan orang-orang di luar.
Terima kasih kepada Om Salim, teman-teman Potowa, panitia, dan semuanya.
***
Ini pertama kalinya saya ikut kelas Om Salim. Selama beberapa hari belajar, saya merasa sangat banyak disadarkan akan hal-hal yang tidak saya sadari selama ini. Mencari akar permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling rumit sampai hal yang sepele, yang biasanya membuat kita terperangkap dalam perasaan. Saya selalu lupa untuk menghadirkan kesadaran (mindfulness) selama beraktivitas. Walau saya tahu being mindful sangat berguna dalam kehidupan, hanya saya masih kurang paham bagaimana menghadirkannya dalam keseharian. Terkadang terlalu banyak yang harus dikerjakan dan banyak emosi yang terjadi dalam sehari (malah bisa terjadi per setiap detik), itu membuat kita sampai hilang kendali di pusaran duniawi ini.
Dengan ikut kelas Om Salim, saya akhirnya bisa tahu bagaimana mencari dan menjabarkan masalah-masalah yang terjadi sampai ke akarnya. Semoga pelajaran ini bisa langsung saya praktikkan dalam keseharian. Sungguh mengagumkan bisa mempelajari Vajracchedika dan nondualistik dalam kelas kali ini.
***
Terima kasih atas semua kondisi yang mendukung dan tidak mendukung dari proses belajar selama Belabar, semuanya indah baik di awal, tengah hingga akhir.
Dari Belabar ini, saya mendapatkan tujuan hidup dari sudut pandang berbeda berdasarkan penjelasan Vajracchedika Prajnaparamita Sutra. Semoga masih punya kesempatan untuk belajar bersama lagi di Belabar selanjutnya.
***
Awalnya agak terkejut karena ternyata tak ada “sosok Aku” seperti yang saya pikirkan. Materi dan pengajaran dari Om banyak membuka pikiran dan memberikan pengetahuan baru. Beberapa di antaranya sudah dicoba untuk diimplementasikan. Semoga sekembali dari sini, badan dan segenap pengetahuan yang menyertai, dapat lebih paham dalam menjalani hidup. Terima kasih Om dan panitia yang memberikan kesempatan ini, walau kami mendaftarnya di saat akhir.
***
Bisa mendengar penjelasan tentang Vajracchedika sungguh sungguh sungguh… langka dan berharga! Karena sutra ini jarang sekali diulas. Bisa sedikit merasakan maksud sutra ini dan ‘menangkap’ maksud dari beberapa paragraf di bagian awal sutra yang Om ulas. Mohon Om dapat melanjutkan ulasan ini di kesempatan berikutnya sehingga seluruh sutra dikupas tuntas.
Mengenai sense of self, ada satu poin yang langsung saya catat: itu termasuk sense of pencapaian atas hal-hal baik yang dilakukan, itu pun perlu kita sadari. Terima kasih Om telah mengingatkan hal ini. Karena kadang yang kita sorot justru yang agak jauh atau yang menurut kita ‘agak kentara,’ tapi tidak menyadari sisi lain yang juga sama beresikonya.
Saya sangat mengapresiasi Om yang juga menyertakan materi-materi Abhidharma, sehingga kita mempunyai perspektif tentang itu, tahu letaknya dalam Buddhadharma. Tahu latar belakangnya, pemikiran, dan pembagian menurut sistem yang berbeda-beda sehingga tidak merasa mengganjal ketika berhadapan dengan keterangan atau interpretasi yang berbeda-beda mengenai Abhidharma.
Sudah lama saya tidak menjalankan meditasi “Settling the Mind in Its Natural State.” Senang sekali Om mengingatkan teknik yang sudah hampir saya lupakan ini. Saya berniat untuk melakukan teknik ini untuk mengakses space of the mind/empty space. Tadi pagi, tiba-tiba merasa bahwa teknik ini sangat profound! Selama ini memang lebih banyak memakai teknik Open Awareness dan tidak terpikirkan untuk ganti teknik! Mungkin sesekali perlu ganti teknik, beberapa teknik bisa dilakukan secara bergantian sehingga proses ‘cultivating’ menjadi lebih ‘lengkap’ dari berbagai arah.
Terima kasih Om. Kebaikan Om tidak terukur. Pemberian Om tidak terukur. Sehat dan panjang umur, OM. Bow & homage!
***
Terima kasih Om atas ajaran mengenai nature of mind, emptiness, pratitya-samutpada (kesalingterkaitan).
Terima kasih Om telah mengajarkan banyak keterampilan dalam menghadapi berbagai gejolak dalam hidup ini, mengajarkan hidup yang berani, bisa melihat apa adanya sehingga dapat membuat keputusan dan berbuat lebih baik, yang tidak didasari untuk ‘saya’ saja. Om juga mengajarkan untuk tidak terikat pada kepemilikan, dll.
Om juga mengajarkan tidak hanya cukup punya welas asih (compassion), tapi juga diperlukan ketajaman pikiran (wisdom). Menjadi orang yang berkecukupan, memurnikan setra, alammu bukan ada di luar—tapi alammu mengikutimu. Bahwa semua sudah oke dan sempurna, sehingga timbul kepercayaan diri. Tidak mencari ‘kwetiau terenak di dunia untuk saya sendiri,’ memperluas hati (in grup). Memperhatikan apa yang terjadi di pikiran kita—karena hidup ini bukan tentang jabatan atau uang, tapi apa yang dialami.
Tujuan hidup agar selalu menginspirasi dan menjadi sumber kehangatan bagi yang lain. Berlatih bersyukur, mulai dengan orang tua, karena seburuk apa pun kamu, orang tua akan tetap menyayangimu. Tunjukkanlah hormat dan kasih sayang pada orang tuamu selagi masih ada kesempatan.
Menjadi lebih peduli dengan sesama dan lingkungan. Buddhadharma tidak sekadar bertujuan membuatmu bahagia, namun tergugah. Belajar mengetahui apa yang ada, belajar untuk tidak malas dan tidak hitung-hitungan. Belajarlah dari apa pun yang kamu temui, berikanlah apa pun yang dibutuhkan makhluk lain.
Jangan arogan sama pembantu, pelayan restoran atau yang kamu anggap di bawahmu. Jangan mengukur atau membandingkan dengan orang lain, kurangi rasa arogan dan iri hati. Melihat kesamaan pada setiap insan: sama-sama ingin bahagia dan tidak ingin menderita, dengan demikian tidak akan ada lagi kecemburuan atau iri hati. Selalu punya hati yang terbuka.
Hidup ini seperti pentas, apabila ingin sehat, hargailah kehidupan. Setiap saat hadir, jangan membutakan dirimu sendiri dan jadilah orang yang tajam dan awas, sehingga tiap kali menoleh ke belakang, tidak ada yang disesali.
***
Dear Om Salim dan teman-teman Belabar, terima kasih telah membantu memfasilitasi dan menunjang berjalannya Belabar ini dengan baik. Terima kasih Om untuk ajarannya. Ini kali ketiga saya ikut Belabar, dan selalu ada pembelajaran yang saya petik. Dari yang awalnya hanya mengerti sedikit, bertambah lagi, dan bertambah lagi.
Beberapa kali kalau lagi dapat 'ujian kehidupan,' saya ingat jurus dari Om. Saya menyadari 'naik kelas' di ujian kehidupan lebih sulit dari ujian sekolah, karena di sini tidak ada jawaban yang pasti: pilih ini benar, pilih itu juga mungkin benar. Saya teringat Om selalu berpesan untuk “jangan takut.” Jadi saya berpedoman pada motivasi tersebut, untuk sebaik-baiknya, sebisa-bisanya melakukan hal yang bermanfaat; atau paling tidak, tidak merugikan yang lain. Terima kasih untuk pembekalan ini, Om. Doa terbaik untuk Om dan teman-teman.
***
Terima kasih untuk para panitia yang membantu pendaftaran dan pengaturan informasi, terutama karena saya peserta yang mendaftar di pekan-pekan terakhir. Terima kasih untuk Om Salim yang dengan sabar dan telaten memberikan pengajaran. Saya ikut karena sebelumnya di Borobudur, saya mendapat ilmu Migunaning Tumpraping Liyan (“Berguna buat sesama”) dan “Kok sama ya?” (semua orang pada dasarnya ingin bahagia, tidak ingin susah) dari Om.
Di Belabar kali ini, ada banyak kosakata baru yang saya pelajari. Senang sekali mendapat pengajaran dan pengalaman yang meneguhkan spiritualitas saya. Salut dengan energi Om untuk membantu memandu saya icip-icip memahami emptiness dan selflessness.
***
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Om dan panitia untuk kegiatan ini. Walaupun saya sering merasa terima kasih tidaklah cukup hanya sekedar diucapkan. Mungkin yang dapat saya lakukan hanya menerapkan ajaran dan mempraktikkannya.
Yaitu pertama, mendengarkan, lalu merenungkan, merefleksikan serta mengontemplasikan dan menumbuhkembangkan dengan latihan meditasi secara rutin. Dalam retret kali ini, rasanya ada hal baru yang mungkin saya ngeh mengenai sang "Aku," yang dalam kehidupan sehari-hari begitu mendarahdaging. Sekarang saya jadi lebih sering mengecek ke dalam diri sendiri. Semoga dengan begitu, rasa kepedulian saya terhadap yang lain dapat terasah, menjadi lebih peka lagi.
Semoga ajaran mengenai Vajracchedika yang Om bagikan ini, dapat membuat saya lebih peka dan dapat mendeteksi keakuan dalam diri, sehingga bisa menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi banyak orang.
Saya tidak ingin menjadi orang yang kelihatan baik, tapi benar-benar baik dalam kejujuran dan spontan. Agar saya terbebas dari gangguan pikiran. Semoga avidya yang selalu menutupi saya makin berkurang dan bodhicitta alami saya semakin terang. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.
***
Saya teringat dua nasi bungkus yang saya terima di hari ke-3 setelah gempa pada 5 Agustus 2018, dari teman yang hari itu khusus memberikan bantuan logistik di posko kami. Sebuah rasa syukur yang tak terhingga, dengan berurai air mata saya menerima pemberian nasi bungkus tersebut. Satu nasi bungkus tersebut kami makan bertiga: saya, anak, dan suami. Satu bungkus lagi, saya berikan kepada keponakan untuk berbagi pada saudara yang lain. Sungguh rasa nikmat tak terhingga, karena sudah 3 hari kami hanya makan nasi dan kerupuk. Terlebih sudah 3 hari anakku tidak minum susu. Dengan nasi bungkus itu, anakku mau makan banyak dan bisa tidur nyenyak malam itu. Mungkin bagi banyak orang, nasi bungkus tidaklah berarti apa-apa, tapi sungguh saya sangat mensyukuri itu.
Begitu pula Belabar ini yang bisa diibaratkan seperti rasa lapar akan pengetahuan Dharma sebagai bekal menjalani hidup. Banyak buku Dharma yang saya miliki, tetapi sangat berbeda dengan datang dan belajar langsung di Belabar ini, karena di sini kita belajar bersama Sangha (komunitas). Saya sangat merasakan manfaat dari pengetahuan yang Guru ajarkan, tentang Aku, Anatta, Buddhasetra, dan cara untuk berbuat kebaikan yang sesungguhnya.
Terima kasih saya sampaikan kepada Om Salim yang sangat menginspirasi saya untuk mempraktikkan Dharma ini. Mempraktikkan ajaran Buddha. Terima kasih kepada teman-teman Potowa yang sudah memfasilitasi kehadiran saya. Kalian luar biasa. Semoga suami saya bisa mengikuti Belabar tahun depan, sehingga kami bisa memiliki pengetahuan yang sama dalam Buddhadharma. Anumodana!
***
Ini adalah tahun ke-5 saya mengikuti Belabar. Dalam 1-2 tahun terakhir ini, banyak kejadian yang saya alami, yang membuat saya lebih mengerti tentang apa yang Om bagikan ke kita. Satu dua tahun pertama mengikuti Belabar, banyak hal yang belum ‘klik’ bagi saya, karena mungkin belum banyak hal yang saya alami. Mendengar cerita teman-teman di Belabar juga rasanya, “Hmm, memang sampai segitunya, ya?”
Hingga hal-hal tersebut terjadi pada diri saya sendiri, menghadapi begitu banyak up and down dalam hidup, penolakan dalam diri, tidak siap menerima perubahan, di sana saya baru sadar betapa berharganya saya memiliki kesempatan untuk belajar Dharma. Melihat semangat teman-teman untuk belajar, apa yang teman-teman lakukan dalam hidup, begitu juga Om yang begitu semangat sharing Dharma ke kita, mengingatkan saya betapa berharganya hidup dan menghargai hari-hari kita. Semoga semua dari kita bisa terus bertumbuh dan bermanfaat bagi keluarga, teman, dan orang-orang di luar.
Terima kasih kepada Om Salim, teman-teman Potowa, panitia, dan semuanya.
***
Ini pertama kalinya saya ikut kelas Om Salim. Selama beberapa hari belajar, saya merasa sangat banyak disadarkan akan hal-hal yang tidak saya sadari selama ini. Mencari akar permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, dari hal yang paling rumit sampai hal yang sepele, yang biasanya membuat kita terperangkap dalam perasaan. Saya selalu lupa untuk menghadirkan kesadaran (mindfulness) selama beraktivitas. Walau saya tahu being mindful sangat berguna dalam kehidupan, hanya saya masih kurang paham bagaimana menghadirkannya dalam keseharian. Terkadang terlalu banyak yang harus dikerjakan dan banyak emosi yang terjadi dalam sehari (malah bisa terjadi per setiap detik), itu membuat kita sampai hilang kendali di pusaran duniawi ini.
Dengan ikut kelas Om Salim, saya akhirnya bisa tahu bagaimana mencari dan menjabarkan masalah-masalah yang terjadi sampai ke akarnya. Semoga pelajaran ini bisa langsung saya praktikkan dalam keseharian. Sungguh mengagumkan bisa mempelajari Vajracchedika dan nondualistik dalam kelas kali ini.
***
Terima kasih atas semua kondisi yang mendukung dan tidak mendukung dari proses belajar selama Belabar, semuanya indah baik di awal, tengah hingga akhir.
Dari Belabar ini, saya mendapatkan tujuan hidup dari sudut pandang berbeda berdasarkan penjelasan Vajracchedika Prajnaparamita Sutra. Semoga masih punya kesempatan untuk belajar bersama lagi di Belabar selanjutnya.
***
Awalnya agak terkejut karena ternyata tak ada “sosok Aku” seperti yang saya pikirkan. Materi dan pengajaran dari Om banyak membuka pikiran dan memberikan pengetahuan baru. Beberapa di antaranya sudah dicoba untuk diimplementasikan. Semoga sekembali dari sini, badan dan segenap pengetahuan yang menyertai, dapat lebih paham dalam menjalani hidup. Terima kasih Om dan panitia yang memberikan kesempatan ini, walau kami mendaftarnya di saat akhir.
***
Bisa mendengar penjelasan tentang Vajracchedika sungguh sungguh sungguh… langka dan berharga! Karena sutra ini jarang sekali diulas. Bisa sedikit merasakan maksud sutra ini dan ‘menangkap’ maksud dari beberapa paragraf di bagian awal sutra yang Om ulas. Mohon Om dapat melanjutkan ulasan ini di kesempatan berikutnya sehingga seluruh sutra dikupas tuntas.
Mengenai sense of self, ada satu poin yang langsung saya catat: itu termasuk sense of pencapaian atas hal-hal baik yang dilakukan, itu pun perlu kita sadari. Terima kasih Om telah mengingatkan hal ini. Karena kadang yang kita sorot justru yang agak jauh atau yang menurut kita ‘agak kentara,’ tapi tidak menyadari sisi lain yang juga sama beresikonya.
Saya sangat mengapresiasi Om yang juga menyertakan materi-materi Abhidharma, sehingga kita mempunyai perspektif tentang itu, tahu letaknya dalam Buddhadharma. Tahu latar belakangnya, pemikiran, dan pembagian menurut sistem yang berbeda-beda sehingga tidak merasa mengganjal ketika berhadapan dengan keterangan atau interpretasi yang berbeda-beda mengenai Abhidharma.
Sudah lama saya tidak menjalankan meditasi “Settling the Mind in Its Natural State.” Senang sekali Om mengingatkan teknik yang sudah hampir saya lupakan ini. Saya berniat untuk melakukan teknik ini untuk mengakses space of the mind/empty space. Tadi pagi, tiba-tiba merasa bahwa teknik ini sangat profound! Selama ini memang lebih banyak memakai teknik Open Awareness dan tidak terpikirkan untuk ganti teknik! Mungkin sesekali perlu ganti teknik, beberapa teknik bisa dilakukan secara bergantian sehingga proses ‘cultivating’ menjadi lebih ‘lengkap’ dari berbagai arah.
Terima kasih Om. Kebaikan Om tidak terukur. Pemberian Om tidak terukur. Sehat dan panjang umur, OM. Bow & homage!
***
Terima kasih Om atas ajaran mengenai nature of mind, emptiness, pratitya-samutpada (kesalingterkaitan).
Terima kasih Om telah mengajarkan banyak keterampilan dalam menghadapi berbagai gejolak dalam hidup ini, mengajarkan hidup yang berani, bisa melihat apa adanya sehingga dapat membuat keputusan dan berbuat lebih baik, yang tidak didasari untuk ‘saya’ saja. Om juga mengajarkan untuk tidak terikat pada kepemilikan, dll.
Om juga mengajarkan tidak hanya cukup punya welas asih (compassion), tapi juga diperlukan ketajaman pikiran (wisdom). Menjadi orang yang berkecukupan, memurnikan setra, alammu bukan ada di luar—tapi alammu mengikutimu. Bahwa semua sudah oke dan sempurna, sehingga timbul kepercayaan diri. Tidak mencari ‘kwetiau terenak di dunia untuk saya sendiri,’ memperluas hati (in grup). Memperhatikan apa yang terjadi di pikiran kita—karena hidup ini bukan tentang jabatan atau uang, tapi apa yang dialami.
Tujuan hidup agar selalu menginspirasi dan menjadi sumber kehangatan bagi yang lain. Berlatih bersyukur, mulai dengan orang tua, karena seburuk apa pun kamu, orang tua akan tetap menyayangimu. Tunjukkanlah hormat dan kasih sayang pada orang tuamu selagi masih ada kesempatan.
Menjadi lebih peduli dengan sesama dan lingkungan. Buddhadharma tidak sekadar bertujuan membuatmu bahagia, namun tergugah. Belajar mengetahui apa yang ada, belajar untuk tidak malas dan tidak hitung-hitungan. Belajarlah dari apa pun yang kamu temui, berikanlah apa pun yang dibutuhkan makhluk lain.
Jangan arogan sama pembantu, pelayan restoran atau yang kamu anggap di bawahmu. Jangan mengukur atau membandingkan dengan orang lain, kurangi rasa arogan dan iri hati. Melihat kesamaan pada setiap insan: sama-sama ingin bahagia dan tidak ingin menderita, dengan demikian tidak akan ada lagi kecemburuan atau iri hati. Selalu punya hati yang terbuka.
Hidup ini seperti pentas, apabila ingin sehat, hargailah kehidupan. Setiap saat hadir, jangan membutakan dirimu sendiri dan jadilah orang yang tajam dan awas, sehingga tiap kali menoleh ke belakang, tidak ada yang disesali.
***
Dear Om Salim dan teman-teman Belabar, terima kasih telah membantu memfasilitasi dan menunjang berjalannya Belabar ini dengan baik. Terima kasih Om untuk ajarannya. Ini kali ketiga saya ikut Belabar, dan selalu ada pembelajaran yang saya petik. Dari yang awalnya hanya mengerti sedikit, bertambah lagi, dan bertambah lagi.
Beberapa kali kalau lagi dapat 'ujian kehidupan,' saya ingat jurus dari Om. Saya menyadari 'naik kelas' di ujian kehidupan lebih sulit dari ujian sekolah, karena di sini tidak ada jawaban yang pasti: pilih ini benar, pilih itu juga mungkin benar. Saya teringat Om selalu berpesan untuk “jangan takut.” Jadi saya berpedoman pada motivasi tersebut, untuk sebaik-baiknya, sebisa-bisanya melakukan hal yang bermanfaat; atau paling tidak, tidak merugikan yang lain. Terima kasih untuk pembekalan ini, Om. Doa terbaik untuk Om dan teman-teman.
***
Terima kasih untuk para panitia yang membantu pendaftaran dan pengaturan informasi, terutama karena saya peserta yang mendaftar di pekan-pekan terakhir. Terima kasih untuk Om Salim yang dengan sabar dan telaten memberikan pengajaran. Saya ikut karena sebelumnya di Borobudur, saya mendapat ilmu Migunaning Tumpraping Liyan (“Berguna buat sesama”) dan “Kok sama ya?” (semua orang pada dasarnya ingin bahagia, tidak ingin susah) dari Om.
Di Belabar kali ini, ada banyak kosakata baru yang saya pelajari. Senang sekali mendapat pengajaran dan pengalaman yang meneguhkan spiritualitas saya. Salut dengan energi Om untuk membantu memandu saya icip-icip memahami emptiness dan selflessness.
***
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Om dan panitia untuk kegiatan ini. Walaupun saya sering merasa terima kasih tidaklah cukup hanya sekedar diucapkan. Mungkin yang dapat saya lakukan hanya menerapkan ajaran dan mempraktikkannya.
Yaitu pertama, mendengarkan, lalu merenungkan, merefleksikan serta mengontemplasikan dan menumbuhkembangkan dengan latihan meditasi secara rutin. Dalam retret kali ini, rasanya ada hal baru yang mungkin saya ngeh mengenai sang "Aku," yang dalam kehidupan sehari-hari begitu mendarahdaging. Sekarang saya jadi lebih sering mengecek ke dalam diri sendiri. Semoga dengan begitu, rasa kepedulian saya terhadap yang lain dapat terasah, menjadi lebih peka lagi.
Semoga ajaran mengenai Vajracchedika yang Om bagikan ini, dapat membuat saya lebih peka dan dapat mendeteksi keakuan dalam diri, sehingga bisa menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi banyak orang.
Saya tidak ingin menjadi orang yang kelihatan baik, tapi benar-benar baik dalam kejujuran dan spontan. Agar saya terbebas dari gangguan pikiran. Semoga avidya yang selalu menutupi saya makin berkurang dan bodhicitta alami saya semakin terang. Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.
