Apa Hubungan Borobudur dan Kehidupan yang Lebih Baik?

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Review Belabar 2016 Bersama Upasaka Salim Lee:

"Belajar dari BOROBUDUR: ACINTYAVIMOKSHA, Pembebasan yang Tak Terbayang"


“You are the centre of your perceptual world.”

Bagaimana bila semua yang kau pikir kau alami sendiri itu ternyata ‘tidak nyata’? Bahwa semua hanyalah ciptaan alam pikiranmu saja; persepsimu saja; ciptaanmu saja. Tidakkah itu mengejutkan sekaligus membebaskan?

Lebih anehnya lagi, itu semua dibahas dengan tema Borobudur – objek wisata yang paling in di Indonesia, yang dikunjungi sambil selfie, pamer di media sosial, sambil berdecak kagum, “Kok bisa ya, orang-orang di zaman batu bikin tempat sekeren ini?”

Panjat. Panjat. Mulai dari tingkat paling bawah hingga ke puncak, semua kisah dijabarkan layaknya dongeng sebelum tidur. Seringkali saya bertanya-tanya, apakah dongeng yang kita dengar, lalu membekas di hati kita, bisa mengubah hidup kita? Dengan mengetahui kenyataan bahwa ‘tidak ada yang nyata seperti yang kita bayangkan’, apakah kita bisa mengikuti ‘jejak’ yang ditunjukkan dalam peta Borobudur? Bahwa sekecil apa pun gerak-gerik, tindakan kita, semuanya memiliki kualitas yang berbeda dan dengan hasil yang berbeda pula?

Kalau memang semua tindakan kita berasal dari pikiran, cara pikir kita sendiri, maka pastilah banyak yang mesti kita pertanyakan, lagi dan lagi, karena inilah yang bisa mendorong kita untuk lebih ‘mengerti.’ Saya pun bertekad tidak malas dalam mempertanyakan apa pun: mempertahankan cara pikir untuk terus mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan saya. Pemikiran penuh rasa ingin tahu seperti ini, kadangkala memang mengetuk kebingungan yang membawa realisasi atau... jadi makin bingung. But, that’s okay!

Knock, knock.

Who’s there?

Nobody.
Nothing.
Ketika ada pengalaman, beranikah kau bertanya: “Apa yang mengalami?”
Dan pertanyaan lanjutannya, “Di mana kejadian atau pengalaman ini?”

Kalau semuanya terjadi di Dharmadhatu, space of mind. Lalu, space of mind (ruang lingkup pikir) ini punya siapa?

Punya kita sendiri, sekaligus juga saling meliputi dan melengkapi dengan orang lain. Tidak ada pengalaman kita yang tidak melibatkan orang lain, karenanya kita perlu peduli satu sama lain.

Seperti yang Om tanyakan, “Kalau kamu kecewa, perasaan kecewa ini muncul di mana? Perginya ke mana?” “Kalau ada kata-kata yang terdengar, lalu menjadi gosip. Itu terjadi di mana?”

Dalam space of mind (lingkup ruang pikir), segalanya menjadi mungkin. ‘Penemuan’ yang disampaikan Om ini memang bikin nyelekit, kalau kita bereaksi terhadap ‘kata-kata yang menjadi gosip’ ini, sebenarnya apa yang sedang kita ributkan? Apakah selamanya kita ini memang sedang meributkan, merisaukan dan merayakan hal-hal dengan konyol?

Space of mind. Keberadaan kita. Tiada awal, tiada akhir. Persis seperti bagian atas Borobudur yang digambarkan sebagai lingkaran. Setelah Borobudur mengenalkan cara hidup beserta konsekuensinya dalam Mahakarmavibhanga, sepak terjang Bodhisattva dalam menyempurnakan paramita dalam Jataka dan Avadana, lalu ‘tarian/kiprah pelengkap’ alias Lalitavistara yang menjadi gambaran akhir dari perjalanan seorang Bodhisattva, kita tiba di bagian atas Borobudur yang digambarkan sebagai mind of Buddha. Shunya (tidak bersifat hakiki). Segala yang terjadi, yang kita pikir kita alami ini, tak lebih dari rentetan-rentetan pengalaman. Rentetan pengalaman kita terus berubah, mempengaruhi cara pandang kita, membentuk ‘alam’ kita, mengubah keputusan kita…

Awalnya, saya ingat betul, yang saya dapatkan pertama kali ikut Belabar adalah melonggarkan segala aturan yang terlalu kencang digenggam. Setelah itu, hidup memang jadi lebih mudah dan bebas, namun acapkali kehilangan kontrol juga. Aturan-aturan berhambur layaknya confetti, alias kertas-kertas kecil mengkilap yang sering dilempar pas pesta-pesta itu, lho. Lemparnya sih gampang, memungutnya kembali itu ‘engap’ banget! Rasanya, lama-lama kok hidup jadi tidak pas lagi, ya? Sekarang, cara pandang ini berubah lagi: kalau memang aturan dibentuk oleh diri sendiri, maka dengan tahu lebih banyak, aturan ini penting sekali diadopsi sebagai attitude. Sebagai bibit. Sebagai kusalamula (akar/sumber kebajikan). Karena apalah perbuatan kita ini, kalau bukan untuk membawa kebahagiaan bagi semua orang di sekitar kita.

Kisah-kisah Borobudur, memberanikan diri saya untuk belajar lebih skilful (terampil), karena tahu efek hidup yang unskilful. Kalau memang kamu sudah tahu bahwa berbuat kebajikan pada akhirnya akan membuat kamu lebih bahagia, bayangkan kalau landasanmu adalah Bodhicitta — demi semua makhluk! Membina kualitas hidup untuk selalu mengupayakan yang terbaik dan tidak setengah-setengah. Bodhicitta sebagai attitude hidup, selalu ingin menjadi lebih baik sehingga kita bisa membantu lebih banyak orang lagi.

Matahari dan bulan ini memang sudah ada di muka bumi, sayangnya kita ini buta.

Bodhicitta ini memang sudah ada, sayangnya kita tidak bisa melihat

karena terselubung klesha.


Lalu bagaimana cara mengatasi klesha? Mengupayakan penawarnya, yakni menumbuhkembangkan paramita. Mulai dari hal-hal sederhana yang akan membuat riak, empat cara berinteraksi dalam masyarakat ini rasa-rasanya pasti bisa kita jangkau:
1. Generosity. Murah hati. Berbagi atau memberi dalam wujud materi, kasih sayang, perlindungan, atau ajaran;
2. Speak nicely & gently. Berbicara dengan baik dan lembut.
3. Beneficial action. Memberi manfaat termasuk selalu memberi semangat, melakukan sesuatu yang memberi semangat (juga ke diri sendiri).
4. Walk the talk. Memberi teladan, jalankan apa yang kamu sampaikan/ajarkan.

Lalu, suatu ketika kita mengunjungi Borobudur (lagi); mengunjungi sumber Ajaran yang megah berdiri di bumi Nusantara ini… rasanya akan lain sekali. Hai Borobudur, terima kasih atas segala kekuatan, kelembutan dan kebajikan. Kami, akan menjaga-Mu sebaik-baiknya, seperti kami menjaga bibit-bibit kebajikan yang mekar dalam hati ini, karena-Mu.