Membuka Pintu Hati
Oleh B
Dihantar pada 3 Juli 2026
Saya mengenal Buddhadharma sejak kecil. Pelajaran agama Buddha saya peroleh dari sekolah dasar. Semua anggota keluarga juga menganut agama Buddha secara tradisi. Namun, saya sendiri baru bisa memahami aplikasi Buddhadharma dalam kehidupan sehari-hari setelah beberapa waktu kemudian.
Berawal dari mengikuti belabar (belajar bareng) yang diselenggarakan oleh Potowa Center pada bulan April 2006. Saat itu, entah darimana muncul keberanian untuk mendaftarkan diri ikut kegiatan belabar tanpa ada teman yang saya kenal, walaupun ternyata ada teman yang ikut serta pada akhirnya. Pada akhir belabar, ada acara persembahan khataq. Saat itu Om Salim berpesan untuk ‘keep smiling,’ yang artinya baru saya temukan setelah sering mengikuti kegiatan dan diskusi kelompok yang secara rutin diadakan oleh Potowa Center dan juga dari belabar yang saya ikuti di kemudian hari.
Meskipun sering mengikuti belabar dan berbagi Dharma yang disampaikan oleh Om Salim, belum pernah sekalipun saya berani untuk menemui beliau secara pribadi, ada perasaan malu dan takut yang terus menghalangi saya. Terkadang muncul rasa iri ketika melihat betapa dekatnya teman-teman yang lain dengan beliau. Dari Om pula, saya tahu bahwa malu adalah kesombongan yang terbalik. Ternyata kesombongan ini yang selalu menghalangi saya untuk menemui beliau, takut jika beliau mengetahui praktik saya yang belum maksimal karena banyak sekali klesha yang masih saya jadikan ‘teman.’
Saya juga merasa seakan-akan ada yang membatasi antara saya dengan Om, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Tidak mudah bagi saya untuk akrab dengan orang lain. Saya selalu berpikir mengapa mereka tidak ingin dekat dengan saya, apa yang salah dengan diri saya? Terkadang saya merasa sendiri meskipun banyak orang di sekeliling saya.
Hal yang benar-benar membuat pikiran saya bergejolak adalah ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Om pada belabar tahun 2008, perasaan tidak nyaman senantiasa menghantui pikiran. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertemu beliau. Kata-kata Om akan selalu saya ingat dan itu menyadarkan saya adalah bahwa selama ini Om selalu dekat dengan saya, sayalah yang harus membuka hati untuk beliau, untuk teman-teman yang lain, dan menghancurkan tembok yang membatasi diri saya dengan yang lain.
Terinspirasi oleh Om dan salah satu teman di kelompok diskusi saat itu, saya mulai membuka hati dan menghancurkan tembok pembatas yang telah saya bangun selama ini. Dan mulailah, perubahan itu terjadi, Om Salim tidak lagi menjadi sesosok Guru yang tidak ‘terjangkau’ dan teman-teman yang dulunya terkesan begitu jauh, mulai menjadi dekat, tak hanya sekedar teman tapi seperti keluarga yang selalu memberikan inspirasi. Tak hanya itu, hal-hal positif lainnya juga terjadi, ajaran menjadi lebih mudah dipahami dan saya mulai berani melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Dengan motivasi untuk memberikan manfaat bagi yang lain, saya berani mengambil langkah untuk berlatih menjadi lebih baik.
Di kantor, saya punya bos yang ‘pemarah,’ yang ketika marah seperti petir yang menggelegar. Setelah mendengar ajaran bagaimana ‘Cara menghabiskan karma agar tidak dimarahi,’ saya berusaha tidak bereaksi negatif lagi. Dan hasilnya, meskipun bos terkadang masih marah tapi frekuensi dan kadar kemarahannya sudah jauh berkurang.
Meskipun saat ini praktik saya belum maksimal, saya akan terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat bagi yang lain. Semoga pengalaman berbagi Dharma ini bisa menjadi inspirasi untuk yang lain. Terima kasih banyak kepada Om Salim, bimbinglah kami selalu dan berikanlah inspirasi untuk saya dan yang lain.
Berawal dari mengikuti belabar (belajar bareng) yang diselenggarakan oleh Potowa Center pada bulan April 2006. Saat itu, entah darimana muncul keberanian untuk mendaftarkan diri ikut kegiatan belabar tanpa ada teman yang saya kenal, walaupun ternyata ada teman yang ikut serta pada akhirnya. Pada akhir belabar, ada acara persembahan khataq. Saat itu Om Salim berpesan untuk ‘keep smiling,’ yang artinya baru saya temukan setelah sering mengikuti kegiatan dan diskusi kelompok yang secara rutin diadakan oleh Potowa Center dan juga dari belabar yang saya ikuti di kemudian hari.
Meskipun sering mengikuti belabar dan berbagi Dharma yang disampaikan oleh Om Salim, belum pernah sekalipun saya berani untuk menemui beliau secara pribadi, ada perasaan malu dan takut yang terus menghalangi saya. Terkadang muncul rasa iri ketika melihat betapa dekatnya teman-teman yang lain dengan beliau. Dari Om pula, saya tahu bahwa malu adalah kesombongan yang terbalik. Ternyata kesombongan ini yang selalu menghalangi saya untuk menemui beliau, takut jika beliau mengetahui praktik saya yang belum maksimal karena banyak sekali klesha yang masih saya jadikan ‘teman.’
Saya juga merasa seakan-akan ada yang membatasi antara saya dengan Om, begitu juga dengan teman-teman yang lain. Tidak mudah bagi saya untuk akrab dengan orang lain. Saya selalu berpikir mengapa mereka tidak ingin dekat dengan saya, apa yang salah dengan diri saya? Terkadang saya merasa sendiri meskipun banyak orang di sekeliling saya.
Hal yang benar-benar membuat pikiran saya bergejolak adalah ketika mendengar apa yang disampaikan oleh Om pada belabar tahun 2008, perasaan tidak nyaman senantiasa menghantui pikiran. Akhirnya saya memberanikan diri untuk bertemu beliau. Kata-kata Om akan selalu saya ingat dan itu menyadarkan saya adalah bahwa selama ini Om selalu dekat dengan saya, sayalah yang harus membuka hati untuk beliau, untuk teman-teman yang lain, dan menghancurkan tembok yang membatasi diri saya dengan yang lain.
Terinspirasi oleh Om dan salah satu teman di kelompok diskusi saat itu, saya mulai membuka hati dan menghancurkan tembok pembatas yang telah saya bangun selama ini. Dan mulailah, perubahan itu terjadi, Om Salim tidak lagi menjadi sesosok Guru yang tidak ‘terjangkau’ dan teman-teman yang dulunya terkesan begitu jauh, mulai menjadi dekat, tak hanya sekedar teman tapi seperti keluarga yang selalu memberikan inspirasi. Tak hanya itu, hal-hal positif lainnya juga terjadi, ajaran menjadi lebih mudah dipahami dan saya mulai berani melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan organisasi yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Dengan motivasi untuk memberikan manfaat bagi yang lain, saya berani mengambil langkah untuk berlatih menjadi lebih baik.
Di kantor, saya punya bos yang ‘pemarah,’ yang ketika marah seperti petir yang menggelegar. Setelah mendengar ajaran bagaimana ‘Cara menghabiskan karma agar tidak dimarahi,’ saya berusaha tidak bereaksi negatif lagi. Dan hasilnya, meskipun bos terkadang masih marah tapi frekuensi dan kadar kemarahannya sudah jauh berkurang.
Meskipun saat ini praktik saya belum maksimal, saya akan terus berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat bagi yang lain. Semoga pengalaman berbagi Dharma ini bisa menjadi inspirasi untuk yang lain. Terima kasih banyak kepada Om Salim, bimbinglah kami selalu dan berikanlah inspirasi untuk saya dan yang lain.
