Mengejar Kesuksesan
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Saya bertekad cari kerja di Jakarta! Rasanya sudah tidak tahan lagi mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu lagi dari Mama, “Kapan nikah?”, “Kapan punya anak?”, “Umur sudah berapa?” Sementara pacar pun saya belum punya.
Bermodal nekad, saya datang ke Jakarta dan diterima kerja sebagai guru sekolah. Jakarta seperti sebuah kota yang menjanjikan tapi kenyataan yang saya hadapi adalah bertolak belakang. Impian-impian saya tak pernah kesampaian biar sekuat apa pun saya mencobanya. Saya berlari mengejarnya, namun mimpi-mimpi itu selalu menjauh. Saya ingin sukses, saya ingin kaya. Saya ingin rumah, mobil, keluarga bahagia, anak, dll. Saya ingin banyak hal. Saya bekerja sangat keras. Sesudah pulang dari sekolah, saya mengajar les privat hingga larut malam dan hanya tidur beberapa jam untuk bangun pagi-pagi ke sekolah. Saya juga mengajar les sabtu dan minggu. Hari kerja saya adalah tujuh hari dalam seminggu. Semua terbitan buku kisah sukses telah saya lahap habis, mulai dari Dale Carnegie, Stephen Covey, Robert Kiyosaki dll. Petunjuk-petunjuknya sudah saya ikuti, seminar-seminarnya telah saya hadiri, tapi kesuksesan itu seakan enggan bersahabat. Saya tidak kunjung lebih kaya. Saya bekerja lebih keras lagi siang dan malam seperti itu selama bertahun-tahun, dan menikah dengan seorang pria yang juga tidak bisa disebut kaya.
Suatu hari saya mengunjungi seorang teman kuliah yang sudah lama tidak bertemu. Tangan dan lehernya dipenuhi perhiasan-perhiasan emas. Teman saya telah menikah dengan pria kaya raya dan hidup dalam limpahan materi. Kemudian, ada satu kalimat yang dilontarkannya yang menancap begitu dalam dan menghancurkan perasaan saya. Dengan tatapan mata dan tangannya yang menyentuh tangan saya, teman saya berkata, “Saya jauh lebih beruntung dari kamu.” Waktu itu, saya berpura-pura ikut gembira dan menjawab, “Oh, bagus.” Kalimat “Saya jauh lebih beruntung dari kamu” kemudian menghantui hari-hari saya selanjutnya, dan setiap kali teringat kata-kata tersebut, saya berurai air mata. Karena saya menanggapinya sebagai “betapa tidak beruntungnya saya.” Malam hari saya sering menangis karena kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Hingga suami saya pernah bertanya, apakah dia perlu memberitahukan teman saya tentang hal ini. Tentu saja saya melarang.
Dua tahun lamanya saya menyimpan kalimat itu hingga saya bertemu Om Salim di Retret Potowa tahun 2008. Suami saya yang mengajak ke retret itu. Saya ingat hari pertama retret, Om menanyakan tentang tujuan datang ke retret dan hal apa dalam kehidupan kita yang belum tercapai? Semua orang mendapat giliran untuk menjawab. Jujur saya jawab waktu itu, “Om, saya ingin punya rumah, mobil, ingin langsing, dsb. Om menjelaskan bahwa punya keinginan seperti itu oke, asal itu jangan mencengkeram kita. Semua keinginan bentuknya bermacam-macam tapi tujuannya sama, yaitu ingin bahagia. Mungkinkah tujuan itu tercapai? Mungkin sekali. Hanya saja kita selalu terjebak bahwa untuk bahagia saya mesti mempunyai ini atau itu, jika tidak terpenuhi maka saya tidak bahagia. Misalnya, saya berpikir bahwa saya harus punya rumah agar hidup saya lebih tenang. Itu belum tentu benar, misalnya rumah yang saya dapatkan ternyata rawan banjir, dll.
Sampai satu sesi retret, Om mengajar mengenai shunyata, bahwa tak ada sesuatu hal yang bersifat hakiki dari sananya. Satu hal yang sama akan dialami secara berbeda oleh subjek lain, baik dari cara pandang maupun reaksinya, semua itu tak lepas dari karma masing-masing. Om memberikan contoh kepada Rosa. Kalimat “Rosa, kamu bangun siang”, itu sekedar suara, selanjutnya tergantung reaksi Rosa.
Penjelasan ini membuat saya tersentak, sebuah kalimat “Saya jauh lebih beruntung dari kamu” tidak jauh berbeda dengan “Rosa, kamu bangun siang.” Teman saya tidak bermaksud menyakiti hati saya. Reaksi saya yang menganggapnya seperti itu. Malam itu saya menangis sedalam-dalamnya, kali ini bukan tangisan mengasihani diri sendiri, tapi tangisan penyesalan betapa bodohnya saya sangat menderita hanya karena sebuah kalimat seperti itu. Kalimat tersebut tidak berguna bagi saya. Dan saya berhasil membuangnya malam itu.
Seperti kisah Arya Samantabhadra yang mempunyai lebih dari 50 guru, termasuk orang-orang biasa, teman saya adalah guru terbaik yang menyadarkan saya dari kebodohan selama ini. Saya sungguh berterima kasih.
Ketika pulang dari retret, saya merasa seperti pendekar turun gunung dengan bekal segudang jurus. Saya berlatih dan mendengarkan Dharma Om Salim dari cd audio. Sejak saat itu, apabila ada yang berkata buruk, saya berusaha berbicara pada diri sendiri bahwa maksud orang tersebut bukanlah demikian, ini hanya tergantung reaksi saya. Saya selalu berusaha berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain? Walau dalam proses belajar, kacamata kehidupan saya telah berganti warna. Saya lebih tenang dan percaya diri. Kini saya telah beralih profesi dari guru dan memiliki penghasilan jauh berkali lipat. Walau bertambah secara materi dan saya telah sanggup membeli apa yang saya inginkan dahulu, justru saya tidak lagi mencengkeram pada keinginan-keinginan seperti rumah, mobil, yang biasanya adalah cerminan kesuksesan pada umumnya. Keinginan yang selama ini mencengkeram begitu kuatnya, yang saya kejar bersama penderitaan saya, justru memudar. Konsep kesuksesan yang saya pikirkan dahulu sudah tidak sama dengan pemahaman kesuksesan yang sekarang. Berkat Dharma, hidup saya lebih mulus dan sukses tanpa harus mengikuti kriteria sukses seperti yang saya inginkan semula. Saya bahagia jika bisa membantu orang lain. Bertemu Om Salim, suami saya, dan teman-teman di Potowa Center adalah anugerah terbesar dalam hidup saya.
Bermodal nekad, saya datang ke Jakarta dan diterima kerja sebagai guru sekolah. Jakarta seperti sebuah kota yang menjanjikan tapi kenyataan yang saya hadapi adalah bertolak belakang. Impian-impian saya tak pernah kesampaian biar sekuat apa pun saya mencobanya. Saya berlari mengejarnya, namun mimpi-mimpi itu selalu menjauh. Saya ingin sukses, saya ingin kaya. Saya ingin rumah, mobil, keluarga bahagia, anak, dll. Saya ingin banyak hal. Saya bekerja sangat keras. Sesudah pulang dari sekolah, saya mengajar les privat hingga larut malam dan hanya tidur beberapa jam untuk bangun pagi-pagi ke sekolah. Saya juga mengajar les sabtu dan minggu. Hari kerja saya adalah tujuh hari dalam seminggu. Semua terbitan buku kisah sukses telah saya lahap habis, mulai dari Dale Carnegie, Stephen Covey, Robert Kiyosaki dll. Petunjuk-petunjuknya sudah saya ikuti, seminar-seminarnya telah saya hadiri, tapi kesuksesan itu seakan enggan bersahabat. Saya tidak kunjung lebih kaya. Saya bekerja lebih keras lagi siang dan malam seperti itu selama bertahun-tahun, dan menikah dengan seorang pria yang juga tidak bisa disebut kaya.
Suatu hari saya mengunjungi seorang teman kuliah yang sudah lama tidak bertemu. Tangan dan lehernya dipenuhi perhiasan-perhiasan emas. Teman saya telah menikah dengan pria kaya raya dan hidup dalam limpahan materi. Kemudian, ada satu kalimat yang dilontarkannya yang menancap begitu dalam dan menghancurkan perasaan saya. Dengan tatapan mata dan tangannya yang menyentuh tangan saya, teman saya berkata, “Saya jauh lebih beruntung dari kamu.” Waktu itu, saya berpura-pura ikut gembira dan menjawab, “Oh, bagus.” Kalimat “Saya jauh lebih beruntung dari kamu” kemudian menghantui hari-hari saya selanjutnya, dan setiap kali teringat kata-kata tersebut, saya berurai air mata. Karena saya menanggapinya sebagai “betapa tidak beruntungnya saya.” Malam hari saya sering menangis karena kalimat itu terus terngiang di kepala saya. Hingga suami saya pernah bertanya, apakah dia perlu memberitahukan teman saya tentang hal ini. Tentu saja saya melarang.
Dua tahun lamanya saya menyimpan kalimat itu hingga saya bertemu Om Salim di Retret Potowa tahun 2008. Suami saya yang mengajak ke retret itu. Saya ingat hari pertama retret, Om menanyakan tentang tujuan datang ke retret dan hal apa dalam kehidupan kita yang belum tercapai? Semua orang mendapat giliran untuk menjawab. Jujur saya jawab waktu itu, “Om, saya ingin punya rumah, mobil, ingin langsing, dsb. Om menjelaskan bahwa punya keinginan seperti itu oke, asal itu jangan mencengkeram kita. Semua keinginan bentuknya bermacam-macam tapi tujuannya sama, yaitu ingin bahagia. Mungkinkah tujuan itu tercapai? Mungkin sekali. Hanya saja kita selalu terjebak bahwa untuk bahagia saya mesti mempunyai ini atau itu, jika tidak terpenuhi maka saya tidak bahagia. Misalnya, saya berpikir bahwa saya harus punya rumah agar hidup saya lebih tenang. Itu belum tentu benar, misalnya rumah yang saya dapatkan ternyata rawan banjir, dll.
Sampai satu sesi retret, Om mengajar mengenai shunyata, bahwa tak ada sesuatu hal yang bersifat hakiki dari sananya. Satu hal yang sama akan dialami secara berbeda oleh subjek lain, baik dari cara pandang maupun reaksinya, semua itu tak lepas dari karma masing-masing. Om memberikan contoh kepada Rosa. Kalimat “Rosa, kamu bangun siang”, itu sekedar suara, selanjutnya tergantung reaksi Rosa.
Penjelasan ini membuat saya tersentak, sebuah kalimat “Saya jauh lebih beruntung dari kamu” tidak jauh berbeda dengan “Rosa, kamu bangun siang.” Teman saya tidak bermaksud menyakiti hati saya. Reaksi saya yang menganggapnya seperti itu. Malam itu saya menangis sedalam-dalamnya, kali ini bukan tangisan mengasihani diri sendiri, tapi tangisan penyesalan betapa bodohnya saya sangat menderita hanya karena sebuah kalimat seperti itu. Kalimat tersebut tidak berguna bagi saya. Dan saya berhasil membuangnya malam itu.
Seperti kisah Arya Samantabhadra yang mempunyai lebih dari 50 guru, termasuk orang-orang biasa, teman saya adalah guru terbaik yang menyadarkan saya dari kebodohan selama ini. Saya sungguh berterima kasih.
Ketika pulang dari retret, saya merasa seperti pendekar turun gunung dengan bekal segudang jurus. Saya berlatih dan mendengarkan Dharma Om Salim dari cd audio. Sejak saat itu, apabila ada yang berkata buruk, saya berusaha berbicara pada diri sendiri bahwa maksud orang tersebut bukanlah demikian, ini hanya tergantung reaksi saya. Saya selalu berusaha berpikir, apa yang bisa saya lakukan untuk orang lain? Walau dalam proses belajar, kacamata kehidupan saya telah berganti warna. Saya lebih tenang dan percaya diri. Kini saya telah beralih profesi dari guru dan memiliki penghasilan jauh berkali lipat. Walau bertambah secara materi dan saya telah sanggup membeli apa yang saya inginkan dahulu, justru saya tidak lagi mencengkeram pada keinginan-keinginan seperti rumah, mobil, yang biasanya adalah cerminan kesuksesan pada umumnya. Keinginan yang selama ini mencengkeram begitu kuatnya, yang saya kejar bersama penderitaan saya, justru memudar. Konsep kesuksesan yang saya pikirkan dahulu sudah tidak sama dengan pemahaman kesuksesan yang sekarang. Berkat Dharma, hidup saya lebih mulus dan sukses tanpa harus mengikuti kriteria sukses seperti yang saya inginkan semula. Saya bahagia jika bisa membantu orang lain. Bertemu Om Salim, suami saya, dan teman-teman di Potowa Center adalah anugerah terbesar dalam hidup saya.
