Belabar 2015: Kura-Kura Dalam Perahu, Ada Jawaban yang Tak Perlu Ditahu

Oleh Nana
Dihantar pada 3 Juli 2026
Ini tahun ketiga saya. Waktu melesat seperti cahaya, namun menerapkan ajaran Om selalu membawa perubahan yang sedikit-sedikit, tanpa disadari menggeser arah hidup – yang dahulunya kurang terarah – menjadi lebih cerah dengan suluh kepedulian.

Ada pohon di Amazon tumbang, tapi tidak ada orang yang mendengar. Pertanyaannya, apakah pohon tersebut bersuara?

Berbeda dengan Belabar tahun sebelumnya yang berkesan ‘adem’ dan tak banyak pertanyaan yang merongrong, Belabar kali ini menyeret saya pada banyak pertanyaan tak tuntas yang terus berkecamuk di benak – walau kadang saya mengerti itu hanyalah pertanyaan yang mungkin tak butuh jawaban, melainkan butuh verifikasi. Dan Om seakan tahu bagaimana pertanyaan tersebut harus bermuara, entah pada jawaban yang menganga atau ditebas dengan tegas.

Adhyavasaya: ‘Cara pandang bahwa suatu kejadian harus seperti yang saya harapkan.’

Berkali-kali, Om menutup pertanyaan dengan mengungkit istilah ini. Saya bingung, bukankah suatu kebenaran harus dipertanyakan, dibolak-balik dari berbagai sisi, hingga akhirnya kita yakin akan kebenaran tersebut? Saya hanya menyayangkan diri saya yang menyetujui segala sesuatu yang ‘disebut Dharma,’ namun ketika digoyahkan dan dipertanyakan … segala keyakinan luluh lantak menjadi pertanyaan lagi. Kalau sudah begitu, untuk apa?

Adhyavasaya, lagi-lagi.

Di satu titik, lamat-lamat saya seperti mengerti bahwa mencari jawaban bukanlah membongkar batu-batu untuk menemukan udang di baliknya, melainkan membongkar rasa ingin menemukan itu sendiri. 

Saya juga bersyukur dan tersentuh, karena di sela-sela pencarian, banyak teman-teman yang pengertian dan sabar dalam menjelaskan. Di sela-sela penjelasan itulah, pertanyaan-pertanyaan menjadi kabur dan saya pun menjadi semakin bingung dan di saat bersamaan semakin paham pula.

Ada jawaban, yang seiring waktu dan kapasitas akan menjadi semakin jelas, saya belajar menjadi lebih terampil dengannya. 

Ada jawaban, yang entah harus dijelaskan berapa kali agar akhirnya masuk ke hati. Agar gema ajarannya tidak hanya menggaung, tapi jernih dan (akhirnya membuat) merinding. 

Ada jawaban yang menjadi benderang ketika kita sudah terlalu lelah dan memutuskan untuk menyerah.

Ajaibnya, setiap penjelasan Om dari tahun ke tahun, selalu membawa pengalaman dan pengertian yang berbeda. Demikian pula dengan pengetahuan yang dipelajari zaman sekolah dulu. Contohnya korelasi Empat Kenyataan Ariya yang dihafalkan sebagai: dukkha, munculnya dukkha, berhentinya dukkha, jalan yang menghantarkan pada berhentinya dukkha. Sekarang saya mengerti maksud dari ‘semua ini seperti lingkaran, tidak ada awalnya.’ Dulu, konsep ini selalu saya anggap sebagai one way yang sekali jalan – lalu selesai, yang artinya sekali kita mengerti cara mengatasi dukkha, pastilah semua dukkha kita di hidup ini selesai dan ... TADAAA! Kita pun akan hidup bahagia selamanya karena sudah mencapai Nibbana! Ternyata, bukan begitu maksud Buddha. Ajaran-Nya lebih mirip sirkuit: jalan – selesai – tambah jago jalannya – selesai – jalan lagi ... terus-menerus seperti itu, dan dalam proses itu, kita terus-menerus melatih dan mengembangkan sati agar senantiasa tajam, terampil dan menjadi berguna bagi sesama.

Solusi. Opsi. Om selalu hadir dengan lapangnya lahan yang sebenarnya bisa kita tumbuhkembangkan dalam hati ini, beserta ulasan sutta-sutta yang masih membuat kepala mengepul; hati kian bersyukur. Ada satu sutta yang begitu mengena di ulu hati:

Lokasamudaya Sutta: Sumber (Adanya) Loka
Samyutta Nikaya 35.107


Apakah sumber loka itu?
Dengan adanya mata dan wujud, muncullah kesadaran melihat (penglihatan)
Adanya mata, wujud, kesadaran melihat, terjadilah kontak (phassa)
Adanya kontak sebagai prasyarat, muncullah sensasi (vedana)
Adanya sensasi sebagai prasyarat, muncullah rasa tak berkecukupan (tanha)
Adanya rasa tak berkecukupan sebagai prasyarat, muncullah rasa butuh (upadana)
Adanya rasa butuh sebagai prasyarat, muncullah bhava (‘menjadi’)
Adanya bhava (‘menjadi’) sebagai prasyarat, muncullah jati (‘kelahiran’)
Adanya jati (‘kelahiran’) sebagai prasyarat, muncullah penuaan dan kematian (jaramarana), kesedihan, ratapan, penderitaan, kepedihan dan keputusasaan.

Sekilas, ini tampak mengerikan, sama ‘jauhnya’ ketika saya menghafalkan istilah Pali di zaman sekolah dulu, seakan tidak ada harapan untuk kita keluar dari lingkaran ini dan kita akan terus terlahir kembali. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah berbuat baik, dengan harapan terlahir menjadi orang yang baik pula. Tapi, hei, ternyata bukan seperti itu maksud Buddha! Hidup adalah proses yang berkesinambungan: ini ada, itu ada. Proses ini seperti rentetan pengalaman yang kita alami dari momen ke momen; kita yang terus mencipta ‘sosok’ dan cerita baru, memerankannya di alam kita sendiri. ‘Kelahiran’ alias jati pun tidak bisa serta-merta diartikan harafiah sebagai ‘seorang ibu melahirkan anak.’ Hei, bukankah kita ‘lahir’ setiap momennya di cerita yang berbeda terus? Kalau begitu, Sumber Loka dalam sutta tersebut merujuk ke hidup kita setiap saat, dong! Ah, ini menakutkan sekaligus melegakan. Menakutkan karena mirisnya, kita sudah begitu sering tergulung-gulung di dalam loka dan menganggap semuanya benar-benar terjadi. Melegakan karena ... ada cara lebih elegan untuk mulai berupaya.

Sekarang saya lebih mengerti Om, kenapa Om selalu menekankan pentingnya kepedulian (appamada). Awalnya, saya hanya melakukannya sebisa saya, karena secara kasat mata memang ‘make sense’ bahwa kepedulian akan membawa kebahagiaan untuk orang yang lebih banyak. Namun dengan tahu lebih dalam, ternyata kepedulianlah yang menjadi sumber dari semua tindakan-tindakan yang bermanfaat dan membawa hasil yang nyaman. 

Wow. Sungguh wow. “Siapa yang akan menganggap suatu kejadian sebagai penderitaan bila orang yang mengalami kejadian tersebut sama sekali tidak menderita?” Ini dia. Ini dia yang melegakan!

Senang atau sedih, semuanya bisa terjadi. Tapi kita tidak harus menderita. Karena ‘menderita’ adalah lapisan berikutnya, ketika kita merasa ADA yang SEHARUSNYA menderita, karena secara konvensional (menurut konvensi – persetujuan dari banyak pihak), ketika ada hal tidak enak terjadi, maka seharusnya ada penderitaan! Well, sekarang kita mengerti tentang konsep dan pilihan yang bisa kita ambil. 

Selain itu, meditasi ‘doing nothing’ yang paling rese (karena tidak ngapa-ngapain dan bikin bingung) nyatanya membawa kesan mendalam. Ada begitu banyak kicau-kicau kacau yang parau terus datang dan pergi, kadang juga senyap hingga dikira lenyap – tapi ternyata masih menetap. Ini meditasi yang menantang, mengenal sisi diri yang lain dan sedang dilatih untuk dirutinkan hingga kini. Bila tiap hari bisa menyisihkan kesempatan untuk mengikis kilesa dengan bermeditasi, tunggu apa lagi?

Semakin ikut Belabar, semakin saya bersyukur telah mengenal Om yang begitu charming dan penuh kehangatan. Beliau tak pernah lelah mengulang, menjelaskan dan memakai contoh-contoh yang berbeda sesuai dengan pengalaman kita masing-masing. Kisah yang dibagi oleh teman-teman Belabar pun begitu menggugah dan berani, hati ini tak hentinya tersentuh dan merinding, betapa ... betapa beruntungnya kita semua.

Om yang tergelak menonton persembahan drama yang kocak, Om yang beranjali, Om yang dengan suara penuh kehangatan bertanya, "You all good?" sambil melirik jam, Om yang memperhatikan kita semua ketika bermeditasi dan menyemangati kita dari hari ke hari ...

Untuk terus mengingatkan bahwa, memang dalam hidup ini banyak hal yang tak berjalan sesuai dengan rencana kita, tapi bukan berarti kita tidak bahagia dengan semua yang di luar rencana kita itu. Bahkan, malah lebih bahagia.

Untuk lebih tahu dan terampil. Merangkul daripada menolak, memberi daripada meminta. Punya mentalitas yang tidak lagi terus menuntut ataupun menyesal. Karena semuanya terjadi di dalam, kita pun punya ‘inner strength’ and ‘inner peace’ untuk selalu yakin bahwa apa pun yang terjadi, kita pasti mampu menghadapinya.

Untuk segala pengetahuan yang memenuhi semesta ruang kita, selalu majunya bertahap, baby steps, sehingga tidak perlu ada biji kacang hijau yang harus dipaksa menjadi kecambah; tidak perlu ada pengetahuan yang harus dipaksa untuk dimengerti sekarang juga. Shunyata.