Kutemukan Jawabannya

Oleh H
Dihantar pada 3 Juli 2026
Semoga tulisan ini bermanfaat ...

Sejak usia belia, saya suka merenung apakah tujuan hidup ini, bagaimana sebenarnya hakikat keberadaan kita dan dunia. Mengapa saya dilahirkan di keluarga ini, dilahirkan di Indonesia, mengapa ada yang kelihatannya hidup "enak," sedangkan yang lain hidup "tidak enak." Banyak pertanyaan yang muncul dan jawabannya tidak memuaskan saya.

Seiring dengan berlalunya waktu, saya tertarik dengan hal-hal yang esoterik, mistik, yoga, meditasi, prana, yogi dan tantra. Timbul fantasi tentang kesaktian para yogi, dan upaya untuk mencari ajaran tersebut. Meskipun demikian saya tetap merasa tidak bahagia. Ada sesuatu yang kurang. Semakin lama kecenderungan untuk berpusat pada diri sendiri semakin kuat. Banyak pengalaman dilalui termasuk konflik dan pertengkaran.

Sampai pada bulan Agustus 2000, saya mengikuti retret di Gadog. Seorang Guru dari Australia yang bernama Om Salim datang mengajar seperti di dalam kelas. Yang membuat terkesan adalah apa yang diajarkan beliau, betul-betul dipraktekkan oleh beliau sendiri dalam menghadapi situasi-situasi "tidak enak" selama retret tersebut.

Dalam hidup, saya seringkali terpaksa mengalami pertengkaran hebat dengan orang lain sampai pikiran saya dipenuhi oleh hal-hal yang negatif, dan saya berkonsultasi dengan Om. Setelah diberi pengarahan oleh beliau, malamnya saya bermimpi bertemu dengan musuh itu. Dalam mimpi, saya membalas memukul orang tersebut, tetapi setelah berusaha menahan diri selama beberapa detik. Ini merupakan suatu prestasi karena biasanya saya tidak dapat menahan diri meskipun hanya sesaat.

Setelah pulang dari retreat, saya berusaha menjalankan apa yang diajarkan selama retreat. Mulai memberi senyuman kepada musuh, dan belajar berpikir positif dalam berhubungan dengan rekan-rekan kantor. Banyak sekali tilasan-tilasan karma negatif dahulu yang berbuah dan saya juga membuat lebih banyak lagi tilasan-tilasan karma negatif.

Setelah berusaha menerima "kenyataan" yang telah terjadi, saya pelan-pelan berusaha menjalankan Dharma. Di kantor baru saya berusaha untuk tidak membalas satu dua detik meskipun dimarahi bos. Kertas, printer, dan internet tidak dipakai untuk keperluan pribadi. Sering-sering berbuat baik dalam hal-hal yang berkaitan dengan Buddhadharma dan dalam berhubungan dengan orang lain. Setiap hari saya berusaha melakukan meditasi Vajrasattva untuk menetralisir tilasan-tilasan karma negatif yang terlanjur dibuat.

Setiap hari saya mencatat hal-hal positif dan hal-hal negatif yang telah saya lakukan. Metode ini sangat membantu. Intinya saya berusaha mengawasi pikiran, ucapan, dan tindakan saya dalam setiap 2-3 jam. Kebajikan-kebajikan kecil apa yang akan saya lakukan. Lalu setiap malam sebelum tidur, saya bermudita mengenai tiga kebajikan utama yang saya lakukan pada hari itu, dan saya menetralisir tindakan-tindakan negatif. Tidak menyalahkan diri sendiri, tidak merasa gagal, dan tidak pesimis dalam menghadapi kehidupan ini.

Buddhadharma adalah pelita hidupku.