Ada Hati yang Ringan dalam Situasi yang Berat
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Kebetulan kami bergerak di bidang properti, di mana sejak tahun lalu ada pemeriksaan dan penertiban pajak secara besar-besaran. Hal ini membuat para investor menjadi panik, sehingga mereka sibuk melakukan pembetulan pajak, juga ada yang stres tentang bagaimana mereka akan melaporkan semua aset mereka.
Di tambah lagi, di masa ekonomi yang lesu ini, banyak pihak yang terkena imbasnya. Secara umum lebih banyak terdengar efek yang tidak menyenangkan daripada efek yang menyenangkan. Banyak pergunjingan, baik sesama pengusaha maupun sesama teman seprofesi yang saling menanyakan kondisi pekerjaan dan pencapaian omzet. Tak sedikit yang merasa galau, cemas dan mengeluh akan masa depan mereka; omzet penjualan menurun dan sering bisa nihil sama sekali. Di saat seperti ini terasa apa yang digembar-gemborkan di seminar motivasi, tidak sepenuhnya bisa membangunkan semangat kita untuk menghadapi dunia.
Berbekal pesan Om yang tanpa bosan-bosannya mengingatkan kita agar hidup dengan rasa berkecukupan dan senantiasa peduli pada orang lain, ini sungguh membantu. Dengan pemikiran demikian, saya tidak lagi hanya berfokus pada hasilnya.
Bisnis yang sepi membuat kita punya waktu untuk menghubungi dan membantu kebutuhan klien. Kedengarannya mungkin sepele, tetapi dengan memikirkan dan membantu mereka, kita menjadi semangat dan percaya diri, yang tadinya ada rasa galau dan cemas menjadi agak hilang. Di saat kita membantu, malah kita yang bisa menambah wawasan, menambah pengalaman-pengalaman baru, dan karena tidak ada ‘ego,’ kita bisa lebih kreatif dan melihat peluang-peluang yang ada. Opsi-opsi jadi lebih banyak.
Tidak jarang suatu keberhasilan diawali hanya dari keinginan membantu orang lain, bukan dari mencari klien sebanyak mungkin. Dengan hati yang terbuka, tanpa banyak penolakan, kita bisa menghargai semua kondisi, walaupun kadang lelah. Teringat apa yang pernah Om sampaikan, “Kerjakanlah dengan sebaik mungkin, jangan menganggap itu adalah kerjaan tambahan yang merepotkan, maka kita tak akan mempersoalkannya.”
Di tambah lagi, di masa ekonomi yang lesu ini, banyak pihak yang terkena imbasnya. Secara umum lebih banyak terdengar efek yang tidak menyenangkan daripada efek yang menyenangkan. Banyak pergunjingan, baik sesama pengusaha maupun sesama teman seprofesi yang saling menanyakan kondisi pekerjaan dan pencapaian omzet. Tak sedikit yang merasa galau, cemas dan mengeluh akan masa depan mereka; omzet penjualan menurun dan sering bisa nihil sama sekali. Di saat seperti ini terasa apa yang digembar-gemborkan di seminar motivasi, tidak sepenuhnya bisa membangunkan semangat kita untuk menghadapi dunia.
Berbekal pesan Om yang tanpa bosan-bosannya mengingatkan kita agar hidup dengan rasa berkecukupan dan senantiasa peduli pada orang lain, ini sungguh membantu. Dengan pemikiran demikian, saya tidak lagi hanya berfokus pada hasilnya.
Bisnis yang sepi membuat kita punya waktu untuk menghubungi dan membantu kebutuhan klien. Kedengarannya mungkin sepele, tetapi dengan memikirkan dan membantu mereka, kita menjadi semangat dan percaya diri, yang tadinya ada rasa galau dan cemas menjadi agak hilang. Di saat kita membantu, malah kita yang bisa menambah wawasan, menambah pengalaman-pengalaman baru, dan karena tidak ada ‘ego,’ kita bisa lebih kreatif dan melihat peluang-peluang yang ada. Opsi-opsi jadi lebih banyak.
Tidak jarang suatu keberhasilan diawali hanya dari keinginan membantu orang lain, bukan dari mencari klien sebanyak mungkin. Dengan hati yang terbuka, tanpa banyak penolakan, kita bisa menghargai semua kondisi, walaupun kadang lelah. Teringat apa yang pernah Om sampaikan, “Kerjakanlah dengan sebaik mungkin, jangan menganggap itu adalah kerjaan tambahan yang merepotkan, maka kita tak akan mempersoalkannya.”
