Menutup Babak Lama Dengan Baik dan Berlanjut
Oleh Minah
Dihantar pada 3 Juli 2026
Dalam belabar (belajar bareng) tahun 2011, saya sempat sharing mengenai pekerjaan saya yang cukup stabil, cukup secure dengan posisi yang cukup dianggap oleh bos saya. Namun beberapa bulan setelah belabar, terjadi perubahan signifikan. CEO perusahaan keluar dan digantikan oleh CEO cluster sementara yang membawahi Asia Tenggara. CEO cluster yang baru tidak puas karena kinerja perusahaan tahun lalu sehingga mengadakan perubahan struktur organisasi dan perubahan ekspektasi yang lebih dari sebelumnya.
CEO cluster merasa saya tidak punya kemampuan untuk memenuhi ekspektasi barunya dan hal ini disampaikannya melalui atasan saya. Atasan saya yang mengetahui kinerja saya berusaha membela saya namun CEO cluster bersikukuh pada pendiriannya dan meminta mencari orang lain untuk menggantikan saya. Akhirnya, atasan saya menawarkan posisi lain kepada saya dan hal ini membuat saya syok. Tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, saya merasa langsung didakwa. Apa yang pernah saya ungkap di belabar bahwa saya bekerja tanpa ekspektasi, tidak mengharapkan pangkat, kenaikan gaji, ataupun bonus seakan-akan menguap, perasaan saya terluka. Ternyata di dalam hati, saya ingin penerimaan dan pengakuan.
Saya tidak menyalahkan atasan saya tapi saya tidak bisa membohongi diri kalau saya sakit hati, marah dan mulai menyesali pengabdian saya selama tujuh tahun ini. Perasaan ini terus berkecamuk dan meledak pada saat saya berbicara dengan kepala HRD. Saya mengatakan kepadanya bahwa perusahaan lain masih membutuhkan saya jika di sini saya sudah tidak dibutuhkan lagi. Kepala HRD meminta saya untuk menenangkan diri dengan mengambil cuti tiga hari. Itu adalah cuti yang melelahkan karena setiap hari saya terus berpikir, khawatir dan bingung mengenai keputusan apa yang sebaiknya diambil.
Hari minggu saya menghadiri diskusi Potowa Center yang secara rutin dilakukan. Dalam diskusi itu, seorang teman menyarankan saya untuk memikirkan apa yang paling berat yang akan terjadi dan apakah hal tersebut bisa saya terima atau tidak? Selain itu dia juga mengatakan, “Kalau pekerjaan saja tidak bisa ditinggalkan, bagaimana bila kita harus meninggalkan tubuh ini?” Kata-katanya terus terngiang di kepala saya. Saya sadar ketakutan terbesar saya adalah tidak tahu mau ngapain jika saya berhenti kerja dan saya malu dengan gelar pengangguran. Teman saya menanggapi keresahan saya dan bertanya mengapa harus takut dengan kata-kata orang jika memang itu yang terbaik yang harus dilakukan. Kita sendirilah yang mengambil keputusan, orang lain hanya memberikan masukan, pendapat, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menentukan langkah berikutnya.
Hari berikutnya, saya datang menemui atasan langsung dan mengatakan jika perusahaan masih membutuhkan saya, saya akan terus bekerja di perusahaan ini, tetapi bila perusahaan tidak membutuhkan saya lagi, silakan saya diproses sesuai prosedur yang ada. Kemudian saya menghadap HRD, saat itu emosi, rasa marah dan sakit hati kembali muncul sehingga menimbulkan perdebatan yang cukup sengit. Saya menuntut pesangon sesuai undang-undang yang berlaku terkait dengan PHK, namun HRD mengatakan kasus ini tidak bisa mengacu pada undang-undang karena perusahan bukan memecat tapi hanya memindahkan saya. Saat saya marah sekali, tiba-tiba saya sadar emosi saya sudah terpancing. Akhirnya saya mundur dan meminjam ruangan teman kantor saya yang tertutup, dan saya menangis di situ.
Setelah agak tenang saya kembali menghadap HRD dan meminta maaf karena sudah bersikap emosional. Saya mencoba membuka hati, berkomunikasi namun juga berperang dengan diri sendiri. Saya mencoba menerapkan apa yang sudah Om ajarkan, namun itu sulit sekali. Sempat terpikir masa bodoh dengan perusahaan ini dan saya tidak peduli dengan pekerjaan yang pending. Cukup lama saya bernegosiasi dengan diri saya sendiri sampai akhirnya saya bisa menerima apa yang terjadi. Inilah anicca, proses perubahan yang terjadi dalam beberapa bulan sejak saya sharing di belabar. Dari sini saya belajar bahwa apa pun yang sudah kita rencanakan, apa pun yang sudah kita buat belum tentu akan berjalan sesuai dengan rencana, semua itu bisa berubah dan kita tidak bisa mengontrol itu. Sebelumnya saya pikir ini tidak mungkin terjadi pada saya karena saya selalu melakukan “lebih.”
Pada saat memutuskan keluar, saya sempat kembali merasa takut bagaimana ke depannya. Tetapi saya sadar, saya tidak bisa selamanya takut dan yang terpenting adalah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Om Salim juga berpesan agar saya menutup babak saya dengan perusahaan lama secara baik. Saya rasa saya bisa dan akan melakukannya. Saya telah menutup babak ini dengan baik. Saya menyelesaikan semua urusan di kantor lama dengan baik.
Selepas dari perusahaan lama, saya mendapatkan pekerjaan baru dengan bidang yang sama seperti perusahaan sebelumnya. Sebelum memutuskan untuk menerima pekerjaan baru ini, saya bertanya dan memastikan apakah perusahaan baru ini memiliki pembukuan yang bersih dan transparan, tidak mempunyai pembukuan ganda, dan membayar pajak menurut ketentuan yang berlaku. Setelah semua ini saya tanyakan dan pastikan, saya baru melangkah ke tahap selanjutnya. Hal ini saya lakukan karena saya memiliki standar seperti yang pernah Om jelaskan, dan saya berusaha memegang standar itu.
CEO cluster merasa saya tidak punya kemampuan untuk memenuhi ekspektasi barunya dan hal ini disampaikannya melalui atasan saya. Atasan saya yang mengetahui kinerja saya berusaha membela saya namun CEO cluster bersikukuh pada pendiriannya dan meminta mencari orang lain untuk menggantikan saya. Akhirnya, atasan saya menawarkan posisi lain kepada saya dan hal ini membuat saya syok. Tanpa diberi kesempatan untuk mengembangkan diri, saya merasa langsung didakwa. Apa yang pernah saya ungkap di belabar bahwa saya bekerja tanpa ekspektasi, tidak mengharapkan pangkat, kenaikan gaji, ataupun bonus seakan-akan menguap, perasaan saya terluka. Ternyata di dalam hati, saya ingin penerimaan dan pengakuan.
Saya tidak menyalahkan atasan saya tapi saya tidak bisa membohongi diri kalau saya sakit hati, marah dan mulai menyesali pengabdian saya selama tujuh tahun ini. Perasaan ini terus berkecamuk dan meledak pada saat saya berbicara dengan kepala HRD. Saya mengatakan kepadanya bahwa perusahaan lain masih membutuhkan saya jika di sini saya sudah tidak dibutuhkan lagi. Kepala HRD meminta saya untuk menenangkan diri dengan mengambil cuti tiga hari. Itu adalah cuti yang melelahkan karena setiap hari saya terus berpikir, khawatir dan bingung mengenai keputusan apa yang sebaiknya diambil.
Hari minggu saya menghadiri diskusi Potowa Center yang secara rutin dilakukan. Dalam diskusi itu, seorang teman menyarankan saya untuk memikirkan apa yang paling berat yang akan terjadi dan apakah hal tersebut bisa saya terima atau tidak? Selain itu dia juga mengatakan, “Kalau pekerjaan saja tidak bisa ditinggalkan, bagaimana bila kita harus meninggalkan tubuh ini?” Kata-katanya terus terngiang di kepala saya. Saya sadar ketakutan terbesar saya adalah tidak tahu mau ngapain jika saya berhenti kerja dan saya malu dengan gelar pengangguran. Teman saya menanggapi keresahan saya dan bertanya mengapa harus takut dengan kata-kata orang jika memang itu yang terbaik yang harus dilakukan. Kita sendirilah yang mengambil keputusan, orang lain hanya memberikan masukan, pendapat, karena pada akhirnya kita sendiri yang akan menentukan langkah berikutnya.
Hari berikutnya, saya datang menemui atasan langsung dan mengatakan jika perusahaan masih membutuhkan saya, saya akan terus bekerja di perusahaan ini, tetapi bila perusahaan tidak membutuhkan saya lagi, silakan saya diproses sesuai prosedur yang ada. Kemudian saya menghadap HRD, saat itu emosi, rasa marah dan sakit hati kembali muncul sehingga menimbulkan perdebatan yang cukup sengit. Saya menuntut pesangon sesuai undang-undang yang berlaku terkait dengan PHK, namun HRD mengatakan kasus ini tidak bisa mengacu pada undang-undang karena perusahan bukan memecat tapi hanya memindahkan saya. Saat saya marah sekali, tiba-tiba saya sadar emosi saya sudah terpancing. Akhirnya saya mundur dan meminjam ruangan teman kantor saya yang tertutup, dan saya menangis di situ.
Setelah agak tenang saya kembali menghadap HRD dan meminta maaf karena sudah bersikap emosional. Saya mencoba membuka hati, berkomunikasi namun juga berperang dengan diri sendiri. Saya mencoba menerapkan apa yang sudah Om ajarkan, namun itu sulit sekali. Sempat terpikir masa bodoh dengan perusahaan ini dan saya tidak peduli dengan pekerjaan yang pending. Cukup lama saya bernegosiasi dengan diri saya sendiri sampai akhirnya saya bisa menerima apa yang terjadi. Inilah anicca, proses perubahan yang terjadi dalam beberapa bulan sejak saya sharing di belabar. Dari sini saya belajar bahwa apa pun yang sudah kita rencanakan, apa pun yang sudah kita buat belum tentu akan berjalan sesuai dengan rencana, semua itu bisa berubah dan kita tidak bisa mengontrol itu. Sebelumnya saya pikir ini tidak mungkin terjadi pada saya karena saya selalu melakukan “lebih.”
Pada saat memutuskan keluar, saya sempat kembali merasa takut bagaimana ke depannya. Tetapi saya sadar, saya tidak bisa selamanya takut dan yang terpenting adalah melakukan yang terbaik yang bisa dilakukan. Om Salim juga berpesan agar saya menutup babak saya dengan perusahaan lama secara baik. Saya rasa saya bisa dan akan melakukannya. Saya telah menutup babak ini dengan baik. Saya menyelesaikan semua urusan di kantor lama dengan baik.
Selepas dari perusahaan lama, saya mendapatkan pekerjaan baru dengan bidang yang sama seperti perusahaan sebelumnya. Sebelum memutuskan untuk menerima pekerjaan baru ini, saya bertanya dan memastikan apakah perusahaan baru ini memiliki pembukuan yang bersih dan transparan, tidak mempunyai pembukuan ganda, dan membayar pajak menurut ketentuan yang berlaku. Setelah semua ini saya tanyakan dan pastikan, saya baru melangkah ke tahap selanjutnya. Hal ini saya lakukan karena saya memiliki standar seperti yang pernah Om jelaskan, dan saya berusaha memegang standar itu.
