Mekarnya Teratai untuk Ayah-Bunda
Oleh S
Dihantar pada 3 Juli 2026
Sekitar 3 tahun lalu, Papa didiagnosis kanker hemangiosarkoma, sejenis kanker di jaringan lunak yang agak ganas dan langka. Sejak diberi tahu oleh dokter bahwa sel kanker sudah mulai menyebar ke paru-paru, kami sudah sedikit bisa merasakan kemungkinan yang ada. Ada rasa terima kasih yang dalam, kami semua bisa menemani Papa sampai saat-saat terakhir. Di malam terakhir kami masih diberi kesempatan bersama-sama mengganti luka Papa. Semua anak dan menantu hadir waktu itu.
Menata Cara Pikir & Bagaimana Berbuat
Selama mendampingi Papa, kami berusaha mengingat ajaran yang disampaikan oleh salah satu Fashi untuk belajar “let it be/let go” (“melepas”) satu per satu setiap hari: baik benda, kepemilikan, pencapaian, termasuk apa yang kita lakukan, sehingga jika hari ajal kita sendiri tiba, kita tidak terlalu sulit untuk “melepas,” termasuk melepas tubuh kita.
Sedikit menduga apa yang perlu diurus nantinya dan supaya tidak kelabakan, saya beberapa kali mendatangi Shifu di Vihara Ekayana untuk menanyakan persiapan-persiapan. Oleh Shifu, diberikan dharani dan beberapa item yang sudah di-“consecrated” (dibacakan doa ratusan atau ribuan kali), yang nantinya bisa dikenakan, diletakkan, ditabur di tubuh orang yang meninggal, saat tutup peti, dan saat tutup guci. Semua item berisi dharani-dharani, semacam “code” sarat makna yang diucapkan oleh para Buddha dan para Bodhisattva, yang mengandung maha pranidhana lampau mereka yang luas nan dalam.
Saya juga mendengar berulang-ulang audio pembabaran Dharma dari Huili Fashi terutama tentang apa yang pihak keluarga bisa lakukan untuk membantu orang yang akan meninggal. Kupasan Huili Fashi sangat rinci, mencakup apa yang bisa dilakukan: “sebelum,” “saat,” dan “pasca” meninggal. Mendekati saat meninggal misalnya, pihak keluarga disarankan untuk tidak menangisi dengan keterikatan di hadapan orang yang akan meninggal, tapi sebaliknya kita perlu berusaha menenangkan dengan kata-kata yang baik, memberitahukan bahwa banyak hal baik yang sudah dilakukan, supaya yang akan meninggal tidak merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukannya.
Kami mencoba mengikuti apa yang Shifu dan Huili Fashi ajarkan. Saat Papa menghembuskan napas terakhir, kami lakukan “Nianfo” (anusmrti) A Mi Tuo Fo” terhadap Buddha Amitabha, ini dilakukan selama 12 jam tanpa henti, secara bergantian. Sebenarnya Huili Fashi menyarankan kalau bisa dilakukan selama 16 jam. Kebetulan Papa meninggalnya di rumah, jadi “Nianfo” bisa dilakukan dengan tenang tanpa didesak waktu.
Selama persemayaman di rumah duka, kremasi, ambil tulang dan abu, serta larung abu, bisa dikatakan prosesnya berlangsung lancar. Ini tentu saja tidak lepas dari bantuan, dukungan, saran, dan kemudahan dari banyak pihak. Untuk menghormati para tetua, kita konsultasikan beberapa hal, karena bagaimana pun juga, ada tradisi-tradisi yang tetap dipegang dan dijalankan oleh orang Tionghoa pada umumnya dan di daerah khususnya. Meski tidak mengikuti hingga detail-detailnya, kami berusaha tetap “update” ke para tetua.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari berkonsultasi dengan mereka yang lebih berumur karena pengalaman hidup mereka. Dalam salah satu pembicaraan, mereka memberi perspektif demikian: “Menghormati orang tua, menghargai petunjuk tetua, “flowing” (mengalir) atau selaras dengan nilai-nilai tradisi, maka langit dan bumi pun akan ‘memberkati’ atas apa yang kita kerjakan.”
Dalam mengatur dan mengordinasi berbagai persiapan, jelas ada perbedaan pendapat sesama kami, kadang ada komunikasi yang “miss,” kadang muncul emosi – tidak terkecuali dalam hal-hal yang kelihatannya kecil seperti mengatur konsumsi, pembelian barang, antar-jemput dan alokasi penginapan untuk saudara. Kami mencoba saling mengingatkan bahwa tantangan-tantangan pasti ada, tapi kita usahakan untuk tidak bereaksi negatif dan kasih ‘jeda’ sebelum reaksi. Saat berbeda pendapat mengenai apa yang mau dilakukan, tidak perlu bersikeras ingin memutuskan di saat itu juga, karena tidak jarang, di menit berikutnya muncul alternatif lain yang lebih memudahkan semua pihak.
Menjalankan Pesan
Beberapa bulan sebelum meninggal, Papa sempat menyinggung saudara kandung Beliau (A Ciek) yang sudah koma sekitar 12 tahun di Pekan Baru, dan terakhir Papa jenguk memang sudah lama. Karena merasa ini mungkin salah satu ‘wish’ Papa yang belum terlaksana, seminggu setelah Papa meninggal, kami berangkat ke Pekan Baru untuk menjenguk dan mendoakan A Ciek dan keluarganya.
Papa juga sempat berpesan untuk “keep in touch” dengan beberapa saudara yang tinggal jauh. Awalnya kami tidak begitu jelas siapa-siapa yang Beliau maksud, tapi setelah bertanya ke para tetua, akhirnya ketemu ‘silsilahnya.’ Para tetua sempat cerita bahwa Papa adalah orang yang sangat menghargai leluhur dan Papa selalu berusaha menjalin kontak dengan sanak keluarga, baik sesama generasi maupun generasi di atasnya. Untuk urusan ini, kami, anak-anaknya memang kurang begitu memperhatikan. Atas pesan ini, kami melakukan kunjungan, paling tidak lewat telepon dengan beberapa sesepuh yang jarang kontak. Hati rasanya plong sekali setelah melakukan ini.
Pemberian & Dedikasi
Menurut ajaran Buddhadharma, masih ada yang bisa kita lakukan untuk orang yang sudah meninggal. Hal-hal positif yang kita lakukan setiap hari jika didedikasikan untuk mereka, akan membantu. Huili Fashi juga menjelaskan bahwa kebajikan dan dedikasi itu lebih baik dilakukan setiap hari, bukan cuma kelipatan hari ke-7 (bukan cuma hari ke-7, hari ke-14, hari ke-21, dst). Karena mereka yang berada di “alam” antara-bhava, setiap hari ada kemungkinan terlahir kembali, hingga maksimal dalam waktu 49 hari. Everyday counts! Jadi setiap hari kami berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya.
Dalam Sutra Ksitigarbha disebutkan bahwa pihak keluarga bisa melakukan berbagai kebajikan atas nama almarhum. Untuk itu, kami mulai merapikan baju-baju, obat-obat, dan barang-barang lainnya, membungkusnya dengan rapi dan diberikan secara pribadi ke para satpam, petugas kebersihan, pegawai, dan beberapa penjual makanan yang Papa kenal. Mereka terima dengan penuh syukur!
Uang simpanan Papa yang dikumpulkan bertahun-tahun juga dialokasikan untuk berbagai pemberian, seperti fangshen, membagikan nasi kuning, pembangunan vihara, pemasangan pelita, pembuatan rupang Arya Ksitigarbha, hingga pembelian offerings. Biasanya setiap kali melakukan pemberian, kami akan “melapor” ke Papa lewat foto Beliau, apa saja yang sudah dilakukan hari itu, agar Papa dan yang lainnya ikut bersukacita.
Sepeninggal Papa, setiap hari kami berusaha melakukan offerings makanan dan minuman disertai doa-doa. Doa pagi biasanya Sutra Ksitigarbha, pelafalan Namo Ksitigarbha Bodhisattva sebanyak beberapa mala dan kadang-kadang disertai Mahakaruna Dharani (“Da Bei Zhou”). Sutra Ksitigarbha mengajarkan bakti yang luar biasa. Diceritakan di salah satu kehidupan lampau, Arya Ksitigarbha pernah terlahir sebagai putri Brahmana, dan demi membantu Ibunya yang terlahir di neraka, Beliau bertekad di hadapan Buddha untuk menolong semua makhluk dan tidak akan mengabaikan satu makhluk pun. Hingga semua makhluk tersebut menjadi Buddha, barulah Beliau ‘berkenan’ ter-“certified” sudah mencapai Anuttara-Samyaksambodhi. Mengingat tekad-tekad agung Beliau, sering membuat hati terharu-haru! Doa untuk malam hari yang dilakukan adalah Sutra Amitabha disertai Dharani “Wang Sheng Zhou” (dedikasi untuk terlahir di Buddhasetra Sukhavati).
Dasar pemikiran melakukan persembahan dan Puja Bakti adalah mempraktikkan kemurahan hati, mengingat “anusmrti” tekad-tekad para Buddha dan Bodhisattva, serta mengintegrasikan tubuh, ucapan dan pikiran dengan memikirkan objek-objek suci.
Selama bulan Ulambana (bulan 7 penanggalan lunar) di vihara-vihara biasanya banyak doa, di antaranya doa pengakuan karma-karma negatif dan doa-doa untuk para almarhum/almarhumah dan leluhur. Banyak yang menulis nama leluhurnya untuk mendedikasikan kebajikan-kebajijan. Salah satu Shifu mengatakan bahwa ingat kepada leluhur dan mengikutsertakan nama mereka adalah hal yang baik, tapi akan bermanfaat jika kita sendiri ikut hadir dalam mendoakan. Kami pun ikut serta dalam beberapa aktivitas. Doa-doa dedikasi bukan saja ditujukan untuk Almarhum Papa dan Mama, tapi juga untuk Kakek, Nenek, leluhur-leluhur lainnya, juga para makhluk yang tercederai, semuanya diikutsertakan.
Apresiasi
Di saat-saat seperti itu, sangat berguna kami semua mendapat tempaan dari ajaran Om, yang selalu mengingatkan untuk peduli, untuk hadir. Terima kasih kepada Om Salim yang selalu mengingatkan “how to think” (menata cara pikir) dan “what can be done” (apa yang bisa dilakukan). Di sini kami ingin berbagi salah satu pesan Om:
Terima kasih kepada sahabat dari Jambi yang tidak saja merekomendasikan dan sering mengirim obat-obat, tapi juga sering ‘browsing’ untuk mencari dan berbagi informasi mengenai pengobatan, baik pengobatan tradisional maupun medis kedokteran.
Terima kasih kepada Sin She yang khusus datang ke Bandung beberapa hari lebih awal, untuk memberikan saran tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan beserta beberapa tata cara, membantu memimpin doa saat kremasi, serta membantu menulis dan mempersiapkan papan nama-nama leluhur.
Terima kasih kepada sahabat dari Jakarta yang membantu mengambil dan mengirimkan buku-buku Dharma untuk kami kirimkan ke daerah, di mana ini juga merupakan upaya dedikasi untuk Papa.
Terima kasih juga kepada sanak keluarga, teman-teman serta semua pihak yang telah ikut membantu dan mendoakan, termasuk memasang pelita dari jauh.
Ada kelegaan hati dan apresiasi, bahwa kami kakak-beradik bisa bahu-membahu, saling membantu sejak Papa terdiagnosa sakit sampai Papa tiada. Mencoba saling mengerti dan mendukung baik materi maupun semangat. Papa membuat hubungan kekeluargaan kami semakin erat. Terima kasih Papa.
Sampai hari ini pun, ketika mengingat dan melihat foto Papa, kami masih sering menangis dan kadang ada rasa “miss.” Tapi seperti yang Om Salim nasihatkan, mungkin yang akan membantu adalah ‘mengingat’ dan ‘mengapresiasi’ ketimbang emosi-emosi yang sifatnya emosional. Apa yang kami lakukan mungkin belum bisa membalas budi dan kebaikan Papa, untuk itu kami akan berupaya terus dan menjalani hidup dengan baik. Sebagaimana diingatkan dalam Doa Dedikasi, agar sesedikit apa pun upayanya, kami bisa ikut “Membalas empat budi besar” – budi Ayah-Bunda; budi Guru (termasuk para Buddha dan Bodhisattva); budi negara; dan budi semua makhluk – yang dalam satu cara maupun cara lainnya bertautan dan berkontribusi atas ‘alam’ kita.
***
Menata Cara Pikir & Bagaimana Berbuat
Selama mendampingi Papa, kami berusaha mengingat ajaran yang disampaikan oleh salah satu Fashi untuk belajar “let it be/let go” (“melepas”) satu per satu setiap hari: baik benda, kepemilikan, pencapaian, termasuk apa yang kita lakukan, sehingga jika hari ajal kita sendiri tiba, kita tidak terlalu sulit untuk “melepas,” termasuk melepas tubuh kita.
Sedikit menduga apa yang perlu diurus nantinya dan supaya tidak kelabakan, saya beberapa kali mendatangi Shifu di Vihara Ekayana untuk menanyakan persiapan-persiapan. Oleh Shifu, diberikan dharani dan beberapa item yang sudah di-“consecrated” (dibacakan doa ratusan atau ribuan kali), yang nantinya bisa dikenakan, diletakkan, ditabur di tubuh orang yang meninggal, saat tutup peti, dan saat tutup guci. Semua item berisi dharani-dharani, semacam “code” sarat makna yang diucapkan oleh para Buddha dan para Bodhisattva, yang mengandung maha pranidhana lampau mereka yang luas nan dalam.
Saya juga mendengar berulang-ulang audio pembabaran Dharma dari Huili Fashi terutama tentang apa yang pihak keluarga bisa lakukan untuk membantu orang yang akan meninggal. Kupasan Huili Fashi sangat rinci, mencakup apa yang bisa dilakukan: “sebelum,” “saat,” dan “pasca” meninggal. Mendekati saat meninggal misalnya, pihak keluarga disarankan untuk tidak menangisi dengan keterikatan di hadapan orang yang akan meninggal, tapi sebaliknya kita perlu berusaha menenangkan dengan kata-kata yang baik, memberitahukan bahwa banyak hal baik yang sudah dilakukan, supaya yang akan meninggal tidak merasa masih banyak hal yang belum sempat dilakukannya.
Kami mencoba mengikuti apa yang Shifu dan Huili Fashi ajarkan. Saat Papa menghembuskan napas terakhir, kami lakukan “Nianfo” (anusmrti) A Mi Tuo Fo” terhadap Buddha Amitabha, ini dilakukan selama 12 jam tanpa henti, secara bergantian. Sebenarnya Huili Fashi menyarankan kalau bisa dilakukan selama 16 jam. Kebetulan Papa meninggalnya di rumah, jadi “Nianfo” bisa dilakukan dengan tenang tanpa didesak waktu.
Selama persemayaman di rumah duka, kremasi, ambil tulang dan abu, serta larung abu, bisa dikatakan prosesnya berlangsung lancar. Ini tentu saja tidak lepas dari bantuan, dukungan, saran, dan kemudahan dari banyak pihak. Untuk menghormati para tetua, kita konsultasikan beberapa hal, karena bagaimana pun juga, ada tradisi-tradisi yang tetap dipegang dan dijalankan oleh orang Tionghoa pada umumnya dan di daerah khususnya. Meski tidak mengikuti hingga detail-detailnya, kami berusaha tetap “update” ke para tetua.
Banyak hal yang bisa kita pelajari dari berkonsultasi dengan mereka yang lebih berumur karena pengalaman hidup mereka. Dalam salah satu pembicaraan, mereka memberi perspektif demikian: “Menghormati orang tua, menghargai petunjuk tetua, “flowing” (mengalir) atau selaras dengan nilai-nilai tradisi, maka langit dan bumi pun akan ‘memberkati’ atas apa yang kita kerjakan.”
Dalam mengatur dan mengordinasi berbagai persiapan, jelas ada perbedaan pendapat sesama kami, kadang ada komunikasi yang “miss,” kadang muncul emosi – tidak terkecuali dalam hal-hal yang kelihatannya kecil seperti mengatur konsumsi, pembelian barang, antar-jemput dan alokasi penginapan untuk saudara. Kami mencoba saling mengingatkan bahwa tantangan-tantangan pasti ada, tapi kita usahakan untuk tidak bereaksi negatif dan kasih ‘jeda’ sebelum reaksi. Saat berbeda pendapat mengenai apa yang mau dilakukan, tidak perlu bersikeras ingin memutuskan di saat itu juga, karena tidak jarang, di menit berikutnya muncul alternatif lain yang lebih memudahkan semua pihak.
Menjalankan Pesan
Beberapa bulan sebelum meninggal, Papa sempat menyinggung saudara kandung Beliau (A Ciek) yang sudah koma sekitar 12 tahun di Pekan Baru, dan terakhir Papa jenguk memang sudah lama. Karena merasa ini mungkin salah satu ‘wish’ Papa yang belum terlaksana, seminggu setelah Papa meninggal, kami berangkat ke Pekan Baru untuk menjenguk dan mendoakan A Ciek dan keluarganya.
Papa juga sempat berpesan untuk “keep in touch” dengan beberapa saudara yang tinggal jauh. Awalnya kami tidak begitu jelas siapa-siapa yang Beliau maksud, tapi setelah bertanya ke para tetua, akhirnya ketemu ‘silsilahnya.’ Para tetua sempat cerita bahwa Papa adalah orang yang sangat menghargai leluhur dan Papa selalu berusaha menjalin kontak dengan sanak keluarga, baik sesama generasi maupun generasi di atasnya. Untuk urusan ini, kami, anak-anaknya memang kurang begitu memperhatikan. Atas pesan ini, kami melakukan kunjungan, paling tidak lewat telepon dengan beberapa sesepuh yang jarang kontak. Hati rasanya plong sekali setelah melakukan ini.
Pemberian & Dedikasi
Menurut ajaran Buddhadharma, masih ada yang bisa kita lakukan untuk orang yang sudah meninggal. Hal-hal positif yang kita lakukan setiap hari jika didedikasikan untuk mereka, akan membantu. Huili Fashi juga menjelaskan bahwa kebajikan dan dedikasi itu lebih baik dilakukan setiap hari, bukan cuma kelipatan hari ke-7 (bukan cuma hari ke-7, hari ke-14, hari ke-21, dst). Karena mereka yang berada di “alam” antara-bhava, setiap hari ada kemungkinan terlahir kembali, hingga maksimal dalam waktu 49 hari. Everyday counts! Jadi setiap hari kami berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya.
Dalam Sutra Ksitigarbha disebutkan bahwa pihak keluarga bisa melakukan berbagai kebajikan atas nama almarhum. Untuk itu, kami mulai merapikan baju-baju, obat-obat, dan barang-barang lainnya, membungkusnya dengan rapi dan diberikan secara pribadi ke para satpam, petugas kebersihan, pegawai, dan beberapa penjual makanan yang Papa kenal. Mereka terima dengan penuh syukur!
Uang simpanan Papa yang dikumpulkan bertahun-tahun juga dialokasikan untuk berbagai pemberian, seperti fangshen, membagikan nasi kuning, pembangunan vihara, pemasangan pelita, pembuatan rupang Arya Ksitigarbha, hingga pembelian offerings. Biasanya setiap kali melakukan pemberian, kami akan “melapor” ke Papa lewat foto Beliau, apa saja yang sudah dilakukan hari itu, agar Papa dan yang lainnya ikut bersukacita.
Sepeninggal Papa, setiap hari kami berusaha melakukan offerings makanan dan minuman disertai doa-doa. Doa pagi biasanya Sutra Ksitigarbha, pelafalan Namo Ksitigarbha Bodhisattva sebanyak beberapa mala dan kadang-kadang disertai Mahakaruna Dharani (“Da Bei Zhou”). Sutra Ksitigarbha mengajarkan bakti yang luar biasa. Diceritakan di salah satu kehidupan lampau, Arya Ksitigarbha pernah terlahir sebagai putri Brahmana, dan demi membantu Ibunya yang terlahir di neraka, Beliau bertekad di hadapan Buddha untuk menolong semua makhluk dan tidak akan mengabaikan satu makhluk pun. Hingga semua makhluk tersebut menjadi Buddha, barulah Beliau ‘berkenan’ ter-“certified” sudah mencapai Anuttara-Samyaksambodhi. Mengingat tekad-tekad agung Beliau, sering membuat hati terharu-haru! Doa untuk malam hari yang dilakukan adalah Sutra Amitabha disertai Dharani “Wang Sheng Zhou” (dedikasi untuk terlahir di Buddhasetra Sukhavati).
Dasar pemikiran melakukan persembahan dan Puja Bakti adalah mempraktikkan kemurahan hati, mengingat “anusmrti” tekad-tekad para Buddha dan Bodhisattva, serta mengintegrasikan tubuh, ucapan dan pikiran dengan memikirkan objek-objek suci.
Selama bulan Ulambana (bulan 7 penanggalan lunar) di vihara-vihara biasanya banyak doa, di antaranya doa pengakuan karma-karma negatif dan doa-doa untuk para almarhum/almarhumah dan leluhur. Banyak yang menulis nama leluhurnya untuk mendedikasikan kebajikan-kebajijan. Salah satu Shifu mengatakan bahwa ingat kepada leluhur dan mengikutsertakan nama mereka adalah hal yang baik, tapi akan bermanfaat jika kita sendiri ikut hadir dalam mendoakan. Kami pun ikut serta dalam beberapa aktivitas. Doa-doa dedikasi bukan saja ditujukan untuk Almarhum Papa dan Mama, tapi juga untuk Kakek, Nenek, leluhur-leluhur lainnya, juga para makhluk yang tercederai, semuanya diikutsertakan.
Apresiasi
Di saat-saat seperti itu, sangat berguna kami semua mendapat tempaan dari ajaran Om, yang selalu mengingatkan untuk peduli, untuk hadir. Terima kasih kepada Om Salim yang selalu mengingatkan “how to think” (menata cara pikir) dan “what can be done” (apa yang bisa dilakukan). Di sini kami ingin berbagi salah satu pesan Om:
“Please familiarize ourselves with what’s happening in our minds & heart: the uncertainty, the wish and insistent of have to be this way or that way, the hope, the fear, the expectation.”
“Ketahuilah dengan seksama apa yang ada di benak dan hati kita: ketidakpastian, keinginan, dan sikap bersiteguh ‘harus’ begini atau begitu, harapan-harapan, ketakutan, ekspektasi.”
Terima kasih kepada sahabat dari Jambi yang tidak saja merekomendasikan dan sering mengirim obat-obat, tapi juga sering ‘browsing’ untuk mencari dan berbagi informasi mengenai pengobatan, baik pengobatan tradisional maupun medis kedokteran.
Terima kasih kepada Sin She yang khusus datang ke Bandung beberapa hari lebih awal, untuk memberikan saran tentang hal-hal yang perlu dipersiapkan beserta beberapa tata cara, membantu memimpin doa saat kremasi, serta membantu menulis dan mempersiapkan papan nama-nama leluhur.
Terima kasih kepada sahabat dari Jakarta yang membantu mengambil dan mengirimkan buku-buku Dharma untuk kami kirimkan ke daerah, di mana ini juga merupakan upaya dedikasi untuk Papa.
Terima kasih juga kepada sanak keluarga, teman-teman serta semua pihak yang telah ikut membantu dan mendoakan, termasuk memasang pelita dari jauh.
Ada kelegaan hati dan apresiasi, bahwa kami kakak-beradik bisa bahu-membahu, saling membantu sejak Papa terdiagnosa sakit sampai Papa tiada. Mencoba saling mengerti dan mendukung baik materi maupun semangat. Papa membuat hubungan kekeluargaan kami semakin erat. Terima kasih Papa.
Sampai hari ini pun, ketika mengingat dan melihat foto Papa, kami masih sering menangis dan kadang ada rasa “miss.” Tapi seperti yang Om Salim nasihatkan, mungkin yang akan membantu adalah ‘mengingat’ dan ‘mengapresiasi’ ketimbang emosi-emosi yang sifatnya emosional. Apa yang kami lakukan mungkin belum bisa membalas budi dan kebaikan Papa, untuk itu kami akan berupaya terus dan menjalani hidup dengan baik. Sebagaimana diingatkan dalam Doa Dedikasi, agar sesedikit apa pun upayanya, kami bisa ikut “Membalas empat budi besar” – budi Ayah-Bunda; budi Guru (termasuk para Buddha dan Bodhisattva); budi negara; dan budi semua makhluk – yang dalam satu cara maupun cara lainnya bertautan dan berkontribusi atas ‘alam’ kita.
***
