Keajaiban dari Keterbukaan Hati (Open Heart)
Oleh Dharmawati
Dihantar pada 3 Juli 2026
Mei 2009. Hari pertama saya bekerja di kantor baru.
Kantor baru di kota yang baru. Budaya baru. Tak mengenal siapa pun ketika masuk kantor baru dan dihadapkan dengan budaya baru ternyata mendatangkan kendala yang cukup berat. Idealisme dan komitmen yang kumiliki - termasuk budaya kerja yang kuanut selama ini membuat saya mendapat julukan orang yang paling galak sekantor. Tidak lama setelah saya masuk, Manager Departemen dan hampir semua Staf Departemen saya mengundurkan diri - ada yang dipaksa resign karena ketegasan yang saya terapkan. Hal itu tampaknya membawa perbaikan dan perubahan di perusahaan, laporan yang dulunya berantakan, kini menjadi lebih rapi dan lebih tepat waktu. Tetapi, cara yang saya lakukan mungkin tidak tepat, sehingga membuat saya sangat tidak disukai di kantor.
Pertengahan tahun 2011 merupakan masa-masa yang penuh perjuangan, 75% waktu dan konsentrasi kuhabiskan di kantor. Pekerjaan yang sibuk, lembur setiap hari dan juga akhir pekan, membuat semua pikiranku hanya tercurahkan pada kantor. Selain itu, juga masalah keluarga. Ayah sudah meninggal dunia. Berhubung saya adalah anak sulung, semuanya terasa bertumpu di pundakku. Saya merasa harus menjadi superwoman yang mampu melindungi keluargaku. Bulan Juni 2011, semuanya memuncak dan rasanya hidup ini berat sekali. Berkali-kali terpikir untuk berhenti kerja, tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi langkah ini. Mungkin karena beban keluarga atau apa pun itu, saya juga tidak bisa menjawab kalau ditanya hal ini. Om pernah mengatakan bahwa tubuh kita akan tahu dan memberikan sinyal. Sekarang saya menyadari semua itu.
Selama tahun 2009 sampai 2011, saya menjadi pegawai kesayangan atasan-atasanku di kantor (sekarang saya menyadari ternyata saat itu ada kondisi yang saya besar-besarkan). Menjadi orang yang selalu dipuji karena mampu mengatasi masalah-masalah di perusahaan membuatku menjadi arogan dan sombong. Juni 2011, saya sharing dan curhat ke Juniarti mengenai kejenuhan, kemumetan, stres yang sudah menyatu dan memuncak. Saat itu, Juniarti mengajakku untuk ikut retret anak SMP/SMA - mungkin jika semuanya tidak memuncak seperti ini, saya tidak bersedia ikut retret. Akhirnya, saya ikut membantu Juniarti dan teman-teman untuk urusan dapur. Saat itu, saya merasakan perbedaan pada teman-teman yang begitu bersahabat dan terbuka. Rasanya nyaman sekali.
Namun setelah retret selesai dan kembali ke aktivitas semula, semua masalah keluarga, masalah kantor kembali memuncak sampai rasanya saya ingin menyerah saja, mau resign loh ya, teman-teman, bukan mau bunuh diri. Karena karir yang dulu menjadi kebanggaanku sudah tidak menarik lagi, saya merasa gagal menjadi seorang kakak, juga gagal di kantor. Sudah dua tahun, tetapi kondisi masih tetap begitu-begitu saja - masih banyak masalah. Saya merasa teman-teman kantor menyerangku, mengorbankanku untuk melindungi diri mereka. Waktu itu saya sudah sangat jenuh, marah dan putus asa. Lalu saya diajak salah satu temanku untuk pindah pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Tapi semua itu tidak menarik perhatianku, karena masalah keluarga dan kejenuhan yang kualami. Ujung-ujungnya, saya mengajukan pengunduran diri di bulan Agustus 2013 - hampir berdekatan dengan Belabar (Belajar Bareng) Idul Fitri. Saya menyempatkan diri mengikuti belabar, di retret ini saya banyak bertanya dan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan di hati saya. Atas kebaikan panitia, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan Om secara pribadi. Semua nasihat Om begitu mengena. Yang kubutuhkan bukan pembenaran atas apa yang saya lakukan, tapi apa yang bisa membuat “hati saya terbuka” (open heart). Selama ini, rasa bersalah karena banyak menyakiti hati orang lain terus menghantuiku, sehingga insomnia adalah makanan sehari-hari.
Selesai retret, saya diizinkan untuk cuti sebulan dengan syarat tidak mengundurkan diri. Saya sendiri juga merasa resign bukan solusi yang tepat atas apa yang saya alami. Saat itu, saya mulai menganalisa kondisi dan keadaanku. Saya bertekad memperbaiki itu semua. Motivasi untuk mengurangi kemarahan. Satu hal yang selalu saya ingat dalam teaching Om adalah bagaimana mengatasi kemarahan, yaitu dengan merasakannya walaupun satu detik. Biasanya ketika marah, kita mengalihkannya atau melampiaskannya. Pelan tapi pasti, saya terus mempraktikkannya. Saat pertama kali bisa merasakan munculnya rasa marah, saya senang sekali! Saya juga bertekad untuk mengurangi tindakan menyakiti hati orang lain.
Selesai cuti sebulan, saya kembali ke kantor dan mendapati atasanku yang lama sudah dipindahkan. Saya mendapat atasan baru yang sangat galak dan berterus-terang, dan saya mendapat predikat manager terjelek sedirektorat. Wow! Kalau sedih sih pasti, tapi saat itu orientasi, tujuan, dan motivasiku sudah lebih jelas. Akhir tahun adalah saat-saat yang sangat sibuk bagi departemen kami, ditambah dengan banyaknya agenda di awal tahun 2012. Alhasil, kami terus-menerus lembur sampai jam 9 malam, bahkan ada masa di mana kami harus lembur sampai pagi, kadangkala akhir pekan juga harus kerja. Kejenuhan, kepenatan dan stres yang sudah mulai berkurang kembali memuncak. Kemarahan kembali timbul: “Kenapa sih kami yang harus lembur? Kok departemen lain pulang, kenapa sih kami yang sudah lembur pun masih disalahkan? Masih ditegur? Masih dianggap jelek?!” Pertanyaan-pertanyaan demikian masih saja muncul, tapi lama-lama saya rasakan saja dan tak lagi langsung bereaksi.
Tahun 2012, saya kembali menyandang predikat manager paling jelek di direktorat kami. Ada rasa mengasihani diri, ada rasa marah saat menanggapi penilaian atasanku. Saya selalu diingatkan oleh atasanku mengenai kegalakanku, mengenai ketidaksukaan teman-teman di kantor. Itu membuat kemarahan kembali timbul, “Mengapa atasan hanya melihat jeleknya saja? Apakah sumbangsih saya selama ini sudah tidak ada artinya? Jika memang perusahaan tidak membutuhkanku, lebih baik saya mengundurkan diri saja!” Tapi, sekali lagi saya tidak jadi mengundurkan diri. Lagi-lagi saya merasa resign tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi sampai saat ini, saya masih bekerja di perusahaan yang sama.
Pernah saya bertanya ke Om dan beliau bilang “Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya,” atau kadang Om tidak membalas email saya, karena Om ingin mendorong saya untuk menganalisa dan menanganinya sendiri. Benar kata Om, kadangkala saya hanya ingin didengarkan. Dengan menulis email, kemudian membaca kembali, saya bisa melihat kondisi dengan lebih jelas dan apa adanya. Meskipun masalah keluarga masih tetap ada, namun bisa saya jalani dengan lebih tenang dan enjoy. Sebelumnya saya menghadapi banyak hal dengan kemarahan dan sering menyalahkan keadaan. Saya terus belajar untuk open heart karena saya merasa topik ini sangat menarik. Saya juga mulai lebih banyak tersenyum, karena Om bilang dengan tersenyum akan membuat orang bahagia. Berkat ajaran yang saya terima, kadar reaksi kemarahan berkurang banyak, minimal saya sudah bisa mengatasi insomnia-ku. Dulu, saya berdana dengan harapan bisa menuai karma baik sehingga jadi lebih kaya, teaching Om mengenai tanha membuka mata hati ini. Sekarang, berdana sudah menjadi aktivitas dengan motivasi berbeda, yakni melatih diri untuk selalu merasa berkecukupan.
Tahun ini, sudah dua orang yang mengatakan wajah saya lebih ceria dan lebih bahagia. Saya sendiri tidak tahu apa yang saya lakukan. Mungkin lebih banyak tersenyum, mungkin sekarang yang saya lakukan hanyalah just do dan hati lebih terbuka (open heart). Sampai-sampai saya dibilang sedang jatuh cinta! Saya memang lagi falling in love with Triratna!
Tahun 2013, saya masih menyandang predikat manager paling jelek ke-3. Lumayan naik 2 tingkat. Hehehe. Meskipun hidupku tidak menjadi lebih mudah, tapi saya berusaha berubah dan membuka hati untuk menghadapi dan menanggulangi apa yang ada. Saya juga berhasil bangun pagi, walaupun masih sering malas. Yang pasti saya berterima kasih bisa bertemu dengan Om, bertemu dengan para Kalyanamitra (sahabat spiritual). Terima kasih teman-teman Potowa, teman-teman retret, terima kasih semuanya. Keluargaku dan teman-temanku setidaknya sudah tidak takut lagi menghadapiku sekarang.
Kantor baru di kota yang baru. Budaya baru. Tak mengenal siapa pun ketika masuk kantor baru dan dihadapkan dengan budaya baru ternyata mendatangkan kendala yang cukup berat. Idealisme dan komitmen yang kumiliki - termasuk budaya kerja yang kuanut selama ini membuat saya mendapat julukan orang yang paling galak sekantor. Tidak lama setelah saya masuk, Manager Departemen dan hampir semua Staf Departemen saya mengundurkan diri - ada yang dipaksa resign karena ketegasan yang saya terapkan. Hal itu tampaknya membawa perbaikan dan perubahan di perusahaan, laporan yang dulunya berantakan, kini menjadi lebih rapi dan lebih tepat waktu. Tetapi, cara yang saya lakukan mungkin tidak tepat, sehingga membuat saya sangat tidak disukai di kantor.
Pertengahan tahun 2011 merupakan masa-masa yang penuh perjuangan, 75% waktu dan konsentrasi kuhabiskan di kantor. Pekerjaan yang sibuk, lembur setiap hari dan juga akhir pekan, membuat semua pikiranku hanya tercurahkan pada kantor. Selain itu, juga masalah keluarga. Ayah sudah meninggal dunia. Berhubung saya adalah anak sulung, semuanya terasa bertumpu di pundakku. Saya merasa harus menjadi superwoman yang mampu melindungi keluargaku. Bulan Juni 2011, semuanya memuncak dan rasanya hidup ini berat sekali. Berkali-kali terpikir untuk berhenti kerja, tapi seperti ada sesuatu yang menghalangi langkah ini. Mungkin karena beban keluarga atau apa pun itu, saya juga tidak bisa menjawab kalau ditanya hal ini. Om pernah mengatakan bahwa tubuh kita akan tahu dan memberikan sinyal. Sekarang saya menyadari semua itu.
Selama tahun 2009 sampai 2011, saya menjadi pegawai kesayangan atasan-atasanku di kantor (sekarang saya menyadari ternyata saat itu ada kondisi yang saya besar-besarkan). Menjadi orang yang selalu dipuji karena mampu mengatasi masalah-masalah di perusahaan membuatku menjadi arogan dan sombong. Juni 2011, saya sharing dan curhat ke Juniarti mengenai kejenuhan, kemumetan, stres yang sudah menyatu dan memuncak. Saat itu, Juniarti mengajakku untuk ikut retret anak SMP/SMA - mungkin jika semuanya tidak memuncak seperti ini, saya tidak bersedia ikut retret. Akhirnya, saya ikut membantu Juniarti dan teman-teman untuk urusan dapur. Saat itu, saya merasakan perbedaan pada teman-teman yang begitu bersahabat dan terbuka. Rasanya nyaman sekali.
Namun setelah retret selesai dan kembali ke aktivitas semula, semua masalah keluarga, masalah kantor kembali memuncak sampai rasanya saya ingin menyerah saja, mau resign loh ya, teman-teman, bukan mau bunuh diri. Karena karir yang dulu menjadi kebanggaanku sudah tidak menarik lagi, saya merasa gagal menjadi seorang kakak, juga gagal di kantor. Sudah dua tahun, tetapi kondisi masih tetap begitu-begitu saja - masih banyak masalah. Saya merasa teman-teman kantor menyerangku, mengorbankanku untuk melindungi diri mereka. Waktu itu saya sudah sangat jenuh, marah dan putus asa. Lalu saya diajak salah satu temanku untuk pindah pekerjaan dengan gaji yang lumayan tinggi. Tapi semua itu tidak menarik perhatianku, karena masalah keluarga dan kejenuhan yang kualami. Ujung-ujungnya, saya mengajukan pengunduran diri di bulan Agustus 2013 - hampir berdekatan dengan Belabar (Belajar Bareng) Idul Fitri. Saya menyempatkan diri mengikuti belabar, di retret ini saya banyak bertanya dan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan di hati saya. Atas kebaikan panitia, saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan Om secara pribadi. Semua nasihat Om begitu mengena. Yang kubutuhkan bukan pembenaran atas apa yang saya lakukan, tapi apa yang bisa membuat “hati saya terbuka” (open heart). Selama ini, rasa bersalah karena banyak menyakiti hati orang lain terus menghantuiku, sehingga insomnia adalah makanan sehari-hari.
Selesai retret, saya diizinkan untuk cuti sebulan dengan syarat tidak mengundurkan diri. Saya sendiri juga merasa resign bukan solusi yang tepat atas apa yang saya alami. Saat itu, saya mulai menganalisa kondisi dan keadaanku. Saya bertekad memperbaiki itu semua. Motivasi untuk mengurangi kemarahan. Satu hal yang selalu saya ingat dalam teaching Om adalah bagaimana mengatasi kemarahan, yaitu dengan merasakannya walaupun satu detik. Biasanya ketika marah, kita mengalihkannya atau melampiaskannya. Pelan tapi pasti, saya terus mempraktikkannya. Saat pertama kali bisa merasakan munculnya rasa marah, saya senang sekali! Saya juga bertekad untuk mengurangi tindakan menyakiti hati orang lain.
Selesai cuti sebulan, saya kembali ke kantor dan mendapati atasanku yang lama sudah dipindahkan. Saya mendapat atasan baru yang sangat galak dan berterus-terang, dan saya mendapat predikat manager terjelek sedirektorat. Wow! Kalau sedih sih pasti, tapi saat itu orientasi, tujuan, dan motivasiku sudah lebih jelas. Akhir tahun adalah saat-saat yang sangat sibuk bagi departemen kami, ditambah dengan banyaknya agenda di awal tahun 2012. Alhasil, kami terus-menerus lembur sampai jam 9 malam, bahkan ada masa di mana kami harus lembur sampai pagi, kadangkala akhir pekan juga harus kerja. Kejenuhan, kepenatan dan stres yang sudah mulai berkurang kembali memuncak. Kemarahan kembali timbul: “Kenapa sih kami yang harus lembur? Kok departemen lain pulang, kenapa sih kami yang sudah lembur pun masih disalahkan? Masih ditegur? Masih dianggap jelek?!” Pertanyaan-pertanyaan demikian masih saja muncul, tapi lama-lama saya rasakan saja dan tak lagi langsung bereaksi.
Tahun 2012, saya kembali menyandang predikat manager paling jelek di direktorat kami. Ada rasa mengasihani diri, ada rasa marah saat menanggapi penilaian atasanku. Saya selalu diingatkan oleh atasanku mengenai kegalakanku, mengenai ketidaksukaan teman-teman di kantor. Itu membuat kemarahan kembali timbul, “Mengapa atasan hanya melihat jeleknya saja? Apakah sumbangsih saya selama ini sudah tidak ada artinya? Jika memang perusahaan tidak membutuhkanku, lebih baik saya mengundurkan diri saja!” Tapi, sekali lagi saya tidak jadi mengundurkan diri. Lagi-lagi saya merasa resign tidak akan menyelesaikan masalah. Jadi sampai saat ini, saya masih bekerja di perusahaan yang sama.
Pernah saya bertanya ke Om dan beliau bilang “Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya,” atau kadang Om tidak membalas email saya, karena Om ingin mendorong saya untuk menganalisa dan menanganinya sendiri. Benar kata Om, kadangkala saya hanya ingin didengarkan. Dengan menulis email, kemudian membaca kembali, saya bisa melihat kondisi dengan lebih jelas dan apa adanya. Meskipun masalah keluarga masih tetap ada, namun bisa saya jalani dengan lebih tenang dan enjoy. Sebelumnya saya menghadapi banyak hal dengan kemarahan dan sering menyalahkan keadaan. Saya terus belajar untuk open heart karena saya merasa topik ini sangat menarik. Saya juga mulai lebih banyak tersenyum, karena Om bilang dengan tersenyum akan membuat orang bahagia. Berkat ajaran yang saya terima, kadar reaksi kemarahan berkurang banyak, minimal saya sudah bisa mengatasi insomnia-ku. Dulu, saya berdana dengan harapan bisa menuai karma baik sehingga jadi lebih kaya, teaching Om mengenai tanha membuka mata hati ini. Sekarang, berdana sudah menjadi aktivitas dengan motivasi berbeda, yakni melatih diri untuk selalu merasa berkecukupan.
Tahun ini, sudah dua orang yang mengatakan wajah saya lebih ceria dan lebih bahagia. Saya sendiri tidak tahu apa yang saya lakukan. Mungkin lebih banyak tersenyum, mungkin sekarang yang saya lakukan hanyalah just do dan hati lebih terbuka (open heart). Sampai-sampai saya dibilang sedang jatuh cinta! Saya memang lagi falling in love with Triratna!
Tahun 2013, saya masih menyandang predikat manager paling jelek ke-3. Lumayan naik 2 tingkat. Hehehe. Meskipun hidupku tidak menjadi lebih mudah, tapi saya berusaha berubah dan membuka hati untuk menghadapi dan menanggulangi apa yang ada. Saya juga berhasil bangun pagi, walaupun masih sering malas. Yang pasti saya berterima kasih bisa bertemu dengan Om, bertemu dengan para Kalyanamitra (sahabat spiritual). Terima kasih teman-teman Potowa, teman-teman retret, terima kasih semuanya. Keluargaku dan teman-temanku setidaknya sudah tidak takut lagi menghadapiku sekarang.
