Ingin Jadi Orang Baik Atau Ingin Membahagiakan Orang Lain?
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Berawal dari kegiatan memasak bersama dan berbagi nasi bungkus di Waisak yang diadakan Potowa Center, saya mendapat kesan yang sangat mendalam saat melihat orang-orang yang menerima nasi bungkus seperti mendapatkan sesuatu yang berharga. Lalu saya terinspirasi mengajak rekan-rekan kantor menyisihkan pendapatan kami untuk diberikan kepada sesama karyawan yang menurut kami penghasilannya kurang memadai.
Gerakan pertama saya bersama dengan rekan-rekan kantor adalah menyisihkan satu persen dari bonus yang kami terima. Setelah terkumpul, kami menentukan jumlah dana yang akan diberikan, siapa yang akan menerimanya dan cara penyampaian agar mereka yang menerimanya tidak merasa seperti ‘menerima sumbangan.’ Pilihan jatuh pada anak-anak muda yang magang dan ‘Office Boys’ yang menurut kami layak menerima dana ini.
Di antara anak-anak magang yang menerima dana dari kami berkata, “Bu, sampai saat ini saya belum pernah menerima uang sebanyak ini.” Ucapan tersebut membuat saya terharu karena besarnya dana mungkin tidak seberapa tapi bagi dia dan keluarganya begitu berharga. Begitu pula dengan ‘Office Boys,’ kami mengajak ke ruangan kami dan ternyata mereka juga terkejut, sekaligus terharu karena perhatian kami. Keesokan harinya kami mendapat makanan sebagai ungkapan terima kasih dan jamuan makanan dari keluarga mereka!
Tahun ini sudah memasuki tahun ketiga kami melakukan kegiatan ini. Sempat timbul sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya, “Jangan-jangan kegiatan ini bisa berlangsung karena saya atasan mereka sehingga mereka yang menyumbang merasa sungkan.” Oleh karena itu, saya mengadakan angket dengan maksud bertanya apakah kegiatan ini tetap mau dilanjutkan atau tidak? Dan hasilnya mengejutkan, semua rekan-rekan memilih untuk dilanjutkan!
Tapi ketika saya bermaksud mengoleksi dana, ternyata ada lima orang di antara penyumbang yang tidak menerima bonus dan kenaikan gaji karena masa kerjanya yang belum mencukupi. Awalnya saya mengajak teman-teman lainnya untuk berbagi, tapi ide ini menimbulkan pro dan kontra, akhirnya saya mengajak atasan saya untuk patungan memberikan sedikit kepada mereka berlima, sesuatu yang bisa kami berikan.
Tapi tak berarti semuanya mulus tanpa halangan pikiran. Sempat timbul keraguan dan perasaan tidak nyaman: “Kok saya sepertinya berusaha menyenangkan orang dengan uang? Apa ini nanti tidak memanjakan mereka?” Ketika saya meminta saran dari Om Salim, Om bertanya “Apa bedanya antara ingin jadi orang baik dengan ingin membahagiakan orang lain?”
Jika ada keresahan, biasanya adalah yang pertama, yakni ingin dianggap orang baik, sementara yang kedua akan membuat hati berbunga. Butuh dua hari untuk menyadari apa terjadi dalam diri saya, yang sesungguhnya sudah saya tahu jawabannya saat bertanya ke Om. Jika ingin membahagiakan orang lain maka berikan saja tanpa perlu ada embel-embel di belakangnya.
Om juga menghadiahkan tiga kata: motivation – wisdom - skills (mau – tahu – mampu = MATAPU). Cek motivasinya terlebih dahulu, dan dengan wisdom cek apakah hal itu bermanfaat, lalu dengan keterampilan kita tahu cara-cara melakukannya.
Saat saya memikirkan bagaimana memberikannya agar tidak terkesan seperti menyumbang, kesempatan yang baik tampaknya langsung muncul. Tanpa menunda, kelima orang tersebut saya ajak bicara dan saya ceritakan motivasi kami yakni sebagai ungkapan terima kasih karena kami sudah menerima kebaikan hati mereka, dan sekaligus meminta maaf atas kondisi yang terjadi. Di luar perkiraan saya, salah satu di antara mereka berkata, “Sebenarnya pemberian ini tidak perlu, Bu, karena kami juga belum memenuhi syarat untuk mendapatkannya.” Mendengar ini, saya langsung merinding, sulit dijelaskan perasaan saya waktu itu.
Saya lalu berpesan agar pemberian ini digunakan dengan baik. Bisa digunakan untuk membelikan sesuatu untuk orang tua dan keluarga karena sekecil apa pun pemberian untuk orang tua, hal itu akan membuat mereka merasa dihargai. Tentu saja juga boleh digunakan untuk makan-makan atau berbelanja! Mereka menerima pemberian kami dengan perasaan berterima kasih.
Ternyata jika ingin membahagiakan orang lain, kita akan membuat usaha. Kekhawatiran yang ada tidak terbukti dan apa yang ditakuti tidak terjadi, karena tak ada ekspektasi.
Gerakan pertama saya bersama dengan rekan-rekan kantor adalah menyisihkan satu persen dari bonus yang kami terima. Setelah terkumpul, kami menentukan jumlah dana yang akan diberikan, siapa yang akan menerimanya dan cara penyampaian agar mereka yang menerimanya tidak merasa seperti ‘menerima sumbangan.’ Pilihan jatuh pada anak-anak muda yang magang dan ‘Office Boys’ yang menurut kami layak menerima dana ini.
Di antara anak-anak magang yang menerima dana dari kami berkata, “Bu, sampai saat ini saya belum pernah menerima uang sebanyak ini.” Ucapan tersebut membuat saya terharu karena besarnya dana mungkin tidak seberapa tapi bagi dia dan keluarganya begitu berharga. Begitu pula dengan ‘Office Boys,’ kami mengajak ke ruangan kami dan ternyata mereka juga terkejut, sekaligus terharu karena perhatian kami. Keesokan harinya kami mendapat makanan sebagai ungkapan terima kasih dan jamuan makanan dari keluarga mereka!
Tahun ini sudah memasuki tahun ketiga kami melakukan kegiatan ini. Sempat timbul sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya, “Jangan-jangan kegiatan ini bisa berlangsung karena saya atasan mereka sehingga mereka yang menyumbang merasa sungkan.” Oleh karena itu, saya mengadakan angket dengan maksud bertanya apakah kegiatan ini tetap mau dilanjutkan atau tidak? Dan hasilnya mengejutkan, semua rekan-rekan memilih untuk dilanjutkan!
Tapi ketika saya bermaksud mengoleksi dana, ternyata ada lima orang di antara penyumbang yang tidak menerima bonus dan kenaikan gaji karena masa kerjanya yang belum mencukupi. Awalnya saya mengajak teman-teman lainnya untuk berbagi, tapi ide ini menimbulkan pro dan kontra, akhirnya saya mengajak atasan saya untuk patungan memberikan sedikit kepada mereka berlima, sesuatu yang bisa kami berikan.
Tapi tak berarti semuanya mulus tanpa halangan pikiran. Sempat timbul keraguan dan perasaan tidak nyaman: “Kok saya sepertinya berusaha menyenangkan orang dengan uang? Apa ini nanti tidak memanjakan mereka?” Ketika saya meminta saran dari Om Salim, Om bertanya “Apa bedanya antara ingin jadi orang baik dengan ingin membahagiakan orang lain?”
Jika ada keresahan, biasanya adalah yang pertama, yakni ingin dianggap orang baik, sementara yang kedua akan membuat hati berbunga. Butuh dua hari untuk menyadari apa terjadi dalam diri saya, yang sesungguhnya sudah saya tahu jawabannya saat bertanya ke Om. Jika ingin membahagiakan orang lain maka berikan saja tanpa perlu ada embel-embel di belakangnya.
Om juga menghadiahkan tiga kata: motivation – wisdom - skills (mau – tahu – mampu = MATAPU). Cek motivasinya terlebih dahulu, dan dengan wisdom cek apakah hal itu bermanfaat, lalu dengan keterampilan kita tahu cara-cara melakukannya.
Saat saya memikirkan bagaimana memberikannya agar tidak terkesan seperti menyumbang, kesempatan yang baik tampaknya langsung muncul. Tanpa menunda, kelima orang tersebut saya ajak bicara dan saya ceritakan motivasi kami yakni sebagai ungkapan terima kasih karena kami sudah menerima kebaikan hati mereka, dan sekaligus meminta maaf atas kondisi yang terjadi. Di luar perkiraan saya, salah satu di antara mereka berkata, “Sebenarnya pemberian ini tidak perlu, Bu, karena kami juga belum memenuhi syarat untuk mendapatkannya.” Mendengar ini, saya langsung merinding, sulit dijelaskan perasaan saya waktu itu.
Saya lalu berpesan agar pemberian ini digunakan dengan baik. Bisa digunakan untuk membelikan sesuatu untuk orang tua dan keluarga karena sekecil apa pun pemberian untuk orang tua, hal itu akan membuat mereka merasa dihargai. Tentu saja juga boleh digunakan untuk makan-makan atau berbelanja! Mereka menerima pemberian kami dengan perasaan berterima kasih.
Ternyata jika ingin membahagiakan orang lain, kita akan membuat usaha. Kekhawatiran yang ada tidak terbukti dan apa yang ditakuti tidak terjadi, karena tak ada ekspektasi.
