Belabar Padat: Matahari Pagi, Cerah Setiap Hari (Bagian 2)

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
DEKATNYA NIBBANA, SAAT INI JUGA!

Definisi Sotapatti sekarang terasa lebih terjangkau dan lebih bersahabat. Masuk akal bahwa dengan keyakinan seperti itu, kita tak lagi mundur atau berpaling tapi ‘masuk arus.’ Saya juga kembali belajar mengintegrasikan wisdom dan compassion. Kadang saya kurang respek pada orang yang menurut saya manners atau attitude-nya acak-acakan, lupa melulu bahkan terhadap apa yang dikatakannya sendiri, tidak tepat janji dan lain-lain, tapi di sinilah kita belajar toleransi, pengertian, empati. Kita bisa tetap tidak setuju dengan tindakan seseorang tapi tetap respek dan menghargainya.

Mengenai video Dr. Alan (“Being Brilliant Every Single Day”), di satu sisi lumayan menakutkan, terutama bila kita membiarkan klesha mengambil alih, karena dampaknya terhadap tubuh, kesehatan, dampak psikologis; di sisi lain juga liberating bahwa itu bisa kita ubah, dengan catatan ‘hadir’ dan ‘terintegrasi,’ tidak disorientasi.

Jika dalam melakukan apa pun, pegangannya adalah cek apakah ada raga (ketertarikan), dosa (penolakan), moha (delusi), maka itu tak perlu menyesatkan. Itulah KPI (Key Performance Indicator) dan andalan yang sesungguhnya! Homage to the Teachers!

***

No Result Oriented! Tak ada kejadian di masa depan yang akan sama persis dengan bayangan kita. Tak ada yang bisa dipegang, tak ada yang pasti. Lantas buat apa semua usaha ekstrim ini, bersikukuh demi sebuah hasil? Melepas genggaman kuat akan masa depan, muncul rasa damai yang besar, tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi rasa kurang, tak ada lagi rasa sesal dari masa lalu. Apa pun yang terjadi sekarang dan akan datang, kita tidak keberatan.

Lantas, kita bebas dari delusi, fokus terhadap diri sendiri lenyap, sehingga kita bisa hadir saat ini juga, menjadi peduli pada orang atau makhluk lain. Dan Nibbana bisa kita rasakan seketika, instan, tidak neko-neko.

***

Menyadari pentingnya hidup di sini dan sekarang, ‘merangkul’ (embrace) hidup sepenuhnya. Apa pun pengalaman yang muncul dan lenyap tidak ditolak atau dicengkeram karena raga, doa, dan moha. Senantiasa menjaga cetana agar selalu peduli, cetana kepedulian adalah cara membuat tilasan yang membuat pengalaman menjadi menyenangkan. Pentingnya duhkha parinna (mengetahui dukha secara seksama), mengetahui dengan jelas keseluruhan kondisi yang memang demikian, sehingga dapat menerima apa adanya, tanpa gejolak. Apa pun yang dilakukan selalu ingat no hope, no fear, no expectation karena kesalingterkaitan... ini ada, itu ada. Berfokus pada proses; hasil akan sama dengan kumpulan proses dan apa yang mengondisikannya – bukan selalu sesuai ekspektasi kita, karena kita tidak bisa mengendalikan hasil dengan cara pikir inherent existence (adanya sesuatu yang hakiki, solid). Berusaha untuk melepas dan tidak mencengkeram, apalagi melabeli orang lain dan menghakimi keadaan, menghindari dua ekstrim: menganggap segala sesuatu eksis; maupun tidak eksis – menghindari bias.

Dari hari Senin sampai sekarang, saya selalu menyediakan waktu sekitar 20 menit sebelum tidur untuk ‘sepenuhnya hidup,’ duduk dan mengalami secara sadar sensasi tubuh, napas masuk dan keluar, serta ritme yang panjang, sedang, ataupun pendek. Ketika berjalan, tidur, berdiri, selalu mencoba untuk hadir. Berusaha bernapas dengan ritme yang tetap dan halus, tidak bereaksi emosi agar otak depan tetap berfungsi, agar tidak hanyut dalam cerita, fantasi dan juga memori lampau. Melihat dan merespons atas dasar kepedulian; berguna atau tidak. Do my personal best. Sekarang saya mengerti bahwa Nibbana is simple down to earth here and now and Sotapanna is a state of mind.

Ketika Klesha Berkunjung ke Mobil

Saya bersemangat sekali mendengarkan pembabaran Dharma dari Om Salim. Ada begitu banyak: “Oh, ternyata begitu,” “Iya, benar,” “Wow, begitu ya,” dan “AHA!”

Ketika saya dan suami saya salah jalan dalam perjalanan pulang dari Belabar Padat, saya masih bisa berpikir, “Nggak apa-apa kok, tinggal putar balik.” Sempat tersenyum, ternyata masih ada yang lengket dari ajaran Om. Namun, senyum itu tak bertahan lama. Selang beberapa menit, ketika di pintu tol masuk ke arah Jakarta, suami saya berkata, “Coba tolong ambilkan kartu tol Indomaret di dompet.” “Di mana ya?” tanyaku sambil mencari. Saat tiba di pintu tol untuk mengambil kartu dari mesin, suami saya kembali bertanya, “Kamu tidak bisa temukan kartunya ya?” Kira-kira begitu dengan nada sedikit kesal. Paling tidak rasanya tidak enak di telinga. Saya diam, itu reaksi yang biasa terjadi. Dalam sekejap, rangkaian ‘cerita’ langsung mengalir: Apa-apaan ini, itu ‘kan cuma mesin, ‘kan bisa menunggu. Sambil saya rasakan ada rasa sakit di hati.

Suami saya tahu bahwa kalau saya terdiam, pasti ada sesuatu. Ia juga menyadari kalau tidak sepantasnya dia kesal dengan keadaan tadi. “Oh, ternyata dompetnya sudah kepenuhan, sulit nyari kartunya,” lanjutnya di sela saya terdiam. Tetapi, terlambat. Rasa kesal dan tidak terima dengan pernyataannya sudah terbentuk, cerita makin terasa benar dengan bumbu-bumbu. Rasanya tidak nyaman dan mengaduk-aduk. Itulah cuplikan pengalaman pada saat perjalanan pulang dari Belabar Padat.

“Kenapa harus kesal untuk hal-hal kecil begini dan merusak suasana?” Begitu gampangnya kami masuk dalam perangkap klesha, hanya untuk hal-hal kecil dan sederhana. Seringkali saya merasa keterlaluan bereaksi demikian, tapi itulah kenyataannya. Ironisnya, kami terus membuat bab demi bab untuk saling menyakiti. Saat seperti ini, terasa sekali bahwa hanya Dharma yang semengertinya kami ini dapat membantu komunikasi kami, dan pada akhirnya saling memaafkan. Walaupun terkadang, ada rasa kesal karena kejadian seperti ini masih terus terulang. Selama berpikir seperti itu, pasti ada kesal karena sudah memprediksi hal yang akan terjadi lagi, dan selalu mengingat yang sudah lalu.
• Untuk selalu hidup di “sini” dan “saat ini.”
• Untuk tidak selalu membandingkan yang lalu dan sekarang, atau khawatir kalau hal ini akan terjadi lagi di masa mendatang.
• Untuk melangkah pada Jalan Tengah tanpa buntu di kanan dan kiri, tanpa tertarik ke masa lalu dan masa yang akan datang, hanya mengalami apa adanya tanpa penolakan akan pengalaman yang tidak disukai dan keterikatan pada pengalaman yang disukai.
• Untuk selalu sadar dan mawas diri saat klesha mengunjungi.
• Untuk selalu menjadi cerahnya matahari yang tersenyum demi semua makhluk di mana pun, kapan pun, dalam keadaan apa pun.

Terima kasih Om. Kami bersujud dari lubuk hati terdalam, untuk semua pengalaman inspiratif yang tak henti-hentinya Om upayakan untuk membantu kami semua agar berani melawan arus, hingga tak lagi hanyut dalam samsara.

Bersambung ....