Dharma dan Skripsi
Oleh F
Dihantar pada 3 Juli 2026
Apakah ada hubungan antara Dharma dan skripsi? Mudah-mudahan, sharing ini dapat memberikan inspirasi bagi yang membacanya.
Jika membicarakan tentang masalah, rasanya semua orang akan mengatakan dia punya masalah dalam hidupnya. Entah itu masalah keluarga, hubungan antar pribadi, maupun dalam hal pekerjaan. Ini adalah cerita di mana saya mencoba menerapkan sedikit pengetahuan Dharma untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Jika pada umumnya orang dapat menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4 atau 5 tahun, maka hal itu tidak berlaku untuk saya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kuliah adalah 8 tahun. Permasalahannya adalah skripsi. Saya sendiri tidak tahu secara jelas apa penyebab utama tertundanya penyelesaian skripsi ini. Mungkin faktor lingkungan (yang berada di luar diriku) dan faktor dari dalam diri sendiri. Faktor dari lingkungan, misalnya karena saya mengajar les privat, sehingga saya tidak punya waktu yang cukup untuk mencari bahan di kampus, ditambah lagi saya mendapatkan dosen pembimbing yang sangat sulit ditemui dan tidak pernah marah ataupun menegur jika saya hanya menemuinya satu atau dua kali dalam satu semester.
Sedangkan faktor dari dalam, saya seakan-akan tidak peduli, mencoba menghindari memikirkan skripsi, mencoba menunda selama masih ada waktu. Walaupun saya sendiri tidak ingin skripsi ini putus di tengah jalan dan ditinggalkan begitu saja, tetapi saya sendiri juga tidak mau berusaha menyelesaikannya. Yang ada hanya kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan, apa yang akan terjadi dengan hidup jika saya tidak menyelesaikannya? Apa kata orang-orang yang tahu kalau saya tidak mampu menyelesaikan skripsi? Saya sendiri ragu, apakah saya mampu menyelesaikannya, apa yang akan terjadi? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran yang dihantui ketakutan, kekhawatiran dan rasa tidak percaya diri.
Pada umumnya, proses pemikiran seperti inilah yang terjadi dalam diri kita saat menghadapi masalah. Yang ada hanyalah menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa diri kita jika kita beranggapan bahwa lingkungan di luar yang bertanggung jawab atas masalah kita. Atau kita menyalahkan diri kita sendiri yang tidak cukup pintar, dan serba kekurangan, sehingga kita mendapat masalah. Atau kombinasi dari keduanya, menyalahkan orang lain dan juga diri sendiri. Mudah sekali bagi kita untuk mengambil kesimpulan seperti ini jika sedang menghadapi masalah. Kita selalu beranggapan bahwa kita dipersulit oleh lingkungan kita, yang hampir selalu tidak sesuai dengan keinginan kita dan orang-orang di sekeliling kita yang tampaknya tidak mengerti diri kita, tidak paham apa yang kita inginkan dan tidak bisa melihat dari sudut pandang kita. Kita seakan-akan diharuskan melawan dunia di luar kita, kita sendirian melawan dunia dan orang-orang di sekeliling kita. Mungkinkah kita, yang hanya sendiri, bisa menang melawan dunia di luar kita?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah "Benarkah cara pandang yang demikian?" "Apakah dengan cara berpikir seperti ini kita bisa menyelesaikan masalah yang ada?" Bagi saya sama sekali tidak. Jika orang lain tidak patut disalahkan atas apa yang menimpa saya dan ini bukan kesalahan saya karena memiliki IQ yang kurang, apakah ini berarti saya harus menerima begitu saja semua masalah, karena itu sudah takdir? Apakah tidak ada cara untuk memperbaikinya? Mestinya ada.
Kita cenderung memiliki cara pandang, bahwa ada suatu hal atau masalah, yang begitu solidnya, ada dari sananya, sehingga tidak bisa diapa-apakan lagi. Ketika kita menghadapi satu situasi yang kita anggap sebagai masalah, kita seakan-akan merasa itu sudah harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Dalam arti itu adalah suatu hal yang tidak bisa berubah, makanya kita begitu sedih, khawatir, dan menderita memikirkannya. Jika saya sudah menganggap skripsi itu begitu sulit, saya tidak sanggup mengerjakannya, dosennya tidak peduli, saya tidak ada waktu, maka masalah yang ada menjadi semakin sulit dan semakin mustahil untuk diselesaikan. Kita sendirilah yang menutup kemungkinan penyelesaian masalah dengan berpandangan seperti itu.
Sebaliknya jika kita berpikir dari sisi lain bahwa masalah yang ada hanyalah bersifat sementara, pastinya nanti akan berubah lagi, jadi tidaklah perlu begitu sedih dan khawatir. Justru yang seharusnya menjadi fokus adalah, "Apa yang mesti dilakukan untuk memperbaiki situasi sekarang agar menjadi lebih baik dan semakin mendekati keinginan kita. Apa tindakan kita?" Jadi fokus kita lebih ke tindakan untuk memperbaiki situasi yang ada, bukannya malah sibuk dengan ketakutan dan kekhawatiran.
Teringat kata-kata dari Arya Shantideva:
Jika ada yang bisa dilakukan
Apa gunanya marah?
Jika tidak ada yang bisa dilakukan
Apa gunanya marah?
Ambillah contoh proses sederhana: mengupas jeruk. Diperlukan usaha untuk mengupas kulitnya, memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya. Jika kita menganggap proses tersebut sebagai sesuatu yang sulit, pasti kita tidak bisa menikmati jeruk itu. Begitu dengan proses membuat skripsi. Jika saya terus-menerus berpikir bahwa skripsi itu sulit sekali, saya malas mengerjakannya, dosennya payah, maka saya hanya akan sibuk dengan pemikiran dan perasaan-perasaan negatif yang menyertainya. Dan ini akan menciptakan lingkaran setan, yang akan terus-menerus semakin memperkuat pemikiran negatif yang ada, bahwa skripsi itu sangatlah sulit dan mustahil untuk diselesaikan, dan pada akhirnya hanya ada kenyataan bahwa saya telah menjadi orang yang gagal. Dengan pemikiran seperti ini, semua hal terlihat tidak menyenangkan dan membawa penderitaan.
Pemikiran seperti inilah yang juga terjadi pada orang-orang yang menganggap dirinya dimanfaatkan orang lain, ditipu, dipermalukan, dilukai harga dirinya, dikhianati, sehingga seumur hidup mereka terus-menerus menderita karena pemikiran seperti ini. Mungkin, kita akan membantah, "Tetapi nyata-nyatanya memang mereka memperlakukan saya seperti itu." "Mereka yang menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan saya." "Mereka yang bersalah dan bertanggung jawab atas penderitaan ini."
Mari kita analisa dengan pemikiran dari sisi lain. Kita bisa berpikir bahwa orang tersebut sedang mengajarkan saya hal penting melalui tindakan maupun ucapan mereka. Atau, saya pasti pernah melukai makhluk lain di kehidupan sebelumnya, dan ini saatnya matang dan berbuah. Kita semua setuju bahwa menanam padi akan memanen padi, menanam cabe akan memanen cabe. Jika saat ini, yang kita terima adalah perasaan tidak menyenangkan, itu pasti berasal dari sebab yang tidak menyenangkan pula. Jadi, apakah tepat jika kita menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan kita?
Kita tidak mungkin memundurkan waktu atau mengelak sesuatu yang telah terjadi. Berhentilah terus-menerus bertanya "Mengapa kemalangan ini menimpa diriku?" atau "Betapa malangnya nasibku." Yang mesti kita pikirkan adalah "Bagaimana caranya saya keluar dari situasi tidak menyenangkan ini?" dan berusaha untuk tidak melakukan karma-karma negatif karena saya tidak mau mengalami penderitaan semacam ini lagi. Pendekatan seperti ini jauh lebih bermanfaat karena mengarahkan kita untuk mengambil tindakan positif daripada menyesali apa yang telah terjadi.
Sekarang, yang mungkin menjadi pertanyaan adalah tindakan apa yang harus saya lakukan agar tidak lagi menderita saat ini dan di masa yang akan datang. Hal pertama yang mesti kita sadari adalah darimana datangnya penderitaan ini. Sanggupkah kita menyadari dan mau mengakui bahwa hal tidak menyenangkan yang terjadi pada kita, merupakan hal negatif yang pernah kita lakukan terhadap makhluk lain. Jika saat ini yang kita terima adalah akibat yang tidak menyenangkan, pasti ini berasal dari sebab yang negatif pula, yaitu melukai atau menyebabkan penderitaan bagi makhluk lain. Dengan berpikir demikian, kita tidak lagi menyalahkan orang lain atas penderitaan kita, juga tidak lagi menyalahkan diri sendiri karena kita melukai makhluk lain atas dasar kesalahpengertian kita. Dengan analisa seperti ini, kita tidak lagi bereaksi negatif terhadap situasi atau orang yang tidak kita sukai.
Pemikiran seperti ini akan menumbuhkan cinta kasih kepada diri kita dan orang lain. Dengan demikian, ketika dihadapkan pada suatu masalah kita tidak akan dengan mudah menyalahkan orang lain dan diri sendiri. Sebaliknya, kita akan berhenti sejenak dan bertanya terlebih dahulu, darimana datangnya penderitaan ini? Kemudian memfokuskan diri memecahkan masalah tersebut dengan mencabut akar penyebabnya yaitu "tidak bereaksi secara negatif" terhadap situasi atau orang tersebut.
Hal lain yang penting untuk disadari adalah sikap kita dalam usaha menghentikan karma negatif yang matang seringkali dipenuhi ekspektasi atau harapan bahwa "Jika saya telah melakukan hal ini...dan ini..., maka semuanya akan beres." Apakah demikian yang terjadi? Kenyataannya, hal positif yang kita lakukan tidaklah selalu langsung membuahkan hasil yang positif, karena kita memiliki karma-karma negatif dan positif yang sangat banyak, yang telah kita kumpulkan dari masa tak berawal keberadaan kita. Maka, bisa saja kita tetap menderita walaupun kita telah bersikap positif untuk menyikapi sesuatu masalah. Perlu waktu untuk mengikis tilasan-tilasan negatif yang terlalu banyak.
Sikap dan motivasi yang mesti kita kembangkan saat melakukan tindakan positif adalah berpegang pada: "No Hope, No Fear, No Expectation." Lakukanlah segala hal dengan landasan pengertian ini. Apapun yang terjadi, itu oke. Jadi kita tidak akan menderita jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Yang penting, kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Pemahaman seperti inilah yang akan membawa kita mencapai pengugahan..
Mungkin ini tidak terlalu masuk akal, tetapi cobalah dan Anda akan tahu. Cobalah untuk tidak secara langsung menganggap bahwa pemikiran ini hanya sekedar kata-kata untuk menyejukkan hati atau kata-kata mutiara. Bukalah mata hati Anda - bukalah kemungkinan untuk cara berpikir lain - yang mungkin akan mengubah hidup Anda selamanya.
Jika membicarakan tentang masalah, rasanya semua orang akan mengatakan dia punya masalah dalam hidupnya. Entah itu masalah keluarga, hubungan antar pribadi, maupun dalam hal pekerjaan. Ini adalah cerita di mana saya mencoba menerapkan sedikit pengetahuan Dharma untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.
Jika pada umumnya orang dapat menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 4 atau 5 tahun, maka hal itu tidak berlaku untuk saya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kuliah adalah 8 tahun. Permasalahannya adalah skripsi. Saya sendiri tidak tahu secara jelas apa penyebab utama tertundanya penyelesaian skripsi ini. Mungkin faktor lingkungan (yang berada di luar diriku) dan faktor dari dalam diri sendiri. Faktor dari lingkungan, misalnya karena saya mengajar les privat, sehingga saya tidak punya waktu yang cukup untuk mencari bahan di kampus, ditambah lagi saya mendapatkan dosen pembimbing yang sangat sulit ditemui dan tidak pernah marah ataupun menegur jika saya hanya menemuinya satu atau dua kali dalam satu semester.
Sedangkan faktor dari dalam, saya seakan-akan tidak peduli, mencoba menghindari memikirkan skripsi, mencoba menunda selama masih ada waktu. Walaupun saya sendiri tidak ingin skripsi ini putus di tengah jalan dan ditinggalkan begitu saja, tetapi saya sendiri juga tidak mau berusaha menyelesaikannya. Yang ada hanya kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan, apa yang akan terjadi dengan hidup jika saya tidak menyelesaikannya? Apa kata orang-orang yang tahu kalau saya tidak mampu menyelesaikan skripsi? Saya sendiri ragu, apakah saya mampu menyelesaikannya, apa yang akan terjadi? Begitu banyak pertanyaan berkecamuk dalam pikiran yang dihantui ketakutan, kekhawatiran dan rasa tidak percaya diri.
Pada umumnya, proses pemikiran seperti inilah yang terjadi dalam diri kita saat menghadapi masalah. Yang ada hanyalah menyalahkan orang lain atas apa yang menimpa diri kita jika kita beranggapan bahwa lingkungan di luar yang bertanggung jawab atas masalah kita. Atau kita menyalahkan diri kita sendiri yang tidak cukup pintar, dan serba kekurangan, sehingga kita mendapat masalah. Atau kombinasi dari keduanya, menyalahkan orang lain dan juga diri sendiri. Mudah sekali bagi kita untuk mengambil kesimpulan seperti ini jika sedang menghadapi masalah. Kita selalu beranggapan bahwa kita dipersulit oleh lingkungan kita, yang hampir selalu tidak sesuai dengan keinginan kita dan orang-orang di sekeliling kita yang tampaknya tidak mengerti diri kita, tidak paham apa yang kita inginkan dan tidak bisa melihat dari sudut pandang kita. Kita seakan-akan diharuskan melawan dunia di luar kita, kita sendirian melawan dunia dan orang-orang di sekeliling kita. Mungkinkah kita, yang hanya sendiri, bisa menang melawan dunia di luar kita?
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah "Benarkah cara pandang yang demikian?" "Apakah dengan cara berpikir seperti ini kita bisa menyelesaikan masalah yang ada?" Bagi saya sama sekali tidak. Jika orang lain tidak patut disalahkan atas apa yang menimpa saya dan ini bukan kesalahan saya karena memiliki IQ yang kurang, apakah ini berarti saya harus menerima begitu saja semua masalah, karena itu sudah takdir? Apakah tidak ada cara untuk memperbaikinya? Mestinya ada.
Kita cenderung memiliki cara pandang, bahwa ada suatu hal atau masalah, yang begitu solidnya, ada dari sananya, sehingga tidak bisa diapa-apakan lagi. Ketika kita menghadapi satu situasi yang kita anggap sebagai masalah, kita seakan-akan merasa itu sudah harga mati, tidak bisa ditawar lagi. Dalam arti itu adalah suatu hal yang tidak bisa berubah, makanya kita begitu sedih, khawatir, dan menderita memikirkannya. Jika saya sudah menganggap skripsi itu begitu sulit, saya tidak sanggup mengerjakannya, dosennya tidak peduli, saya tidak ada waktu, maka masalah yang ada menjadi semakin sulit dan semakin mustahil untuk diselesaikan. Kita sendirilah yang menutup kemungkinan penyelesaian masalah dengan berpandangan seperti itu.
Sebaliknya jika kita berpikir dari sisi lain bahwa masalah yang ada hanyalah bersifat sementara, pastinya nanti akan berubah lagi, jadi tidaklah perlu begitu sedih dan khawatir. Justru yang seharusnya menjadi fokus adalah, "Apa yang mesti dilakukan untuk memperbaiki situasi sekarang agar menjadi lebih baik dan semakin mendekati keinginan kita. Apa tindakan kita?" Jadi fokus kita lebih ke tindakan untuk memperbaiki situasi yang ada, bukannya malah sibuk dengan ketakutan dan kekhawatiran.
Teringat kata-kata dari Arya Shantideva:
Jika ada yang bisa dilakukan
Apa gunanya marah?
Jika tidak ada yang bisa dilakukan
Apa gunanya marah?
Ambillah contoh proses sederhana: mengupas jeruk. Diperlukan usaha untuk mengupas kulitnya, memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya. Jika kita menganggap proses tersebut sebagai sesuatu yang sulit, pasti kita tidak bisa menikmati jeruk itu. Begitu dengan proses membuat skripsi. Jika saya terus-menerus berpikir bahwa skripsi itu sulit sekali, saya malas mengerjakannya, dosennya payah, maka saya hanya akan sibuk dengan pemikiran dan perasaan-perasaan negatif yang menyertainya. Dan ini akan menciptakan lingkaran setan, yang akan terus-menerus semakin memperkuat pemikiran negatif yang ada, bahwa skripsi itu sangatlah sulit dan mustahil untuk diselesaikan, dan pada akhirnya hanya ada kenyataan bahwa saya telah menjadi orang yang gagal. Dengan pemikiran seperti ini, semua hal terlihat tidak menyenangkan dan membawa penderitaan.
Pemikiran seperti inilah yang juga terjadi pada orang-orang yang menganggap dirinya dimanfaatkan orang lain, ditipu, dipermalukan, dilukai harga dirinya, dikhianati, sehingga seumur hidup mereka terus-menerus menderita karena pemikiran seperti ini. Mungkin, kita akan membantah, "Tetapi nyata-nyatanya memang mereka memperlakukan saya seperti itu." "Mereka yang menyebabkan kesengsaraan dan penderitaan saya." "Mereka yang bersalah dan bertanggung jawab atas penderitaan ini."
Mari kita analisa dengan pemikiran dari sisi lain. Kita bisa berpikir bahwa orang tersebut sedang mengajarkan saya hal penting melalui tindakan maupun ucapan mereka. Atau, saya pasti pernah melukai makhluk lain di kehidupan sebelumnya, dan ini saatnya matang dan berbuah. Kita semua setuju bahwa menanam padi akan memanen padi, menanam cabe akan memanen cabe. Jika saat ini, yang kita terima adalah perasaan tidak menyenangkan, itu pasti berasal dari sebab yang tidak menyenangkan pula. Jadi, apakah tepat jika kita menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan kita?
Kita tidak mungkin memundurkan waktu atau mengelak sesuatu yang telah terjadi. Berhentilah terus-menerus bertanya "Mengapa kemalangan ini menimpa diriku?" atau "Betapa malangnya nasibku." Yang mesti kita pikirkan adalah "Bagaimana caranya saya keluar dari situasi tidak menyenangkan ini?" dan berusaha untuk tidak melakukan karma-karma negatif karena saya tidak mau mengalami penderitaan semacam ini lagi. Pendekatan seperti ini jauh lebih bermanfaat karena mengarahkan kita untuk mengambil tindakan positif daripada menyesali apa yang telah terjadi.
Sekarang, yang mungkin menjadi pertanyaan adalah tindakan apa yang harus saya lakukan agar tidak lagi menderita saat ini dan di masa yang akan datang. Hal pertama yang mesti kita sadari adalah darimana datangnya penderitaan ini. Sanggupkah kita menyadari dan mau mengakui bahwa hal tidak menyenangkan yang terjadi pada kita, merupakan hal negatif yang pernah kita lakukan terhadap makhluk lain. Jika saat ini yang kita terima adalah akibat yang tidak menyenangkan, pasti ini berasal dari sebab yang negatif pula, yaitu melukai atau menyebabkan penderitaan bagi makhluk lain. Dengan berpikir demikian, kita tidak lagi menyalahkan orang lain atas penderitaan kita, juga tidak lagi menyalahkan diri sendiri karena kita melukai makhluk lain atas dasar kesalahpengertian kita. Dengan analisa seperti ini, kita tidak lagi bereaksi negatif terhadap situasi atau orang yang tidak kita sukai.
Pemikiran seperti ini akan menumbuhkan cinta kasih kepada diri kita dan orang lain. Dengan demikian, ketika dihadapkan pada suatu masalah kita tidak akan dengan mudah menyalahkan orang lain dan diri sendiri. Sebaliknya, kita akan berhenti sejenak dan bertanya terlebih dahulu, darimana datangnya penderitaan ini? Kemudian memfokuskan diri memecahkan masalah tersebut dengan mencabut akar penyebabnya yaitu "tidak bereaksi secara negatif" terhadap situasi atau orang tersebut.
Hal lain yang penting untuk disadari adalah sikap kita dalam usaha menghentikan karma negatif yang matang seringkali dipenuhi ekspektasi atau harapan bahwa "Jika saya telah melakukan hal ini...dan ini..., maka semuanya akan beres." Apakah demikian yang terjadi? Kenyataannya, hal positif yang kita lakukan tidaklah selalu langsung membuahkan hasil yang positif, karena kita memiliki karma-karma negatif dan positif yang sangat banyak, yang telah kita kumpulkan dari masa tak berawal keberadaan kita. Maka, bisa saja kita tetap menderita walaupun kita telah bersikap positif untuk menyikapi sesuatu masalah. Perlu waktu untuk mengikis tilasan-tilasan negatif yang terlalu banyak.
Sikap dan motivasi yang mesti kita kembangkan saat melakukan tindakan positif adalah berpegang pada: "No Hope, No Fear, No Expectation." Lakukanlah segala hal dengan landasan pengertian ini. Apapun yang terjadi, itu oke. Jadi kita tidak akan menderita jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita. Yang penting, kita telah melakukan yang terbaik yang kita bisa. Pemahaman seperti inilah yang akan membawa kita mencapai pengugahan..
Mungkin ini tidak terlalu masuk akal, tetapi cobalah dan Anda akan tahu. Cobalah untuk tidak secara langsung menganggap bahwa pemikiran ini hanya sekedar kata-kata untuk menyejukkan hati atau kata-kata mutiara. Bukalah mata hati Anda - bukalah kemungkinan untuk cara berpikir lain - yang mungkin akan mengubah hidup Anda selamanya.
