Terbakar Api, Mengubah Hidup Menjadi Sejuk
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Tiga tahun terakhir ini saya lebih banyak introspeksi diri, banyak hal yang membuat saya berubah. Dua tahun yang lalu saya mengalami luka bakar karena ledakan tabung gas. Saat saya di rumah sakit dan merasa tak berdaya, saya ingat Om Salim. Om pernah mengajarkan saya untuk tidak bereaksi atas penolakan-penolakan atau gejolak yang timbul: “Kenapa kok saya? Padahal, saya merasa tidak pernah mencelakai orang lain, selalu memberi semangat kepada teman-teman dan selalu memotivasi untuk berbuat baik, tetapi kok saya yang mengalami ini? Menurut saya, di luar sana, masih banyak orang-orang yang tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain, tapi kenapa kok mereka damai sentosa? Kenapa saya yang ‘terpilih’ untuk mengalami ini?
Waktu saya tidak berdaya di rumah sakit, di mana saya hanya bangun untuk diberi protein, sedikit-sedikit minta tolong orang lain, saya benar-benar merasa tidak berguna dan bertanya-tanya kenapa saya bisa ada di posisi seperti ini. Tapi saya pikir, ya sudah jalani saja, toh juga tidak akan lama. Mau buang air kecil, buang air besar, saya selalu meminta tolong adik saya atau suster. Waktu itu saya berjanji dan bertekad dalam hati, kalau saya sudah bisa jalan, ke depannya saya akan melakukan apa saja untuk orang banyak, bukan untuk diri saya sendiri.
Mengenai tabung gas, mungkin ini bisa menjadi perhatian untuk teman-teman. Saya tidak tahu bahwa tabung gas sudah bocor, tidak tercium gas sama sekali, dan saya juga tidak tahu bahwa tabung gas yang sudah lama tidak digunakan, gasnya akan mengendap ke bawah. Jadi saya letakkan kuali di atas kompor, lalu ... cetek, saya nyalakan kompor gasnya. Seketika itu, saya merasa panas karena terjadi ledakan dengan api berkobar. Belum mampu merasakan apa-apa, segera saya lari ke depan rumah — saya melewati cermin dan sempat melihat bayangan saya di sana. Saya lihat ada api di rambut saya! Secara refleks saya padamkan dengan tangan kosong, benar-benar tak terpikir rasanya sakit kalau terpegang api.
Saya lari ke depan rumah, saat itu saya merasa kehilangan anggota badan, seluruh badan saya terasa panas. Saya pun keluar dan menelepon teman untuk meminta bantuan. Ketika masuk lagi ke dalam rumah, saya teringat untuk sembahyang ke Dewa Tanah, saya berterima kasih karena masih diberi kehidupan. Saya minum sebanyak-banyaknya karena betul-betul merasa panas, badan ini rasanya kebas, tak bisa merasakan apa-apa. Sempat terpikir nanti bagaimana dengan muka saya? Saya naik ke atas kamar, mencari obat dan mengoleskannya ke badan dan kaki. Waktu saya oleskan ke kaki, kulit kaki sudah melepuh, jadi tidak berani saya sentuh lagi. Akhirnya teman saya datang dan langsung membawa saya ke rumah sakit. Dua hari saya tergeletak di rumah sakit tanpa tindakan yang berarti. Rasanya benar-benar nelangsa dan menderita!
Kebetulan, dua hari kemudian ada acara Nian Fo (mengingat dan melafal nama Buddha), di mana saya bertugas di bagian dekorasi. Saya beritahu She Fu (Bhante) bahwa saya tidak bisa ikut dan akan mencari teman lain untuk diajari dan diberi tugas. Memang, banyak teman-teman yang datang menjenguk, tapi mungkin mereka tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan, dan saya juga tidak menunjukkannya. Biar saya saja yang tahu, biar saya saja yang rasakan.
Karena tidak ada tindakan dari rumah sakit di Medan, akhirnya saya dibawa ke Penang. Melihat kondisi saya, dokter di Penang bilang, beruntung saya belum ditindak apa-apa di rumah sakit sebelumnya, kalau tidak, saya harus mengulangi proses perawatan yang sakit sekali. Dengan menggunakan sejenis pinset, dokter merobek kulit kaki saya, benar-benar saya melihat kulit kaki saya itu seperti ‘chasio’ (daging panggang merah)! Karena luka bakarnya masih mengeluarkan air, saya harus dibius. Keluar-masuk kamar bedah saya jalani selama sembilan hari. Saya tanya ke dokter, “Ini masih bisa sembuh tidak?” Kata dokter, “Sembuh sih bisa, tapi kalau kamu mau kulitnya bagus kembali, kamu harus terlahir kembali.” Saya tanya lagi, “Saya bisa jalan tidak?” Kata dokter itu semua tergantung saya. Waktu itu saya bertekad saya harus bisa jalan!
Sepuluh hari kemudian, setelah menjalani operasi berkali-kali, dokter menginstruksikan saya untuk turun dari ranjang dan berjalan. Dokter memapah saya turun dari ranjang dan menyuruh saya untuk berdiri. Pelan-pelan, saya injakkan kaki ke lantai dan .... rasa sakitnya benar-benar luar biasa! Seandainya bisa saya rasakan sakit dan derita mereka yang tersiksa di neraka, mungkin saya sudah merasakannya! Benar-benar tak tertahankan sampai air mata keluar dengan sendirinya, tubuh saya terkulai ke lantai. Dokter masih tak percaya bahwa saya kesakitan dan meminta saya untuk bangkit. Lagi-lagi, saya tak bisa berdiri, sampai adik saya tidak tega dan bilang ke dokter untuk berhenti dulu. Selama ini, adik saya tak pernah melihat saya menangis. Dia tahu, pasti sakit sekali sampai-sampai kakaknya yang galak ini bisa menangis. Di depan teman-teman yang menjenguk pun, saya jarang mengekspresikan kesakitan dan penderitaan. Pikir saya, buat apa? Saya usahakan untuk terlihat baik-baik saja, walaupun hati ini benar-benar sesak dan sakit.
Tapi, tekad saya kuat. Saya bertekad untuk bisa berjalan kembali. Tidak mungkin saya terus seperti ini dan merepotkan orang lain, bahkan urusan ke belakang (maaf) pun, butuh bantuan orang lain. Dokter menyemangati saya dan menganjurkan saya untuk terapi dan berlatih. Begitu kaki saya sudah tidak berair lagi, saya kembali ke Medan. Sempat muncul rasa malu karena duduk di kursi roda, padahal saya masih muda.
Setelah melewati latihan dan terapi, akhirnya saya bisa berdiri dan berjalan. Suatu kali, saya pergi ke vihara waktu Ce It Cap Go (hari pertama dan hari ke-15 dari penanggalan lunar), saya sadar bahwa saya tak bisa jongkok maupun bernamaskara. Jika saya hanya bisa jalan tapi tidak bisa melakukan aktivitas lainnya, akan sangat mengganggu mobilitas saya. Akhirnya, saya upayakan. Awalnya benar-benar sakit sekali untuk menekuk sendi, karena kulit baru belum terbentuk sempurna. Saya tekadkan untuk sujud ke Buddha dan pelan-pelan saya bisa.
Pengalaman ini mengubah cara pikir saya, bahwa Hermes, Gucci, berlian ... semuanya benar-benar tidak berarti. Itu sudah bukan sesuatu yang berharga lagi. Saya tak lagi marah-marah. Saya lebih pengertian terhadap orang lain. Yang saya pikirkan hanya bagaimana hidup ini bisa memberi manfaat untuk yang lain. Saya lebih bisa merasakan penderitaan orang lain; lebih bisa berempati. Dari pengalaman ini saya mengerti, jika kita sendiri mengalami itu, kita lebih bisa berempati atas penderitaan orang lain. Itu baru benar-benar saya sadari waktu saya mengalaminya.
***
#Tanggapan Om Salim untuk berbagi pengalaman di atas:
Masih segar dalam ingatan saya, ketika pertama kali ikut Belabar, persoalan terbesarmu waktu itu adalah kemarahan, dan kamu membayangkan betapa bahagianya kalau kita bisa tidak marah. Beberapa tahun kemudian, kamu merasa berhasil karena bisa mengatasi kemarahan terhadap tukang. Mendengar ceritamu, saya betul-betul merasa bahwa Dharma ini bukan cerita di luar, tapi cerita tentang hidup kita, bagaimana caranya menghadapi bila hal seperti itu terjadi.
Tentu kita semua tidak perlu mengalami hal sedrastis seperti yang kamu alami. Kita tidak pernah menghargai hidup ini – sedikit-sedikit mengeluh, merasa tidak cukup. Tapi, kamu tidak akan mungkin bisa mengatasi kejadian tersebut dengan sikap seperti itu, jika kamu tidak punya banyak kebajikan dalam hati. Justru karena kamu sering memikirkan orang lain – meski terkesan galak – tapi karena kamu selalu membantu yang lain, selalu mikir untuk teman, selalu membantu teman. Tanpa itu semua, mungkin cara menghadapi kejadian itu, akan lain. Menghadapi persoalan tanpa penolakan, itu luar biasa sekali. Betul-betul mempunyai daya yang luar biasa. Dalam buku doa, ada yang disebut Dua Pengumpulan: pengumpulan potensi positif (punyasambhara) dan pengumpulan pengetahuan (jnansambhara). Potensi-potensi positif (Skt. punya) bisa didapatkan dengan banyak mengumpulkan kebajikan dalam hati. Saat kita menderita, kebaikan hati bisa menjadi pegangan kita; ini yang bisa menolong kita. Kebajikan dalam hatimu.
Dalam Gandavyuha ini disebut kusalamula, the seed of kindness, akar/daya kebajikan. Kebajikan ini, saat dibutuhkan, akan membantu dan menuntunmu. Semuanya menjadi positif, sama sekali tidak ada yang negatif. Bisa saja kamu menjadi negatif, menolak dan menjadi getir, merasa paling susah sehingga timbul self pity – mengasihani diri sendiri. Ini sangat sering terjadi, belum apa-apa sudah mengasihani diri sendiri dan bertanya-tanya, “Kenapa harus saya?” Inilah yang dikhawatirkan. Jadi dalam Buddhadharma, kebaikan hati bisa dijadikan pegangan, karena dalam situasi demikian, kebaikan hati itulah yang membantu kamu untuk bisa berdiri kembali.
Bisa mengatasi hal seperti itu lalu menjadi kebahagiaan, mengubah hidup menjadi lebih mengerti orang lain, bukan ‘saya’ semata. Tidak gampang marah atas kekurangan orang dan lebih berempati. Inilah definisi kebahagiaan, yakni tidak adanya penolakan, tidak ada kemarahan, tidak ada keserakahan, tidak ada keinginan yang menggebu-gebu.
Saya ingat anak saya yang ketiga. Beberapa waktu lalu, dia kerja paruh waktu di pusat perbelanjaan, menjual pernak-pernik. Dia punya tabungan sendiri, dan setelah kerja 1,5 tahun, dia pamit mau pergi ke Vietnam bersama temannya. Tabungannya dibawa semua, ternyata dia mendaftarkan diri di salah satu vihara yang merawat anak-anak yatim, korban perang Vietnam. Di sana, dia bertemu anak-anak yang tidak punya orang tua, yang sakit, yang pendidikannya terbatas. Semua tabungannya dia sumbangkan di situ. Dia bilang bahwa setelah melihat semua keadaan di sana, dia benar-benar merasa tidak ada permasalahan hidup. Betul-betul tidak punya persoalan.
Kita sebenarnya luar biasa memanjakan diri. Dari cerita kamu, saya benar-benar ikut bermudita, berbahagia untukmu, di mana kamu tidak lagi dijajah, tidak lagi dicengkeram ingin ini, ingin itu, yang membuat kita merasa kurang; tapi yang ada hanya rasa berlebihan dan selalu ingin memberi manfaat buat orang lain. Itu kebahagiaan yang sungguh-sungguh sempurna.
Waktu saya tidak berdaya di rumah sakit, di mana saya hanya bangun untuk diberi protein, sedikit-sedikit minta tolong orang lain, saya benar-benar merasa tidak berguna dan bertanya-tanya kenapa saya bisa ada di posisi seperti ini. Tapi saya pikir, ya sudah jalani saja, toh juga tidak akan lama. Mau buang air kecil, buang air besar, saya selalu meminta tolong adik saya atau suster. Waktu itu saya berjanji dan bertekad dalam hati, kalau saya sudah bisa jalan, ke depannya saya akan melakukan apa saja untuk orang banyak, bukan untuk diri saya sendiri.
Mengenai tabung gas, mungkin ini bisa menjadi perhatian untuk teman-teman. Saya tidak tahu bahwa tabung gas sudah bocor, tidak tercium gas sama sekali, dan saya juga tidak tahu bahwa tabung gas yang sudah lama tidak digunakan, gasnya akan mengendap ke bawah. Jadi saya letakkan kuali di atas kompor, lalu ... cetek, saya nyalakan kompor gasnya. Seketika itu, saya merasa panas karena terjadi ledakan dengan api berkobar. Belum mampu merasakan apa-apa, segera saya lari ke depan rumah — saya melewati cermin dan sempat melihat bayangan saya di sana. Saya lihat ada api di rambut saya! Secara refleks saya padamkan dengan tangan kosong, benar-benar tak terpikir rasanya sakit kalau terpegang api.
Saya lari ke depan rumah, saat itu saya merasa kehilangan anggota badan, seluruh badan saya terasa panas. Saya pun keluar dan menelepon teman untuk meminta bantuan. Ketika masuk lagi ke dalam rumah, saya teringat untuk sembahyang ke Dewa Tanah, saya berterima kasih karena masih diberi kehidupan. Saya minum sebanyak-banyaknya karena betul-betul merasa panas, badan ini rasanya kebas, tak bisa merasakan apa-apa. Sempat terpikir nanti bagaimana dengan muka saya? Saya naik ke atas kamar, mencari obat dan mengoleskannya ke badan dan kaki. Waktu saya oleskan ke kaki, kulit kaki sudah melepuh, jadi tidak berani saya sentuh lagi. Akhirnya teman saya datang dan langsung membawa saya ke rumah sakit. Dua hari saya tergeletak di rumah sakit tanpa tindakan yang berarti. Rasanya benar-benar nelangsa dan menderita!
Kebetulan, dua hari kemudian ada acara Nian Fo (mengingat dan melafal nama Buddha), di mana saya bertugas di bagian dekorasi. Saya beritahu She Fu (Bhante) bahwa saya tidak bisa ikut dan akan mencari teman lain untuk diajari dan diberi tugas. Memang, banyak teman-teman yang datang menjenguk, tapi mungkin mereka tidak bisa merasakan apa yang saya rasakan, dan saya juga tidak menunjukkannya. Biar saya saja yang tahu, biar saya saja yang rasakan.
Karena tidak ada tindakan dari rumah sakit di Medan, akhirnya saya dibawa ke Penang. Melihat kondisi saya, dokter di Penang bilang, beruntung saya belum ditindak apa-apa di rumah sakit sebelumnya, kalau tidak, saya harus mengulangi proses perawatan yang sakit sekali. Dengan menggunakan sejenis pinset, dokter merobek kulit kaki saya, benar-benar saya melihat kulit kaki saya itu seperti ‘chasio’ (daging panggang merah)! Karena luka bakarnya masih mengeluarkan air, saya harus dibius. Keluar-masuk kamar bedah saya jalani selama sembilan hari. Saya tanya ke dokter, “Ini masih bisa sembuh tidak?” Kata dokter, “Sembuh sih bisa, tapi kalau kamu mau kulitnya bagus kembali, kamu harus terlahir kembali.” Saya tanya lagi, “Saya bisa jalan tidak?” Kata dokter itu semua tergantung saya. Waktu itu saya bertekad saya harus bisa jalan!
Sepuluh hari kemudian, setelah menjalani operasi berkali-kali, dokter menginstruksikan saya untuk turun dari ranjang dan berjalan. Dokter memapah saya turun dari ranjang dan menyuruh saya untuk berdiri. Pelan-pelan, saya injakkan kaki ke lantai dan .... rasa sakitnya benar-benar luar biasa! Seandainya bisa saya rasakan sakit dan derita mereka yang tersiksa di neraka, mungkin saya sudah merasakannya! Benar-benar tak tertahankan sampai air mata keluar dengan sendirinya, tubuh saya terkulai ke lantai. Dokter masih tak percaya bahwa saya kesakitan dan meminta saya untuk bangkit. Lagi-lagi, saya tak bisa berdiri, sampai adik saya tidak tega dan bilang ke dokter untuk berhenti dulu. Selama ini, adik saya tak pernah melihat saya menangis. Dia tahu, pasti sakit sekali sampai-sampai kakaknya yang galak ini bisa menangis. Di depan teman-teman yang menjenguk pun, saya jarang mengekspresikan kesakitan dan penderitaan. Pikir saya, buat apa? Saya usahakan untuk terlihat baik-baik saja, walaupun hati ini benar-benar sesak dan sakit.
Tapi, tekad saya kuat. Saya bertekad untuk bisa berjalan kembali. Tidak mungkin saya terus seperti ini dan merepotkan orang lain, bahkan urusan ke belakang (maaf) pun, butuh bantuan orang lain. Dokter menyemangati saya dan menganjurkan saya untuk terapi dan berlatih. Begitu kaki saya sudah tidak berair lagi, saya kembali ke Medan. Sempat muncul rasa malu karena duduk di kursi roda, padahal saya masih muda.
Setelah melewati latihan dan terapi, akhirnya saya bisa berdiri dan berjalan. Suatu kali, saya pergi ke vihara waktu Ce It Cap Go (hari pertama dan hari ke-15 dari penanggalan lunar), saya sadar bahwa saya tak bisa jongkok maupun bernamaskara. Jika saya hanya bisa jalan tapi tidak bisa melakukan aktivitas lainnya, akan sangat mengganggu mobilitas saya. Akhirnya, saya upayakan. Awalnya benar-benar sakit sekali untuk menekuk sendi, karena kulit baru belum terbentuk sempurna. Saya tekadkan untuk sujud ke Buddha dan pelan-pelan saya bisa.
Pengalaman ini mengubah cara pikir saya, bahwa Hermes, Gucci, berlian ... semuanya benar-benar tidak berarti. Itu sudah bukan sesuatu yang berharga lagi. Saya tak lagi marah-marah. Saya lebih pengertian terhadap orang lain. Yang saya pikirkan hanya bagaimana hidup ini bisa memberi manfaat untuk yang lain. Saya lebih bisa merasakan penderitaan orang lain; lebih bisa berempati. Dari pengalaman ini saya mengerti, jika kita sendiri mengalami itu, kita lebih bisa berempati atas penderitaan orang lain. Itu baru benar-benar saya sadari waktu saya mengalaminya.
***
#Tanggapan Om Salim untuk berbagi pengalaman di atas:
Masih segar dalam ingatan saya, ketika pertama kali ikut Belabar, persoalan terbesarmu waktu itu adalah kemarahan, dan kamu membayangkan betapa bahagianya kalau kita bisa tidak marah. Beberapa tahun kemudian, kamu merasa berhasil karena bisa mengatasi kemarahan terhadap tukang. Mendengar ceritamu, saya betul-betul merasa bahwa Dharma ini bukan cerita di luar, tapi cerita tentang hidup kita, bagaimana caranya menghadapi bila hal seperti itu terjadi.
Tentu kita semua tidak perlu mengalami hal sedrastis seperti yang kamu alami. Kita tidak pernah menghargai hidup ini – sedikit-sedikit mengeluh, merasa tidak cukup. Tapi, kamu tidak akan mungkin bisa mengatasi kejadian tersebut dengan sikap seperti itu, jika kamu tidak punya banyak kebajikan dalam hati. Justru karena kamu sering memikirkan orang lain – meski terkesan galak – tapi karena kamu selalu membantu yang lain, selalu mikir untuk teman, selalu membantu teman. Tanpa itu semua, mungkin cara menghadapi kejadian itu, akan lain. Menghadapi persoalan tanpa penolakan, itu luar biasa sekali. Betul-betul mempunyai daya yang luar biasa. Dalam buku doa, ada yang disebut Dua Pengumpulan: pengumpulan potensi positif (punyasambhara) dan pengumpulan pengetahuan (jnansambhara). Potensi-potensi positif (Skt. punya) bisa didapatkan dengan banyak mengumpulkan kebajikan dalam hati. Saat kita menderita, kebaikan hati bisa menjadi pegangan kita; ini yang bisa menolong kita. Kebajikan dalam hatimu.
Dalam Gandavyuha ini disebut kusalamula, the seed of kindness, akar/daya kebajikan. Kebajikan ini, saat dibutuhkan, akan membantu dan menuntunmu. Semuanya menjadi positif, sama sekali tidak ada yang negatif. Bisa saja kamu menjadi negatif, menolak dan menjadi getir, merasa paling susah sehingga timbul self pity – mengasihani diri sendiri. Ini sangat sering terjadi, belum apa-apa sudah mengasihani diri sendiri dan bertanya-tanya, “Kenapa harus saya?” Inilah yang dikhawatirkan. Jadi dalam Buddhadharma, kebaikan hati bisa dijadikan pegangan, karena dalam situasi demikian, kebaikan hati itulah yang membantu kamu untuk bisa berdiri kembali.
Bisa mengatasi hal seperti itu lalu menjadi kebahagiaan, mengubah hidup menjadi lebih mengerti orang lain, bukan ‘saya’ semata. Tidak gampang marah atas kekurangan orang dan lebih berempati. Inilah definisi kebahagiaan, yakni tidak adanya penolakan, tidak ada kemarahan, tidak ada keserakahan, tidak ada keinginan yang menggebu-gebu.
Saya ingat anak saya yang ketiga. Beberapa waktu lalu, dia kerja paruh waktu di pusat perbelanjaan, menjual pernak-pernik. Dia punya tabungan sendiri, dan setelah kerja 1,5 tahun, dia pamit mau pergi ke Vietnam bersama temannya. Tabungannya dibawa semua, ternyata dia mendaftarkan diri di salah satu vihara yang merawat anak-anak yatim, korban perang Vietnam. Di sana, dia bertemu anak-anak yang tidak punya orang tua, yang sakit, yang pendidikannya terbatas. Semua tabungannya dia sumbangkan di situ. Dia bilang bahwa setelah melihat semua keadaan di sana, dia benar-benar merasa tidak ada permasalahan hidup. Betul-betul tidak punya persoalan.
Kita sebenarnya luar biasa memanjakan diri. Dari cerita kamu, saya benar-benar ikut bermudita, berbahagia untukmu, di mana kamu tidak lagi dijajah, tidak lagi dicengkeram ingin ini, ingin itu, yang membuat kita merasa kurang; tapi yang ada hanya rasa berlebihan dan selalu ingin memberi manfaat buat orang lain. Itu kebahagiaan yang sungguh-sungguh sempurna.
