Berdamai Dengan Klesha

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Setelah mengikuti ajaran dari Om Salim Lee, akhirnya saya menyimpulkan bahwa menjadi orang baik memang tidak mudah. Untuk menjadi orang baik, kita harus siap untuk membuat diri kita repot dan terkadang mungkin kelihatan ‘bodoh’ bagi orang lain. Agar bahagia, dalam melakukan suatu hal, kita tidak mengeluh, tidak rewel, ikhlas dan tulus. Dengan begitu, kita dapat menikmati apa pun yang datang, entah itu sesuatu yang menyenangkan, ataupun tidak menyenangkan.

Kenapa menjadi orang baik itu tidak mudah? Permasalahannya adalah selalu saja ada yang muncul, entah itu rasa kesal, marah, sedih, kecewa, takut, atau perasaan tidak enak – yang mengaduk-aduk kebahagiaan hati kita. Itulah klesha, yang artinya sesuatu yang mengaduk-aduk kedamaian pikiran kita; kegalauan.

Kegalauan bisa timbul dari rasa tak berkecukupan (tidak puas), rasa tidak dihargai, kekhawatiran akan masa depan, penyesalan, sesuatu yang tidak sesuai harapan, keterikatan atau ketergantungan terhadap sesuatu, kebingungan, penolakan, serta membesar-besarkan cerita. Ketika kita melakukan sesuatu yang tampaknya baik, itu pun bisa dilandasi klesha. Kita mungkin melakukannya karena termotivasi oleh beberapa hal, seperti ingin dianggap orang baik, menjaga image, ingin dipuji, mengharap balasan, atau ingin berjasa. Saya rasa ini adalah bentuk klesha halus, suatu bentuk kesombongan karena ujung-ujungnya demi diri sendiri.

Sesuatu akan menjadi berbeda bila kita melakukannya dengan hati yang terbuka, “Yang sudah lewat biarkanlah, yang akan datang tidak perlu terlalu dikhawatirkan, yang sekarang terjadi biarkan terjadi. Jangan terikat atau menolak.”

Bila kita mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan, mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, jangan terlalu diingat-ingat, yang sudah terjadi biarkanlah berlalu. Bila kita tetap mengulang kata-kata yang tak menyenangkan tersebut, kita melakukan sesuatu yang bodoh, yaitu melakukan adegan ulang, melipatgandakan kata-kata tersebut untuk menyakiti hati kita untuk kesekian kalinya.

Selain itu, jangan terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Apa pun keadaan yang telah terjadi, menyenangkan ataupun tidak, hati kita tetap terbuka. Bila keadaan tidak sesuai harapan, janganlah menolak, jangan pula menghakimi orang lain. Jangan terlalu berasumsi akan terjadi seperti ini atau itu, atau berburuk sangka terhadap masa depan. Bila klesha datang, jangan dikomentari, jangan membuat cerita ataupun membesar-besarkan cerita, amati dan biarkan berlalu. Lihat, apa yang terjadi dalam pikiran kita?

Kita dapat menikmati apa pun yang kita kerjakan. Bila sesuatu terjadi tidak seperti yang kita harapkan, kita tidak menolak, tidak pula menghakimi orang lain. Dengan begitu, kita menjadi lebih ikhlas, tidak merasa berjasa. Kita bisa menjadi seperti matahari yang terus bersinar walaupun tiada yang membalas. Kita terus menyinari orang lain dengan keceriaan, penuh kehangatan dan kasih. Jika motivasinya demikian, setiap hari adalah ladang kebajikan. Dari hal-hal sederhana misalnya tersenyum, menyapa orang lain, tidak membuang sampah sembarangan, memungut sampah, mengurangi penggunaan air yang boros, menghemat penggunaan kertas dan listrik, bahkan hanya menyapu, mencuci, mengurus orang sakit, memotivasi orang lain, bahkan memasak air pun termasuk menanam kebajikan.

Kenapa kita harus berusaha agar klesha tak merajalela? Supaya klesha ini tidak memprovokasi tindakan dan ucapan kita yang menimbulkan dan menambah karma negatif kita, baik saat ini, di kemudian hari atau di kelahiran berikutnya. Seperti yang dikatakan Buddha, benih yang kita tabur itulah yang akan kita petik. Karena itu, kita harus menabur banyak benih kebajikan agar terbebas dari lautan samsara, karena dukha dan penderitaan, semuanya adalah akibat dari karma negatif yang kita buat.