Saat Ombak-Ombak Itu Datang: Sharing Pribadi Mengalami Ketidaknyamanan

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Apakah harus mendapat tempat duduk?

Siang hari. Terik. Saya sengaja melewatkan beberapa bis Trans-Jakarta yang tampak sesak dengan harapan agar bis berikutnya akan lapang sehingga bisa mendapat tempat duduk. Apa pun keterangannya, apa pun usaha dan kondisinya, kalau dapat tempat duduk, kita akan puas dan senang; kalau tidak dapat tempat duduk, biasanya kita menggerutu, tak jarang jadi jengkel. Apakah mungkin untuk berpandangan agak lain: Sebisanya kita cari tempat duduk, kalau dapat, ya oke; kalau tidak, juga oke. Berhubung perjalanan jarak jauh, tentu saja lebih nyaman kalau dapat tempat duduk, tapi dasar dalam mengambil sikap adalah: duduk oke; berdiri juga oke. Yang jelas, tidak ada lagi kemungkinan untuk jengkel! Menggerutu jelas tidak membantu. Karma untuk jengkel karena tidak dapat tempat duduk di bis mulai dikikis habis, meski tidak menjamin akan selalu dapat tempat duduk! Kshanti Paramita – tidak bereaksi negatif.

Menghadapi situasi yang menurut kita menyebalkan

Sewaktu mendengar pabrik akan telat mengirim barang sebanyak 150.000 unit, sesaknya betul-betul memuncak hingga ubun-ubun, karena baru 2 minggu lalu kita evaluasi bersama dan pihak pabrik mengonfirmasi tidak ada masalah. Tiba-tiba kemarin pabrik minta delay, alasannya: baru ketahuan bahwa mereka tidak sanggup catch up!

Oke, tahap 1, alami rasa sesak dan menyebalkan ini, tidak langsung kalap memarahi pabrik dulu. Setelah dialami rasa menyebalkan tersebut, tahap 2 baru merespons, ambil tindakan yang membantu, kontak sana-sini untuk minta keterangan apa yang terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

Memang betul, ketika mengalami sesuatu yang menyebalkan, biasanya strategi kita adalah menghindari tahap pertama: tidak mau berada dalam situasi tidak enak. Dan untuk mengalihkan apa yang tidak enak, juga karena tidak tahu mesti bagaimana, kita marah. Karena marah, biasanya kita reaktif. Karena reaktif, maka sering mentok.

Keterangan Om sangat realistik, dalam arti begini: Kadang ada yang menyarankan cukup lakukan tahap 1 saja, alias ‘dirasakan saja’ atau kalau sudah mentok, pakai ‘shunyata’ untuk justify. Tapi rasanya tidak cukup sampai di tahap 1, karena buntut dari kejadian itu tetap perlu ditangani, hanya saja sekarang bisa menjelaskan dengan lebih runut dan ada solusi yang terlihat. Bukan pula berarti pasti ending-nya happy, bisa jadi tetap dikenakan sanksi tapi sekarang kita lebih bisa menangani dan menindaklanjuti situasi yang ada.

Mobil mogok, pikiran tak ikut mabok

Senang sekali membaca sharing Om dan teman-teman. Teachings terakhir begitu membekas di hati, memberi jurus-jurus yang bisa digunakan dalam merespons saat mengalami kejadian yang tidak nyaman. Tadi siang, Koko datang dan mengajak Mama makan di luar, kemudian pergi lagi ke tempat lain, sehingga saya ‘mendadak’ jadi supirnya Mama. Di tengah jalan, tiba-tiba AC mobil ngadat, yang bekerja hanya kipasnya. Saya pun masih tetap tancap gas melanjutkan perjalanan. Namun, ketika jalan pulang, mobilnya mulai ‘batuk-batuk’ dan mogok beberapa kali serta diklakson terus dari belakang. Tapi, saya coba nyalakan mesin lagi sambil memberi jalan untuk kendaraan di belakang, sembari berpikir, solusi apa yang bisa saya lakukan, ya? Saya parkir mobilnya di tepi jalan agar tak mengganggu yang lain, dengan beberapa pilihan terlintas di benak: panggil mobil derek, panggil shop drive… tiba-tiba terlintas wajah Pak Gino, montir di bawah pohon, dan Pak Gino dengan baik hati (pas pula sedang available!) langsung datang ke tempat. Sementara itu, saya masih sempat telepon saudara untuk menjemput Mama.

Ternyata betul, kalau hanya mengalami dan tidak pakai panik, marah-marah atau menyalahkan keadaan, pilihan-pilihan akan keluar, begitu juga tahap-tahap solusi akan keluar dengan sendirinya! Semua jadi lancar, meskipun kita memang harus menunggu dan tidak bereaksi negatif. Terima kasih, Om, selalu memberikan masukan-masukan yang membuat kehidupan menjadi lebih baik!

Mengapa harus tidur pulas dan harus sehat?

Topik “Apakah HARUS dapat tempat duduk?” telah menjadi inspirasi bagi saya untuk menanggulangi rasa tidak nyaman karena tidak bisa tidur kemarin malam. Dikarenakan flu dan batuk berat, sudah dua malam ini saya mengalami insomnia. Jangankan tidur pulas, merem tidur "ayam" saja sulit karena terus dilanda batuk-batuk! Berbagai cara telah dilakukan, mulai dari bangun untuk buang lendir, minum air putih, madu… tetap tak mempan. Saya juga coba menggunakan cara untuk hanya merasakan, mengalami, namun tidak begitu membantu karena pikiran tidak mau "bekerja sama." Terus-menerus ada penolakan, walaupun halus.

Sambil berbaring, saya ingat-ingat lagi, lalu terpikir "Mengapa HARUS tidur pulas? Apakah mungkin berpandangan agak lain?” Saat itu, saya sih tidak terpikir pandangan lain. Hanya saja, setelah berpikir begitu, rasa tidak nyaman karena flu berkurang setengahnya! Sambil diulang-ulang lebih dalam makna tentang "mengapa HARUS tidur pulas," tak lama kemudian saya sudah ‘tak sadarkan diri.’ Bangun-bangun matahari sudah tinggi! Entah ada batuk-batuk atau tidak tadi malam, yang jelas saya tak lagi merasakan batuk tersebut.

Siang ini, batuknya masih ‘ganas,’ dan dengan cepat terpikir "mengapa HARUS selalu sehat?" Hidup dengan fisik manusia sangat rentan akan serangan virus dan bakteri, jadi terpapar sakit adalah masuk akal. Ini membuat saya tetap bisa beraktifitas dengan rileks dan bisa bantu isi SPT. Terima kasih yang tak terhingga untuk Om. Perasaan dapat menerima ini saya dedikasikan untuk Om dan para Guru, serta semua makhluk yang saat ini merasakan sakit, agar kesehatan selalu menyertai.

Celah yang terbuka

Ketika mengalami masalah, ada kalanya seolah-olah tidak ada opsi yang terlihat. Semua berlangsung begitu cepatnya. Ketika ada hal yang tidak menyenangkan, langsung bereaksi negatif. Tapi, saat diperhatikan lagi, ternyata ada sedikit celah yang terbuka, yang tak tertangkap karena begitu cepatnya tertutup kembali. Celah itu terbuka saat kita memilih untuk hening sesaat. Ternyata masih ada pilihan untuk tak sekedar terseret pola kebiasaan. Celah itu adalah wisdom (prajna).