Klakson Taksi
Oleh N
Dihantar pada 3 Juli 2026
Sebelum buka mata di pagi hari, rasanya sudah ingin marah-marah. Hanya karena suara motor tetangga yang meraung-raung saat memanaskan mesin dan motor-motor yang lalu-lalang di depan rumah.
“Rumah kok seperti di pasar,” gerutuku kesal.
Saya raih remote AC dan tekan tombol off, tapi tidak bisa mati, sensornya sudah mulai rusak. Akhirnya dengan terpaksa, saya panjat lemari untuk mematikan tombol AC secara manual.
Dengan muka sewot saya menuju kamar mandi. Mengapa ada dua ember besar di pojok kamar mandi dari minggu lalu? Sungguh membuat sempit kamar mandi!
Pagi ini semuanya serba tidak beres, semua yang terjadi berlawanan dengan keinginan saya. Pikiranku melayang tak menentu dan emosiku tak karuan. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, saya ingat klienku yang masih belum melunasi proyek bulan ini, ingat tentang percakapan semalam, terpikir temanku yang sedang keluar kota, terpikir pekerjaan yang harus rampung hari ini, terpikir ini dan itu.
Dan lagi-lagi jalanan macet! Asap bajaj mengepul dan suaranya meraung-raung di telinga, membuat saya serasa berada di dalam pabrik. Mikrolet di depan mengerem sesuka hati, yang hampir tertabrak berkali-kali. Taksi di depan saya menyalip tak karuan dan menekan klakson tak henti-hentinya. Baru lima menit di depan taksi, saya naik pitam mendengar suara klaksonnya, rasanya ingin mengepal tinju ke supir taksi agar dia berhenti membunyikan klakson. Bahkan saya mulai membayangkan skenario bahwa kami sedang mengarah ke pinggir jalan, turun dari kendaraan, dan menyingsingkan lengan baju masing-masing, siap untuk berantem. Motorku melaju terus. Ingin sekali rasanya bisa lenyap dari jalanan dan berada di tempat yang hening. Tiba-tiba saya ingat saat-saat hening…
Waktu itu kami baru selesai meditasi bersama Om Salim dan banyak peserta yang mengantuk. Saat itu saya melihat dan menilai dari kacamata ‘kesombongan’ bahwa peserta yang mengantuk tentunya hanya pemula (kebetulan saya sedang tidak mengantuk) dan peserta yang bergerak-gerak terus di depanku saat meditasi sungguh mengganggu. Kemudian Om menjelaskan bahwa dengan kacamata ‘karuna,’ mungkin sekali kita melihat orang yang mengantuk atau yang bergerak-gerak selama meditasi itu mungkin sedang menderita – pegal, kesemutan, atau gelisah karena mengalami sesuatu yang tidak nyaman.
Hanya sepersekian detik ingatan itu muncul, kemudian bunyi klakson kembali terdengar. Saya tahu kacamata ‘kemarahan’ yang sebelumnya saya pakai ketika melihat supir taksi tersebut, tiba-tiba berubah. Sekarang cara pandang saya terhadap supir taksi itu berbeda, saya merasakan mungkin ada sesuatu yang begitu mendesak bagi si supir taksi, mungkin dia sedang terburu-buru karena alasan tertentu.
Mendadak saya merasakan bahwa semua orang di jalanan mempunyai kepentingan yang lebih mendesak dari saya. “Oh please.. please... silakan duluan,” seruku berulang-ulang dalam hati. Dan saya panjatkan doa agar supir taksi tersebut selamat sampai ke tempat yang dituju.
“Doaku menyertaimu Pak,” sahutku dalam hati sambil melihat taksi itu menghilang dari pandanganku.
Di tengah keramaian, di antara kepulan asap bajaj dan raungan motor, saya merasa bahagia. Mendadak orang-orang menjadi begitu berharga di dalam hidupku.
Dan tentunya.. hari yang saya jalani menjadi lebih baik ?
Terima kasih,
“Rumah kok seperti di pasar,” gerutuku kesal.
Saya raih remote AC dan tekan tombol off, tapi tidak bisa mati, sensornya sudah mulai rusak. Akhirnya dengan terpaksa, saya panjat lemari untuk mematikan tombol AC secara manual.
Dengan muka sewot saya menuju kamar mandi. Mengapa ada dua ember besar di pojok kamar mandi dari minggu lalu? Sungguh membuat sempit kamar mandi!
Pagi ini semuanya serba tidak beres, semua yang terjadi berlawanan dengan keinginan saya. Pikiranku melayang tak menentu dan emosiku tak karuan. Dalam perjalanan menuju tempat kerja, saya ingat klienku yang masih belum melunasi proyek bulan ini, ingat tentang percakapan semalam, terpikir temanku yang sedang keluar kota, terpikir pekerjaan yang harus rampung hari ini, terpikir ini dan itu.
Dan lagi-lagi jalanan macet! Asap bajaj mengepul dan suaranya meraung-raung di telinga, membuat saya serasa berada di dalam pabrik. Mikrolet di depan mengerem sesuka hati, yang hampir tertabrak berkali-kali. Taksi di depan saya menyalip tak karuan dan menekan klakson tak henti-hentinya. Baru lima menit di depan taksi, saya naik pitam mendengar suara klaksonnya, rasanya ingin mengepal tinju ke supir taksi agar dia berhenti membunyikan klakson. Bahkan saya mulai membayangkan skenario bahwa kami sedang mengarah ke pinggir jalan, turun dari kendaraan, dan menyingsingkan lengan baju masing-masing, siap untuk berantem. Motorku melaju terus. Ingin sekali rasanya bisa lenyap dari jalanan dan berada di tempat yang hening. Tiba-tiba saya ingat saat-saat hening…
Waktu itu kami baru selesai meditasi bersama Om Salim dan banyak peserta yang mengantuk. Saat itu saya melihat dan menilai dari kacamata ‘kesombongan’ bahwa peserta yang mengantuk tentunya hanya pemula (kebetulan saya sedang tidak mengantuk) dan peserta yang bergerak-gerak terus di depanku saat meditasi sungguh mengganggu. Kemudian Om menjelaskan bahwa dengan kacamata ‘karuna,’ mungkin sekali kita melihat orang yang mengantuk atau yang bergerak-gerak selama meditasi itu mungkin sedang menderita – pegal, kesemutan, atau gelisah karena mengalami sesuatu yang tidak nyaman.
Hanya sepersekian detik ingatan itu muncul, kemudian bunyi klakson kembali terdengar. Saya tahu kacamata ‘kemarahan’ yang sebelumnya saya pakai ketika melihat supir taksi tersebut, tiba-tiba berubah. Sekarang cara pandang saya terhadap supir taksi itu berbeda, saya merasakan mungkin ada sesuatu yang begitu mendesak bagi si supir taksi, mungkin dia sedang terburu-buru karena alasan tertentu.
Mendadak saya merasakan bahwa semua orang di jalanan mempunyai kepentingan yang lebih mendesak dari saya. “Oh please.. please... silakan duluan,” seruku berulang-ulang dalam hati. Dan saya panjatkan doa agar supir taksi tersebut selamat sampai ke tempat yang dituju.
“Doaku menyertaimu Pak,” sahutku dalam hati sambil melihat taksi itu menghilang dari pandanganku.
Di tengah keramaian, di antara kepulan asap bajaj dan raungan motor, saya merasa bahagia. Mendadak orang-orang menjadi begitu berharga di dalam hidupku.
Dan tentunya.. hari yang saya jalani menjadi lebih baik ?
Terima kasih,
