Buah dari Belabar
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Ketika mendengarkan teachings Om, ada kata-kata yang membuat hati saya spontan berkata "Oh!" Kata-kata itu adalah "No Hope, No Fear, No Expectation." Awalnya kata-kata tersebut hanya lewat begitu saja. Lama-lama, dengan beberapa kali ikut teachings, sharing dari teman-teman, kata-kata tersebut menjadi ‘nempel.’
Pernah terlintas di pikiran saya, “Seandainya keluarga saya bisa ikut Belabar, setidaknya mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan, seperti mendengarkan ajaran, mengalami kebersamaan dengan orang lain, sehat bersama-sama, dll.” Memang, saya punya aspirasi: saya ingin sekali keluarga saya ikut Belabar bersama saya. Tapi apakah bisa? Nanti mereka enjoy tidak? Happy ngak? Atau mereka ikut hanya karena menghargai ajakan saya? Waktu berlalu dan tampaknya belum ada tanda-tanda aspirasi tersebut bakal terwujud. Tapi setiap kali saya ikut Belabar, apa yang saya dapat, apa yang saya rasakan, sebisa mungkin saya dedikasikan ke keluarga saya, agar mereka pun dapat merasakannya walau mereka tidak bersama dengan saya.
Nah, baru di Belabar tahun berikutnya, saya sukses mengajak keluarga saya untuk ikut! Mata saya langsung berbinar-binar! Karena langka sekali keluarga saya mau diajak. Tapi itu tidak berarti hilang seketika kecemasan saya. Hari pertama Belabar, lolos! Hari kedua beliau masih bisa ikuti ... tapi di hari ketiga, beliau minta pulang. Begitu mendengar beliau ingin pulang, saya langsung deg-deg-an … cemas … galau … apalagi melihat beliau menjinjing tas. Dalam hati saya langsung ngeh, wah! Ini mah beneran! Bukan lagi gertakan! Buru-buru saya mencari akal. Saya coba minta ke salah satu teman untuk membujuknya agar beliau tidak pulang. Sayang sekali kalau pulang… tinggal beberapa hari lagi.
Ternyata bujukan teman membuahkan hasil. Beliau tidak jadi pulang, dan mengikuti Belabar sampai hari terakhir. Saya juga dapat desas-desus dari teman sekamarnya bahwa beliau ikut Belabar karena sayang sama saya, walau beliau sudah tahu seperti apa keadaan di Belabar. Saya terharu mendengarnya!
Saya sadar, mungkin selama ini saya kurang peka terhadap keluarga saya. Apa yang saya jalankan, apa yang saya bilang enak, apa yang saya bilang baik itu belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh keluarga saya. Dari kejadian tersebut, mulai ada saling keterbukaan satu sama lain, sehingga saya juga belajar untuk memahami keluarga saya. Entah kenapa, rasa bahagia itu datang dengan sendirinya. Dan sampai hari ini, saya tetap melakukan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan.
Pernah terlintas di pikiran saya, “Seandainya keluarga saya bisa ikut Belabar, setidaknya mereka bisa merasakan apa yang saya rasakan, seperti mendengarkan ajaran, mengalami kebersamaan dengan orang lain, sehat bersama-sama, dll.” Memang, saya punya aspirasi: saya ingin sekali keluarga saya ikut Belabar bersama saya. Tapi apakah bisa? Nanti mereka enjoy tidak? Happy ngak? Atau mereka ikut hanya karena menghargai ajakan saya? Waktu berlalu dan tampaknya belum ada tanda-tanda aspirasi tersebut bakal terwujud. Tapi setiap kali saya ikut Belabar, apa yang saya dapat, apa yang saya rasakan, sebisa mungkin saya dedikasikan ke keluarga saya, agar mereka pun dapat merasakannya walau mereka tidak bersama dengan saya.
Nah, baru di Belabar tahun berikutnya, saya sukses mengajak keluarga saya untuk ikut! Mata saya langsung berbinar-binar! Karena langka sekali keluarga saya mau diajak. Tapi itu tidak berarti hilang seketika kecemasan saya. Hari pertama Belabar, lolos! Hari kedua beliau masih bisa ikuti ... tapi di hari ketiga, beliau minta pulang. Begitu mendengar beliau ingin pulang, saya langsung deg-deg-an … cemas … galau … apalagi melihat beliau menjinjing tas. Dalam hati saya langsung ngeh, wah! Ini mah beneran! Bukan lagi gertakan! Buru-buru saya mencari akal. Saya coba minta ke salah satu teman untuk membujuknya agar beliau tidak pulang. Sayang sekali kalau pulang… tinggal beberapa hari lagi.
Ternyata bujukan teman membuahkan hasil. Beliau tidak jadi pulang, dan mengikuti Belabar sampai hari terakhir. Saya juga dapat desas-desus dari teman sekamarnya bahwa beliau ikut Belabar karena sayang sama saya, walau beliau sudah tahu seperti apa keadaan di Belabar. Saya terharu mendengarnya!
Saya sadar, mungkin selama ini saya kurang peka terhadap keluarga saya. Apa yang saya jalankan, apa yang saya bilang enak, apa yang saya bilang baik itu belum tentu dirasakan sebagai hal yang sama oleh keluarga saya. Dari kejadian tersebut, mulai ada saling keterbukaan satu sama lain, sehingga saya juga belajar untuk memahami keluarga saya. Entah kenapa, rasa bahagia itu datang dengan sendirinya. Dan sampai hari ini, saya tetap melakukan apa yang terbaik yang bisa saya lakukan.
