Kesan Pesan Belabar Idul Fitri 2016 (Part 2)
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Selain ilmu Dharma, banyak sekali hal yang saya dapatkan dari mengikuti Belabar ini, cerita-cerita dan pengalaman teman-teman Belabar yang menginspirasi saya dan memberikan saya sudut pandang baru, membuat saya menyadari bahwa hidup tidak hanya memikirkan diri sendiri, bahwa peduli kepada orang lain itu sangat memungkinkan dan masuk akal. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Om Salim, seluruh panita dan semua teman-teman. Sebuah pengalaman yang sangat berharga untuk kehidupan saya.
***
Sebelum dan selama Belabar, beberapa kali muncul penolakan dan kadang ada rasa iritasi, tapi setelah dipikir-pikir itu karena ‘sense of I’ yang besar, ‘I’ yang terasa terancam. Saya belajar dari Om untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan lebih bisa manuver, lebih terampil dan gesit. Saya bertekad lebih fleksibel, lebih gesit dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jika ada yang membutuhkan bantuan, agar saya bersedia meluangkan waktu meskipun saya sendiri sedang sibuk atau lagi repot. Agar tekad dan keinginan ini dapat terwujud, berkat semua kebajikan yang saya lakukan.
***
Awal ikut Belabar ini, ada rasa kaget, ingin tahu acaranya apa saja karena baru pertama kali saya mengikuti retret. Namun, hari demi hari bisa dilewati. Walaupun masih ada beberapa yang belum dapat ditangkap dan dimengerti, saya mendapat banyak pengetahuan yang positif, yang belum pernah saya dapatkan, terutama tentang Borobudur, yang ternyata banyak mengandung ajaran-ajaran Buddha yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Terima kasih untuk panitia atas kesempatan yang diberikan, atas ilmu pengetahuan, pembacaan doa yang baru pertama kali saya terima, penginapannya, makanannya, dll, serta manfaat yang akan saya bawa ke rumah untuk dipraktikkan.
Kalau bisa, waktu diskusi dipersingkat karena penjelasan dari Om Salim jadi kepotong. Dan diperbanyak pembacaan paritta, lagu wihara gita, meditasi. Perbanyak bahasan pertanyaan-pertanyaan dari peserta, ditulis dalam kertas, kemudian dibahas oleh Om Salim dengan cara dipilih lalu dibahas. Sekian dan terima kasih. Anumodana.
***
Ini merupakan Belabar pertama yang saya ikuti. Beberapa pengalaman yang saya dapatkan: 1) Mengerti tentang Buddhadharma dengan cara pandang yang lebih benar; 2) Lebih mencintai Buddha dan bangga menjadi buddhis; 3) Lebih mengerti tentang anatta, dukkha, karma; 3) Pengalaman selama di sini membuat tekad baru dalam hati untuk menjadi orang yang lebih baik lagi tiap harinya, lebih welas asih, lebih murah hati, lebih mengerti apa adanya dalam hidup ini; 4) Mengerti dan mengetahui isi dan keindahan dari Candi Borobudur; 5) Sangat berterima kasih untuk Om Salim atas apa yang dibabarkan dan juga terima kasih untuk seluruh panitia dan lainnya yang bisa mewujudkan Belabar ini.
***
Seperti biasa setiap kali mengikuti kegiatan Belabar bersama Om Salim pasti ada sesuatu yang baru, yang bisa memberikan inspirasi dan pengertian yang lebih mendalam. Walaupun penjelasan Om Salim pernah saya dengar di Belabar sebelumnya, seperti tentang “saya” atau “I,” cara melihat realitas, space of the mind dan pengertian tentang “mind,” namun pada Belabar kali ini, tema-tema tersebut bagi saya menjadi lebih jelas dan mendalam. Ini bisa menjadi landasan untuk menghadapi segala bentuk pengalaman yang dialami, dalam proses merealisasi potensi tertinggi yang mungkin bisa dicapai. Saya mengucapkan banyak terima kasih pada Om Salim yang meluangkan waktunya untuk membimbing kami setiap tahun dan setiap ada kesempatan. Dan terima kasih juga pada semua kalyanamitra yang senantiasa mendukung kegiatan Belabar ini dan kegiatan-kegiatan lainnya di Potowa Center.
***
Sangat bersyukur dan menghargai Om dan teman-teman Potowa yang telah mempersiapkan materi Borobudur sejak awal yang perlu waktu cukup lama. Dan sangat terinspirasi atas segala motivasinya dalam berbagi pengetahuan tentang Borobudur ke masyarakat, semoga Buddhadharma bisa semakin dikenal oleh masyarakat lokal, bahkan dunia. Terima kasih kepada Om, panitia, Ayi-Ayi yang menyiapkan makanan dan teman-teman semuanya.
***
Saat pertama kali dengar Belabar, saya bingung apa itu Belabar, apa saja aktivitasnya, belajar agama? Dalam konsep saya, belajar agama itu mungkin seperti di sekolah-sekolah. Tapi setelah saya ikuti, ternyata selama ini, saya hanya tahu agama Buddha secara umum saja, baca sutta dan paritta hanya sekedar baca tanpa memahami, seperti baca buku cerita dan terkadang salah persepsi tentang makna yang disampaikan.
Di kesempatan ini saya ingin berterima kasih kepada Om, atas upaya dan virya untuk selalu hadir mengajarkan kami, untuk mengingatkan kami menumbuhkembangkan Bodhicitta yang selama ini hampir saya abaikan di sela-sela kesibukan pekerjaan saya, lupa untuk memberikan apresiasi, selalu mengedepankan “aku” yang penting ini dan keinginan yang selalu ingin dituruti. Di Belabar ini, saya banyak mendapatkan pelajaran, walaupun awalnya saya sempat bingung dengan semua istilah Pali, tapi saya selalu berprinsip, sesusah apa pun jika kita ingin belajar dan mau tahu, kita pasti bisa.
Dan di sini saya pun menyadari, ajaran Buddha penuh dengan pikiran dan tindak-tanduk yang positif, di mana jika ditumbuhkembangkan akan membawa rasa bahagia dan bangga. Bangga tapi tidak sombong. Bahagia ternyata sesimpel itu. Akhir kata, terima kasih Om Salim Lee.
***
Ini pertama kali saya ikut Belabar. Retret ini memang beda dari yang lainnya. Awalnya agak susah ikutin karena peserta lainnya sepertinya jam terbang sudah tinggi (pengetahuan Dharmanya). Guru mengajarkan dan menjelaskan dengan detail, menarik dan kadang diselingi humor sehingga tidak membosankan. Walaupun tidak semua yang dijelaskan di Belabar dapat dimengerti, setidaknya dasar yang dijelaskan dapat dipahami dan bisa menjadi landasan untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Yang kurang adalah waktu istirahat yang terbatas, dikarenakan jadwal teaching yang sedikit molor. Selain itu, jam istirahat terlalu berisik dengan suara-suara orang yang mengobrol sehingga istirahat tidak maksimal. Waktu makan yang dipersingkat dari 1 jam ke 30 menit menyebabkan berkurangnya waktu untuk bersih diri dan harus terburu-buru terutama bagi yang piket karena harus segera masuk ruang baktisala. Yang pasti, retret kali ini seru dan berguna walaupun agak capek.
***
Kesan-kesan selama Belabar: 1) Panitia dan teman-teman yang sangat membantu dan juga ramah; 2) Banyak mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah dengan ragam suku serta latar belakang. Bahkan lumayan banyak ibu-ibu dan bapak-bapak paruh baya yang sangat semangat belajar. Walau rentang usia cukup jauh, tapi tidak menjadi penghalang komunikasi. Teman-teman juga saling perhatian walau tidak dalam satu kelompok. Bahkan, banyak yang kreatif mendadak jadi pencipta pantun dan puisi; 3) Belajar Dhamma lebih mendetail dan lebih paham dengan adanya contoh-contoh kejadian sehari-hari; 4) Teknik meditasi yang awalnya tampak sulit ternyata setelah dipraktikkan berulang selama beberapa hari berturut-turut menjadi lebih paham, misalnya teknik “open channel.” Ada beberapa teman dalam satu kelompok yang berkomitmen untuk meditasi secara teratur; 5) Guru kita Om Salim dan anggota Sangha yang penuh welas asih dan sangat rendah hati; 6) Persembahan lagu tentang Borobudur yang sangat menakjubkan. Aransemen yang harmonis dan bikin terlena; 7) Jikalau karma baik dan Buddha mengijinkan, semoga bisa ikut Belabar Potowa grup tiap tahun. Jika dibutuhkan saya juga bersedia ambil bagian sebagai panitia sebisa mungkin. Thank you, Namaste.
Untuk pengurus dan khususnya panitia Belabar Potowa, semoga tidak pernah bosan dengan peserta retret yang mungkin kadang sedikit rewel. Semoga kita semua selalu diberkahi kesehatan, umur panjang dan kesempatan-kesempatan untuk bersama-sama belajar Dhamma. Berikut adalah syair yang saya cuplik dan dedikasikan untuk semuanya dan Guru kita, Om Salim serta anggota Sangha.
Compassion – welas kasih,
Because of love, we see; karena cinta, kita melihat
Because of love, we hear; karena cinta, kita mendengar
Because of love, we grow; karena cinta, kita bertumbuh
Because of love, we care; karena cinta, kita peduli
Because of love, we share; karena cinta, kita berbagi
Because of love, we love; karena cinta, kita mencintai.
***
Pertama-tama, saya ingin berterima kasih atas ajaran dari Om. Om selalu sabar dan memberikan teachings ke kita semua. Belabar tahun ini, saya merasa sangat senang dan rileks, saya juga merasakan kekeluargaan yang muncul bersama teman-teman semua. Rasa malu dan takut saya pun mulai menghilang. Saya ingat Om pernah bilang kalau malu itu berarti sombong, jadi saya upayakan untuk tidak malu dan apa adanya, meskipun kadang muncul klesha-klesha dan agak kaku.
Saya hanya mau sharing sedikit. Tahun ini saya Belabarnya tidak ada yang bolong, kecuali makan dan liangong. Meskipun lelah, mengantuk, tapi saya sangat senang, saya bangga pada diri saya kalau saya bisa ikutan semua (karena dulu masih suka bolong-bolong). Oh iya Om, di Australia nanti jaga kesehatan, jangan kecapekan, dan cukup tidur, ya Om. Semoga Om selalu senantiasa mengajarkan Dharma ke kita semua.
***
Pertama kali saya bertemu dengan Om, ada satu pernyataan Om yang terus saya analisa: “kebaikan hatimu yang akan menyelamatkanmu.” Tahun 2011 adalah pertemuan pertama dengan Om, setelah itu banyak perubahan dalam diri saya. Saya juga bingung kenapa saya bisa begitu terbuka untuk perubahan. Saya menjadi orang yang lebih baik, orang yang lebih mudah dihadapi oleh keluarga, teman dan semuanya.
Selama tahun 2011 sampai 2016, ada banyak ‘up and down’ yang saya hadapi. Saya banyak mengalami kerewelan dan tekanan. Kadang saya berpikir sudah 5 tahun ikut Om, kok malah ‘down’-nya lebih parah,
Banyak hal yang saya dapatkan waktu Belabar, yang kadangkala baru saya sadari setelah beberapa waktu. Tapi setidaknya saya menemukan orang-orang yang mau menegur saya apa adanya. Kadangkala saya takut dan khawatir, tapi setelah dipikirkan ya … dinikmati saja. Saya belajar banyak dari kejadian yang lama, saya tidak menyerah dan terus menganalisa, hati saya tahu bahwa ada sesuatu yang tidak pas, selangkah demi selangkah saya memperbaikinya.
Saat ini di kantor saya kadang merasa saya masih jahat, masih dendam, cuek dengan orang yang menyakiti sosok “aku” ini. Saya tahu itu tidak adil dan tidak pas, tapi saya masih belum bisa. Banyak hal yang mau saya lakukan untuk tim. Cuma belum ketemu cara yang pas saja. Tapi, saya rasa suatu hari nanti saya akan bisa.
***
Tadi pagi makan mie sua
Biarpun asin enak rasanyo
Kebaikan hati untuk semua
Rasanyo enak nyaman rasanyo.
Sudah empat hari kito Belabar
Sampe malam dari subuh
Diskusi avidya, moha sampe berdebar
Agar kito mengerti dengan sungguh-sungguh.
Jauh merantau dari Jambi ke Jakarta
Singgah bentar nak beli bawang
Awalnyo galau nak datang retret Potowa
Sekarang galau dak mau pulang.
***
Maaf sebelumnya kalau ada kata-kata saya yang mungkin kurang berkenan. Saya sudah beberapa kali ikut teaching Om mulai dari tahun 2010. Walaupun tidak bisa ikut setiap tahun, tapi setiap kali ikut, di hari-hari terakhir, saya selalu mendapatkan sesuatu yang membuat saya betah dan tidak mau pulang.
Baru kali ini ada rasa kurang pas bagi saya, padahal di hari-hari pertama saya sangat senang karena tahun ini, saya bisa membantu 2 orang teman untuk ikut mendengarkan teaching Om. Namun justru saya yang ngak oke. Makin lama makin berasa ngak betah, mungkin karena kali ini banyak teknik-teknik yang saya kurang paham karena latar belakang saya Katolik dan keterbatasan kapasitas saya untuk memahami apa yang Om sampaikan.
Tapi bagaimanapun juga, saya mau ucapkan terima kasih banyak atas semua ajaran yang telah Om sampaikan dan saya berkesempatan untuk mendengarkannya. Jelas sekali hidup saya banyak berubah dalam 6 tahun terakhir ini setelah mengenal ajaran Buddha. Saya masih berjuang untuk menyelaraskan dengan pemahaman Katolik yang selama ini menjadi pedoman hidup saya.
Namun, yang pasti akan saya jadikan pegangan dalam hidup saya adalah kebaikan hati (kindness), welas asih (compassion), ketajaman pikiran (wisdom), serta bagaimana menjalani hidup dengan baik dan berguna untuk yang lain. Semoga saya masih memiliki kesempatan berikutnya untuk mendengarkan ajaran Om. Terima kasih dan jaga kesehatan ya, Om.
***
Agar saya menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Lebih banyak melatih melihat segala sesuatu apa adanya. Hidup dengan gagah, jangan cengeng, tapi jangan bodoh. Saya juga banyak belajar latar belakang dan konteks historis dan lain-lain.
***
Manfaat yang saya peroleh selama Belabar adalah cara pandang terhadap hidup ini bahwasanya tidak ada yang objektif, melainkan suatu rentetan pengalaman-pengalaman. Saya bisa memahami sedikit banyak apa itu mind dan cara kerjanya, mengerti teknik-teknik meditasi ‘settling the mind in its natural state’ dan juga meditasi ‘open channel’ dan ‘doing nothing.’ Yang paling saya garisbawahi adalah pesan dari Om Salim: “Hidup yang berani, hidup yang tegar, jangan rewel.”
Terima kasih Om atas pelajaran yang diberikan, saya akan berusaha mempraktikkan instruksi-instruksi Buddha yang Om sampaikan. Sekarang hati saya lebih plong dan saya merasa tidak kesepian, karena memiliki keluarga dari Belabar ini.
***
Semua kebaikan Om telah memotivasi saya untuk lebih giat mempraktikkan Dharma. Dalam keadaan ‘down,’ saya berusaha untuk tidak mengikuti suasana hati yang berubah-ubah, dan lebih memikirkan kepentingan yang lain. Belabar ini seperti membuka mata saya pada klesha-klesha yang telah lama saya pelihara tanpa disadari dan juga berani menjadi seorang Bodhisattva. Agar hidup ini lebih bermanfaat untuk orang lain seperti yang Om sering ingatkan. Sharing Om mengenai kekuatan pikiran dan shunyata (tidak ada yang bersifat hakiki), telah menginspirasi saya mengenai kunci kehidupan ini, yang sesungguhnya hanya perlu dijalankan seberat apa pun dengan upaya dan virya.
Terima kasih sekali Om telah mengingatkan saya tentang keberhargaan hidup yang selama ini saya lupakan, sibuk dengan urusan kehidupan saat ini. Maafkan juga Om atas kegagalan, malas praktik Dharma selama ini. Saya akan selalu berusaha sebaik saya dengan hati yang terbuka dan peduli. Semoga niat dan tekad baik ini dapat membalas semua jasa dan kebajikan Om agar Om selalu sehat dan terus membimbing kami semua.
***
Dapat bertemu Buddhadharma dan Guru yang welas asih seperti Om merupakan kesempatan yang sangat berharga dalam kehidupan saya. Memiliki virya dalam belajar, sedikit demi sedikit membuat saya ‘ngeh’ bagaimana menyikapi kehidupan ini. Dan potensi-potensi kebajikan yang saya upayakan adalah salah satu bentuk kehidupan yang penuh arti, misalnya sekarang saya sudah belajar menghargai papa saya semenjak retret di Jambi itu.
Semoga Om sehat selalu dan panjang umur agar dapat terus memutar Roda Dharma dan juga menjadi Guru yang luar biasa untuk saya yang mata prajna-nya masih ditutupi avidya (kesalahpengertian). Saya tak bisa menjelaskan lebih banyak, tapi saya tahu, saya bisa merasakan perasaan bahagia yang terus muncul, hilang, muncul dan hilang ketika bertemu Om.
***
***
Sebelum dan selama Belabar, beberapa kali muncul penolakan dan kadang ada rasa iritasi, tapi setelah dipikir-pikir itu karena ‘sense of I’ yang besar, ‘I’ yang terasa terancam. Saya belajar dari Om untuk lebih bisa menyesuaikan diri dengan keadaan dan lebih bisa manuver, lebih terampil dan gesit. Saya bertekad lebih fleksibel, lebih gesit dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Jika ada yang membutuhkan bantuan, agar saya bersedia meluangkan waktu meskipun saya sendiri sedang sibuk atau lagi repot. Agar tekad dan keinginan ini dapat terwujud, berkat semua kebajikan yang saya lakukan.
***
Awal ikut Belabar ini, ada rasa kaget, ingin tahu acaranya apa saja karena baru pertama kali saya mengikuti retret. Namun, hari demi hari bisa dilewati. Walaupun masih ada beberapa yang belum dapat ditangkap dan dimengerti, saya mendapat banyak pengetahuan yang positif, yang belum pernah saya dapatkan, terutama tentang Borobudur, yang ternyata banyak mengandung ajaran-ajaran Buddha yang belum pernah saya ketahui sebelumnya. Terima kasih untuk panitia atas kesempatan yang diberikan, atas ilmu pengetahuan, pembacaan doa yang baru pertama kali saya terima, penginapannya, makanannya, dll, serta manfaat yang akan saya bawa ke rumah untuk dipraktikkan.
Kalau bisa, waktu diskusi dipersingkat karena penjelasan dari Om Salim jadi kepotong. Dan diperbanyak pembacaan paritta, lagu wihara gita, meditasi. Perbanyak bahasan pertanyaan-pertanyaan dari peserta, ditulis dalam kertas, kemudian dibahas oleh Om Salim dengan cara dipilih lalu dibahas. Sekian dan terima kasih. Anumodana.
***
Ini merupakan Belabar pertama yang saya ikuti. Beberapa pengalaman yang saya dapatkan: 1) Mengerti tentang Buddhadharma dengan cara pandang yang lebih benar; 2) Lebih mencintai Buddha dan bangga menjadi buddhis; 3) Lebih mengerti tentang anatta, dukkha, karma; 3) Pengalaman selama di sini membuat tekad baru dalam hati untuk menjadi orang yang lebih baik lagi tiap harinya, lebih welas asih, lebih murah hati, lebih mengerti apa adanya dalam hidup ini; 4) Mengerti dan mengetahui isi dan keindahan dari Candi Borobudur; 5) Sangat berterima kasih untuk Om Salim atas apa yang dibabarkan dan juga terima kasih untuk seluruh panitia dan lainnya yang bisa mewujudkan Belabar ini.
***
Seperti biasa setiap kali mengikuti kegiatan Belabar bersama Om Salim pasti ada sesuatu yang baru, yang bisa memberikan inspirasi dan pengertian yang lebih mendalam. Walaupun penjelasan Om Salim pernah saya dengar di Belabar sebelumnya, seperti tentang “saya” atau “I,” cara melihat realitas, space of the mind dan pengertian tentang “mind,” namun pada Belabar kali ini, tema-tema tersebut bagi saya menjadi lebih jelas dan mendalam. Ini bisa menjadi landasan untuk menghadapi segala bentuk pengalaman yang dialami, dalam proses merealisasi potensi tertinggi yang mungkin bisa dicapai. Saya mengucapkan banyak terima kasih pada Om Salim yang meluangkan waktunya untuk membimbing kami setiap tahun dan setiap ada kesempatan. Dan terima kasih juga pada semua kalyanamitra yang senantiasa mendukung kegiatan Belabar ini dan kegiatan-kegiatan lainnya di Potowa Center.
***
Sangat bersyukur dan menghargai Om dan teman-teman Potowa yang telah mempersiapkan materi Borobudur sejak awal yang perlu waktu cukup lama. Dan sangat terinspirasi atas segala motivasinya dalam berbagi pengetahuan tentang Borobudur ke masyarakat, semoga Buddhadharma bisa semakin dikenal oleh masyarakat lokal, bahkan dunia. Terima kasih kepada Om, panitia, Ayi-Ayi yang menyiapkan makanan dan teman-teman semuanya.
***
Saat pertama kali dengar Belabar, saya bingung apa itu Belabar, apa saja aktivitasnya, belajar agama? Dalam konsep saya, belajar agama itu mungkin seperti di sekolah-sekolah. Tapi setelah saya ikuti, ternyata selama ini, saya hanya tahu agama Buddha secara umum saja, baca sutta dan paritta hanya sekedar baca tanpa memahami, seperti baca buku cerita dan terkadang salah persepsi tentang makna yang disampaikan.
Di kesempatan ini saya ingin berterima kasih kepada Om, atas upaya dan virya untuk selalu hadir mengajarkan kami, untuk mengingatkan kami menumbuhkembangkan Bodhicitta yang selama ini hampir saya abaikan di sela-sela kesibukan pekerjaan saya, lupa untuk memberikan apresiasi, selalu mengedepankan “aku” yang penting ini dan keinginan yang selalu ingin dituruti. Di Belabar ini, saya banyak mendapatkan pelajaran, walaupun awalnya saya sempat bingung dengan semua istilah Pali, tapi saya selalu berprinsip, sesusah apa pun jika kita ingin belajar dan mau tahu, kita pasti bisa.
Dan di sini saya pun menyadari, ajaran Buddha penuh dengan pikiran dan tindak-tanduk yang positif, di mana jika ditumbuhkembangkan akan membawa rasa bahagia dan bangga. Bangga tapi tidak sombong. Bahagia ternyata sesimpel itu. Akhir kata, terima kasih Om Salim Lee.
***
Ini pertama kali saya ikut Belabar. Retret ini memang beda dari yang lainnya. Awalnya agak susah ikutin karena peserta lainnya sepertinya jam terbang sudah tinggi (pengetahuan Dharmanya). Guru mengajarkan dan menjelaskan dengan detail, menarik dan kadang diselingi humor sehingga tidak membosankan. Walaupun tidak semua yang dijelaskan di Belabar dapat dimengerti, setidaknya dasar yang dijelaskan dapat dipahami dan bisa menjadi landasan untuk diterapkan di kehidupan sehari-hari. Yang kurang adalah waktu istirahat yang terbatas, dikarenakan jadwal teaching yang sedikit molor. Selain itu, jam istirahat terlalu berisik dengan suara-suara orang yang mengobrol sehingga istirahat tidak maksimal. Waktu makan yang dipersingkat dari 1 jam ke 30 menit menyebabkan berkurangnya waktu untuk bersih diri dan harus terburu-buru terutama bagi yang piket karena harus segera masuk ruang baktisala. Yang pasti, retret kali ini seru dan berguna walaupun agak capek.
***
Kesan-kesan selama Belabar: 1) Panitia dan teman-teman yang sangat membantu dan juga ramah; 2) Banyak mengenal teman-teman baru dari berbagai daerah dengan ragam suku serta latar belakang. Bahkan lumayan banyak ibu-ibu dan bapak-bapak paruh baya yang sangat semangat belajar. Walau rentang usia cukup jauh, tapi tidak menjadi penghalang komunikasi. Teman-teman juga saling perhatian walau tidak dalam satu kelompok. Bahkan, banyak yang kreatif mendadak jadi pencipta pantun dan puisi; 3) Belajar Dhamma lebih mendetail dan lebih paham dengan adanya contoh-contoh kejadian sehari-hari; 4) Teknik meditasi yang awalnya tampak sulit ternyata setelah dipraktikkan berulang selama beberapa hari berturut-turut menjadi lebih paham, misalnya teknik “open channel.” Ada beberapa teman dalam satu kelompok yang berkomitmen untuk meditasi secara teratur; 5) Guru kita Om Salim dan anggota Sangha yang penuh welas asih dan sangat rendah hati; 6) Persembahan lagu tentang Borobudur yang sangat menakjubkan. Aransemen yang harmonis dan bikin terlena; 7) Jikalau karma baik dan Buddha mengijinkan, semoga bisa ikut Belabar Potowa grup tiap tahun. Jika dibutuhkan saya juga bersedia ambil bagian sebagai panitia sebisa mungkin. Thank you, Namaste.
Untuk pengurus dan khususnya panitia Belabar Potowa, semoga tidak pernah bosan dengan peserta retret yang mungkin kadang sedikit rewel. Semoga kita semua selalu diberkahi kesehatan, umur panjang dan kesempatan-kesempatan untuk bersama-sama belajar Dhamma. Berikut adalah syair yang saya cuplik dan dedikasikan untuk semuanya dan Guru kita, Om Salim serta anggota Sangha.
Compassion – welas kasih,
Because of love, we see; karena cinta, kita melihat
Because of love, we hear; karena cinta, kita mendengar
Because of love, we grow; karena cinta, kita bertumbuh
Because of love, we care; karena cinta, kita peduli
Because of love, we share; karena cinta, kita berbagi
Because of love, we love; karena cinta, kita mencintai.
***
Pertama-tama, saya ingin berterima kasih atas ajaran dari Om. Om selalu sabar dan memberikan teachings ke kita semua. Belabar tahun ini, saya merasa sangat senang dan rileks, saya juga merasakan kekeluargaan yang muncul bersama teman-teman semua. Rasa malu dan takut saya pun mulai menghilang. Saya ingat Om pernah bilang kalau malu itu berarti sombong, jadi saya upayakan untuk tidak malu dan apa adanya, meskipun kadang muncul klesha-klesha dan agak kaku.
Saya hanya mau sharing sedikit. Tahun ini saya Belabarnya tidak ada yang bolong, kecuali makan dan liangong. Meskipun lelah, mengantuk, tapi saya sangat senang, saya bangga pada diri saya kalau saya bisa ikutan semua (karena dulu masih suka bolong-bolong). Oh iya Om, di Australia nanti jaga kesehatan, jangan kecapekan, dan cukup tidur, ya Om. Semoga Om selalu senantiasa mengajarkan Dharma ke kita semua.
***
Pertama kali saya bertemu dengan Om, ada satu pernyataan Om yang terus saya analisa: “kebaikan hatimu yang akan menyelamatkanmu.” Tahun 2011 adalah pertemuan pertama dengan Om, setelah itu banyak perubahan dalam diri saya. Saya juga bingung kenapa saya bisa begitu terbuka untuk perubahan. Saya menjadi orang yang lebih baik, orang yang lebih mudah dihadapi oleh keluarga, teman dan semuanya.
Selama tahun 2011 sampai 2016, ada banyak ‘up and down’ yang saya hadapi. Saya banyak mengalami kerewelan dan tekanan. Kadang saya berpikir sudah 5 tahun ikut Om, kok malah ‘down’-nya lebih parah,
Banyak hal yang saya dapatkan waktu Belabar, yang kadangkala baru saya sadari setelah beberapa waktu. Tapi setidaknya saya menemukan orang-orang yang mau menegur saya apa adanya. Kadangkala saya takut dan khawatir, tapi setelah dipikirkan ya … dinikmati saja. Saya belajar banyak dari kejadian yang lama, saya tidak menyerah dan terus menganalisa, hati saya tahu bahwa ada sesuatu yang tidak pas, selangkah demi selangkah saya memperbaikinya.
Saat ini di kantor saya kadang merasa saya masih jahat, masih dendam, cuek dengan orang yang menyakiti sosok “aku” ini. Saya tahu itu tidak adil dan tidak pas, tapi saya masih belum bisa. Banyak hal yang mau saya lakukan untuk tim. Cuma belum ketemu cara yang pas saja. Tapi, saya rasa suatu hari nanti saya akan bisa.
***
Tadi pagi makan mie sua
Biarpun asin enak rasanyo
Kebaikan hati untuk semua
Rasanyo enak nyaman rasanyo.
Sudah empat hari kito Belabar
Sampe malam dari subuh
Diskusi avidya, moha sampe berdebar
Agar kito mengerti dengan sungguh-sungguh.
Jauh merantau dari Jambi ke Jakarta
Singgah bentar nak beli bawang
Awalnyo galau nak datang retret Potowa
Sekarang galau dak mau pulang.
***
Maaf sebelumnya kalau ada kata-kata saya yang mungkin kurang berkenan. Saya sudah beberapa kali ikut teaching Om mulai dari tahun 2010. Walaupun tidak bisa ikut setiap tahun, tapi setiap kali ikut, di hari-hari terakhir, saya selalu mendapatkan sesuatu yang membuat saya betah dan tidak mau pulang.
Baru kali ini ada rasa kurang pas bagi saya, padahal di hari-hari pertama saya sangat senang karena tahun ini, saya bisa membantu 2 orang teman untuk ikut mendengarkan teaching Om. Namun justru saya yang ngak oke. Makin lama makin berasa ngak betah, mungkin karena kali ini banyak teknik-teknik yang saya kurang paham karena latar belakang saya Katolik dan keterbatasan kapasitas saya untuk memahami apa yang Om sampaikan.
Tapi bagaimanapun juga, saya mau ucapkan terima kasih banyak atas semua ajaran yang telah Om sampaikan dan saya berkesempatan untuk mendengarkannya. Jelas sekali hidup saya banyak berubah dalam 6 tahun terakhir ini setelah mengenal ajaran Buddha. Saya masih berjuang untuk menyelaraskan dengan pemahaman Katolik yang selama ini menjadi pedoman hidup saya.
Namun, yang pasti akan saya jadikan pegangan dalam hidup saya adalah kebaikan hati (kindness), welas asih (compassion), ketajaman pikiran (wisdom), serta bagaimana menjalani hidup dengan baik dan berguna untuk yang lain. Semoga saya masih memiliki kesempatan berikutnya untuk mendengarkan ajaran Om. Terima kasih dan jaga kesehatan ya, Om.
***
Agar saya menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak. Lebih banyak melatih melihat segala sesuatu apa adanya. Hidup dengan gagah, jangan cengeng, tapi jangan bodoh. Saya juga banyak belajar latar belakang dan konteks historis dan lain-lain.
***
Manfaat yang saya peroleh selama Belabar adalah cara pandang terhadap hidup ini bahwasanya tidak ada yang objektif, melainkan suatu rentetan pengalaman-pengalaman. Saya bisa memahami sedikit banyak apa itu mind dan cara kerjanya, mengerti teknik-teknik meditasi ‘settling the mind in its natural state’ dan juga meditasi ‘open channel’ dan ‘doing nothing.’ Yang paling saya garisbawahi adalah pesan dari Om Salim: “Hidup yang berani, hidup yang tegar, jangan rewel.”
Terima kasih Om atas pelajaran yang diberikan, saya akan berusaha mempraktikkan instruksi-instruksi Buddha yang Om sampaikan. Sekarang hati saya lebih plong dan saya merasa tidak kesepian, karena memiliki keluarga dari Belabar ini.
***
Semua kebaikan Om telah memotivasi saya untuk lebih giat mempraktikkan Dharma. Dalam keadaan ‘down,’ saya berusaha untuk tidak mengikuti suasana hati yang berubah-ubah, dan lebih memikirkan kepentingan yang lain. Belabar ini seperti membuka mata saya pada klesha-klesha yang telah lama saya pelihara tanpa disadari dan juga berani menjadi seorang Bodhisattva. Agar hidup ini lebih bermanfaat untuk orang lain seperti yang Om sering ingatkan. Sharing Om mengenai kekuatan pikiran dan shunyata (tidak ada yang bersifat hakiki), telah menginspirasi saya mengenai kunci kehidupan ini, yang sesungguhnya hanya perlu dijalankan seberat apa pun dengan upaya dan virya.
Terima kasih sekali Om telah mengingatkan saya tentang keberhargaan hidup yang selama ini saya lupakan, sibuk dengan urusan kehidupan saat ini. Maafkan juga Om atas kegagalan, malas praktik Dharma selama ini. Saya akan selalu berusaha sebaik saya dengan hati yang terbuka dan peduli. Semoga niat dan tekad baik ini dapat membalas semua jasa dan kebajikan Om agar Om selalu sehat dan terus membimbing kami semua.
***
Dapat bertemu Buddhadharma dan Guru yang welas asih seperti Om merupakan kesempatan yang sangat berharga dalam kehidupan saya. Memiliki virya dalam belajar, sedikit demi sedikit membuat saya ‘ngeh’ bagaimana menyikapi kehidupan ini. Dan potensi-potensi kebajikan yang saya upayakan adalah salah satu bentuk kehidupan yang penuh arti, misalnya sekarang saya sudah belajar menghargai papa saya semenjak retret di Jambi itu.
Semoga Om sehat selalu dan panjang umur agar dapat terus memutar Roda Dharma dan juga menjadi Guru yang luar biasa untuk saya yang mata prajna-nya masih ditutupi avidya (kesalahpengertian). Saya tak bisa menjelaskan lebih banyak, tapi saya tahu, saya bisa merasakan perasaan bahagia yang terus muncul, hilang, muncul dan hilang ketika bertemu Om.
***
