Leburnya Kekesalan Dalam Kelegaan: Kisah di Balik Belabar

Oleh Mi
Dihantar pada 3 Juli 2026
Selamat malam semua!

Sekitar bulan April atau Mei 2015, Metta pernah kirim whatsapp ke saya menanyakan apakah saya bersedia menjadi ketua Belabar Lebaran tahun ini, dan saya menjawab “Oh, tidak.” Selang beberapa lama, terpikir saya sudah ikut Belabar beberapa kali, dan selama ini saya “di-served” oleh orang dan sudah saatnya saya yang melayani orang. Akhirnya saya memberitahukan Metta bahwa “OK, Belabar kali ini saya terima menjadi ketua.”

Di bulan Mei, tim kepanitiaan mulai terbentuk. Sebagai tambahan informasi, dalam waktu hampir bersamaan, Potowa Center juga mengorganisir Belabar untuk remaja, yang acaranya cuma beda waktu sekitar 2 minggu dengan Belabar Lebaran. Kebetulan bulan Mei dan Juni sedang banyak events. Pertemuan-pertemuan dalam tim kecil sudah mulai dilakukan, terutama tim konsumsi dan akomodasi yang mungkin lebih banyak tantangan.

Sebenarnya ceritanya tidak ada yang terlalu istimewa karena Belabar seperti ini sudah biasa, tetapi dari Belabar ini, saya memperoleh pengalaman yang luar biasa. Bukan dari segi saya sebagai ketua atau dari segi organisasinya. Mengenai manajemen organisasi mungkin ada beberapa hal yang juga bisa dipelajari di mana saya terbiasa sistimatis atau terstruktur di kantor, tapi untuk organisasi mungkin perlu penyesuaian sana-sini karena terlalu terstruktur bisa membuat kita sendiri agak terbebani. Yang akan saya share adalah tentang emosi-emosi yang muncul saat mengoordinasi, jadi dari pengalaman pribadi. Gejolak emosi kecil-kecil dan sedang-sedang sebenarnya banyak. Mudah-mudahan ada gunanya buat diri saya sendiri dan orang lain.

Jadi persiapan sudah dilakukan hampir 90%. Peserta yang mendaftar ternyata melebihi kapasitas. Yang bisa ditampung biasanya hanya 90-95 orang. Waktu itu yang mendaftar sudah lebih dari 100 orang. Dua minggu sebelumnya, tim sudah melakukan survei dan sudah mengecek daya tampung ruangan atas dan bawah. Karena peserta melebihi kapasitas, kita coba pesan 6 kamar hotel, sebagai tambahan akomodasi untuk Jhana Manggala.

Bertepatan dengan masa-masa persiapan, saya juga ada business trip dan sempat berpikir bagaimana dengan akomodasi peserta. Metta whatsapp ke saya agar jangan memikirkan Belabar dulu, tapi fokus ke business trip, nanti pulang baru dibahas lagi.

Untuk tahun ini, pengaturan konsumsi agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya pakai katering. Tahun ini kita pikir untuk mengundang orang yang bisa memasak. Ada 4 orang Ibu-Ibu yang berbaik hati untuk membantu masak untuk pagi, siang dan malam selama 6 hari, dan jumlah peserta ditargetkan kira-kira 100 orang. Akomodasi waktu itu sudah oke, transportasi peserta sudah diatur.

Sebenarnya meeting besar sudah dilakukan di bulan Juni, tapi saat meeting terakhir di bulan Juli, tepatnya H-9 (sembilan hari sebelum hari H), hari Minggu, di situ saya ditantang habis-habisan! Alkisah, di antara jumlah peserta yang mendaftar, yang kita confirm adalah 116 orang. Sedangkan 26 orang yang waiting list, saya sudah ambil keputusan untuk tidak dimasukkan karena tempat tidak memungkinkan. Sebenarnya waktu saya memutuskan hal ini, ada rasa bersalah, ada rasa tidak enak tapi saya pikir sebagai ketua, apa pun perasaan yang tidak enak, saya harus menerimanya. Di saat final meeting tersebut, beberapa teman yang keberatan dengan keputusan yang sudah dibuat, menyampaikan pendapat dan argumen, “Semua orang ingin belajar, kenapa kita tidak mengakomodir keinginan belajar dari orang lain, kenapa tidak mencoba mencari alternatif lain soal kapasitas tempat. Saat itu, saya rasakan gejolak emosi saya naik. Saya merasa ditantang setelah semua persiapan hampir selesai dilakukan. Saya tahu, emosi saya naik, saya bisa merasakannya tapi saya mencoba tidak bereaksi. Saya tidak tahu apakah teman-teman bisa merasakannya pada waktu itu.

Akhirnya di meeting tersebut, kita tanya ulang bagaimana kesanggupan dari masing-masing tim kalau jumlah peserta ditambah lagi 26 orang. Terutama bagian akomodasi karena menyangkut tempat tinggal, kemudian bagian transportasi yang hanya tinggal waktu kurang dari seminggu. Untuk konsumsi, setelah diskusi dengan Ibu-Ibu yang masak, mereka mengatakan tidak masalah. Tapi sebagai konsekuensinya, menu makanan yang semula direncanakan 3 jenis lauk untuk makan siang akhirnya dipangkas menjadi 2 menu!

Oke, meeting selesai. Tapi setelah pulang ke rumah, tiba-tiba saya merasa panik. Akhirnya saya telepon ke Metta untuk diskusi dan sekalian mengeluarkan sedikit unek-unek. Kemudian saya whatsapp ke Liliana untuk tunggu dulu, tidak mengonfirmasi kepada 26 orang yang ada di waiting list karena ada kepanikan dan keraguan dalam diri saya.

Akhirnya saya teringat untuk whatsapp ke Om yang saya tulis panjang lebar. Keesokan paginya saya lihat respons OM sangat singkat, “You will be able to make the better decision. Please consider, don’t worry too much.

Saya bisa tangkap poinnya Om karena di whatsapp Om mengatakan “Please consider, dan kalau bisa, semuanya diakomodir.” Kemudian saya whatapps ke Liliana, memberikan konfirmasi untuk menerima 26 orang yang ada di waiting list. Oke, saya pikir sampai tahap ini semuanya sudah beres, tapi rupanya perasaan kesal masih berlanjut hingga keesokan harinya, Senin dan itu terbawa ke kantor sehingga seharian saya bad mood, ditambah lagi kurang tidur. Emosi saya sangat kuat dan perasaan saya kacau. Perasaan bersalah semakin kuat bahwa sayalah penyebab orang tidak bisa belajar Dharma. Akhirnya di depan komputer saya berhenti sebentar. Kemudian saya tarik napas dan coba memahami perasaan yang timbul. Rasa bersalah mestinya sudah tidak ada karena 26 orang yang ada waiting list sudah diterima; akomodasi juga oke, tapi kenapa saya masih kesal dan agak kacau. Jika cuma urusan sistem yang harus saya rombak ulang, bukankah sudah terselesaikan? Kenapa saya masih kesal? Setelah dianalisa lebih lanjut, ternyata itu adalah ego, “Saya ketuanya.” Begitu sadar ini adalah ego, perasaan tersebut akhirnya pelan-pelan mulai hilang.

Di hari Selasa, setelah teman-teman datang dan saat briefing, tiba-tiba muncul perasaan bagaimana seandainya waktu itu saya tidak mengakomodir 26 orang tersebut, apa yang akan terjadi? Mungkin perasaan bersalah akan terbawa seumur hidup, tak akan hilang. Saya hampir menangis waktu melihat wajah teman-teman dan peserta yang happy. Untuk alasan itu, saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang pada waktu meeting menantang keputusan saya!

Satu hal lagi yang saya pelajari adalah meskipun jadwal teman-teman (tim panitia) juga padat, mereka melakukan tugas dengan tidak emosi, tapi dengan senang hati dan tenang. Semua sangat mendukung satu sama lain. Meskipun pada pulang malam, teman-teman masih lanjut follow-up. Saya belajar banyak dari sana: situasi apa pun, kondisi apa pun, tetap dilakukan dengan perasaan senang dan tenang. Jika dikerjakan dengan baik, hasilnya juga baik. Coba kalau waktu itu kita marah-marah, mungkin hasilnya tidak sebaik sekarang ini.

Oh ya, tim konsumsi sangat luar biasa, mereka sampai membuat flow dan susunan meja agar jumlah peserta yang begitu banyak tidak harus antri terlalu lama sehingga peserta punya waktu untuk istirahat yang cukup. Akomodasi juga dirombak beberapa kali, mengenai siapa saja yang tinggal di vila atau di hotel. Saat memutuskan ini pun ada gejolak karena pertimbangan sana-sini. "May be I am thinking too much! Jadi, begitulah."

Sekali lagi, terima kasih kepada semua panitia dan peserta. Ini adalah pengalaman yang sangat berharga buat saya. Terima kasih kepada Om yang selalu memberi arahan yang sangat luar biasa!