Ketakutan Kita Seringkali Berlebihan
Oleh M
Dihantar pada 3 Juli 2026
Tahun lalu, dua hari menjelang retret Nyung Na, sakit maag saya kambuh. Ada kekuatiran dan ketakutan yang muncul dalam pikiran saya, karena dari pengalaman retret Nyung Na sebelumnya, dimana hari kedua harus mengambil sila penuh yaitu tidak makan, tidak minum, dan tidak berbicara, biasanya lambung saya akan memproduksi lebih banyak gas asam dan malam harinya tidak bisa tidur karena mual dan muntah air, mulut juga terasa asam, rasanya sangat tidak nyaman.
Om Salim pernah menjelaskan tentang definisi ketakutan, yaitu kita mencoba menyelesaikan masalah yang belum terjadi; hal ini tidak mungkin karena itu belum terjadi, dan kejadiannya nanti mungkin lain dengan apa yang kita bayangkan sekarang, akan tetapi kita ingin memecahkannya sekarang, sebelum itu terjadi! Kekuatiran dan ketakutan kita memang seringkali berlebihan. Saat sakit maag saya kambuh menjelang dua hari sebelum retret, saya sudah merasa takut dan membayangkan apa yang akan terjadi empat hari kemudian. Padahal saat hari kedua retret, saat puasa penuh, apa yang saya takutkan ternyata sama sekali tidak terjadi; saya tidak mengalami mual dan lambung tidak memproduksi banyak gas asam. Yang saya alami justru saya merasa sehat.
Menjelang retret Nyung Na, biasanya banyak purifikasi yang terjadi. Untuk naik tangga saja, lutut saya sering terasa nyeri, apalagi kalau membayangkan begitu banyak namaskara yang akan dilakukan dalam retret Nyung Na. Waktu itu, mama saya terpeleset di dapur dan akhirnya dibawa ke rumah sakit dan dironsen. Untunglah tidak ada cedera di tulang, hanya urat di kaki yang agak tegang sehingga mengalami gangguan ketika berjalan. Saya belikan tongkat yang pendek sebagai alat bantu saat beliau berjalan. Sebelum pergi retret, set motivasi itu sangat penting karena dibutuhkan energi-energi positif yang banyak untuk bisa melakukan retret dengan baik. Sebaliknya, kita juga akan memperoleh energi positif yang sangat besar dari melakukan retret. Saat mau berangkat dan ketika melakukan retret, saya selalu mendedikasikan energi positif yang saya lakukan untuk semua orang yang saat ini sedang mengalami sakit di kaki dan lutut agar segera sembuh dan menemukan obat yang sesuai. Saat merasa seperti kehabisan energi, saya selalu mengingat kembali motivasi saya sehingga sepertinya energi itu selalu ada dan lutut saya pun tidak se-nyeri seperti sebelumnya.
Waktu pulang dari retret, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, biasanya ada perlombaan-perlombaan dan panggung-panggung musik band hampir di semua wilayah, suasana di sekitar rumah agak ramai, saya ajak mama keluar makan siang, ternyata mama mau, dan saya ambilkan tongkatnya. Kemudian mama berkata bahwa tidak perlu memakai tongkat lagi. Wah, saya kaget juga karena sewaktu akan berangkat retret, mama masih menggunakan tongkat. Lalu saya pegang tangan mama dan berjalan ke mobil. Cara jalan mama sudah seperti biasa, hanya saja agak pelan. Karena hubungan darah yang kuat antara anak dan orang tua, memungkinkan apa yang didedikasikan bisa terjadi.
Om Salim selalu mengatakan ketika melakukan retret atau praktik spiritual, jangan pelit sedikit pun untuk mendedikasikan semua energi positif demi makhluk lain.
Om juga selalu mengajarkan bahwa Dharma bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu mempertajam cara berpikir, dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah-daging. Sebelum berbuat, berpikir, dan berucap, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu apakah yang kita ucapkan itu benar, apakah itu berguna, dan apakah waktunya tepat.
Sharing ini saya dedikasikan untuk semua Guru spiritual agar selalu sehat dan berumur panjang, agar Guru-guru spiritual terus memutarkan roda Dharma. Saya dedikasikan juga untuk semua orang tua dan siapapun yang sedang sakit agar sembuh dan menemukan obat yang sesuai.
Terima kasih.
Om Salim pernah menjelaskan tentang definisi ketakutan, yaitu kita mencoba menyelesaikan masalah yang belum terjadi; hal ini tidak mungkin karena itu belum terjadi, dan kejadiannya nanti mungkin lain dengan apa yang kita bayangkan sekarang, akan tetapi kita ingin memecahkannya sekarang, sebelum itu terjadi! Kekuatiran dan ketakutan kita memang seringkali berlebihan. Saat sakit maag saya kambuh menjelang dua hari sebelum retret, saya sudah merasa takut dan membayangkan apa yang akan terjadi empat hari kemudian. Padahal saat hari kedua retret, saat puasa penuh, apa yang saya takutkan ternyata sama sekali tidak terjadi; saya tidak mengalami mual dan lambung tidak memproduksi banyak gas asam. Yang saya alami justru saya merasa sehat.
Menjelang retret Nyung Na, biasanya banyak purifikasi yang terjadi. Untuk naik tangga saja, lutut saya sering terasa nyeri, apalagi kalau membayangkan begitu banyak namaskara yang akan dilakukan dalam retret Nyung Na. Waktu itu, mama saya terpeleset di dapur dan akhirnya dibawa ke rumah sakit dan dironsen. Untunglah tidak ada cedera di tulang, hanya urat di kaki yang agak tegang sehingga mengalami gangguan ketika berjalan. Saya belikan tongkat yang pendek sebagai alat bantu saat beliau berjalan. Sebelum pergi retret, set motivasi itu sangat penting karena dibutuhkan energi-energi positif yang banyak untuk bisa melakukan retret dengan baik. Sebaliknya, kita juga akan memperoleh energi positif yang sangat besar dari melakukan retret. Saat mau berangkat dan ketika melakukan retret, saya selalu mendedikasikan energi positif yang saya lakukan untuk semua orang yang saat ini sedang mengalami sakit di kaki dan lutut agar segera sembuh dan menemukan obat yang sesuai. Saat merasa seperti kehabisan energi, saya selalu mengingat kembali motivasi saya sehingga sepertinya energi itu selalu ada dan lutut saya pun tidak se-nyeri seperti sebelumnya.
Waktu pulang dari retret, bertepatan dengan tanggal 17 Agustus, biasanya ada perlombaan-perlombaan dan panggung-panggung musik band hampir di semua wilayah, suasana di sekitar rumah agak ramai, saya ajak mama keluar makan siang, ternyata mama mau, dan saya ambilkan tongkatnya. Kemudian mama berkata bahwa tidak perlu memakai tongkat lagi. Wah, saya kaget juga karena sewaktu akan berangkat retret, mama masih menggunakan tongkat. Lalu saya pegang tangan mama dan berjalan ke mobil. Cara jalan mama sudah seperti biasa, hanya saja agak pelan. Karena hubungan darah yang kuat antara anak dan orang tua, memungkinkan apa yang didedikasikan bisa terjadi.
Om Salim selalu mengatakan ketika melakukan retret atau praktik spiritual, jangan pelit sedikit pun untuk mendedikasikan semua energi positif demi makhluk lain.
Om juga selalu mengajarkan bahwa Dharma bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kita perlu mempertajam cara berpikir, dengan mengubah kebiasaan-kebiasaan yang sudah mendarah-daging. Sebelum berbuat, berpikir, dan berucap, ada tiga hal yang perlu diperhatikan, yaitu apakah yang kita ucapkan itu benar, apakah itu berguna, dan apakah waktunya tepat.
Sharing ini saya dedikasikan untuk semua Guru spiritual agar selalu sehat dan berumur panjang, agar Guru-guru spiritual terus memutarkan roda Dharma. Saya dedikasikan juga untuk semua orang tua dan siapapun yang sedang sakit agar sembuh dan menemukan obat yang sesuai.
Terima kasih.
