Belabar 2013: Bertemu Dengan Jawaban Kehidupan
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Kesan pertama yang mengesankan. Akhirnya saya menemukan rumah di mana saya bisa melabuhkan semua Dharma yang telah saya petik sejak dulu, karena sangat capek untuk terus memikul semua konsep, teori dan pengetahuan yang sudah saya peluk tanpa mentransformasikan ke dalam kenyataan di dunia saya. Saya akhirnya dipertemukan dengan jawaban... rasanya sangat lega, sangat bebas, dan tentu bahagia. Semua yang terjadi saling bertalian, bahkan kepak sayap kupu-kupu di benua lain juga berhubungan dengan kita. Takjub melihat diri saya sendiri yang akhirnya tidak harus melakukan apa-apa untuk berusaha membuat orang lain terkesan, takjub melihat manusia-manusia yang begitu indah dan apa adanya, lengkap dengan kebaikan hati mereka yang tulus dan keceriaan yang membahana di mana-mana. Takjub melihat saya di depan cermin sambil berujar "I'm perfect" tanpa harus ada komentar untuk memperbaiki apa pun. Dan... takjub mendapati diri saya dipenuhi dengan rasa ingin tahu yang membuncah, yang akhirnya menjelma menjadi riak yang menenangkan.
Kalau dipikir-pikir, kami hanya memakai waktu 4 setengah hari untuk duduk di Dharmasala bersama, mendiskusikan apa yang telah Buddha babarkan 2.500 tahun yang lalu, kemudian mengaitkan ke dalam hidup kami sekarang. Namun, efek yang sangat ajaib... kepala saya seakan ditoyor berkali-kali. Berkali-kali. Sampai di hari ke-3, nyut-nyutan. Haha! Kami telah sangat lama hidup berdasar atas kebiasaan, dan sekarang semua cara pandang kami diputar, dipelintir dan dihadapkan dengan 'kenyataan' yang lebih nyata dan rasional:
“Ternyata apa yang kami lihat selama ini hanyalah persepsi yang segera kita terjemahkan menjadi konsep, yang hanya ada di alam pikir kita sendiri. Contoh pada saat kita melihat buah apel, akan segera mengenalnya sebagai apel, padahal itu hanya bentuk dan warna saja. Lalu lahirlah konsep mengenai apel yang manis, kaya serat (apa pun ... apa pun yang kita ketahui sebagai apel berdasarkan pengalaman kita – dan tentu saja pengalaman setiap orang berbeda-beda) dan langsung beranggapan: "apel ini enak." Padahal kita belum pernah mencicipi rasa apel yang ini.
Demikian juga dengan hidup ini, kita lebih dulu dikuasai oleh asumsi-asumsi mengenai orang tertentu, hal tertentu dan buru-buru melabeli mereka sesuai pengalaman kita, dan menutup kesempatan untuk mengenali mereka sebagai manusia apa adanya. Pelajaran ini mengajarkan saya untuk mencoba melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa harapan, tanpa ekspektasi, tanpa ketakutan, dan membuka pintu hati saya untuk menerima sesuatu sebagaimana adanya.”
Banyak. Banyak sekali fenomena yang akhirnya lamat-lamat melapangkan pikiran dan hati saya. Tumpah ruah. Bahagia seperti ini terus berpendar, menggelitik dan terjadi dengan sangat sederhana. Bahagia, bebas dari penderitaan ternyata sebegitu sederhananya (tapi tak berarti mudah); saking sederhananya kami sampai tidak mampu mempercayainya.
Bahagia adalah rasa kenyang yang berkecukupan saat bermangkuk-mangkuk bakmi medan terhampar di sekeliling kita, dan kita tidak harus memakan semuanya sampai muntah.
Bahagia adalah menikmati suara kembang api yang terus meletus-letus di kala hening malam memeluk – dan tidak lagi merutuk, begitu pula dengan suara dengkuran saat lelap mengetuk.
Bahagia adalah momen perasaan yang lega, karena tidak harus menghindari kesenangan (yang selalu saya percayai akan membawa penderitaan pada akhirnya). Punya kapasitas untuk menikmati kesenangan itu sendiri tanpa terikat, tanpa menjadikan kesenangan sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi senang.
Bahagia ternyata sebegitu sederhananya.
Seperti kaos putih polos yang kami kenakan bersama dengan name-tag masing-masing. Bagi saya, kaos putih polos ini sangat berarti (bukan seperti anggapan saya sebelumnya, "kaos putih polos kan cuma dipakai pada saat acara duka" – lagi-lagi mengenai konsepsi), namun lebih-lebih kepada pencopotan atribut yang selalu kita kenakan secara berlebihan untuk mencipta identitas masing-masing. Saya bebas dalam kaos putih polos, rambut buntut kuda (yang kadang hanya disisir jari), namun siapa peduli? Kita hanya ingin melebur bersama-sama dalam keindahan Dharma.
Jadi, ketika hari terakhir tiba, saat semua peserta sudah kembali 'berwarna-warni', saya sedikit kaget dan perlu beradaptasi lagi. Bagaimana pun, mereka semua adalah sahabat-sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu, lalu bersama-sama (lagi) belajar menapak di jalan yang benar. Dari hati saya yang terdalam, terima kasih ya.
Bertemu dengan Om Salim dan ajaran yang beliau sampaikan adalah berkah untuk bersentuhan langsung dengan kebijaksanaan, yang muncul dari kebaikan hati yang tulus. Beliau membuktikan bahwa Dharma mampu dipraktikkan dengan sangat manusiawi, dengan kadar yang pas, dan membuat hidup terasa ringan tanpa harus mengikat dan membatasi diri di sana-sini. Setiap tindakan kecil dan ucapan beliau menyentuh manusia yang hidup di diri saya, menuntun saya ‘melihat’ lebih jernih.
Kini, para pendekar sudah turun gunung, meleleh bersama semesta mereka masing-masing. Dan apa bekal yang mereka bawa?
● Menjadi manusia yang aktif dalam cinta kasih. Tidak hanya "semoga semua makhluk hidup berbahagia" namun turut serta dalam menciptakan kebahagiaan itu. Tindakan membantu orang lain yang nyata, aktif, dan melimpahkan semua kebajikan yang kita perbuat kepada orang-orang, dimulai dari orang terdekat dan yang kita tahu.
● Be groundless. Tidak bertumpu pada 'cerita' yang terus-menerus kita ciptakan sendiri, namun melihat semuanya sebagaimana adanya. Terus bergerak dan mengalami, dari momen satu ke momen lainnya. Hidup adalah mengalami secara utuh.
● Semua yang terjadi hanya terjadi pada diri kita, pada alam kita sendiri. "Ada buku resep memasak lontong opor, namun tidak ada buku tentang cara menikmati lontong opor.” Jadi, nikmatilah dengan cara anda sendiri. Adakan dan siapkan kondisi-kondisi untuk bahagia, lalu bahagia itu akan hadir dengan sendirinya. Istilah "bika ambon" selalu mengena: “Siapkan saja bahan-bahannya, ikuti instruksinya, masukkan ke dalam oven. Voila! Bika ambonnya jadi sendiri! Bahagia bukanlah tujuan, bahagia adalah keadaan di mana tidak ada lagi kondisi-kondisi yang membuat kita tidak bahagia.
● Pentingnya bhavana (menumbuh-kembangkan ketajaman pikiran dan kapasitas) dalam hidup sehari-hari, karena dengan meningkatnya kapasitas, kita memiliki lebih banyak opsi dan kreativitas. Meditasi. Bersemeleh. Body like mountain, breath like wind, mind like sky.
● Pikiran bukanlah masalah kita. Masalah kita adalah terbawa dan mengejar pikiran-pikiran yang timbul. Amati saja pikiran yang berkelebat tanpa memikirkannya. Seperti mengamati dedaunan kering yang berjatuhan tanpa berusaha mengejarnya.
● Hidup tanpa penyesalan. “Saya telah melakukan yang terbaik, setiap saat.” Karena apa pun yang kamu putuskan semengerti kamu, dengan itikad yang baik dan tujuan yang bersih, itu sudah menjadi keputusan yang terbaik.
● BERANI MENGHADAPI APA YANG TELAH KITA LAKUKAN & MENGETAHUI DENGAN JELAS APA YANG MAU DAN HARUS KITA LAKUKAN ... dan mereka masih bisa memaknai segala yang didapat sesuai apa yang mereka tahu.
Kalau dipikir-pikir, kami hanya memakai waktu 4 setengah hari untuk duduk di Dharmasala bersama, mendiskusikan apa yang telah Buddha babarkan 2.500 tahun yang lalu, kemudian mengaitkan ke dalam hidup kami sekarang. Namun, efek yang sangat ajaib... kepala saya seakan ditoyor berkali-kali. Berkali-kali. Sampai di hari ke-3, nyut-nyutan. Haha! Kami telah sangat lama hidup berdasar atas kebiasaan, dan sekarang semua cara pandang kami diputar, dipelintir dan dihadapkan dengan 'kenyataan' yang lebih nyata dan rasional:
“Ternyata apa yang kami lihat selama ini hanyalah persepsi yang segera kita terjemahkan menjadi konsep, yang hanya ada di alam pikir kita sendiri. Contoh pada saat kita melihat buah apel, akan segera mengenalnya sebagai apel, padahal itu hanya bentuk dan warna saja. Lalu lahirlah konsep mengenai apel yang manis, kaya serat (apa pun ... apa pun yang kita ketahui sebagai apel berdasarkan pengalaman kita – dan tentu saja pengalaman setiap orang berbeda-beda) dan langsung beranggapan: "apel ini enak." Padahal kita belum pernah mencicipi rasa apel yang ini.
Demikian juga dengan hidup ini, kita lebih dulu dikuasai oleh asumsi-asumsi mengenai orang tertentu, hal tertentu dan buru-buru melabeli mereka sesuai pengalaman kita, dan menutup kesempatan untuk mengenali mereka sebagai manusia apa adanya. Pelajaran ini mengajarkan saya untuk mencoba melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa harapan, tanpa ekspektasi, tanpa ketakutan, dan membuka pintu hati saya untuk menerima sesuatu sebagaimana adanya.”
Banyak. Banyak sekali fenomena yang akhirnya lamat-lamat melapangkan pikiran dan hati saya. Tumpah ruah. Bahagia seperti ini terus berpendar, menggelitik dan terjadi dengan sangat sederhana. Bahagia, bebas dari penderitaan ternyata sebegitu sederhananya (tapi tak berarti mudah); saking sederhananya kami sampai tidak mampu mempercayainya.
Bahagia adalah rasa kenyang yang berkecukupan saat bermangkuk-mangkuk bakmi medan terhampar di sekeliling kita, dan kita tidak harus memakan semuanya sampai muntah.
Bahagia adalah menikmati suara kembang api yang terus meletus-letus di kala hening malam memeluk – dan tidak lagi merutuk, begitu pula dengan suara dengkuran saat lelap mengetuk.
Bahagia adalah momen perasaan yang lega, karena tidak harus menghindari kesenangan (yang selalu saya percayai akan membawa penderitaan pada akhirnya). Punya kapasitas untuk menikmati kesenangan itu sendiri tanpa terikat, tanpa menjadikan kesenangan sebagai satu-satunya alasan untuk menjadi senang.
Bahagia ternyata sebegitu sederhananya.
Seperti kaos putih polos yang kami kenakan bersama dengan name-tag masing-masing. Bagi saya, kaos putih polos ini sangat berarti (bukan seperti anggapan saya sebelumnya, "kaos putih polos kan cuma dipakai pada saat acara duka" – lagi-lagi mengenai konsepsi), namun lebih-lebih kepada pencopotan atribut yang selalu kita kenakan secara berlebihan untuk mencipta identitas masing-masing. Saya bebas dalam kaos putih polos, rambut buntut kuda (yang kadang hanya disisir jari), namun siapa peduli? Kita hanya ingin melebur bersama-sama dalam keindahan Dharma.
Jadi, ketika hari terakhir tiba, saat semua peserta sudah kembali 'berwarna-warni', saya sedikit kaget dan perlu beradaptasi lagi. Bagaimana pun, mereka semua adalah sahabat-sahabat lama yang dipertemukan kembali oleh waktu, lalu bersama-sama (lagi) belajar menapak di jalan yang benar. Dari hati saya yang terdalam, terima kasih ya.
Bertemu dengan Om Salim dan ajaran yang beliau sampaikan adalah berkah untuk bersentuhan langsung dengan kebijaksanaan, yang muncul dari kebaikan hati yang tulus. Beliau membuktikan bahwa Dharma mampu dipraktikkan dengan sangat manusiawi, dengan kadar yang pas, dan membuat hidup terasa ringan tanpa harus mengikat dan membatasi diri di sana-sini. Setiap tindakan kecil dan ucapan beliau menyentuh manusia yang hidup di diri saya, menuntun saya ‘melihat’ lebih jernih.
Kini, para pendekar sudah turun gunung, meleleh bersama semesta mereka masing-masing. Dan apa bekal yang mereka bawa?
● Menjadi manusia yang aktif dalam cinta kasih. Tidak hanya "semoga semua makhluk hidup berbahagia" namun turut serta dalam menciptakan kebahagiaan itu. Tindakan membantu orang lain yang nyata, aktif, dan melimpahkan semua kebajikan yang kita perbuat kepada orang-orang, dimulai dari orang terdekat dan yang kita tahu.
● Be groundless. Tidak bertumpu pada 'cerita' yang terus-menerus kita ciptakan sendiri, namun melihat semuanya sebagaimana adanya. Terus bergerak dan mengalami, dari momen satu ke momen lainnya. Hidup adalah mengalami secara utuh.
● Semua yang terjadi hanya terjadi pada diri kita, pada alam kita sendiri. "Ada buku resep memasak lontong opor, namun tidak ada buku tentang cara menikmati lontong opor.” Jadi, nikmatilah dengan cara anda sendiri. Adakan dan siapkan kondisi-kondisi untuk bahagia, lalu bahagia itu akan hadir dengan sendirinya. Istilah "bika ambon" selalu mengena: “Siapkan saja bahan-bahannya, ikuti instruksinya, masukkan ke dalam oven. Voila! Bika ambonnya jadi sendiri! Bahagia bukanlah tujuan, bahagia adalah keadaan di mana tidak ada lagi kondisi-kondisi yang membuat kita tidak bahagia.
● Pentingnya bhavana (menumbuh-kembangkan ketajaman pikiran dan kapasitas) dalam hidup sehari-hari, karena dengan meningkatnya kapasitas, kita memiliki lebih banyak opsi dan kreativitas. Meditasi. Bersemeleh. Body like mountain, breath like wind, mind like sky.
● Pikiran bukanlah masalah kita. Masalah kita adalah terbawa dan mengejar pikiran-pikiran yang timbul. Amati saja pikiran yang berkelebat tanpa memikirkannya. Seperti mengamati dedaunan kering yang berjatuhan tanpa berusaha mengejarnya.
● Hidup tanpa penyesalan. “Saya telah melakukan yang terbaik, setiap saat.” Karena apa pun yang kamu putuskan semengerti kamu, dengan itikad yang baik dan tujuan yang bersih, itu sudah menjadi keputusan yang terbaik.
● BERANI MENGHADAPI APA YANG TELAH KITA LAKUKAN & MENGETAHUI DENGAN JELAS APA YANG MAU DAN HARUS KITA LAKUKAN ... dan mereka masih bisa memaknai segala yang didapat sesuai apa yang mereka tahu.
"Hidup bagai ombak di lautan raya. Naik... dan turun.
Jangan hanya terombang-ambing di atasnya, tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Menyelamlah!
Rasakan betapa tenangnya samudra... atau tetap berada di atas lautan sambil menaiki papan selancar.
Ombak naik turun, dan kita tetap senang! woohooo!"
No hope. No fear. No expectation.
Terima Kasih, Om Salim.
Untuk ajaran yang begitu hebat dan berharga.
Saya akan terus pertemukan mereka dengan hidup saya. Selalu.
Sharing oleh seorang peserta belabar Lebaran 2013
