Sharing dari Retret Nyung Na 2014
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Di kuartal pertama tahun ini, tepatnya 17-20 Maret 2014, Potowa Center mengadakan retret Nyung Na. Satu paket retret Nyung Na terdiri dari 7 sesi selama 3 hari, yakni 3 sesi di hari pertama, 3 sesi di hari kedua dan 1 sesi di hari ketiga. Hastasila Mahayana dijalankan selama 2 hari (hari pertama dan hari kedua). Di hari kedua, selain Hastasila Mahayana, peserta juga menjalankan tambahan sila tidak makan, tidak minum dan tidak berbicara. Dalam setiap sesi, peserta mempraktikkan Sadhana Arya Avalokiteshvara di mana setiap sesi mencakup visualisasi, namaskara, melafalkan doa dan mantara.
Berikut adalah sharing dari beberapa teman yang mengikuti retret:
• Seperti baterai yang nyaris habis dan recharge ulang, lebih terang dan semangat untuk menjalani ...
• Saya merasa lebih berani dan “plong,” rasa takut dan tak mampu menjalani Nyung Na hanya ada di pikiran saja, semua ketakutan larut bersama mantra, namaskara, dan dukungan dari teman-teman. Terima kasih!
• Setelah puasa, sepertinya racun-racun dalam tubuh banyak yang keluar, saya merasa lebih sehat dan bisa beraktifitas untuk hal yang lain.
• Saya merasa terbantu oleh semangat teman-teman sampai selesai, namaskara dan set motivasi bagi saya membantu sekali.
• Pikiran lebih jelas dan tajam. Jika hati terbuka tampaknya banyak kemudahan di sana-sini. Orang-orang yang ditemui terasa sangat membantu.
• Nyung Na atau aktivitas sehari-hari semua dialami, semakin berani mengalami pengalaman yang muncul. Tahu itu “come and go.”
• Pelajaran tentang "ketakutan" di mana itu akan hilang dengan sendirinya saat saya "hadir" dan memikirkan kepentingan orang lain.
• Banyak dimensi dan opsi terbuka, ada solusi permasalahan hidup, termasuk ketakutan akan masa depan, lebih bisa “hadir” saat ini.
• Meskipun saya mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan dan mendadak sekali, tetapi "melegakan."
• Sempat ciut juga ketika saya harus menyampaikan sedikit keterangan tentang Nyung Na, mungkin klesha masih tetap banyak seperti biasa. Sesaat sebelum menulis sharing singkat ini, baru ingat bahwa saat itu saya ingin bisa “lebih hadir” bersama mereka.
• Pastinya saya banyak bersyukur selama Nyung Na, ada charger ...
• Lebih rileks dan percaya diri. Sempat kaget karena pikiran saya begitu "liar." Terima kasih untuk teman-teman yang tidak ikut retret namun sudah begitu baik mendukung dan mengirimkan doanya sehingga kami bisa menyelesaikan Nyung Na dengan lebih percaya diri. Saya bertekad bisa ikut Nyung Na terus, selagi body dan mind masih bisa.
• Energi kebersamaannya terasa sekali, sangat positif, saya senang dan juga menikmati tantangan yang ada. Setelah retret, terasa lebih bisa “hadir” dan mengenali klesha yang datang.
• Saya ikut bersuka cita atas apa yang dialami teman-teman. Pikiran lebih tajam. Saat telepon Mama, lebih bisa “hadir,” mungkin pikiran juga refresh, sehingga beberapa hari ini lebih peka saat berhubungan dengan orang lain.
• Walau hari kedua saya sudah pulang dan melanjutkan Hastasila di rumah, pikiran telah "dijinakkan" dan jauh lebih damai.
• Apa yang saya takutkan dan khawatirkan selama ini, bertahun-tahun serasa kabur dan tak punya solusi (berkaitan dengan pekerjaan), terlihat jelas dan solusi muncul. Saya tahu apa yang mesti dilakukan meskipun dibarengi munculnya keinginan minum jus jambu yang sangat intens :-). Berani hadir, pikiran lebih tajam, ada suka cita dan kedamaian di hati.
• Setiap Nyung Na yang pernah saya ikuti mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda. Bayangan makanan dan minuman, badan terasa sakit, emosi bermunculan walaupun sedang baca mantra dan namaskara, pengalaman-pengalaman seperti itu tetap ada, hanya responsnya sekarang berbeda. Saya semakin menghargai hidup dan waktu yang berharga sebagai manusia, juga apa yang bisa diperbuat dalam sisa perjalanan kehidupan kali ini. Lebih paham tentang praktik welas asih: berani hadir dan menatap dukha itu sendiri, yang dulu sering disalahartikan dengan “menolong karena kasihan.” Yang pasti I am not alone dalam melakukan praktik ini: ramai-ramai, beban berat pun terasa ringan.
Berikut adalah sharing dari beberapa teman yang mengikuti retret:
• Seperti baterai yang nyaris habis dan recharge ulang, lebih terang dan semangat untuk menjalani ...
• Saya merasa lebih berani dan “plong,” rasa takut dan tak mampu menjalani Nyung Na hanya ada di pikiran saja, semua ketakutan larut bersama mantra, namaskara, dan dukungan dari teman-teman. Terima kasih!
• Setelah puasa, sepertinya racun-racun dalam tubuh banyak yang keluar, saya merasa lebih sehat dan bisa beraktifitas untuk hal yang lain.
• Saya merasa terbantu oleh semangat teman-teman sampai selesai, namaskara dan set motivasi bagi saya membantu sekali.
• Pikiran lebih jelas dan tajam. Jika hati terbuka tampaknya banyak kemudahan di sana-sini. Orang-orang yang ditemui terasa sangat membantu.
• Nyung Na atau aktivitas sehari-hari semua dialami, semakin berani mengalami pengalaman yang muncul. Tahu itu “come and go.”
• Pelajaran tentang "ketakutan" di mana itu akan hilang dengan sendirinya saat saya "hadir" dan memikirkan kepentingan orang lain.
• Banyak dimensi dan opsi terbuka, ada solusi permasalahan hidup, termasuk ketakutan akan masa depan, lebih bisa “hadir” saat ini.
• Meskipun saya mendapat pengalaman yang tidak menyenangkan dan mendadak sekali, tetapi "melegakan."
• Sempat ciut juga ketika saya harus menyampaikan sedikit keterangan tentang Nyung Na, mungkin klesha masih tetap banyak seperti biasa. Sesaat sebelum menulis sharing singkat ini, baru ingat bahwa saat itu saya ingin bisa “lebih hadir” bersama mereka.
• Pastinya saya banyak bersyukur selama Nyung Na, ada charger ...
• Lebih rileks dan percaya diri. Sempat kaget karena pikiran saya begitu "liar." Terima kasih untuk teman-teman yang tidak ikut retret namun sudah begitu baik mendukung dan mengirimkan doanya sehingga kami bisa menyelesaikan Nyung Na dengan lebih percaya diri. Saya bertekad bisa ikut Nyung Na terus, selagi body dan mind masih bisa.
• Energi kebersamaannya terasa sekali, sangat positif, saya senang dan juga menikmati tantangan yang ada. Setelah retret, terasa lebih bisa “hadir” dan mengenali klesha yang datang.
• Saya ikut bersuka cita atas apa yang dialami teman-teman. Pikiran lebih tajam. Saat telepon Mama, lebih bisa “hadir,” mungkin pikiran juga refresh, sehingga beberapa hari ini lebih peka saat berhubungan dengan orang lain.
• Walau hari kedua saya sudah pulang dan melanjutkan Hastasila di rumah, pikiran telah "dijinakkan" dan jauh lebih damai.
• Apa yang saya takutkan dan khawatirkan selama ini, bertahun-tahun serasa kabur dan tak punya solusi (berkaitan dengan pekerjaan), terlihat jelas dan solusi muncul. Saya tahu apa yang mesti dilakukan meskipun dibarengi munculnya keinginan minum jus jambu yang sangat intens :-). Berani hadir, pikiran lebih tajam, ada suka cita dan kedamaian di hati.
• Setiap Nyung Na yang pernah saya ikuti mempunyai kesan dan pengalaman yang berbeda. Bayangan makanan dan minuman, badan terasa sakit, emosi bermunculan walaupun sedang baca mantra dan namaskara, pengalaman-pengalaman seperti itu tetap ada, hanya responsnya sekarang berbeda. Saya semakin menghargai hidup dan waktu yang berharga sebagai manusia, juga apa yang bisa diperbuat dalam sisa perjalanan kehidupan kali ini. Lebih paham tentang praktik welas asih: berani hadir dan menatap dukha itu sendiri, yang dulu sering disalahartikan dengan “menolong karena kasihan.” Yang pasti I am not alone dalam melakukan praktik ini: ramai-ramai, beban berat pun terasa ringan.
