Meletakkan ‘Tas Ransel,’ Mengubah Cara Pandang

Oleh V
Dihantar pada 3 Juli 2026
Dear Om Salim & teman-teman Potowa,

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbagi pengalaman retret Belabar. Semoga apa yang saya bagikan di sini bisa menginspirasi.

Dari sejak kuliah, saya sering mengikuti retret dari berbagai lembaga terkemuka. Dan tahun 2017 ini merupakan pertama kalinya saya mengikuti retret Belabar setelah beberapa kali diajak oleh sahabat saya, David Ohtaka.

Terus terang, sebelum saya mengikuti retret Belabar, saya sudah berpikir bahwa saya akan sia-sia mengikuti retret ini. Tapi saya tetap membuka hati dan antusias untuk ikut karena saya tahu saya butuh retret. "Setahun ada 365 hari, paling tidak aku "beristirahat" sejenak selama 5-7 hari dari urusan duniawi," pikir saya.

Singkatnya...

Selama lebih dari 10 tahun, saya banyak membaca buku Dharma, mendengar banyak ceramah, mengikuti banyak event Dharma dan berpartisipasi aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Pengalaman inilah yang saya selalu bawa ke mana-mana, bahkan ke Jhana Manggala saat ikut Belabar.

Jujur tanpa saya sadari, semua pengalaman saya itu ternyata adalah beban. Seperti saya membawa tas ransel berisi beban-beban, yaitu: pengetahuan, pengalaman dan pencapaian. Yang setelah saya sadari, ternyata beban ini "gak penting-penting amat untuk dibawa."

Hari pertama dan kedua retret, saya merasa tidak nyaman. Saya menciptakan retret sendiri dalam pikiran saya. "Retret harusnya seperti itu, bukan seperti ini," gejolak dalam hati saya. Akan tetapi, saya tetap memberikan 100% dari diri saya untuk membuka hati dan melanjutkan retret sampai selesai.

Sampai pada akhirnya, sebuah cerita nyata dari seorang peserta Belabar meruntuhkan arogansi saya. Kejadian bahwa ia pernah mengalami duka mendalam akibat separuh tubuhnya terbakar seolah "menampar" kesombongan saya.

Setelah saya mendengar apa yang disampaikan beliau, saya jadi malu. Rasanya semua penderitaan yang pernah saya alami dalam hidup tidak ada apa-apanya dibanding dengan penderitaan beliau.

Lalu perjuangannya untuk bangkit, perjuangannya untuk sembuh dari luka bakar, perjuangannya untuk belajar jalan lagi, sungguh-sungguh menginspirasi saya.

Rasanya selama ini saya terlalu cengeng dalam menjalani hidup, meski saya merasa pengetahuan saya mungkin banyak. Kenyataannya, saya tidak setegar beliau ketika menghadapi "badai kehidupan." Thank you very much, ya.

Setelah mendengarkan cerita nyata tersebut, akhirnya saya meletakkan "tas ransel" saya. Tidak ada beban lagi yang saya bawa.

Saya selalu tertarik dengan Dharma, demikian pula dengan sharing yang disampaikan oleh Om Salim selama Belabar. Apa yang disampaikan Om Salim sangat jelas dan mendalam. Om Salim sangat piawai membagikan Dharma yang mendalam menjadi bisa dipahami. Selain itu, saya merasakan ketulusan beliau, buat saya pribadi, Om Salim mengajarkan apa itu "anatta" dari ucapan dan tindakan beliau saat berbagi.

Semenjak saya meletakkan "tas ransel" saya, saya menyadari bahwa sharing dari Om Salim lebih 'masuk' di hati.

Setelah itu, saya menyadari bahwa ada beberapa hal yang keliru dengan "sosok aku" dan cara pandang saya tentang kehidupan. Namun beberapa hal lainnya, saya jadi lega, karena sebagian yang sudah saya jalani ternyata sudah benar.

Terima kasih banyak Om Salim, saya tidak hanya mendapat Dharma yang indah, tetapi juga inspirasi yang mengubah hidup saya jadi lebih bermanfaat.

Lalu pada malam terakhir sebelum retret usai, grup dari Jambi dan Medan serta panitia membuat semacam drama Dharma dan pentas. Saya dibuat takjub dengan ketulusan dan totalitas dari teman-teman peserta ini.

Jujur saja, saat kuliah dulu, saya sangat senang ketika harus berpartisipasi dalam drama Dharma. Saya selalu antusias memikirkan detail skripnya dan totalitas memainkan perannya. Jadi saat melihat penampilan mereka, saya seolah melihat "cerminan" diri saya. Hehehe...

Terakhir sebagai penutup...
Sebuah pesan dari Ajahn Brahm berbunyi, "Jangan biarkan pengetahuanmu menghalangi jalan kebenaran."

Huh! Nyaris saja pengetahuan saya menutupi jalan kebenaran dalam Belabar ini. Yang mana di dalam jalan kebenaran ini, saya menemukan permata yang tak ternilai harganya. Akan saya jaga baik-baik permata yang telah Om Salim berikan.

Kesimpulan dari sharing saya ini:
Retret Belabar ini mengubah cara pandang saya dalam menjalani kehidupan. Dari yang sebelumnya cengeng, arogan, dan galau menjadi lebih kuat, rendah hati, dan tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup.

Terima kasih.

***
Ditulis oleh salah satu peserta Belabar Lebaran 2017.