Penemuan Makna Hidup
Oleh Y
Dihantar pada 3 Juli 2026
Pertanyaan yang selalu muncul bagi saya adalah apakah tujuan hidup ini? Apakah hanya sekedar mengikuti apa yang dilakukan orang lain pada umumnya, yaitu bersekolah dari SD sampai kuliah, bekerja, berkeluarga hingga akhirnya mati? Apa yang sebenarnya dikejar dalam hidup ini? Pertanyaan ini terus muncul dalam pikiran, hingga saya berpikir mungkin ini terlalu rumit dan saya pun mengikuti pola kehidupan orang pada umumnya.
Buat saya kehidupan ini begitu sulit dan membingungkan karena tidak tahu ke mana arahnya. Saya bahkan tidak punya cita-cita mau ke mana nantinya setelah lulus sekolah. Dengan perasaan minder yang selalu merasa kekurangan, hidup terasa penuh dengan ketidakbahagiaan. Kehidupan ini tidaklah menarik. Sampai suatu saat saya merasa mengalami kegagalan yang cukup membuat trauma. Saya merasakan hidup tidak ada artinya. Rasa rendah diri yang semakin besar ditambah dengan belum mendapatkan pekerjaan. Dharma yang pernah dipelajari sebelumnya maupun buku-buku Dharma yang saya baca, tidak mampu saya hubungkan dengan apa yang terjadi saat itu. Saya merasa karma itu tidak adil, kenapa saya yang tidak pernah membuat perbuatan negatif yang berat mendapatkan penderitaan sebesar ini. Perasaan terus menyalahkan diri memperparah kesedihan yang dirasakan, malah pikiran untuk mengakhir hidup sering muncul. Saat itu pemikirannya adalah dengan mati semua persoalan akan hilang. Saya merasa seperti berada di jurang yang dalam tanpa ada orang yang bisa membantu mengeluarkan saya.
Singkat cerita, suatu saat saya mengikuti seminar satu hari yang dibawakan oleh Om Salim. Topiknya mengenai bagaimana menemukan makna hidup dalam Buddhaharma. Ajaran-ajaran beliau membuka semua kebingungan mengenai tujuan hidup ini, yaitu mendapatkan kebahagiaan. Sepertinya semua orang dengan mudah akan menjawab kalau dalam hidup ini yang dicarinya adalah kebahagiaa. Tetapi hal yang sepertinya sederhana ini ternyata tidak mudah untuk didapatkan jika kebahagiaan hanya diukur dari faktor-faktor eksternal. Karena ukuran kebahagiaan bukanlah dari seberapa cantik/tampannya, seberapa kayanya, seberapa tinggi jabatan karirnya, seberapa banyak gelar akademiknya, seberapa banyak mobil yang dimilikinya melainkan dari seberapa beraninya untuk hanya memikirkan kebahagiaan orang lain daripada terus memikirkan diri sendiri. Jika kita masih berpikir bahwa dengan mengubah kondisi di luar, kita baru bisa mendapatkan kebahagiaan - itu malah akan menjauhkan kita dari kebahagiaan. Seberapa banyak hal yang kita pikir bisa membahagiakan kita ternyata pada akhirnya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Dan sebaliknya hal-hal yang kelihatan mengerikan ternyata tidak begitu mengerikan seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Dengan mengerti ini, pelan-pelan saya berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rendah diri dan tidak berharga yang sering muncul, saya hadapi dengan mencoba mengurai perasaan yang muncul dan mempertanyakannya. Misalnya ketika merasa jelek dan berjerawat, dan bahwa mempunyai muka yang cantik dan halus bisa lebih bahagia, bisa dipuji orang lain, disukai banyak orang, diperhatikan banyak orang, saya berpikir bukankah kebahagiaan yang dikejar ini bersifat sementara? Mengapa tidak mencari sesuatu yang bisa dibawa setelah mati? Yaitu karma-karma positif karena ini yang akan menentukan kelahiran yang akan datang. Dalam Buddhadharma dijelaskan bahwa yang menyebabkan seseorang jelek adalah sering bereaksi dengan kemarahan terhadap kondisi-kondisi yang tidak diinginkan. Jadi jika ingin mempunyai wajah yang cantik/tampan bisa dimulai dengan belajar untuk tidak mudah marah. Kecantikan atau ketampanan pun bukanlah hal yang muncul dengan sendirinya tetapi ada penyebabnya. Dan hasilnya bisa dilihat pada kehidupan ini juga.
Terhadap keinginan untuk mati yang sering muncul saya hadapi dengan bertanya pada diri sendiri “Apakah dengan kematian semua persoalan akan selesai?” Mungkin masalah yang dihadapi dalam hidup kali ini hilang tetapi tetap akan berlanjut di kehidupan mendatang, malah akan memperburuk penderitaan yang akan dialami nanti. Dan tidak tertutup kemungkinan saya akan terlahir di alam-alam rendah karena pikiran pada waktu itu sedang diliputi kemarahan dan kekesalan.
Hal lain yang membuat hidup terasa bermakna adalah ketika saya belajar untuk lebih mempedulikan orang lain, lebih sensitif atas kebutuhan orang lain, berusaha membantu sebisanya. Dengan terus memikirkan 'saya yang malang,' 'mengapa tidak ada yang mengerti saya,' 'mengapa hanya saya yang mengalami ini' - itu tidak membuat saya lebih bahagia melainkan semakin terpuruk dengan rasa rendah diri yang berkepanjangan.
Ini bukan berarti sekarang saya sudah berhasil mengatasinya tetapi paling tidak, saya berusaha untuk mengubah cara berpikir yang hanya mementingkan diri sendiri. Saya berusaha memulainya dengan hal-hal yang kecil, misalnya memberi tempat duduk pada orang tua di bis, menyapa dan memberi senyum pada satpam ataupun pesuruh di tempat kerja, belajar untuk lebih mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, menawarkan bantuan pada teman yang pekerjaannya menumpuk, berusaha tidak cerewet mengritik makanan yang dimasak mama - sebisanya dilakukan dengan ketulusan. Memang sering juga niat baik untuk membantu orang lain dibalas dengan omelan, misalnya teguran yang bahwa bukan urusan saya, jadi tidak perlu ikut mencampurinya.
Dengan pengertian karma dan shunyata yang pernah dipelajari, saya menganalisa kejadian ini. Mengapa niat baik yang ditawarkan mendapatkan kemarahan dari orang lain. Bukankah karma itu konsisten, sesuatu yang positif pasti menghasilkan pengalaman yang menyenangkan? Definisi karma baik adalah semua perbuatan yang menghasilkan pengalaman yang menyenangkan dan akhirnya akan menghantarkan kita pada pencapaian Nirvana. Jika perbuatan yang baik pasti akan menghasilkan pengalaman yang menyenangkan, lalu kenapa saya malah dimarahi? Yang terjadi saat itu adalah dua hal atau kondisi yang berbeda. Dimarahi itu karena akibat dari perbuatan lalu yang pernah memarahi orang lain. Dan niat untuk membantu ini pastinya kelak akan menghasilkan pengalaman yang menyenangkan.
Kalau dianalisa sangat logika sekali. Jika saya memarahi orang lain, ini akan menjadi jejak-jejak karma yang akan matang bila kondisinya sesuai - sebagai karma yang memaksakan saya melihat orang yang mengucapkan kata-kata tertentu dengan suara keras, diucapkan dengan ekspresi tertentu - sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan dan itu namanya dimarahi. Karena saya dulu pernah memarahi orang lain dengan ekspresi dan kata-kata yang keras sehingga saya tahu kalau ini namanya dimarahi. Dan bila saya bereaksi dengan marah kembali pasti ini akan menjadi jejak karma baru untuk mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan lagi. Saya memilih untuk tidak bereaksi negatif setelah merenungkan cara kerja karma. Cara kerja karma memang selalu konsisten.
Ini mengingatkan bahwa saya masih harus berusaha lebih baik lagi untuk mengubah cara berpikir yang dilandasi kesalahpengertian menjadi cara berpikir yang dilandasi dengan pengertian yang benar. Sehingga kelak bukan hanya dengan tidak bereaksi negatif tetapi kita bisa lebih terampil membantu orang yang marah itu yang mungkin juga berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dan cara yang terbaik adalah dengan mencapai Kebuddhaan dan mengajarkan semua makhluk untuk mencapai kondisi yang sama agar mereka tidak perlu menderita lagi. Motivasi inilah yang menjadikan kehidupan ini ada arahnya, ada target yang perlu dituju. Ini mungkin sekali karena kita semua mempunyai potensi yang sama. Semut, anjing, kucing, tikus, kecoak, cicak, rayap dan setiap makhluk mempunyai potensi untuk mencapai Kebuddhaan.
Kebuddhaan bukanlah sesuatu di awang-awang tetapi adalah keadaan yang bisa dicapai oleh kita semua. Berusahalah untuk menjalankan Buddhadharma sekarang - di mana kita berada dalam kondisi yang sangat berharga ini. Kelahiran sebagai manusia sangat sulit untuk didapat, lebih sulit lagi untuk bertemu dengan ajaran Dharma. Mari kita sama-sama berusaha untuk mengambil makna dalam hidup ini.
Buat saya kehidupan ini begitu sulit dan membingungkan karena tidak tahu ke mana arahnya. Saya bahkan tidak punya cita-cita mau ke mana nantinya setelah lulus sekolah. Dengan perasaan minder yang selalu merasa kekurangan, hidup terasa penuh dengan ketidakbahagiaan. Kehidupan ini tidaklah menarik. Sampai suatu saat saya merasa mengalami kegagalan yang cukup membuat trauma. Saya merasakan hidup tidak ada artinya. Rasa rendah diri yang semakin besar ditambah dengan belum mendapatkan pekerjaan. Dharma yang pernah dipelajari sebelumnya maupun buku-buku Dharma yang saya baca, tidak mampu saya hubungkan dengan apa yang terjadi saat itu. Saya merasa karma itu tidak adil, kenapa saya yang tidak pernah membuat perbuatan negatif yang berat mendapatkan penderitaan sebesar ini. Perasaan terus menyalahkan diri memperparah kesedihan yang dirasakan, malah pikiran untuk mengakhir hidup sering muncul. Saat itu pemikirannya adalah dengan mati semua persoalan akan hilang. Saya merasa seperti berada di jurang yang dalam tanpa ada orang yang bisa membantu mengeluarkan saya.
Singkat cerita, suatu saat saya mengikuti seminar satu hari yang dibawakan oleh Om Salim. Topiknya mengenai bagaimana menemukan makna hidup dalam Buddhaharma. Ajaran-ajaran beliau membuka semua kebingungan mengenai tujuan hidup ini, yaitu mendapatkan kebahagiaan. Sepertinya semua orang dengan mudah akan menjawab kalau dalam hidup ini yang dicarinya adalah kebahagiaa. Tetapi hal yang sepertinya sederhana ini ternyata tidak mudah untuk didapatkan jika kebahagiaan hanya diukur dari faktor-faktor eksternal. Karena ukuran kebahagiaan bukanlah dari seberapa cantik/tampannya, seberapa kayanya, seberapa tinggi jabatan karirnya, seberapa banyak gelar akademiknya, seberapa banyak mobil yang dimilikinya melainkan dari seberapa beraninya untuk hanya memikirkan kebahagiaan orang lain daripada terus memikirkan diri sendiri. Jika kita masih berpikir bahwa dengan mengubah kondisi di luar, kita baru bisa mendapatkan kebahagiaan - itu malah akan menjauhkan kita dari kebahagiaan. Seberapa banyak hal yang kita pikir bisa membahagiakan kita ternyata pada akhirnya tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Dan sebaliknya hal-hal yang kelihatan mengerikan ternyata tidak begitu mengerikan seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Dengan mengerti ini, pelan-pelan saya berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rasa rendah diri dan tidak berharga yang sering muncul, saya hadapi dengan mencoba mengurai perasaan yang muncul dan mempertanyakannya. Misalnya ketika merasa jelek dan berjerawat, dan bahwa mempunyai muka yang cantik dan halus bisa lebih bahagia, bisa dipuji orang lain, disukai banyak orang, diperhatikan banyak orang, saya berpikir bukankah kebahagiaan yang dikejar ini bersifat sementara? Mengapa tidak mencari sesuatu yang bisa dibawa setelah mati? Yaitu karma-karma positif karena ini yang akan menentukan kelahiran yang akan datang. Dalam Buddhadharma dijelaskan bahwa yang menyebabkan seseorang jelek adalah sering bereaksi dengan kemarahan terhadap kondisi-kondisi yang tidak diinginkan. Jadi jika ingin mempunyai wajah yang cantik/tampan bisa dimulai dengan belajar untuk tidak mudah marah. Kecantikan atau ketampanan pun bukanlah hal yang muncul dengan sendirinya tetapi ada penyebabnya. Dan hasilnya bisa dilihat pada kehidupan ini juga.
Terhadap keinginan untuk mati yang sering muncul saya hadapi dengan bertanya pada diri sendiri “Apakah dengan kematian semua persoalan akan selesai?” Mungkin masalah yang dihadapi dalam hidup kali ini hilang tetapi tetap akan berlanjut di kehidupan mendatang, malah akan memperburuk penderitaan yang akan dialami nanti. Dan tidak tertutup kemungkinan saya akan terlahir di alam-alam rendah karena pikiran pada waktu itu sedang diliputi kemarahan dan kekesalan.
Hal lain yang membuat hidup terasa bermakna adalah ketika saya belajar untuk lebih mempedulikan orang lain, lebih sensitif atas kebutuhan orang lain, berusaha membantu sebisanya. Dengan terus memikirkan 'saya yang malang,' 'mengapa tidak ada yang mengerti saya,' 'mengapa hanya saya yang mengalami ini' - itu tidak membuat saya lebih bahagia melainkan semakin terpuruk dengan rasa rendah diri yang berkepanjangan.
Ini bukan berarti sekarang saya sudah berhasil mengatasinya tetapi paling tidak, saya berusaha untuk mengubah cara berpikir yang hanya mementingkan diri sendiri. Saya berusaha memulainya dengan hal-hal yang kecil, misalnya memberi tempat duduk pada orang tua di bis, menyapa dan memberi senyum pada satpam ataupun pesuruh di tempat kerja, belajar untuk lebih mendengarkan orang lain yang sedang berbicara, menawarkan bantuan pada teman yang pekerjaannya menumpuk, berusaha tidak cerewet mengritik makanan yang dimasak mama - sebisanya dilakukan dengan ketulusan. Memang sering juga niat baik untuk membantu orang lain dibalas dengan omelan, misalnya teguran yang bahwa bukan urusan saya, jadi tidak perlu ikut mencampurinya.
Dengan pengertian karma dan shunyata yang pernah dipelajari, saya menganalisa kejadian ini. Mengapa niat baik yang ditawarkan mendapatkan kemarahan dari orang lain. Bukankah karma itu konsisten, sesuatu yang positif pasti menghasilkan pengalaman yang menyenangkan? Definisi karma baik adalah semua perbuatan yang menghasilkan pengalaman yang menyenangkan dan akhirnya akan menghantarkan kita pada pencapaian Nirvana. Jika perbuatan yang baik pasti akan menghasilkan pengalaman yang menyenangkan, lalu kenapa saya malah dimarahi? Yang terjadi saat itu adalah dua hal atau kondisi yang berbeda. Dimarahi itu karena akibat dari perbuatan lalu yang pernah memarahi orang lain. Dan niat untuk membantu ini pastinya kelak akan menghasilkan pengalaman yang menyenangkan.
Kalau dianalisa sangat logika sekali. Jika saya memarahi orang lain, ini akan menjadi jejak-jejak karma yang akan matang bila kondisinya sesuai - sebagai karma yang memaksakan saya melihat orang yang mengucapkan kata-kata tertentu dengan suara keras, diucapkan dengan ekspresi tertentu - sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan dan itu namanya dimarahi. Karena saya dulu pernah memarahi orang lain dengan ekspresi dan kata-kata yang keras sehingga saya tahu kalau ini namanya dimarahi. Dan bila saya bereaksi dengan marah kembali pasti ini akan menjadi jejak karma baru untuk mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan lagi. Saya memilih untuk tidak bereaksi negatif setelah merenungkan cara kerja karma. Cara kerja karma memang selalu konsisten.
Ini mengingatkan bahwa saya masih harus berusaha lebih baik lagi untuk mengubah cara berpikir yang dilandasi kesalahpengertian menjadi cara berpikir yang dilandasi dengan pengertian yang benar. Sehingga kelak bukan hanya dengan tidak bereaksi negatif tetapi kita bisa lebih terampil membantu orang yang marah itu yang mungkin juga berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Dan cara yang terbaik adalah dengan mencapai Kebuddhaan dan mengajarkan semua makhluk untuk mencapai kondisi yang sama agar mereka tidak perlu menderita lagi. Motivasi inilah yang menjadikan kehidupan ini ada arahnya, ada target yang perlu dituju. Ini mungkin sekali karena kita semua mempunyai potensi yang sama. Semut, anjing, kucing, tikus, kecoak, cicak, rayap dan setiap makhluk mempunyai potensi untuk mencapai Kebuddhaan.
Kebuddhaan bukanlah sesuatu di awang-awang tetapi adalah keadaan yang bisa dicapai oleh kita semua. Berusahalah untuk menjalankan Buddhadharma sekarang - di mana kita berada dalam kondisi yang sangat berharga ini. Kelahiran sebagai manusia sangat sulit untuk didapat, lebih sulit lagi untuk bertemu dengan ajaran Dharma. Mari kita sama-sama berusaha untuk mengambil makna dalam hidup ini.
