Cerita tentang Tukang & Bagaimana Menangani Kemarahan
Oleh Lifen
Dihantar pada 3 Juli 2026
Di belabar (belajar bareng alias retret) empat tahun lalu, Om Salim mengatakan tiada yang terlahir sebagai pemarah; marah bukanlah bawaan, tetapi kebiasaan. Dari sana saya belajar bagaimana menangani kemarahan. Saya juga mengubah persepsi mengenai diri saya bahwa saya bukan seorang pemarah dan sampai saat ini saya terus berlatih. Jadi ketika Om Salim meminta untuk merasakan kembali kemarahan terakhir yang kita alami, saya agak bangga, saya pikir saya sudah lama tidak marah.
Namun kira-kira seminggu yang lalu, saya hampir terpancing untuk marah kembali. Tapi waktu itu mungkin saya lebih mindful akan reaksi di tubuh saya. Ceritanya kami mempunyai proyek baru dan proyek sempat tertunda sekitar dua minggu, sehingga bos pemilik proyek sempat bertanya apakah proyek ini bisa dikerjakan dan saya katakan bisa. Kendalanya memang saya kekurangan tukang (pekerja), jadi saya mempekerjakan tukang-tukang baru. Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana hasil kerja tukang-tukang baru ini dan orangnya seperti apa. Akhirnya saya dan tukang-tukang tersebut sepakat dengan harga sekian untuk menyelesaikan proyek dalam jangka waktu tertentu.
Di awal perjanjian kerja, tukang-tukang ini sudah mencoba untuk meminta pinjaman, yang biasanya tidak saya berikan sebelum pekerjaan selesai. Pada waktu yang telah kami tentukan, saya janjian untuk bertemu mereka di lokasi proyek, saya akan membawa perkakas dan besi. Namun setelah saya menunggu selama satu jam, mereka belum juga datang. Waktu saya hubungi via telepon, mereka bilang sedang dalam perjalanan tapi suara di telepon begitu jernih dan sepertinya berbeda jika sedang dalam perjalanan.
Saya tetap menunggu selama satu jam 30 menit. Saat itu saya mulai berpikir “ini cari masalah.” Saat itu kondisi memang mendukung untuk munculnya marah, karena cuaca sangat panas dan tiada seorang pun yang bisa diajak bicara atau diskusi, yang ada hanya satpam dan teknisi lapangan. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di mobil, sambil menyalakan AC dan mendengarkan CD rekaman teaching Om Salim.
Waktu itu saya berpikir bagaimana menyelesaikan ini. Sepertinya jika saya tidak memberikan uang pinjaman, mereka tidak mau bekerja. Tetapi kerjaan belum juga dimulai, saya tidak mungkin memberikan pinjaman. Akhirnya saya menghubungi pemilik proyek, meminta waktu untuk memulai proyek dua hari lagi, yang akhirnya disetujui. Setelah mengambil keputusan ini, saya merasa seperti dipermainkan. Saya sempat berpikir untuk tidak mempekerjakan tukang-tukang ini tapi saya membutuhkan mereka. Kemudian saya mencoba menghubungi mereka kembali dan mereka tetap mengatakan masih dalam perjalanan. Meskipun merasa dipermainkan, saya tetap meminta mereka datang ke lapangan dan saya akan menunggu. Saya bilang bahwa saya sudah menunggu selama 3 jam di sini dan masih ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan.
Setelah menunggu selama lima jam, akhirnya saya mengambil keputusan untuk tidak mempekerjakan mereka. Saya meminta satpam di sana untuk membantu saya menurunkan perkakas dari mobil dan saya memberikan sedikit uang. Saat itu, energi kemarahan dalam diri saya, saya gunakan untuk membantu menurunkan barang-barang. Saat kami sedang memindahkan barang, tukang-tukang tersebut datang. Saya katakan kepada mereka bahwa sepertinya kami tidak cocok, apa yang saya mau dan mereka mau tidak sesuai. Untuk proyek ini, selama perjalanan mereka ke sini, saya sudah mencari dan sepakat dengan tukang yang lain. Jika memang ada proyek berikutnya dan mereka berkenan, kami bisa bekerja sama. Dan saat mereka menawarkan diri untuk membantu menurunkan barang, saya tolak dengan baik-baik.
Setelah selesai menurunkan dan memindahkan barang, saya masuk kembali ke dalam mobil dan tubuh saya gemetaran! Saat itu saya tahu saya sedang menahan marah tapi saya berusaha untuk tidak meledak atau melampiaskannya ke orang lain. Saya rasa sudah ada sedikit perkembangan dalam diri saya ketika menangani kemarahan. Terima kasih.
Namun kira-kira seminggu yang lalu, saya hampir terpancing untuk marah kembali. Tapi waktu itu mungkin saya lebih mindful akan reaksi di tubuh saya. Ceritanya kami mempunyai proyek baru dan proyek sempat tertunda sekitar dua minggu, sehingga bos pemilik proyek sempat bertanya apakah proyek ini bisa dikerjakan dan saya katakan bisa. Kendalanya memang saya kekurangan tukang (pekerja), jadi saya mempekerjakan tukang-tukang baru. Sebenarnya saya tidak tahu bagaimana hasil kerja tukang-tukang baru ini dan orangnya seperti apa. Akhirnya saya dan tukang-tukang tersebut sepakat dengan harga sekian untuk menyelesaikan proyek dalam jangka waktu tertentu.
Di awal perjanjian kerja, tukang-tukang ini sudah mencoba untuk meminta pinjaman, yang biasanya tidak saya berikan sebelum pekerjaan selesai. Pada waktu yang telah kami tentukan, saya janjian untuk bertemu mereka di lokasi proyek, saya akan membawa perkakas dan besi. Namun setelah saya menunggu selama satu jam, mereka belum juga datang. Waktu saya hubungi via telepon, mereka bilang sedang dalam perjalanan tapi suara di telepon begitu jernih dan sepertinya berbeda jika sedang dalam perjalanan.
Saya tetap menunggu selama satu jam 30 menit. Saat itu saya mulai berpikir “ini cari masalah.” Saat itu kondisi memang mendukung untuk munculnya marah, karena cuaca sangat panas dan tiada seorang pun yang bisa diajak bicara atau diskusi, yang ada hanya satpam dan teknisi lapangan. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu di mobil, sambil menyalakan AC dan mendengarkan CD rekaman teaching Om Salim.
Waktu itu saya berpikir bagaimana menyelesaikan ini. Sepertinya jika saya tidak memberikan uang pinjaman, mereka tidak mau bekerja. Tetapi kerjaan belum juga dimulai, saya tidak mungkin memberikan pinjaman. Akhirnya saya menghubungi pemilik proyek, meminta waktu untuk memulai proyek dua hari lagi, yang akhirnya disetujui. Setelah mengambil keputusan ini, saya merasa seperti dipermainkan. Saya sempat berpikir untuk tidak mempekerjakan tukang-tukang ini tapi saya membutuhkan mereka. Kemudian saya mencoba menghubungi mereka kembali dan mereka tetap mengatakan masih dalam perjalanan. Meskipun merasa dipermainkan, saya tetap meminta mereka datang ke lapangan dan saya akan menunggu. Saya bilang bahwa saya sudah menunggu selama 3 jam di sini dan masih ada pekerjaan lain yang harus saya lakukan.
Setelah menunggu selama lima jam, akhirnya saya mengambil keputusan untuk tidak mempekerjakan mereka. Saya meminta satpam di sana untuk membantu saya menurunkan perkakas dari mobil dan saya memberikan sedikit uang. Saat itu, energi kemarahan dalam diri saya, saya gunakan untuk membantu menurunkan barang-barang. Saat kami sedang memindahkan barang, tukang-tukang tersebut datang. Saya katakan kepada mereka bahwa sepertinya kami tidak cocok, apa yang saya mau dan mereka mau tidak sesuai. Untuk proyek ini, selama perjalanan mereka ke sini, saya sudah mencari dan sepakat dengan tukang yang lain. Jika memang ada proyek berikutnya dan mereka berkenan, kami bisa bekerja sama. Dan saat mereka menawarkan diri untuk membantu menurunkan barang, saya tolak dengan baik-baik.
Setelah selesai menurunkan dan memindahkan barang, saya masuk kembali ke dalam mobil dan tubuh saya gemetaran! Saat itu saya tahu saya sedang menahan marah tapi saya berusaha untuk tidak meledak atau melampiaskannya ke orang lain. Saya rasa sudah ada sedikit perkembangan dalam diri saya ketika menangani kemarahan. Terima kasih.
