Dialog dengan Seorang Pengurus: Virya, Fokus, Keterbukaan Hati dan Sustainability

Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Bagaimanakah virya, fokus, keterbukaan hati, ‘sustainability’ dan teknologi berperan dalam pengembangan diri dan aktivitas Dharma. Inilah sebuah dialog dengan salah seorang pengurus Potowa Center.

T: Bagaimana Anda mempunyai minat mendalam pada projek penerjemahan teks-teks Dharma?

J: Saya senang membaca sutra, sutta dan buku-buku Dharma. Mengordinir projek terjemahan membuat saya banyak belajar dalam proses ini. Om (panggilan kami untuk Up. Salim Lee, Guru utama Potowa Center) sering menekankan bahwa apa pun yang kita lakukan adalah praktik kita. Dalam menerjemahkan misalnya, jika ada kata-kata yang tidak dimengerti, bisa kita cari tahu, berdiskusi bersama teman-teman, dengan demikian pemahaman kita menjadi lebih mendalam. Dalam melakukan apa pun, hendaknya kita tidak "sekedar melakukan tugas" seolah-olah ada pemisahan antara apa yang kita lakukan dengan "hidup" kita. Juga penting untuk tetap fokus. Mungkin ada saat-saat kita merasa "stuck" alias buntu hingga enggan mengerjakannya. Selama kita tetap fokus, kita akan kembali ke hal yang ingin kita kerjakan. Membaca buku Dharma, sutta, sutra dll tidak selalu konseptual namun bisa begitu menggerakkan hati kita, melandasi tindakan kita.

T: Anda mengatakan beberapa tahun terakhir ini banyak belajar tentang ‘serving others’ dan keterbukaan. Bisa tolong dielaborasi?

J: Saya sangat terinspirasi dengan apa yang Om lakukan. Sesibuk apa pun atau capeknya, Om tetap berusaha membantu atau menjawab hal-hal yang ditanyakan. Dulu, saya tidak banyak meluangkan waktu untuk orang lain, mungkin lebih nyaman dengan diri sendiri. Misalnya ketika menerima sms dari orang lain, reaksi awal adalah 'apa lagi yang dia inginkan,' 'begitu saja tidak bisa cari tahu sendiri,' dsb. Saya takut repot dan tak mau susah. Sekarang pemikirannya sedikit berubah. Orang sms atau bbm karena mereka ingin ‘share’ atau mungkin perlu menanyakan sesuatu. Lagi pula tidak semua sms atau bbm harus dijawab saat itu juga. Jika sedang sibuk, saya bisa menjawabnya pas makan siang, sore atau malam. Jadi belajar lebih terbuka, lebih peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling kita.

T: Bagaimana Anda mengatasi kemalasan yang muncul?

J: Apa pun yang bisa kita lakukan, lakukanlah sekarang. Jangan menunda-nunda. Belum tentu esok kita akan bertemu kondisi yang mendukung. Setiap saat kondisi berubah. Ambil contoh badan ini. Beberapa tahun lalu, saya bisa beraktivitas dari pagi hingga malam dan badan masih okay. Faktor "U" tak bisa diabaikan. Hahaha. Menjelang sore atau malam, badan ini rasanya udah capek. Tak seperti dulu. Yang jelas sel-sel tubuh berubah termasuk ketahanan tubuh. Kita hendaknya jangan take things for granted. Hargai apa yang telah Om ajarkan kepada kita dengan menjalankan Dharma sebaik-baiknya. Mulai sedikit demi sedikit dan mulai sekarang! Kondisi kita akan tetap up and down namun jika kita hadir saat demi saat, mudah-mudahan kita tak terlalu terbebani oleh kejadian masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Satu per satu kita selesaikan. Apa pun yang muncul, kita tangani. Tiada jalan lain . Toh sudah muncul, jadi ya dihadapi daripada ditekan atau ditolak.

T: Ide ‘sustainability’ semakin semarak. Bagaimana hal ini bisa dihubungkan dengan Dharma?

J: Seorang engineer dari Google pernah membuat contoh tentang "sustainability." Mungkin kita ingin melakukan atau memulai sesuatu, tapi sepertinya selalu ada ‘halangan,’ entah berpikir tidak mampu, entah enggan memulai, dsb. Beliau memberi contoh menulis novel berisi 50.000 kata dalam sebulan, itu dilakoni setiap hari, jadi dalam sehari beliau menulis sekitar 1.667 kata. Saya rasa ini bisa kita terapkan dalam kehidupan kita, misalnya belajar, membaca, bermeditasi dan sebagainya. Sesuatu yang dilakukan terus-menerus, sedikit demi sedikit, bertahap, biasanya lebih bertahan dan mengendap daripada sistem ‘kebut semalam.’

T: Bagaimana teknologi membantu?

J: Baru-baru ini saya merasa minat saya semakin banyak. Hahaha. Saya ingin belajar fotografi, photoshop dan IT. Meskipun isi ajaran Buddhadharma tetap valid sepanjang masa dan tak pernah kaladuwarsa, namun tampilan dan kemasannya bisa mengikuti zaman. Teknologi telah begitu berkembang, banyak kemudahan. Sekarang kita tak perlu lagi menenteng buku tebal-tebal tapi semuanya bisa di-browsing, via eBook dsb. Di mana saja kita bisa belajar. Teknologi bisa kita gunakan tapi jangan sampai kehilangan "human touch." Juga seperti yang Om bilang, jangan sekedar mengumpulkan pengetahuan. Sekedar pengetahuan, sekarang itu gampang, tinggal "googling." Pengetahuan harus ditelaah, diendapkan sehingga terefleksi dalam tindakan sehari-hari.

T: Aktivitas Potowa Center lumayan banyak. Pasti perlu upaya yang luar biasa agar aktivitasnya tetap berjalan.

J: Iya, banyak yang membantu baik menyumbangkan tenaga, pemikiran, kehadiran atau dengan turut senang. Semua pengurus adalah volunteer dan hampir semua juga bekerja. Agar kegiatan tetap berjalan, perlu upaya besar dan partisipasi banyak orang. Teman-teman luar biasa dan selalu berusaha berkontribusi. Semua merasakan manfaat Dharma, masing-masing berkiprah di ‘dunia’ mereka entah keluarga, tempat bekerja, lingkungan usaha, lingkungan sekolah dsb.

T: Apa yang membuat Anda tetap bersemangat di sela-sela kesibukan kantor, waktu untuk keluarga dan tugas-tugas center?

J: Dalam suatu perjalanan ke Medan, saya sempat bertanya apakah Om capek karena Om lembur selama beberapa hari berturut-turut. Om memberikan tanggapan demikian: "Jika seorang Guru tidak capek, maka murid tidak mendapatkan manfaat." Saya selalu berusaha mengingat kata-kata ini.