Belajar, Tinggalkan yang Dipelajari, Belajar Kembali, Hingga Tak Perlu Belajar Lagi
Oleh E
Dihantar pada 3 Juli 2026
Sebuah ulasan pengalaman dari Belabar Lebaran 2018.
Dalam hidup, banyak hal yang tampaknya sepele, kecil dan cuma beda tipis. Tapi, begitu dianalisa lebih dalam, terhampar perbedaan yang begitu besar! Itulah yang kami lakukan selama libur lebaran ini. Libur lebaran yang tidak membuat badan jadi lebar-an, tapi justru cara pikir jadi lebar-an. Hal-hal kecil dalam hidup, contohnya, ketika menolong orang. Apakah benar-benar ingin menghilangkan penderitaan, atau karena merasa tidak nyaman melihat orang itu menderita? Ternyata besar bedanya antara ingin menjadi orang baik dan menjadi orang baik saja.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus bergulir, utamanya tentang keputusan dalam hidup kita, yang tak jarang menggiring kita ke keputusasaan. Kalau memang tujuan hidup supaya ingin bahagia, mengapa sampai sekarang rasanya tidak cukup bahagia? Adakah yang perlu dievaluasi tentang cara pandang ini? Beberapa tahun terakhir, saya suka heran dengan harapan yang saya set sendiri. Misalnya, tentang karir. Dua tahun lalu, harapan saya hanya satu, agar kerjaan kantor lebih bermakna, ide-ide dijalankan, produktif dan tidak ‘magabut’ alias makan gaji buta. Singkat kata, saya berhasil pindah ke kantor baru dan harapan saya terwujud! Tugas-tugas dan tanggung jawab mengalir tanpa henti—tak jarang lembur, waktu ‘habis’ mengerjakan ini-itu… orang bilang, be careful of what you wish for, impian saya tentang ‘pekerjaan bermakna’ tercapai sudah, tapi nggak bahagia-bahagia amat seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Cara pandang. Debu di mata. Ternyata kita mengonstruksi apa yang kita alami. Proses pengalaman ditarik mundur sampai ke titik tertipis, belajar lagi mengenai cara kerja ‘mind’ ini. Om Salim mengajak kita melakukan eksperimen sederhana: pejamkan mata, bayangkan nasi yang mengepul wangi, lengkap dengan deskripsi lauk, dan kita berakhir dengan air liur menetes. Padahal begitu buka mata, nasinya ‘kan nggak ada! Inilah yang seringkali mengecoh kita. Bukan hanya itu, tubuh kita pun mengecoh kita dengan efek dopamine. Kasus seperti ini banyak kita temui di hidup sehari-hari, misalnya masa kecil dimarahi orang tua, tapi kita ingat terus sensasi dan kesalnya sampai sekarang. Padahal yang diingat sekarang ini jelas hanya buatan pikiran itu sendiri.
Belajar bahwa segala sesuatu saling terkait, bahkan diri ini pun adalah keterkaitan itu sendiri—kumpulan dari pengalaman dan kondisi yang saling menopang. Tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri, solid dari sananya. Contoh, soto yang enak. Kalau memang soto itu enak dari sananya, kamu mau nggak dibangunin jam 3 pagi untuk makan soto? Dengan memahami kesalingterkaitan, maka masuk akal bahwa tidak akan ada satu pun impian yang akan tercapai sama persis seperti apa yang kita harapkan. Kita boleh menentukan target, garis besar, namun juga paham bahwa kondisi-kondisi terus berubah—termasuk kita sendiri. Kalau memang begitu adanya, tidak perlu lagi kita bersikukuh atau ngotot, tidak perlu juga takut gagal, dan dengan demikian kita jadi lebih berani dan selalu mengupayakan yang terbaik. Sekarang saya sedikit lebih paham maksud dari bait dalam Sutra Sari: “karena tiada yang ingin dicapai, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran, dengan mengandalkan Prajnaparamita. Karena telah bebas dari segala gangguan pikiran, mereka tidak gentar.”
Tenang! Semua impian tidak akan ada yang persis tercapai, tapi yang terjadi selalu pas. Kalau memang semua terjadinya pas, sesuai dengan kondisi-kondisi yang saling terkait ini, maka masuk akal mengapa Om Salim selalu menganjurkan kita agar selalu peduli, kalau bisa berbuat bajik dan kalau tidak bisa, setidaknya jangan mencelakai. Dimulai dari mempertanyakan makna hidup, mengubah cara pandang, tahu apa yang ada, dengan begitu kita lebih bisa merangkul hidup (embrace life). Tahu hidup, sedalam-dalamnya, sehingga kita bisa hidup dengan seberani-beraninya. Merangkul, bukan berarti pasrah, tapi punya keberanian untuk jalani hidup dengan beri yang terbaik. Lama-lama, cara pandang ini akan berpengaruh pada cara hidup dan sikap. Sesederhana memesan mie di restoran, tapi yang datang malah bihun. Dan momen ketika kamu bilang, “oke, aku makan bihun saja,” tidak kesal dan marah-marah, dan rasanya tetap enak, ternyata yang bikin jadi tetap enak ini adalah sikapmu yang sekarang sudah bisa mikir untuk orang atau makhluk lain.
Terima kasih, Om Salim, untuk selalu membenarkan ‘layar’ kami, terlebih saat-saat delapan mata angin sudah begitu kencang bagai badai, bahwa selalu ada kesempatan untuk hidup yang lebih menyeluruh. Ketika senang, benar-benar senang; ketika sedih, ya benar-benar sedih, tidak pura-pura senang. Bila harus luruh, ya luruh. Bila harus teguh, ya teguh. Mereguk hidup yang lebih hidup. Hidup yang lebih eureka dan ketemu aha momen terus. Kalau lapar ya makan, kalau capek ya tidur. Sudah bukan lagi “aku lapar” maka “aku harus makan,” “aku” capek makanya “aku harus tidur.” Ketika “aku” dicopot keluar dari yang dialami, bikin hati jadi lebih plong. Bahwa yang ada hanyalah kebisaan untuk tahu.
Kebisaan untuk tahu, yang bisa diakses lewat latihan meditasi. Mengikuti bunyi bel. Sampai di titik suara itu hilang dan berada bersama apa yang ada. Di ujung suara bel yang hilang, yang ‘didengar’ adalah kondisi yang segar, stabil, nyaman, damai. Yatha bhuta darsana, melihat sebagaimana adanya. Kala itu, rasanya saya seperti ikan yang tiba-tiba sadar bahwa saya hidup di air. Air yang sudah ada terus dari sananya. Belajar, tinggalkan yang telah dipelajari, belajar kembali, hingga tak perlu belajar lagi.
Berpikir betapa berharganya momen-momen yang tampaknya sederhana, tapi hangat terus di hati. Ketika hujan deras dan nggak kedengaran Om ngomong apa, dan akhirnya kita hanya bisa tertawa-tawa. Melihat Om tertawa yang bikin kita jadi tertawa juga. Lihat Om yang godain kita seraya berkata bahwa pemandangan hujan di depan beliau ini cantik sekali, tapi sayang kita semua nggak bisa lihat. Demikian juga pemandangan gunung, kembang api...
Berpikir betapa beruntungnya kita kenal, dikenalkan, berkenalan lagi dengan Dharma dengan cara seperti ini, begitu langka. Walaupun masih tergagap-gagap, tertatih-tatih, kurang terampil dalam hidup, tapi hati Guru tetap begitu hangat, penuh kebajikan, bersedia mengulang terus pelajaran yang sekilas tampak itu-itu saja tapi setiap kali ada rasa yang beda.
Berpikir betapa ajaibnya Om Salim yang mengajak kita belajar mencicipi shunyata dengan cara yang begitu kasual, memetik apa yang bertebaran dalam hidup sehari-hari sebagai contoh, dan dimulai dari hal-hal kecil, kita ditempa, belajar untuk hidup lebih, lebih, lebih terampil lagi. Agar sedikit debu di mata, bisa dan mampu disingkap.
Mengetahui bahwa yang membuat kita ada di samsara adalah cara pandang kita yang ‘berbelah,’ selalu menyandingkan baik dan buruk, nirvana dan samsara, padahal kita sendiri yang menciptakan pembedaan-pembedaan. Mengetahui bahwa hidup ini adalah penampilan, The Play, Lalitavistara, kenapa kita selalu menganggap serius hal-hal yang membuat kita gundah? Sebaliknya, kenapa tidak berdayakan saja kesempatan ini untuk menjadi berguna buat yang lain?
Agar ketika kondisi-kondisi menjadi pas, kita bisa merasakan maksud Buddha dalam “Singa Menggeliat,” seperti apa yang terukir di Borobudur. Terima kasih.
Dalam hidup, banyak hal yang tampaknya sepele, kecil dan cuma beda tipis. Tapi, begitu dianalisa lebih dalam, terhampar perbedaan yang begitu besar! Itulah yang kami lakukan selama libur lebaran ini. Libur lebaran yang tidak membuat badan jadi lebar-an, tapi justru cara pikir jadi lebar-an. Hal-hal kecil dalam hidup, contohnya, ketika menolong orang. Apakah benar-benar ingin menghilangkan penderitaan, atau karena merasa tidak nyaman melihat orang itu menderita? Ternyata besar bedanya antara ingin menjadi orang baik dan menjadi orang baik saja.
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini terus bergulir, utamanya tentang keputusan dalam hidup kita, yang tak jarang menggiring kita ke keputusasaan. Kalau memang tujuan hidup supaya ingin bahagia, mengapa sampai sekarang rasanya tidak cukup bahagia? Adakah yang perlu dievaluasi tentang cara pandang ini? Beberapa tahun terakhir, saya suka heran dengan harapan yang saya set sendiri. Misalnya, tentang karir. Dua tahun lalu, harapan saya hanya satu, agar kerjaan kantor lebih bermakna, ide-ide dijalankan, produktif dan tidak ‘magabut’ alias makan gaji buta. Singkat kata, saya berhasil pindah ke kantor baru dan harapan saya terwujud! Tugas-tugas dan tanggung jawab mengalir tanpa henti—tak jarang lembur, waktu ‘habis’ mengerjakan ini-itu… orang bilang, be careful of what you wish for, impian saya tentang ‘pekerjaan bermakna’ tercapai sudah, tapi nggak bahagia-bahagia amat seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Cara pandang. Debu di mata. Ternyata kita mengonstruksi apa yang kita alami. Proses pengalaman ditarik mundur sampai ke titik tertipis, belajar lagi mengenai cara kerja ‘mind’ ini. Om Salim mengajak kita melakukan eksperimen sederhana: pejamkan mata, bayangkan nasi yang mengepul wangi, lengkap dengan deskripsi lauk, dan kita berakhir dengan air liur menetes. Padahal begitu buka mata, nasinya ‘kan nggak ada! Inilah yang seringkali mengecoh kita. Bukan hanya itu, tubuh kita pun mengecoh kita dengan efek dopamine. Kasus seperti ini banyak kita temui di hidup sehari-hari, misalnya masa kecil dimarahi orang tua, tapi kita ingat terus sensasi dan kesalnya sampai sekarang. Padahal yang diingat sekarang ini jelas hanya buatan pikiran itu sendiri.
Belajar bahwa segala sesuatu saling terkait, bahkan diri ini pun adalah keterkaitan itu sendiri—kumpulan dari pengalaman dan kondisi yang saling menopang. Tidak ada sesuatu yang berdiri sendiri, solid dari sananya. Contoh, soto yang enak. Kalau memang soto itu enak dari sananya, kamu mau nggak dibangunin jam 3 pagi untuk makan soto? Dengan memahami kesalingterkaitan, maka masuk akal bahwa tidak akan ada satu pun impian yang akan tercapai sama persis seperti apa yang kita harapkan. Kita boleh menentukan target, garis besar, namun juga paham bahwa kondisi-kondisi terus berubah—termasuk kita sendiri. Kalau memang begitu adanya, tidak perlu lagi kita bersikukuh atau ngotot, tidak perlu juga takut gagal, dan dengan demikian kita jadi lebih berani dan selalu mengupayakan yang terbaik. Sekarang saya sedikit lebih paham maksud dari bait dalam Sutra Sari: “karena tiada yang ingin dicapai, Bodhisattva bebas dari segala gangguan pikiran, dengan mengandalkan Prajnaparamita. Karena telah bebas dari segala gangguan pikiran, mereka tidak gentar.”
Tenang! Semua impian tidak akan ada yang persis tercapai, tapi yang terjadi selalu pas. Kalau memang semua terjadinya pas, sesuai dengan kondisi-kondisi yang saling terkait ini, maka masuk akal mengapa Om Salim selalu menganjurkan kita agar selalu peduli, kalau bisa berbuat bajik dan kalau tidak bisa, setidaknya jangan mencelakai. Dimulai dari mempertanyakan makna hidup, mengubah cara pandang, tahu apa yang ada, dengan begitu kita lebih bisa merangkul hidup (embrace life). Tahu hidup, sedalam-dalamnya, sehingga kita bisa hidup dengan seberani-beraninya. Merangkul, bukan berarti pasrah, tapi punya keberanian untuk jalani hidup dengan beri yang terbaik. Lama-lama, cara pandang ini akan berpengaruh pada cara hidup dan sikap. Sesederhana memesan mie di restoran, tapi yang datang malah bihun. Dan momen ketika kamu bilang, “oke, aku makan bihun saja,” tidak kesal dan marah-marah, dan rasanya tetap enak, ternyata yang bikin jadi tetap enak ini adalah sikapmu yang sekarang sudah bisa mikir untuk orang atau makhluk lain.
Terima kasih, Om Salim, untuk selalu membenarkan ‘layar’ kami, terlebih saat-saat delapan mata angin sudah begitu kencang bagai badai, bahwa selalu ada kesempatan untuk hidup yang lebih menyeluruh. Ketika senang, benar-benar senang; ketika sedih, ya benar-benar sedih, tidak pura-pura senang. Bila harus luruh, ya luruh. Bila harus teguh, ya teguh. Mereguk hidup yang lebih hidup. Hidup yang lebih eureka dan ketemu aha momen terus. Kalau lapar ya makan, kalau capek ya tidur. Sudah bukan lagi “aku lapar” maka “aku harus makan,” “aku” capek makanya “aku harus tidur.” Ketika “aku” dicopot keluar dari yang dialami, bikin hati jadi lebih plong. Bahwa yang ada hanyalah kebisaan untuk tahu.
Kebisaan untuk tahu, yang bisa diakses lewat latihan meditasi. Mengikuti bunyi bel. Sampai di titik suara itu hilang dan berada bersama apa yang ada. Di ujung suara bel yang hilang, yang ‘didengar’ adalah kondisi yang segar, stabil, nyaman, damai. Yatha bhuta darsana, melihat sebagaimana adanya. Kala itu, rasanya saya seperti ikan yang tiba-tiba sadar bahwa saya hidup di air. Air yang sudah ada terus dari sananya. Belajar, tinggalkan yang telah dipelajari, belajar kembali, hingga tak perlu belajar lagi.
Berpikir betapa berharganya momen-momen yang tampaknya sederhana, tapi hangat terus di hati. Ketika hujan deras dan nggak kedengaran Om ngomong apa, dan akhirnya kita hanya bisa tertawa-tawa. Melihat Om tertawa yang bikin kita jadi tertawa juga. Lihat Om yang godain kita seraya berkata bahwa pemandangan hujan di depan beliau ini cantik sekali, tapi sayang kita semua nggak bisa lihat. Demikian juga pemandangan gunung, kembang api...
Berpikir betapa beruntungnya kita kenal, dikenalkan, berkenalan lagi dengan Dharma dengan cara seperti ini, begitu langka. Walaupun masih tergagap-gagap, tertatih-tatih, kurang terampil dalam hidup, tapi hati Guru tetap begitu hangat, penuh kebajikan, bersedia mengulang terus pelajaran yang sekilas tampak itu-itu saja tapi setiap kali ada rasa yang beda.
Berpikir betapa ajaibnya Om Salim yang mengajak kita belajar mencicipi shunyata dengan cara yang begitu kasual, memetik apa yang bertebaran dalam hidup sehari-hari sebagai contoh, dan dimulai dari hal-hal kecil, kita ditempa, belajar untuk hidup lebih, lebih, lebih terampil lagi. Agar sedikit debu di mata, bisa dan mampu disingkap.
Mengetahui bahwa yang membuat kita ada di samsara adalah cara pandang kita yang ‘berbelah,’ selalu menyandingkan baik dan buruk, nirvana dan samsara, padahal kita sendiri yang menciptakan pembedaan-pembedaan. Mengetahui bahwa hidup ini adalah penampilan, The Play, Lalitavistara, kenapa kita selalu menganggap serius hal-hal yang membuat kita gundah? Sebaliknya, kenapa tidak berdayakan saja kesempatan ini untuk menjadi berguna buat yang lain?
Agar ketika kondisi-kondisi menjadi pas, kita bisa merasakan maksud Buddha dalam “Singa Menggeliat,” seperti apa yang terukir di Borobudur. Terima kasih.
