Kesan dan Pesan Belabar Lebaran 2015
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Tahun ini adalah tahun kedua saya mengikuti belabar. Tahun pertama saya ikut belabar karena ada masalah hubungan antara papa dan mana saat itu dan saya berharap mendapatkan jawaban atas masalah tersebut. Beruntunglah pada saat itu saya berkesempatan untuk berbicara berdua dengan Om Salim.
Masalah tersebut memang tidak langsung selesai, tapi pola pikir dan cara pandang saya bahwa “Papa yang salah” menjadi berubah. Akhirnya seiring berjalannya waktu, Papa menjadi lebih terbuka dan mau bercerita keluh-kesahnya terhadap Mama dan sekarang saya melihat ada perubahan pada Papa saya. Sampai saat ini hubungan Papa dan Mama memang belum kembali harmonis, tapi saya bersyukur karena bila saat itu saya tidak bertemu dengan Om Salim, mungkin sampai saat ini saya masih membenci Papa.
Tahun ini saya kembali mengikuti belabar karena hal “buruk” yang saya alami. Saya putus hubungan saya dengan mantan pacar saya sebulan lalu, padahal hubungan kami sudah berjalan 4 tahun. Sempat terjadi pergolakan batin apakah keputusan yang saya ambil benar? Dan ketika mantan saya ingin memulai kembali, saya menjadi bimbang. Tapi setelah mendengar teachings beberapa hari ini, saya jadi yakin pada keputusan yang saya ambil.
Terima kasih kepada Om Salim, teman saya yang memperkenalkan saya pada Om Salim, dan semua panitia belabar yang dengan kehangatannya membuat saya nyaman di sini …
***
Setelah absen untuk beberapa waktu, tahun ini saya begitu berhasrat ikut retret sekalian ajak anak saya. Anak saya juga antusias untuk ikut karena selalu hanya mendengar cerita saya tentang ajaran Dharma dari Om dan ingin mengalaminya sendiri. Selama beberapa hari retret, ternyata anak saya tidak bosan dan begitu menikmati ajaran-ajaran dari Om. Kami juga mendapat beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dicari selama ini.
Memang tidak mudah menyelami ajaran tentang SHUNYATA, tetapi paling tidak, kami berkesempatan mendapat “imprint” (tilasan) mengenai ajaran ini, agar kelak bisa mendapat ajaran-ajaran selanjutnya yang akan menghantarkan kami pada Penggugahan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya pada Om Salim dan segenap panitia penyelenggara retret yang telah meluangkan waktunya yang begitu berharga untuk menyiapkan segala keperluan agar kami semua dapat menerima ajaran Dharma yang “profound” ini.
***
Retret ini membuat saya sadar karena selama ini saya berpikir sudah cukup jika sudah tidak membenci Mama, yang saya anggap penyebab hilangnya masa kecil saya (masa kecil suram dan siksaan fisik yang paling membekas). Saya pikir cukup dengan tidak membenci, mengirimkan hadiah, tidak pernah hadir, memikirkan keadaannya. Setelah ikut retret ini saya mencoba mulai membuka hati, memperhatikan dan memahami apa yang dirasakannya.
***
Ternyata bahagia tidak serumit yang saya pikirkan: harus punya ini, itu, kaya, sukses, dll. Seminggu di belabar membuat saya merasakan bahagia tanpa banyak keinginan-keinginan. Pakai baju putih, mandi 1x sehari, rambut tidak disisir, tidak perlu tampil hebat, cukup apa adanya, lingkungan membuat saya merasakan bahwa tidak harus selalu “saya” dulu karena yang ada hanya kepedulian dan kebaikan hati.
Banyak hal yang membuat mata saya mulai terbuka. Banyak pandangan yang dulu saya anggap benar ternyata dengan mengikuti belabar ini pandangan saya jadi berubah. Kepedulian dan cinta kasih, kebaikan hati adalah modal paling penting dalam menjalani kehidupan.
***
Saya merasa sangat beruntung bisa ikut acara ini, melebihi perjalanan liburan seperti umumnya. Jika selesai liburan, biasanya yang tinggal hanya memory dan kenangan manis tapi dari retret ini saya merasakan terlahir sebagai anak kecil yang mulai belajar dari awal, yang bisa menjadi pegangan, tujuan, arah hidup, bagaimana menghadapi lingkungan, keluarga dan lain-lain.
Sungguh kagum dengan ‘sosok’ Om yang rendah hati. Memberikan manfaat, begitu peduli pada semua orang yang ditemui, baik kenal maupun tidak kenal … siap mendengar keluh-kesah, dan memberikan solusi bagi yang kebingungan.
***
Penjabaran yang Om berikan membuka hati saya dari pertanyaan-pertanyaan “I” yang selama ini tidak terjawab dan menjadi tanda tanya. Sesuatu yang selalu mengganjal di dalam hati dan sekarang menjadi plong terjawabkan.
Terima kasih atas cinta kasih yang Om berikan. Dalam kondisi capek pun, Om tetap saja sabar dalam memberikan ulasan kepada kami. Ini menjadi contoh buat kami untuk selalu memberikan yang terbaik kepada semua yang ada di sekeliling kami.
***
Terima kasih Om, yang dengan rendah hati mengajarkan saya yang masih sangat sedikit pengetahuan Dhamma-nya tetapi pelan-pelan lebih mengerti … membuat kita menjadi pemberani terhadap apa pun yang akan dihadapi di masa mendatang … mempunyai welas asih terhadap yang lain dan selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.
***
Om mengajarkan bahwa dalam hidup ini motivasi kita apa? Apakah bermanfaat buat orang lain atau tidak? Kepekaan kita untuk peduli terhadap orang lain. Kembangkan kebaikan dan keterbukaan hati. Jangan ngotot dalam hidup ini: harus begini, harus begitu. Tidak perlu takut akan masa depan …
***
Semoga kebahagiaan pada saat berkumpul dengan Om dapat kami tularkan pada saat kami berkumpul dengan orang lain juga.
***
Saya belajar menjaga apa yang diucapkan, dan dalam melakukan apa pun, lakukan dengan 100%!
***
Berani menjalani kehidupan dan tak perlu banyak keragu-raguan lagi.
***
Retret kali ini memberikan lebih banyak lagi ‘pilihan’ terhadap cara/jurus menghadapi situasi kehidupan yang “up dan down.”
***
Knowing more makes me want to write less.
My gratitude to Buddha, all Guru dan Om is beyond words!
I will apply Dharma in my life and do my personal best.
Oh ya, Om punya selera humor dan kemampuan merespons yang cerdas dan menawan.
Enjoy it sooooo much, I adore it and really rejoice!
Masalah tersebut memang tidak langsung selesai, tapi pola pikir dan cara pandang saya bahwa “Papa yang salah” menjadi berubah. Akhirnya seiring berjalannya waktu, Papa menjadi lebih terbuka dan mau bercerita keluh-kesahnya terhadap Mama dan sekarang saya melihat ada perubahan pada Papa saya. Sampai saat ini hubungan Papa dan Mama memang belum kembali harmonis, tapi saya bersyukur karena bila saat itu saya tidak bertemu dengan Om Salim, mungkin sampai saat ini saya masih membenci Papa.
Tahun ini saya kembali mengikuti belabar karena hal “buruk” yang saya alami. Saya putus hubungan saya dengan mantan pacar saya sebulan lalu, padahal hubungan kami sudah berjalan 4 tahun. Sempat terjadi pergolakan batin apakah keputusan yang saya ambil benar? Dan ketika mantan saya ingin memulai kembali, saya menjadi bimbang. Tapi setelah mendengar teachings beberapa hari ini, saya jadi yakin pada keputusan yang saya ambil.
Terima kasih kepada Om Salim, teman saya yang memperkenalkan saya pada Om Salim, dan semua panitia belabar yang dengan kehangatannya membuat saya nyaman di sini …
***
Setelah absen untuk beberapa waktu, tahun ini saya begitu berhasrat ikut retret sekalian ajak anak saya. Anak saya juga antusias untuk ikut karena selalu hanya mendengar cerita saya tentang ajaran Dharma dari Om dan ingin mengalaminya sendiri. Selama beberapa hari retret, ternyata anak saya tidak bosan dan begitu menikmati ajaran-ajaran dari Om. Kami juga mendapat beberapa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang dicari selama ini.
Memang tidak mudah menyelami ajaran tentang SHUNYATA, tetapi paling tidak, kami berkesempatan mendapat “imprint” (tilasan) mengenai ajaran ini, agar kelak bisa mendapat ajaran-ajaran selanjutnya yang akan menghantarkan kami pada Penggugahan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya pada Om Salim dan segenap panitia penyelenggara retret yang telah meluangkan waktunya yang begitu berharga untuk menyiapkan segala keperluan agar kami semua dapat menerima ajaran Dharma yang “profound” ini.
***
Retret ini membuat saya sadar karena selama ini saya berpikir sudah cukup jika sudah tidak membenci Mama, yang saya anggap penyebab hilangnya masa kecil saya (masa kecil suram dan siksaan fisik yang paling membekas). Saya pikir cukup dengan tidak membenci, mengirimkan hadiah, tidak pernah hadir, memikirkan keadaannya. Setelah ikut retret ini saya mencoba mulai membuka hati, memperhatikan dan memahami apa yang dirasakannya.
***
Ternyata bahagia tidak serumit yang saya pikirkan: harus punya ini, itu, kaya, sukses, dll. Seminggu di belabar membuat saya merasakan bahagia tanpa banyak keinginan-keinginan. Pakai baju putih, mandi 1x sehari, rambut tidak disisir, tidak perlu tampil hebat, cukup apa adanya, lingkungan membuat saya merasakan bahwa tidak harus selalu “saya” dulu karena yang ada hanya kepedulian dan kebaikan hati.
Banyak hal yang membuat mata saya mulai terbuka. Banyak pandangan yang dulu saya anggap benar ternyata dengan mengikuti belabar ini pandangan saya jadi berubah. Kepedulian dan cinta kasih, kebaikan hati adalah modal paling penting dalam menjalani kehidupan.
***
Saya merasa sangat beruntung bisa ikut acara ini, melebihi perjalanan liburan seperti umumnya. Jika selesai liburan, biasanya yang tinggal hanya memory dan kenangan manis tapi dari retret ini saya merasakan terlahir sebagai anak kecil yang mulai belajar dari awal, yang bisa menjadi pegangan, tujuan, arah hidup, bagaimana menghadapi lingkungan, keluarga dan lain-lain.
Sungguh kagum dengan ‘sosok’ Om yang rendah hati. Memberikan manfaat, begitu peduli pada semua orang yang ditemui, baik kenal maupun tidak kenal … siap mendengar keluh-kesah, dan memberikan solusi bagi yang kebingungan.
***
Penjabaran yang Om berikan membuka hati saya dari pertanyaan-pertanyaan “I” yang selama ini tidak terjawab dan menjadi tanda tanya. Sesuatu yang selalu mengganjal di dalam hati dan sekarang menjadi plong terjawabkan.
Terima kasih atas cinta kasih yang Om berikan. Dalam kondisi capek pun, Om tetap saja sabar dalam memberikan ulasan kepada kami. Ini menjadi contoh buat kami untuk selalu memberikan yang terbaik kepada semua yang ada di sekeliling kami.
***
Terima kasih Om, yang dengan rendah hati mengajarkan saya yang masih sangat sedikit pengetahuan Dhamma-nya tetapi pelan-pelan lebih mengerti … membuat kita menjadi pemberani terhadap apa pun yang akan dihadapi di masa mendatang … mempunyai welas asih terhadap yang lain dan selalu berusaha untuk bermanfaat bagi orang lain.
***
Om mengajarkan bahwa dalam hidup ini motivasi kita apa? Apakah bermanfaat buat orang lain atau tidak? Kepekaan kita untuk peduli terhadap orang lain. Kembangkan kebaikan dan keterbukaan hati. Jangan ngotot dalam hidup ini: harus begini, harus begitu. Tidak perlu takut akan masa depan …
***
Semoga kebahagiaan pada saat berkumpul dengan Om dapat kami tularkan pada saat kami berkumpul dengan orang lain juga.
***
Saya belajar menjaga apa yang diucapkan, dan dalam melakukan apa pun, lakukan dengan 100%!
***
Berani menjalani kehidupan dan tak perlu banyak keragu-raguan lagi.
***
Retret kali ini memberikan lebih banyak lagi ‘pilihan’ terhadap cara/jurus menghadapi situasi kehidupan yang “up dan down.”
***
Knowing more makes me want to write less.
My gratitude to Buddha, all Guru dan Om is beyond words!
I will apply Dharma in my life and do my personal best.
Oh ya, Om punya selera humor dan kemampuan merespons yang cerdas dan menawan.
Enjoy it sooooo much, I adore it and really rejoice!
