Belabar di Sibolangit: “Tentang Karma, Tentang Kehidupan” - Bagian I

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
(1-3 Mei, 2015)
Berikut adalah sepatah dua patah kata dari peserta Belabar (Belajar Bareng) tentang pengalaman mereka dan tekad yang tercipta.

***

Amituofo! Saya merasa tiga hari belajar bersama adalah waktu yang terindah. Walau singkat tapi dapat memperkuat kembali tekad dan semangat saya dalam mempraktikkan Dharma. Dalam tiga hari ini, pengertian karma yang selama ini kita ketahui hanyalah ruang lingkup kecil. Sekarang saya merasa bisa mempraktikkan karma dalam kehidupan sekarang. Seperti Om katakan, yang paling penting adalah kehidupan sekarang, walau karma juga tak luput dari tindakan masa lalu, tapi itu sudah tak bisa diubah. Yang terpenting adalah saat sekarang agar kehidupan mendatang menjadi lebih baik. Agar memanfaatkan saat ini sesuai dengan ajaran Buddha, tidak lagi menciptakan potensi-potensi negatif, kita harus menciptakan kepedulian pada sesama, senantiasa mempunyai sati sehingga kita tidak lagi cepat bereaksi terhadap sesuatu tapi mempunyai waktu jeda, berpikir sejenak agar tidak lagi menciptakan karma negatif untuk selanjutnya. Kepedulian adalah jalan menuju kebahagiaan. Jika ingin bahagia, mulailah dengan merasa berkecukupan, berbagi dengan orang lain. Berkecukupan bukan berarti kita tidak berusaha (hanya menerima) tetapi sebaliknya kita berusaha melakukan yang terbaik bagi diri sendiri juga orang lain. Saling berbagi adalah suatu hal yang indah dan bahagia dalam hidup. Semoga kita bisa bersama-sama terus belajar Dharma dan mempraktikkannya.

***

Terima kasih untuk semua pelajaran yang sudah Om berikan. Pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan selama belabar sangat berguna sekali. Sekarang semua hal terlihat lebih mudah. Banyak keraguan dan pertimbangan yang selalu timbul saat akan mengambil keputusan, tapi sekarang hal itu menjadi lebih mudah. Sebelumnya saya selalu berharap segala sesuatu bisa dirancang sedemikian rupa seperti yang saya harapkan, tetapi sekarang cara pandang saya berubah. Dulu saya selalu merasa sutta adalah hal yang sangat rumit karena saya tidak mengerti istilah Buddhis dan Bahasa Pali. Saya baru belajar agama Buddha beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya saya merasa istilah-istilah dalam Bahasa Pali sangat rumit, tetapi dengan belabar ini saya baru mengerti ternyata tidak seperti yang saya pikirkan. Semua diartikan dan dijelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan mudah diterima. Hidup dengan cara pandang yang berbeda setelah mendapatkan arahan dari Om. Dan yang pasti, saya akan belajar untuk hidup dengan perhatian dan berbagi.

***

Awalnya saya tidak berminat untuk ikut belabar ini karena saya tidak suka teori, tapi karena dorongan teman, saya pun ikut. Hari pertama saya menemukan konsep yang diberikan Om sangat santai dan mudah dicerna sehingga saya dapat mengikutinya dengan baik. Om begitu terbuka atas pertanyaan yang diajukan peserta. Hal ini membuka mata saya bahwa sosok Om begitu sabar, open-minded dan tidak pernah men-judge pertanyaan seseorang itu baik atau tidak. Saya sangat tersentuh dengan perlakuan yang diberikan Om kepada kita semua. Pembahasan di hari kedua, membuat saya lebih mengerti makna dari karma. Meskipun saya tidak begitu menyukai pertanyaan yang tidak berbobot tentang hal yang tidak perlu dibahas tapi Om menanggapinya dengan sabar dan rileks. Saya belajar menerima baik-buruk dari segala sisi. Om sangat cerdas dalam mendengar pertanyaan dari peserta, selalu sabar dan tanpa emosi dalam memberikan jawaban. Ini membuat saya sangat kagum. Juga dalam sesi diskusi, di setiap kelompok terdapat pembicara yang dapat memberikan tanggapan atas pertanyaan tiap anggota. Belabar ini terencana dengan baik, di mana dalam setiap kelompok diskusi, ada orang-orang berbobot yang dapat menanggapi pertanyaan. Selama belabar ini, saya mendapatkan arti pentingnya kepedulian. Ini poin penting bagi saya untuk bisa lebih peduli dan membuat saya lebih menyadari sekeliling, melihat keberadaan orang lain. Agar saya berguna untuk orang lain, lebih peduli keadaan sekitar.

Saya sangat berterima kasih karena bisa sekamar dengan orang Jakarta, di mana saya belajar berbaur dan belajar dari mereka yang sangat hangat. Mereka penuh kehangatan dengan siapa pun juga dan selalu tersenyum. Walaupun waktunya sangat singkat tapi kekeluargaan tercipta dengan erat.

***

Saya mendapat informasi mengenai belabar tanpa tahu apa itu belabar, tapi dengan antusias saya memutuskan untuk ikut dan mengajak teman saya. Di hari pertama, saya merasa belabar itu belajar seperti kuliah. Hari pertama saya ngantuknya luar biasa, karena saya pribadi kurang suka belajar konsep. Tapi di hari kedua, saya mendapat sesuatu yang sangat luar biasa ketika Om mengatakan bahwa yang terpenting adalah saat ini, masa lalu tidak dapat diubah, semua hanyalah konsep pikiran. Saat itu pikiran dan hati saya terbuka untuk menerima dan berada di sana. Sisa sesi belabar sangat saya nikmati dan saya bersyukur telah memilih ikut belabar. Poin utama yang saya dapat dari belabar ini adalah kepedulian, tidak penting yang berbuah sekarang itu “karma baik” atau “karma buruk,” because good or bad, who knows? Only Buddha knows. Jadi saya tidak bingung lagi bertanya-tanya “Why me?” dan “Apa yang akan terjadi besok?” Saya cukup memberikan 100%, apa yang saya punyai di kehidupan ini, “care and live here and now,” menerima yang ada, karena semuanya cukup dan tidak mengukur “because I'm perfect.” Saya sangat terkesan dengan para panitia yang begitu luar biasa, semuanya bagaikan keluarga. Dan ketika melantunkan Karaniya Metta Sutta di akhir acara, muncul perasaan yang hangat di hati saya, sampai mau menangis. Semuanya begitu luar biasa. Semoga sehat dan bahagia selalu. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

***

Setelah mengikuti retret ini, ada perubahan konsep karma yang selama ini saya pahami dengan sikap “pasrah” tetapi dijelaskan oleh Om agar kita tidak sekedar mengikuti arus, tidak hanya menerima mentah-mentah, alias kita harus memiliki cara pandang yang berbeda. Ajaran yang kita dapatkan ini bukanlah teori melainkan bagaimana kita menerapkan serta mempraktikkan yang sudah didapatkan. “Just do it,” kerjakan yang saat ini mau dikerjakan, masalah gagal atau berhasil itu belakangan. Selalu hadir “saat ini” dengan menumbuhkembangkan sati agar kita bisa menghadapi sesuatu sebagaimana adanya tanpa penolakan. Kepedulian adalah sikap yang mampu memberikan kebahagiaan kepada semua makhluk, dengan bertekad: “kebahagiaan semua makhluk adalah tanggung jawab saya.” Sikap peduli ini dapat dimulai dari hal sederhana misalnya, merapikan piring-piring ketika selesai makan di restoran. Dengan demikian, apa pun yang kita lakukan dasarnya hati yang penuh kehangatan.

***

“It's a blessing” berkesempatan belabar bersama Om. Banyak hal yang saya dapatkan, ajaran-ajaran sudah didengar dan dibahas dalam diskusi kelompok, tinggal apakah saya "tahu dan ngerti" untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dua hari ini saya lebih hati-hati berbicara pada diri sendiri dan orang lain karena kebiasaan saya adalah mengatakan: “Itulah karma saya, atau itulah karmamu.” Terhadap kejadian buruk yang dialami, saya “mengutuk” diri sendiri dengan mengatakan: “Inilah karma saya, saya harus menerimanya.” Setelah belabar ini, pikiran saya jadi terbuka dan mudah-mudahan dapat menumbuhkembangkan pikiran dan perbuatan baik saya kepada semua orang yang saya kenal maupun tidak, orang yang saya sayang maupun benci. Agar saya menjadi orang yang penuh cinta kasih, welas asih, bukan sekedar “nice.”

***

Saya pernah beberapa kali ikut retret dengan pembimbing yang berbeda … tapi retret bersama Om Salim agak berbeda, di mana kita mengupas sutta-sutta yang selama ini hanya kita baca dan tidak mengerti artinya. Sekarang saya lebih memahami artinya dan cara penerapannya, terutama Karaniya Metta Sutta, sungguh menggugah perasaan dengan irama lagu yang sangat indah. Retret dengan Om Salim membuat saya seperti mendapatkan sesuatu yang baru dan berbeda. Sangat mengesankan. Semoga setelah mengikuti retret ini, saya bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Apabila ada kesempatan yang lain, saya akan ikut lagi.
 
***

Beberapa hari sebelum mengikuti belabar, saya punya kegalauan (perasaan tidak tenang) terhadap beberapa hal. Setelah mendengar penjelasan Om, perasaan galau tersebut terjawab. Beberapa poin penting yang didapat sehingga dapat menghalau perasaan galau saya adalah: Di saat orang lain memiliki pendapatnya sendiri, saya semestinya cukup menghargai pendapatnya dengan berkata "mungkin kamu benar." Dan tentang karma: "tidak ada keputusan yang benar atau salah, keputusan yang diambil akan mempengaruhi kejadian yang akan datang" sehingga menyadarkan dan mengingatkan saya betapa bahayanya sikap “cuek” karena akan mempengaruhi kejadian yang akan datang. Hidup dengan 3P: Pandai, Perhatian, Peduli. KEPEDULIAN, sangat saya rasakan di belabar ini. Mulai dari persiapan mengumpulkan sutta oleh Om untuk kita, teman-teman dari Jakarta yang membantu menjelaskan hal-hal yang kurang dimengerti dalam grup, membuat saya merasakan perasaan yang sangat nyaman dan senang sehingga saya merasakan kepedulian seseorang dapat menyenangkan sekitarnya, juga menyenangkan kita sendiri. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan belabar ini. Terima kasih untuk pengalaman yang telah saya alami. Pelajaran ini akan saya jadikan pedoman untuk hidup LEBIH HIDUP.

Bersambung …