Pesan dan Kesan Belabar Lebaran 2018 (Bagian 2)
Oleh Belabar2018
Dihantar pada 3 Juli 2026
Mengambil tema “Saya dan Sutra-Sutra Borobudur,” Belabar (Belajar Bareng) Lebaran berlangsung dari tanggal 9-17 Juni 2018. Berikut adalah cuplikan pesan dan kesan dari para peserta setelah mengikuti pembabaran ajaran oleh Up. Salim Lee:
***
Saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi bagian berharga dalam hidupku. Saya baru mulai ikut Belabar bersama Om Salim tahun ini, tapi karena Papa sudah ikut Belabar lumayan lama, di rumah, kami selalu mendapat bagian dari apa yang Papa dapatkan dari Belabar. Saya sangat senang karena Papa bisa belajar dari Om Salim, karena kasih sayang Papa untuk semua orang terutama keluarga sangat mengagumkan. Dalam keluarga, kami selalu diajarkan untuk mengasihi semua makhluk terutama mereka yang kami anggap kurang berarti: mulai dari nyamuk, semut sampai serangga sekecil apa pun. Latihan kecil ini ini membawa dampak yang besar bagi saya; saya mulai bisa mengapresiasi dan menyayangi semua makhluk. Seiring bertumbuh dewasa, saya menghadapi banyak tekanan dan masalah. Tapi karena Papa selalu tenang dan tidak pernah terbawa emosi, saya pun ikut tenang dan dapat mencari jalan keluar.
Saya bisa melihat ada yang berbeda di antara mereka yang benar-benar memahami ajaran Buddha di mana saat berhadapan dengan kondisi yang sulit, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Seiring bertambahnya usia, saya banyak berpikir tentang masa depan dan lupa untuk hidup di setiap saatnya. Dari ajaran Om, saya menyadari bahwa hidup itu selalu ‘di sini dan sekarang’ dan tidaklah perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi berikutnya karena apa yang kita pikir sekarang dan masa mendatang dapat berubah. Kecemburuan, adalah satu tantangan terbesar di masa remaja, tapi setelah mendengar ajaran Om, saya menyadari bahwa itu hanya membawa kesedihan. Dan sangatlah penting bila kesuksesan orang lain menjadi motivasi untuk kesuksesan kita sendiri.
Kebaikan hati dan kasih sayang Om Salim telah menyebar luas dan saya tidak dapat mengekspresikan betapa beruntungnya saya dapat mendengar ajaran Om. Saya tahu jika saya bisa mengerti apa yang Om ajarkan selama seminggu ini, mungkin saya dapat hidup lebih damai dan penuh kasih terhadap yang lain. Berterima kasih saja tidaklah cukup untuk mengungkap semua rasa terima kasih saya, tapi bagaimana pun, dari hati saya yang paling dalam, terima kasih Om atas semua yang telah diberikan kepada saya dan keluarga.
***
Rasa sukacita dan terima kasih yang mendalam itulah yang dirasakan di Belabar. Terasa sekali pengalamannya karena semua yang Om jelaskan bisa dirasakan. Kata-kata hanyalah pointer untuk menerangkan sesuatu, karena ternyata sulit juga menerangkan ‘rasa’ yang dialami. Kadang sempat berpikir, “sepertinya sederhana ya” tapi memang butuh kapasitas untuk bisa hadir dan melihat ke dalam. Selama ini saya begitu sibuk dengan ombak di atas. Inspirasi yang didapat ini saya garisbawahi dengan tekad akan lebih ‘awas’ dan lebih ‘peduli’ sebagai ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada Om Salim. Tak lupa juga terima kasih kepada teman-teman di kelompok diskusi, yang mengupayakan agar kami bisa merasakan apa yang diajarkan, tidak menggunakan konsep intelektual saja. Terima kasih juga kepada semua teman-teman atas pertanyaannya sehingga bisa memahami perspektif lain.
***
Ketika membicarakan tanpa subjek-objek dengan perumpamaan seperti seorang ibu memeluk anaknya; yang ada hanya pelukan, saya ingin berbagi pengalaman. Malam itu, ketika mau tidur, seperti biasa anak saya suka menarik rambut saya, dan saya suka marah sambil berkata: “Sakit, nak, jangan begitu” (dengan sosok seorang ibu dan berpikir “Kamu jadi anak tidak sopan, nanti jadi kebiasaan, dan dilihat orang lain jadi tidak baik”). Tetapi malam itu saya merespons, “Nak, jika memang bisa membuat kamu senang ... silakan, tapi kepala mama jadi sakit” (tanpa melihat ada sosok ibu). Dengan spontan, anak saya langsung lepas dan dia bilang, “Tidak niat begitu, hanya gemas.” Ternyata dengan cara berpikir yang berbeda, bisa membuat alternatif semakin banyak. Kemudian sesaat saya bayangkan jika di rumah tidak ada sosok “I,” maka yang ada adalah hangatnya suasana keluarga. Saya sampai terharu dan meneteskan air mata.
***
Sebelum mengikuti Belabar ini, banyak benturan yang telah saya buat, tindakan yang mau menang hanya karena mencari mana yang benar. Singkat cerita, saat itu di hati, saya merasa ada yang tidak benar, sangat mengganjal.
Berkat Belabar, banyak hal yang saya pelajari dari ajaran Om dan teman-teman. Teman-teman luar biasa sekali dan sempat merasa kok saya mengalami kemunduran sementara yang lain maju pesat. Tapi pemikiran begitu mungkin tidak berguna. Dari ajaran Om, saya mengerti bahwa yang penting bukan mana yang benar tapi mana yang berguna, dan selalu peduli terhadap orang lain. Ini akan saya tanamkan dalam hati. Dengan pembelajaran ini, saya bertekad untuk sebisa mungkin, menjalankan apa pun yang telah didapatkan, terutama berusaha untuk bisa melihat kesalingterkaitan dari segala sesuatu, tidak ngotot dan ingin menang. Terima kasih banyak Om atas segala kebaikan dan tidak capek-capeknya mengajari kami semua.
***
Mengikuti Belabar ini sangat membantu, di mana Om sangat bersemangat dan optimis akan kemampuan dan kemungkinan kita semua untuk menjadi pribadi yang “melek” dan berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Selain itu, teman-teman, baik panitia ataupun seluruh peserta, juga sangat berusaha agar acaranya dapat berjalan dengan baik. Saya cukup senang di mana kita semua sangat bersemangat, mengimbangi semangat Om yang selalu hadir dalam mengajar dan menjelaskan setiap poin dengan sabar dan penuh kasih. Materi-materi yang diajarkan juga merupakan pengetahuan baru dari yang pernah saya pelajari selama ini. Hal ini membuat saya bertekad untuk selalu hadir dan lebih mengerti segala hal yang dipelajari, supaya dapat lebih berguna dan memancarkan energi positif di sekeliling saya. Saya merasa bersyukur, berterima kasih kepada Om dan seluruh panitia maupun peserta yang memungkinkan acara ini terlaksana dengan baik dan lancar.
***
Yang sangat saya ingat dari ajaran Om Salim adalah bagaimana sikap seorang anak terhadap orang tua. Kita mungkin tidak akan pernah bisa membalas budi baik orang tua. Oleh karena itu, teruslah melakukan karma baik untuk mereka. Sekalipun kita berbuat semaksimal mungkin, budi mereka mungkin tidak akan terbalas, apalagi kalau kita menyakiti mereka. Kalau saya bisa membuat mereka bahagia dengan materi, hal itu baik. Tapi yang terpenting adalah saya harus menjalani hidup ini dengan baik dan bermanfaat, kebaikan ini lalu mempengaruhi “alam” saya, dan akhirnya memberi pengaruh ke orang tua. Hidup baik bukan hanya sukses dalam pekerjaan dan bisa mandiri, tapi harus saya praktikkan dalam arti yang lebih dalam, misalnya lebih tulus memberikan mereka perhatian, secara konsisten menanyakan kabar. Dan kalau mereka tidak menjawab teks saya atau tidak mengangkat telepon sesuai ekspektasi saya maka motivasi saya harus tetap tulus, tidak berpotensi untuk tersinggung bahkan urung niat untuk mencoba kembali.
Saya berjanji ke diri saya, untuk konsisten melakukan gerakan-gerakan mulai dari yang sederhana, berbagi kasih yang tulus kepada orang tua saya sehingga bisa sama-sama membuka diri untuk memberi dan menerima kasih sayang.
Terima kasih Om, terima kasih panitia, dan teman-teman Potowa Center sehingga saya bisa belajar Buddhadharma dan pelan-pelan lebih mengerti, lebih handal dalam menjalani hidup ini.
***
Pengalaman saya di Belabar 2018 ini dipenuhi dengan hal-hal baru. Om Salim sering mengatakan bahwa ajaran yang dibagikan oleh Om kepada kita adalah hal-hal yang telah diterangkan berulang-ulang. Tetapi setiap kali mendengarkan sharing Om, selalu dipenuhi oleh pengalaman baru. Selalu bisa learn, unlearn, relearn.
Di Belabar kali ini, Om tidak memberikan banyak materi teknis, tetapi sifatnya lebih experiential. Dengan langsung melakukan meditasi, saya lebih dapat merasakan sutra-sutra dan ajaran Buddhadharma. Tidak hanya menggunakan logika dan reasoning, tetapi juga dengan ‘hati.’ Seringkali saya masih mencari istilah-istilah teknis dan mencocokkan apa yang dikatakan Om dengan pengetahuan saya. Kecenderungan ini, meski agak sulit diatasi, saya akan terus belajar untuk selalu mempunyai pikiran seorang pemula.
Berbagi pengalaman di grup diskusi juga sangat membantu karena dapat berinteraksi dengan berbagai perspektif dari teman-teman. Saya terpukau karena tidak ada perspektif yang sama walaupun sumbernya satu. Hal ini membuat saya lebih bisa mengapresiasi perbedaan pendapat, dan lebih bisa mengerti pernyataan Master Nagarjuna bahwa “yang benar adalah yang bermanfaat.”
***
Saya ingin mengucapkan terima kasih karena telah menjadi bagian berharga dalam hidupku. Saya baru mulai ikut Belabar bersama Om Salim tahun ini, tapi karena Papa sudah ikut Belabar lumayan lama, di rumah, kami selalu mendapat bagian dari apa yang Papa dapatkan dari Belabar. Saya sangat senang karena Papa bisa belajar dari Om Salim, karena kasih sayang Papa untuk semua orang terutama keluarga sangat mengagumkan. Dalam keluarga, kami selalu diajarkan untuk mengasihi semua makhluk terutama mereka yang kami anggap kurang berarti: mulai dari nyamuk, semut sampai serangga sekecil apa pun. Latihan kecil ini ini membawa dampak yang besar bagi saya; saya mulai bisa mengapresiasi dan menyayangi semua makhluk. Seiring bertumbuh dewasa, saya menghadapi banyak tekanan dan masalah. Tapi karena Papa selalu tenang dan tidak pernah terbawa emosi, saya pun ikut tenang dan dapat mencari jalan keluar.
Saya bisa melihat ada yang berbeda di antara mereka yang benar-benar memahami ajaran Buddha di mana saat berhadapan dengan kondisi yang sulit, mereka melakukannya dengan cara yang berbeda. Seiring bertambahnya usia, saya banyak berpikir tentang masa depan dan lupa untuk hidup di setiap saatnya. Dari ajaran Om, saya menyadari bahwa hidup itu selalu ‘di sini dan sekarang’ dan tidaklah perlu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi berikutnya karena apa yang kita pikir sekarang dan masa mendatang dapat berubah. Kecemburuan, adalah satu tantangan terbesar di masa remaja, tapi setelah mendengar ajaran Om, saya menyadari bahwa itu hanya membawa kesedihan. Dan sangatlah penting bila kesuksesan orang lain menjadi motivasi untuk kesuksesan kita sendiri.
Kebaikan hati dan kasih sayang Om Salim telah menyebar luas dan saya tidak dapat mengekspresikan betapa beruntungnya saya dapat mendengar ajaran Om. Saya tahu jika saya bisa mengerti apa yang Om ajarkan selama seminggu ini, mungkin saya dapat hidup lebih damai dan penuh kasih terhadap yang lain. Berterima kasih saja tidaklah cukup untuk mengungkap semua rasa terima kasih saya, tapi bagaimana pun, dari hati saya yang paling dalam, terima kasih Om atas semua yang telah diberikan kepada saya dan keluarga.
***
Rasa sukacita dan terima kasih yang mendalam itulah yang dirasakan di Belabar. Terasa sekali pengalamannya karena semua yang Om jelaskan bisa dirasakan. Kata-kata hanyalah pointer untuk menerangkan sesuatu, karena ternyata sulit juga menerangkan ‘rasa’ yang dialami. Kadang sempat berpikir, “sepertinya sederhana ya” tapi memang butuh kapasitas untuk bisa hadir dan melihat ke dalam. Selama ini saya begitu sibuk dengan ombak di atas. Inspirasi yang didapat ini saya garisbawahi dengan tekad akan lebih ‘awas’ dan lebih ‘peduli’ sebagai ungkapan rasa terima kasih yang mendalam kepada Om Salim. Tak lupa juga terima kasih kepada teman-teman di kelompok diskusi, yang mengupayakan agar kami bisa merasakan apa yang diajarkan, tidak menggunakan konsep intelektual saja. Terima kasih juga kepada semua teman-teman atas pertanyaannya sehingga bisa memahami perspektif lain.
***
Ketika membicarakan tanpa subjek-objek dengan perumpamaan seperti seorang ibu memeluk anaknya; yang ada hanya pelukan, saya ingin berbagi pengalaman. Malam itu, ketika mau tidur, seperti biasa anak saya suka menarik rambut saya, dan saya suka marah sambil berkata: “Sakit, nak, jangan begitu” (dengan sosok seorang ibu dan berpikir “Kamu jadi anak tidak sopan, nanti jadi kebiasaan, dan dilihat orang lain jadi tidak baik”). Tetapi malam itu saya merespons, “Nak, jika memang bisa membuat kamu senang ... silakan, tapi kepala mama jadi sakit” (tanpa melihat ada sosok ibu). Dengan spontan, anak saya langsung lepas dan dia bilang, “Tidak niat begitu, hanya gemas.” Ternyata dengan cara berpikir yang berbeda, bisa membuat alternatif semakin banyak. Kemudian sesaat saya bayangkan jika di rumah tidak ada sosok “I,” maka yang ada adalah hangatnya suasana keluarga. Saya sampai terharu dan meneteskan air mata.
***
Sebelum mengikuti Belabar ini, banyak benturan yang telah saya buat, tindakan yang mau menang hanya karena mencari mana yang benar. Singkat cerita, saat itu di hati, saya merasa ada yang tidak benar, sangat mengganjal.
Berkat Belabar, banyak hal yang saya pelajari dari ajaran Om dan teman-teman. Teman-teman luar biasa sekali dan sempat merasa kok saya mengalami kemunduran sementara yang lain maju pesat. Tapi pemikiran begitu mungkin tidak berguna. Dari ajaran Om, saya mengerti bahwa yang penting bukan mana yang benar tapi mana yang berguna, dan selalu peduli terhadap orang lain. Ini akan saya tanamkan dalam hati. Dengan pembelajaran ini, saya bertekad untuk sebisa mungkin, menjalankan apa pun yang telah didapatkan, terutama berusaha untuk bisa melihat kesalingterkaitan dari segala sesuatu, tidak ngotot dan ingin menang. Terima kasih banyak Om atas segala kebaikan dan tidak capek-capeknya mengajari kami semua.
***
Mengikuti Belabar ini sangat membantu, di mana Om sangat bersemangat dan optimis akan kemampuan dan kemungkinan kita semua untuk menjadi pribadi yang “melek” dan berguna bagi orang-orang di sekitar kita. Selain itu, teman-teman, baik panitia ataupun seluruh peserta, juga sangat berusaha agar acaranya dapat berjalan dengan baik. Saya cukup senang di mana kita semua sangat bersemangat, mengimbangi semangat Om yang selalu hadir dalam mengajar dan menjelaskan setiap poin dengan sabar dan penuh kasih. Materi-materi yang diajarkan juga merupakan pengetahuan baru dari yang pernah saya pelajari selama ini. Hal ini membuat saya bertekad untuk selalu hadir dan lebih mengerti segala hal yang dipelajari, supaya dapat lebih berguna dan memancarkan energi positif di sekeliling saya. Saya merasa bersyukur, berterima kasih kepada Om dan seluruh panitia maupun peserta yang memungkinkan acara ini terlaksana dengan baik dan lancar.
***
Yang sangat saya ingat dari ajaran Om Salim adalah bagaimana sikap seorang anak terhadap orang tua. Kita mungkin tidak akan pernah bisa membalas budi baik orang tua. Oleh karena itu, teruslah melakukan karma baik untuk mereka. Sekalipun kita berbuat semaksimal mungkin, budi mereka mungkin tidak akan terbalas, apalagi kalau kita menyakiti mereka. Kalau saya bisa membuat mereka bahagia dengan materi, hal itu baik. Tapi yang terpenting adalah saya harus menjalani hidup ini dengan baik dan bermanfaat, kebaikan ini lalu mempengaruhi “alam” saya, dan akhirnya memberi pengaruh ke orang tua. Hidup baik bukan hanya sukses dalam pekerjaan dan bisa mandiri, tapi harus saya praktikkan dalam arti yang lebih dalam, misalnya lebih tulus memberikan mereka perhatian, secara konsisten menanyakan kabar. Dan kalau mereka tidak menjawab teks saya atau tidak mengangkat telepon sesuai ekspektasi saya maka motivasi saya harus tetap tulus, tidak berpotensi untuk tersinggung bahkan urung niat untuk mencoba kembali.
Saya berjanji ke diri saya, untuk konsisten melakukan gerakan-gerakan mulai dari yang sederhana, berbagi kasih yang tulus kepada orang tua saya sehingga bisa sama-sama membuka diri untuk memberi dan menerima kasih sayang.
Terima kasih Om, terima kasih panitia, dan teman-teman Potowa Center sehingga saya bisa belajar Buddhadharma dan pelan-pelan lebih mengerti, lebih handal dalam menjalani hidup ini.
***
Pengalaman saya di Belabar 2018 ini dipenuhi dengan hal-hal baru. Om Salim sering mengatakan bahwa ajaran yang dibagikan oleh Om kepada kita adalah hal-hal yang telah diterangkan berulang-ulang. Tetapi setiap kali mendengarkan sharing Om, selalu dipenuhi oleh pengalaman baru. Selalu bisa learn, unlearn, relearn.
Di Belabar kali ini, Om tidak memberikan banyak materi teknis, tetapi sifatnya lebih experiential. Dengan langsung melakukan meditasi, saya lebih dapat merasakan sutra-sutra dan ajaran Buddhadharma. Tidak hanya menggunakan logika dan reasoning, tetapi juga dengan ‘hati.’ Seringkali saya masih mencari istilah-istilah teknis dan mencocokkan apa yang dikatakan Om dengan pengetahuan saya. Kecenderungan ini, meski agak sulit diatasi, saya akan terus belajar untuk selalu mempunyai pikiran seorang pemula.
Berbagi pengalaman di grup diskusi juga sangat membantu karena dapat berinteraksi dengan berbagai perspektif dari teman-teman. Saya terpukau karena tidak ada perspektif yang sama walaupun sumbernya satu. Hal ini membuat saya lebih bisa mengapresiasi perbedaan pendapat, dan lebih bisa mengerti pernyataan Master Nagarjuna bahwa “yang benar adalah yang bermanfaat.”
