Ungkapan Suara Hati dari Jambi (Bagian 2)

Oleh LSBGS
Dihantar pada 3 Juli 2026
Selama tiga hari, 5-7 April 2018, di Jambi, Om Salim telah memberikan ajaran yang sangat berharga dan bermanfaat. Berikut adalah ungkapan suara hati dari teman-teman Lama Serlingpa Bodhicitta Study Group, Jambi, setelah mendengar ajaran dari Om Salim dan bagaimana mereka mengaplikasikannya dalam hidup:

***

Sekali lagi, saya sangat terharu, terkesan, serta takjub dengan welas asih, kepedulian, keramahan yang ditunjukkan oleh Om saat berinteraksi, baik kepada teman-teman Potowa Center dan Lama Serlingpa Bodhicitta Study Group, maupun kepada peserta dan tamu-tamu lainnya. Juga saat berbagi ajaran, Om tetap semangat bercerita. Terkadang heran bagaimana Om bisa terus konsisten dan berbicara berjam-jam dengan fokus dan tanpa jeda.

Walaupun sudah sering mendengar cerita dan sepak terjang Om yang positif dan luar biasa, tetap saja tak bisa dibandingkan dengan berjumpa langsung sosok Om. Meski dalam belajar Dharma, yang diandalkan adalah ajarannya, tetapi tetap saja sikap dan cara Om akan selalu menjadi panutan bagi saya, agar ke depannya tidak sombong, tidak lengah, lebih peduli, dan lebih eling.

Ada beberapa poin yang saya dapatkan dan lebih jelas kali ini, misalnya mengenai pengumpulan kebajikan dan pengetahuan yang kelak justru akan membantu kita di masa-masa sulit. Juga mengenai keinginan untuk tahu segalanya terlebih dahulu dan membuat pasti suatu kondisi, itu sangat tidak mungkin. Walaupun sudah paham dan mengerti secara logika, tetap saja seringkali terlena dan ngotot. Juga mengenai pembahasan hati manusia yang sebenarnya sudah ada sifat welas asihnya. Jadi jika kita mau merenungkan, sebenarnya kita sendiri akan paham hal mana yang lebih tepat dan tidak begitu tepat untuk dilakukan.

Saat Seminar Borobudur, karena saya duduk di bagian belakang, saya bisa melihat beberapa peserta mengangguk-anggukkan kepala mengiyakan pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan Om tentang kebahagiaan, “sosok aku,” dan lain-lain, yang mungkin tidak terbantahkan dan mungkin merupakan konsep baru bagi mereka. Terlihat juga beberapa peserta yang antusias dalam mengajukan pertanyaan mengenai Borobudur dan lainnya. Mudah-mudahan pamrihnya Om dapat “tersampaikan.”

Tidak lupa juga terima kasih kepada teman-teman yang sudah bertanya, karena dari sana, saya bisa mendapat berbagai wawasan dan cara pandang baru yang berbeda, dan itu bukanlah untuk diperdebatkan. Juga terima kasih untuk teman-teman Jakarta, Medan, dan Jambi yang telah berupaya dalam pelaksanaan acara kali ini sehingga memungkinkan kita untuk terus mengembangkan potensi tertinggi kita.

***

Terima kasih buat Om Salim, berkat kebaikan hati sehingga saya dan teman-teman bisa mendapatkan ajaran yang sangat berharga ini.

Ajaran yang saya dapat selama Om di Jambi, di antaranya: (1) Ternyata semua pilihan atau keputusan dalam setiap ucapan, pikiran, maupun tindakan – apakah itu senang, sedih, bete, ternyata kita memilih itu karena kita ingin nyaman. Termasuk bete, ternyata pilih bete karena bete adalah pilihan paling nyaman di antara pilihan yang lain! Hahaha ... lantas, mengapa kita masih menderita? Karena menganggap ada “sosok aku” yang bisa dibahagiakan, padahal sosok ini tidak ada; (2) Tanpa sadar, kita selalu mengelompokkan setiap orang berdasarkan ‘in-group’ atau ‘out-group,’ misalnya, jika dia menguntungkan saya maka masuk ‘in-group.’ Jika dia merugikan saya, maka ‘out-group.” Selalu seperti itu tanpa kita sadari. Jika begitu, kenapa tidak semua kita masukkan ke ‘in-group’?; (3) Tip “Kok Sama Ya” sangat membantu pada saat kita merasa ingin menang sendiri, ingin bahagia, ternyata mereka juga sama seperti kita.

Tiga poin di atas sangat membekas di hati. Akan selalu dipraktikkan apa yang Om ajarkan. Seperti pesan Om, dengan diketahui ini, bukan berarti saya langsung oke, mungkin akan tetap ‘up and down,’ tapi kita belajar untuk bisa mengatasi itu semua.

Terima kasih Om. Semoga Om senantiasa sehat, berumur panjang, dan selalu membimbing muridmu ini yang masih sering tersesat.

***

Terima kasih Om sudah menyempatkan diri datang ke Jambi. Meskipun hanya beberapa hari, tapi itu sangat bermakna. Tidak terasa waktu cepat sekali berlalu. Meskipun saya tidak mengikuti semua kegiatan, tapi saya sangat bersyukur masih bisa mendengar ajaran dari Om. Ketika mendengar ajaran Om, saya juga tidak ngeh semua. Meski rasa ngantuk datang, kurang fokus, “sosok-sosok aku” berdatangan, tapi saya berusaha untuk kembali fokus.

Ada beberapa poin yang saya dapatkan: (1) “Jika bisa membantu, ya dibantu, jika tidak jangan merugikan orang lain”; (2) Tiga kata dalam berinteraksi dengan orang lain: “Tolong,” “Maaf,” dan “Terima kasih”; (3) Merasa “cukup,” merasa berkecukupan dalam apa pun, tidak dilebih-lebihkan ataupun serakah; (4) Tahu ketika “sosok-sosok” muncul, entah itu marah, kesal, kecewa, sedih, dendam, dan lain-lain, atau cerita-cerita yang sebenarnya tidak ada.

Saya berupaya mengingat kata-kata Om. Tepat hari ini baru mulai kerja, pekerjaan menumpuk, banyak barang yang masuk, dan yang membantu juga lambat. Semua perasaan campur aduk, merasa kesal, marah, cerita-cerita berdatangan. Saya coba diam sebentar, terus tarik napas panjang dan rasanya jadi agak tenang, sambil berkata dalam hati, “Marah, kesal, kecewa, tolong pergi dulu ya …” Hahaha. Pelan-pelan, rasa itu hilang. Meskipun awalnya masih ada gejolak, saya mulai susun dulu mana yang mau dikerjakan. Lama-kelamaan pun selesai, bahkan masih sempat bantu sedikit teman lain mengecek barang. Ini bukan soal bantunya, tapi ada empati, karena teman ini sudah kerja dari pagi dan belum selesai-selesai. Saya coba bantu dia sebelum pulang, setidaknya besok dia tidak banyak bebannya.

Saya juga ingat penjelasan dari Om tentang jawaban Yang Mulia Dalai Lama ketika ditanya sesuatu yang belum terjadi, “Tunggu nanti jika saya di sana, saya akan jawab.” Iya juga, saat ini mungkin kita tidak tahu harus bagaimana, karena kita tidak lagi di posisi itu. Ini sama saja seperti cerita-cerita yang sebenarnya tidak ada.

Saya berupaya untuk mempraktikkan apa yang Om ajarkan, meskipun kadang down and suka kebablasan. Terima kasih Om sudah mengajarkan kami menjalani kehidupan dengan lebih bijak. Om, jaga kesehatan ya dan istirahat yang cukup.

***

Semoga Om beserta keluarga, dan teman-teman semua selalu ‘diberkati,’ diberi kesehatan dan rezeki berlimpah, di kehidupan ini maupun mendatang.

Terima kasih banyak tidaklah cukup yang dapat saya haturkan untuk Om. Selama dua tahun mengikuti ajaran, beberapa ajaran Om yang dapat saya tangkap ternyata sudah menjadi mantra yang tidak saya lupakan. Ajaran Om membuat saya semakin berani menjalani hidup, di dunia kerja dan di mana pun saya berada. Saya merasakan dampak positif yang semakin hari membuat saya semakin sayang dengan orang-orang di sekitar saya. Saya merasakan kehangatan setiap kali melihat mereka. Dan sekarang saya semakin bahagia, karena kebahagiaan ini dirasakan dari kehangatan hati terhadap sesama.

Setiap pelajaran yang Om ajarkan, walau secara keseluruhan saya tidak ingat, tetapi poin-poin yang Om berikan akan saya ingat. Ajaran ini juga akan saya berikan kepada setiap orang yang membutuhkan. Beberapa ajaran Om yang dapat saya tangkap:
1. Bantulah orang lain, baik itu keluarga atau siapa pun tanpa terkecuali. Jika tidak bisa membantu, jangan merepotkan, merugikan, apalagi melukai mereka.

2. Hidup lebih berani dalam ketidakpastian. Saat kita dihadapkan pada suatu situasi, kita akan tahu apa yang bisa kita lakukan. Ini adalah pelajaran dari Om yang tidak pernah saya lupakan. Saya lebih berani, apalagi bisa membantu orang lain. Ini membuat saya semakin yakin bahwa saya bisa melakukannya!

3. Jangan cemas, takut, khawatir terhadap kejadian di masa lalu yang sudah terjadi, maupun di masa mendatang yang belum tentu terjadi. Upayakan secara maksimal, langkah demi langkah, karena hasil tidak pernah meleset.

4. Tiga mantra yang paling ampuh dalam hubungan: jangan lupa untuk berkata “Sorry,” “Thank you,” dan “Please.” Ini mantra memang sangat manjur, karena di dalam tiga mantra ini tersirat ketulusan.

Sampai jumpa lagi, Om. Saya sangat beruntung bisa bertemu Om dan ajaran yang sangat mulia ini.
***

Dulu saya berpikir ajaran agama Buddha hanya sembahyang, baca paritta, dan berbuat baik. Sejak bergabung dengan Prudential, bertemu teman-teman Center dan ajaran Om Salim, saya baru ‘ngeh,’ ternyata Buddhadharma sangat luar biasa: bisa diaplikasikan dan berguna untuk menjalani kehidupan sehari-hari maupun untuk bisnis.

Ajaran Buddha memang tidak menjamin kita selalu hidup bahagia atau masuk surga, tapi mengajarkan kita bagaimana tetap kokoh menjalani atau menghadapi hidup yang penuh ketidakpastian ini. Buddha juga berbagi jalan keluar dari lingkaran samsara.

Pelajaran ini mungkin tidak bisa didapatkan dari universitas mana pun. Saya bersyukur bisa bertemu dengan Om Salim dan teman-teman Lama Serlingpa Bodhicitta Study Group. Setelah mendengar ajaran dari Om, saya akan belajar mulai dari yang paling bawah: mulai dari berpikir untuk memberi manfaat buat yang lain, dan jika tidak bisa membantu, setidaknya tidak merugikan yang lain: (1) Bagaimana menangani "Aku," ego, marah, gundah, takut; (2) Punya kepedulian – yang ini saya masih perlu banyak belajar dan berlatih, karena dalam keseharian selalu kebablasan terus. Semoga bisa pelan-pelan berlatih merespons secara positif dan belajar menjadi orang yang lebih baik lagi; (3) Membahagiakan dan membantu orang lain; (4) Mengambil penderitaan orang lain dan memberikan kebahagiaan kepada orang lain.

Semoga Om Salim sehat selalu dan panjang umur. Mohon selalu memberikan ajaran Dharma kepada saya yang sering bandel.

***

Sungguh sangat berterima kasih sekali atas segala daya upaya, kebaikan hati, dan welas asih Om kepada kami semua, tanpa kenal lelah selalu mengajar, membimbing, mengingatkan kami terus-menerus untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat buat orang lain. Suatu keberuntungan yang tak ternilai dapat bertemu dengan Om di kehidupan ini dan semoga akan terus berlanjut di kehidupan-kehidupan yang akan datang: bertemu dan mendengar ajaran Dharma dari Om. Hormat yang terdalam ...

Ajaran Om di Center hari Jumat lalu telah menyadarkan saya akan banyak hal, saya merasa seperti dibangunkan dari tidur yang panjang. Selama ini, saya hanya berusaha mengumpulkan daya kebajikan (punyasambhara), tapi tidak fokus pada daya pengetahuan (jnanasambhara). Saya malas ke Center berpartisipasi dalam berbagi Dharma, malas meditasi, malas melafal mantra. Ketika petir menggelegar di tengah malam buta baru ingat untuk melafal mantra Arya Tara. Akhir-akhir ini, saya merasa praktik Dharma saya mengalami kemunduran, setiap hari terbuai dan terlena dalam segala aktivitas dan kesibukan duniawi.

Sore itu, saya seperti mendapatkan energi baru, semoga ini bukan sekedar ‘merinding’ seperti yang lalu-lalu. Om telah menjelaskan pengertian anatta dengan sangat detail, sehingga cara pandang saya yang salah terhadap "sosok" sekarang menjadi sedikit lebih jelas, dan kewajiban saya selanjutnya (sebagai balasan terhadap kebaikan Guru) adalah menumbuhkembangkan ini sehingga lebih terampil, lebih bisa merespons (bukan bereaksi seperti yang sudah menjadi kebiasaan selama ini) terhadap segala pengalaman yang muncul.

Sahabat Dharma semua, berkumpul bersama kalian selalu membawa aura positif. Terima kasih untuk semua upaya, ketulusan hati, dan kebaikan teman-teman. Mari saling bergandengan tangan, bersama-sama berupaya dan saling dukung satu sama lain dalam menghadapi “up and down” di hidup ini.

… bersambung ke Bagian 3