Hidup Dalam Dharma
Oleh D
Dihantar pada 3 Juli 2026
Awalnya saya tidak mengerti tujuan Buddhadharma dan tidak jelas makna apa yang bisa diambil dalam kehidupan kali ini. Setiap hari saya hanya melakukan rutinitas: kerja dari hari Senin sampai Jumat, dan kuliah hari Sabtu dan Minggu. Minggu sore setelah pulang kuliah, saya buru-buru ke vihara untuk ikut kebaktian sore.
Suatu minggu sore saya mengikuti sharing Dharma. Waktu itu pembahasannya tentang Pancasila (untuk Upasaka-Upasika). Saya kagum sekali karena sebelumnya belum pernah mendengar penjelasan singkat tetapi jelas sekali mengenai arti dari masing-masing sila dalam Pancasila.
Sebelum mengerti Buddhadharma, saya tipe anak yang "cuek bebek" banget, tidak peduli dengan orang lain. Kuliah hanya kuliah, hampir tidak punya teman kecuali satu teman baikku yang beda fakultas. Di kelas saya selalu duduk di pojok depan, waktu istirahat saya ke kantin sendirian. Begitu kuliah selesai, saya langsung pulang. Di kantor pun begitu, saya sering mengeluh, saya hanya mengerjakan tugasku, menolong orang lain juga seperlunya saja. Lama kelamaan saya merasa seperti robot. Di kantor saya mengeluh soal kerjaan, teman, suka tiba-tiba bete dan menyalahkan hal-hal lainnya. Teman baikku bilang bahwa saya makhluk aneh yang pernah ia kenal tetapi saya tidak peduli karena prinsip saya "terserah orang mau bilang apa, yang penting saya tidak mengganggu mereka."
Suatu hari saya diajak ikut sharing Dharma di Taman Anggrek dan diberi bacaan materi-materi Dharma dan Mp3. Perasaan saya waktu itu entah mesti bersyukur atau bingung karena isinya dalam bahasa Inggris semua dengan istilah-istilah yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Dan parahnya lagi bahasa Inggrisku kacau-balau. Setiap hari saya kirim sms tanyain hal-hal yang tidak saya pahami.
Mendekati libur lebaran di tahun 2005 saya dipaksa ikut retreat. Saya pun ikut retreat dan kenal Om Salim, kenal Buddhadharma yang ternyata sederhana sekali tetapi praktiknya tidak mudah. Selesai retreat, terjawablah semua istilah aneh yang tidak kupahami .Juga nasihat dari Om untuk tidak menyalahkan segala sesuatu dari luar (faktor eksternal) tetapi belajar untuk tahu sebenarnya semua masalah yang dihadapi itu datangnya dari mana. Jadi tidak menyalahkan yang lain.
Perlahan-lahan saya mulai berubah, kebiasaan lama yang jelek diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Pancasila yang penah dijelasin mulai saya jalani dalam keseharian. Selama beberapa bulan, saya konsisten mengisi "The Book," latihan mendisiplinkan tindakan, ucapan dan pikiran. Saya menjadi lebih terbuka kepada orang lain, berusaha untuk lebih mengerti dan lebih peduli. Dan perlahan lingkunganku juga berubah menjadi lebih baik.
Sekarang saya mengerti bahwa mempraktekkan Dharma itu bukan hanya di vihara atau ketika duduk di bantal meditasi saja. Dharma itu adalah segala sesuatu yang kita kerjakan, pikirkan, dan ucapkan. Tentu saja perlu membiasakan diri. Awalnya mungkin susah tetapi lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan secara reflek dilakukan begitu saja.
Dengan Buddhadharma kita bisa pilih warna apa yang kita sukai untuk mewarnai hidup ini. Buddhadharma adalah pelita hati dan membuat hidup lebih mantap.
Suatu minggu sore saya mengikuti sharing Dharma. Waktu itu pembahasannya tentang Pancasila (untuk Upasaka-Upasika). Saya kagum sekali karena sebelumnya belum pernah mendengar penjelasan singkat tetapi jelas sekali mengenai arti dari masing-masing sila dalam Pancasila.
Sebelum mengerti Buddhadharma, saya tipe anak yang "cuek bebek" banget, tidak peduli dengan orang lain. Kuliah hanya kuliah, hampir tidak punya teman kecuali satu teman baikku yang beda fakultas. Di kelas saya selalu duduk di pojok depan, waktu istirahat saya ke kantin sendirian. Begitu kuliah selesai, saya langsung pulang. Di kantor pun begitu, saya sering mengeluh, saya hanya mengerjakan tugasku, menolong orang lain juga seperlunya saja. Lama kelamaan saya merasa seperti robot. Di kantor saya mengeluh soal kerjaan, teman, suka tiba-tiba bete dan menyalahkan hal-hal lainnya. Teman baikku bilang bahwa saya makhluk aneh yang pernah ia kenal tetapi saya tidak peduli karena prinsip saya "terserah orang mau bilang apa, yang penting saya tidak mengganggu mereka."
Suatu hari saya diajak ikut sharing Dharma di Taman Anggrek dan diberi bacaan materi-materi Dharma dan Mp3. Perasaan saya waktu itu entah mesti bersyukur atau bingung karena isinya dalam bahasa Inggris semua dengan istilah-istilah yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Dan parahnya lagi bahasa Inggrisku kacau-balau. Setiap hari saya kirim sms tanyain hal-hal yang tidak saya pahami.
Mendekati libur lebaran di tahun 2005 saya dipaksa ikut retreat. Saya pun ikut retreat dan kenal Om Salim, kenal Buddhadharma yang ternyata sederhana sekali tetapi praktiknya tidak mudah. Selesai retreat, terjawablah semua istilah aneh yang tidak kupahami .Juga nasihat dari Om untuk tidak menyalahkan segala sesuatu dari luar (faktor eksternal) tetapi belajar untuk tahu sebenarnya semua masalah yang dihadapi itu datangnya dari mana. Jadi tidak menyalahkan yang lain.
Perlahan-lahan saya mulai berubah, kebiasaan lama yang jelek diganti dengan kebiasaan yang lebih baik. Pancasila yang penah dijelasin mulai saya jalani dalam keseharian. Selama beberapa bulan, saya konsisten mengisi "The Book," latihan mendisiplinkan tindakan, ucapan dan pikiran. Saya menjadi lebih terbuka kepada orang lain, berusaha untuk lebih mengerti dan lebih peduli. Dan perlahan lingkunganku juga berubah menjadi lebih baik.
Sekarang saya mengerti bahwa mempraktekkan Dharma itu bukan hanya di vihara atau ketika duduk di bantal meditasi saja. Dharma itu adalah segala sesuatu yang kita kerjakan, pikirkan, dan ucapkan. Tentu saja perlu membiasakan diri. Awalnya mungkin susah tetapi lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan secara reflek dilakukan begitu saja.
Dengan Buddhadharma kita bisa pilih warna apa yang kita sukai untuk mewarnai hidup ini. Buddhadharma adalah pelita hati dan membuat hidup lebih mantap.
