Jurus Merawat Orang Tua yang Sedang Sakit
Oleh Metta
Dihantar pada 3 Juli 2026
Manusia, mungkin tak bisa menghindari penyakit. Datang di saat yang tak terduga, sakit dapat menimbulkan efek – tidak hanya pada penderitanya – namun juga pada orang yang merawat. Meskipun kita sendiri tidak sedang sakit, namun melihat orang terdekat yang kita cintai sedang sakit, apalagi orang tua sendiri, tentu sebaiknya kita memiliki energi yang cukup kuat untuk merawat mereka. Janganlah sekedar khawatir atau takut tentang penyakit yang sedang dialami, namun hadapilah dan lihat apa yang bisa dilakukan. Bila si penderita juga memiliki pemikiran seperti itu, tentu akan mempercepat proses penyembuhan.
Ketika Mama selesai diambil MRI dan berkonsultasi dengan dokter neurologi, dokter menyatakan bahwa Mama mengalami penyempitan pembuluh darah di otaknya, ukurannya cukup besar, namun dokter mengatakan bahwa Mama dalam keadaan cukup kuat sehingga tidak mengalami efek yang parah. Ya, Mama memang luar biasa, beliau tidak menunjukkan bahwa itu adalah penyakit yang berat, beliau mengalami sakit tapi tidak menderita. Seperti yang Om Salim selalu katakan, “Kaki ketendang meja memang ada pain, tapi tidak harus suffer. Suffering is optional. Mama memang merasakan sakit, sering capek, tapi di wajahnya tidak menunjukkan penderitaan, entah karena beliau tahan atau karena tidak mau menunjukkannya ke orang lain.
Hadapi dengan tenang dan hangat.
Jangan terlalu serius atau sedih, karena akan membawa energi negatif yang akan membuat penderita merasa tambah lemah dan kehilangan semangat untuk sembuh. Saat merawat Mama, kami selalu ajak beliau bersenda-gurau sehingga hatinya senang dan merasa penyakitnya tidak berat. Kalau orang tua kita berkata tentang apa yang dirasakan, tanggapi saja dengan perhatian dan hangat. Di samping itu, tetap carikan jalan keluarnya. Usahakan untuk selalu membuatnya nyaman.
Be there and shower them with love.
Ketika Mama sakit, Mama selalu ingin ditemani. Mama juga selalu bertanya, “Kerjanya pulang jam berapa? Jangan lama-lama, ya.” Mama mengatakan bahwa beliau merasa kesal saat sendirian, padahal ada carer yang membantu kita merawat Mama, namun orang tua tetap ingin ada anak yang mendampinginya.
Saya pernah bertanya ke Om, “Kenapa ya, Mama saya kok sekarang sering ada perasaan takut bila sendirian dan selalu mau ditemani?”
Om Salim menjawab dengan balik bertanya, “Mengapa harus tanya ‘kenapa’?”
Saya berpikir, kenapa Om malah balik bertanya? Kemudian saya berpikir, dan saya sampaikan ke Om lagi, “Tidak tepat tanya kenapa ya, Om? Seharusnya just do what she needs?”
Om Salim menjawab, “Nah! Itu jauh lebih membantu, memang kita terbiasa harus cari tahu sebab, tapi kadang ‘to know’ itu ngga bisa dipikir. Intinya ‘be with her in her world’ daripada ’bring her to our world’, dan ini tidak mudah...”
Selama Mama sakit, kami – kakak, abang, kakak ipar, adik dan cucu – bergantian menemani, sehingga beliau merasa senang dan bersemangat. Mungkin ini salah satu manfaat punya anak banyak, hahaha... Ada kebahagiaan tersendiri karena suasana yang selalu ramai! Usahakanlah agar semua anak, cucu dan buyut (kalau sudah punya buyut) untuk selalu bergantian menemani dan terus menjaga komunikasi. Ini akan berdampak sangat baik pada semangat beliau untuk kembali sehat. Cinta dari keluarga membuatnya jauh lebih semangat untuk cepat sembuh dan tidak menyerah, ketimbang sekedar memberi obat-obatan.
Memperhatikan asupan dan segala kebutuhan beliau.
Kita perlu mengubah cara berpikir kita yang biasa: selalu memberikan obat atau asupan yang menurut kita baik untuk yang sakit, padahal itu belum tentu benar. Bisa saja obat, masakan atau makanan cocok untuk orang lain tapi belum tentu cocok untuk yang sakit. Ketika tiba waktu untuk makan atau minum obat, jangan lupa untuk selalu menanyakan kepada beliau, apakah beliau mau minum obat atau mau makan. Dengan begitu, beliau akan senang sekali karena kita tetap menghormatinya dengan mengajak ikut memilih. Tetap ajak komunikasi. Ketika Mama mengatakan “ngga mau makan,” “mulutnya pahit,” “tidak nafsu makan” atau menjawab yang tidak pasti, kita bantu dengan memberikan pilihan. Namun bila makanan tersebut tidak diperbolehkan karena diet yang berhubungan dengan penyakitnya, maka bisa kita ganti dengan bahan dasar lain yang tetap mirip dengan makanan favoritnya. Sebisa mungkin kita buat menu yang bervariasi dan bergizi, karena asupan juga membantu menambah tenaga dan mempercepat kesembuhannya.
Ada yang penting selain obat dan asupan, yaitu tetap melibatkannya seperti saat beliau tidak sakit, misalnya dengan tetap bercerita tentang apa yang terjadi di rumah, atau tetap bertanya kepada beliau hal-hal yang ringan seperti apa yang biasa beliau atur di rumah. Dengan begitu, beliau akan merasa tetap dihargai, diperlukan, dan merasa ada tanggung jawab terhadap kehidupan beliau seperti biasa. Hal ini akan membantu menstimulus otak kiri dan kanan, sehingga tidak terjadi penurunan fungsi kerja otak.
Kebanyakan orang tua tidak mau di rawat di rumah sakit. Jangan putus asa, cari alternatif lain dan harus sabar, karena seiring usia yang makin lanjut diperlukan waktu dan kesabaran untuk pulih kembali. Jangan bertengkar dengan orang tua yang menolak saat diajak berobat. Ketika beliau sedang merasa nyaman dan mood yang baik, ajak bicara lagi untuk melanjutkan pengobatannya, misalnya dengan membawanya ke akupunktur, refleksi atau fisioterapi sesuai dengan kebutuhannya. Usahakan tidak merawat orang tua dengan muka cemberut atau marah-marah, karena akan menyakitkan sekali bagi mereka. Kalau kita tidak bisa merawatnya dengan penuh karena harus bekerja, mintalah bantuan carer alias perawat, namun orang tua biasanya merasa senang bila ada anak atau cucu di dekatnya, jadi tetap usahakan anak-anak untuk bergantian menemani beliau.
Semoga sharing ini bisa memberikan dorongan semangat untuk teman-teman yang sedang merawat orang tua, saudara, atau orang-orang yang sedang sakit. Terima kasih.
Ketika Mama selesai diambil MRI dan berkonsultasi dengan dokter neurologi, dokter menyatakan bahwa Mama mengalami penyempitan pembuluh darah di otaknya, ukurannya cukup besar, namun dokter mengatakan bahwa Mama dalam keadaan cukup kuat sehingga tidak mengalami efek yang parah. Ya, Mama memang luar biasa, beliau tidak menunjukkan bahwa itu adalah penyakit yang berat, beliau mengalami sakit tapi tidak menderita. Seperti yang Om Salim selalu katakan, “Kaki ketendang meja memang ada pain, tapi tidak harus suffer. Suffering is optional. Mama memang merasakan sakit, sering capek, tapi di wajahnya tidak menunjukkan penderitaan, entah karena beliau tahan atau karena tidak mau menunjukkannya ke orang lain.
Hadapi dengan tenang dan hangat.
Jangan terlalu serius atau sedih, karena akan membawa energi negatif yang akan membuat penderita merasa tambah lemah dan kehilangan semangat untuk sembuh. Saat merawat Mama, kami selalu ajak beliau bersenda-gurau sehingga hatinya senang dan merasa penyakitnya tidak berat. Kalau orang tua kita berkata tentang apa yang dirasakan, tanggapi saja dengan perhatian dan hangat. Di samping itu, tetap carikan jalan keluarnya. Usahakan untuk selalu membuatnya nyaman.
Be there and shower them with love.
Ketika Mama sakit, Mama selalu ingin ditemani. Mama juga selalu bertanya, “Kerjanya pulang jam berapa? Jangan lama-lama, ya.” Mama mengatakan bahwa beliau merasa kesal saat sendirian, padahal ada carer yang membantu kita merawat Mama, namun orang tua tetap ingin ada anak yang mendampinginya.
Saya pernah bertanya ke Om, “Kenapa ya, Mama saya kok sekarang sering ada perasaan takut bila sendirian dan selalu mau ditemani?”
Om Salim menjawab dengan balik bertanya, “Mengapa harus tanya ‘kenapa’?”
Saya berpikir, kenapa Om malah balik bertanya? Kemudian saya berpikir, dan saya sampaikan ke Om lagi, “Tidak tepat tanya kenapa ya, Om? Seharusnya just do what she needs?”
Om Salim menjawab, “Nah! Itu jauh lebih membantu, memang kita terbiasa harus cari tahu sebab, tapi kadang ‘to know’ itu ngga bisa dipikir. Intinya ‘be with her in her world’ daripada ’bring her to our world’, dan ini tidak mudah...”
Selama Mama sakit, kami – kakak, abang, kakak ipar, adik dan cucu – bergantian menemani, sehingga beliau merasa senang dan bersemangat. Mungkin ini salah satu manfaat punya anak banyak, hahaha... Ada kebahagiaan tersendiri karena suasana yang selalu ramai! Usahakanlah agar semua anak, cucu dan buyut (kalau sudah punya buyut) untuk selalu bergantian menemani dan terus menjaga komunikasi. Ini akan berdampak sangat baik pada semangat beliau untuk kembali sehat. Cinta dari keluarga membuatnya jauh lebih semangat untuk cepat sembuh dan tidak menyerah, ketimbang sekedar memberi obat-obatan.
Memperhatikan asupan dan segala kebutuhan beliau.
Kita perlu mengubah cara berpikir kita yang biasa: selalu memberikan obat atau asupan yang menurut kita baik untuk yang sakit, padahal itu belum tentu benar. Bisa saja obat, masakan atau makanan cocok untuk orang lain tapi belum tentu cocok untuk yang sakit. Ketika tiba waktu untuk makan atau minum obat, jangan lupa untuk selalu menanyakan kepada beliau, apakah beliau mau minum obat atau mau makan. Dengan begitu, beliau akan senang sekali karena kita tetap menghormatinya dengan mengajak ikut memilih. Tetap ajak komunikasi. Ketika Mama mengatakan “ngga mau makan,” “mulutnya pahit,” “tidak nafsu makan” atau menjawab yang tidak pasti, kita bantu dengan memberikan pilihan. Namun bila makanan tersebut tidak diperbolehkan karena diet yang berhubungan dengan penyakitnya, maka bisa kita ganti dengan bahan dasar lain yang tetap mirip dengan makanan favoritnya. Sebisa mungkin kita buat menu yang bervariasi dan bergizi, karena asupan juga membantu menambah tenaga dan mempercepat kesembuhannya.
Ada yang penting selain obat dan asupan, yaitu tetap melibatkannya seperti saat beliau tidak sakit, misalnya dengan tetap bercerita tentang apa yang terjadi di rumah, atau tetap bertanya kepada beliau hal-hal yang ringan seperti apa yang biasa beliau atur di rumah. Dengan begitu, beliau akan merasa tetap dihargai, diperlukan, dan merasa ada tanggung jawab terhadap kehidupan beliau seperti biasa. Hal ini akan membantu menstimulus otak kiri dan kanan, sehingga tidak terjadi penurunan fungsi kerja otak.
Kebanyakan orang tua tidak mau di rawat di rumah sakit. Jangan putus asa, cari alternatif lain dan harus sabar, karena seiring usia yang makin lanjut diperlukan waktu dan kesabaran untuk pulih kembali. Jangan bertengkar dengan orang tua yang menolak saat diajak berobat. Ketika beliau sedang merasa nyaman dan mood yang baik, ajak bicara lagi untuk melanjutkan pengobatannya, misalnya dengan membawanya ke akupunktur, refleksi atau fisioterapi sesuai dengan kebutuhannya. Usahakan tidak merawat orang tua dengan muka cemberut atau marah-marah, karena akan menyakitkan sekali bagi mereka. Kalau kita tidak bisa merawatnya dengan penuh karena harus bekerja, mintalah bantuan carer alias perawat, namun orang tua biasanya merasa senang bila ada anak atau cucu di dekatnya, jadi tetap usahakan anak-anak untuk bergantian menemani beliau.
Semoga sharing ini bisa memberikan dorongan semangat untuk teman-teman yang sedang merawat orang tua, saudara, atau orang-orang yang sedang sakit. Terima kasih.
