Rasa Malu dan Takut Yang Mulai Hilang
Oleh W
Dihantar pada 3 Juli 2026
Saya lahir di Medan. Sejak di Sekolah Menengah Pertama, ada keharusan dari guru agama Buddha bahwa siswa wajib mengumpulkan stempel dengan mengikuti kebaktian di vihara pada hari Minggu. Stempel ini adalah salah satu syarat untuk mendapatkan nilai pelajaran agama. Semenjak itu, saya sering ke vihara hingga Sekolah Menengah Atas, tanpa diminta pun saya mengikuti kebaktian dengan senang hati.
Sewaktu kuliah di Jakarta, saya sering mengikuti kebaktian ce it & cap go. Setelah lulus, saya mulai belajar mengasuh anak sekolah minggu. Pada tahun 2000, tanpa sengaja, saya melihat mailing list retret (belabar) di Gadog, saya pun memberanikan diri untuk ikut. Di retret (belabar) ini, saya mulai mengenal Om Salim, mulai tahu tujuan hidup ini yaitu mengumpulkan potensi-potensi positif untuk mencapai penggugahan demi kebahagiaan semua makhluk.
Pada petengahan tahun 2001, saya berkenalan dengan seseorang yang sekarang menjadi pasangan hidup saya. Meskipun dari segi umur sudah cukup untuk membentuk keluarga dan orang tua juga mendukung, akan tetapi saya sudah puas dengan keadaan saya, bisa membantu orang tua berdagang dan menyelesaikan pekerjaan rumah (hanya tidak hobi masak). Setiap ada kegiatan dari Potowa Center, orang tua juga mengizinkan saya untuk mengikutinya. Mengenai pernikahan, saya teringat kata-kata Om: “Dengan membahagiakan orang lain, maka kita sendiri akan bahagia.” Jadinya saya berpikir, bila saya tidak berkeluarga, mungkin cuma saya yang bahagia, tetapi bila saya berkeluarga, ada tiga orang yang bahagia yaitu orang tua dan pasangan hidup saya. Akhirnya pada tahun itu juga, saya menikah. Setelah menikah, ternyata saya bahagia. Walaupun memiliki keyakinan yang berbeda, suami saya baik dan hobi memasak. Mengenai perbedaan agama, saya meminta nasehat dari Om dan beliau berkata, ”Semua agama itu pada dasarnya sama, bertujuan membuat kita menjadi lebih baik. Bila dengan berkeluarga, kita menjadi lebih mudah untuk mencapai tujuan hidup kita, mengapa tidak?”
Saya agak pemalu. Masih teringat waktu ikut retret kedua, meskipun duduk berdekatan dengan Om dalam bus selama perjalanan, saya tidak punya keberanian untuk menyapa Om (Om, I am very sorry), padahal dalam hati, saya sangat ingin berbicara dengan beliau. Bila bertemu teman-teman yang tidak terlalu dekat, saya juga tidak berani menyapa. Begitu juga ketika mengikuti belabar tahun 2005; karena malu, saya tidak berani meminta makanan kepada panitia padahal perut saya terasa lapar. Akibatnya sepanjang malam saya tidak bisa tidur dan keesokan harinya saya mengantuk saat mendengarkan Dharma. Dari pengalaman ini, saya belajar menjadi lebih peduli kepada orang lain.
Tahun 2006, saya mengalami krisis percaya diri, berusaha menghindar dari pelanggan yang ada di lantai bawah, dan hanya mengurus anak-anak di lantai atas. Terlintas di pikiran juga bahwa saya tidak memiliki keberanian lagi untuk bertemu dengan teman-teman di Potowa Center, mengikuti belabar, atau kegiatan lainnya.
Bulan Mei tahun ini, ayah mertua saya jatuh sakit dan sampai sekarang belum sembuh. Saya teringat kata-kata Om: “Selalu miliki kebaikan hati.” Kami ingin berbakti kepada orang tua; sehingga suami saya dan kakaknya mengurus papanya sedangkan saya mengurus anak-anak di rumah. Saya juga mulai membantu suami mengurus toko yang ada di rumah. Saya mulai berubah, saya belajar menjadi lebih terbuka, lebih peduli kepada orang lain, dan belajar rendah hati. Kebiasaan menghakimi orang lain pun pelan-pelan berkurang.
Dengan berbagi pengalaman ini, saya dedikasikan agar secepatnya mencapai penggugahan demi kebahagiaan semua makhluk.
Terima kasih.
Sewaktu kuliah di Jakarta, saya sering mengikuti kebaktian ce it & cap go. Setelah lulus, saya mulai belajar mengasuh anak sekolah minggu. Pada tahun 2000, tanpa sengaja, saya melihat mailing list retret (belabar) di Gadog, saya pun memberanikan diri untuk ikut. Di retret (belabar) ini, saya mulai mengenal Om Salim, mulai tahu tujuan hidup ini yaitu mengumpulkan potensi-potensi positif untuk mencapai penggugahan demi kebahagiaan semua makhluk.
Pada petengahan tahun 2001, saya berkenalan dengan seseorang yang sekarang menjadi pasangan hidup saya. Meskipun dari segi umur sudah cukup untuk membentuk keluarga dan orang tua juga mendukung, akan tetapi saya sudah puas dengan keadaan saya, bisa membantu orang tua berdagang dan menyelesaikan pekerjaan rumah (hanya tidak hobi masak). Setiap ada kegiatan dari Potowa Center, orang tua juga mengizinkan saya untuk mengikutinya. Mengenai pernikahan, saya teringat kata-kata Om: “Dengan membahagiakan orang lain, maka kita sendiri akan bahagia.” Jadinya saya berpikir, bila saya tidak berkeluarga, mungkin cuma saya yang bahagia, tetapi bila saya berkeluarga, ada tiga orang yang bahagia yaitu orang tua dan pasangan hidup saya. Akhirnya pada tahun itu juga, saya menikah. Setelah menikah, ternyata saya bahagia. Walaupun memiliki keyakinan yang berbeda, suami saya baik dan hobi memasak. Mengenai perbedaan agama, saya meminta nasehat dari Om dan beliau berkata, ”Semua agama itu pada dasarnya sama, bertujuan membuat kita menjadi lebih baik. Bila dengan berkeluarga, kita menjadi lebih mudah untuk mencapai tujuan hidup kita, mengapa tidak?”
Saya agak pemalu. Masih teringat waktu ikut retret kedua, meskipun duduk berdekatan dengan Om dalam bus selama perjalanan, saya tidak punya keberanian untuk menyapa Om (Om, I am very sorry), padahal dalam hati, saya sangat ingin berbicara dengan beliau. Bila bertemu teman-teman yang tidak terlalu dekat, saya juga tidak berani menyapa. Begitu juga ketika mengikuti belabar tahun 2005; karena malu, saya tidak berani meminta makanan kepada panitia padahal perut saya terasa lapar. Akibatnya sepanjang malam saya tidak bisa tidur dan keesokan harinya saya mengantuk saat mendengarkan Dharma. Dari pengalaman ini, saya belajar menjadi lebih peduli kepada orang lain.
Tahun 2006, saya mengalami krisis percaya diri, berusaha menghindar dari pelanggan yang ada di lantai bawah, dan hanya mengurus anak-anak di lantai atas. Terlintas di pikiran juga bahwa saya tidak memiliki keberanian lagi untuk bertemu dengan teman-teman di Potowa Center, mengikuti belabar, atau kegiatan lainnya.
Bulan Mei tahun ini, ayah mertua saya jatuh sakit dan sampai sekarang belum sembuh. Saya teringat kata-kata Om: “Selalu miliki kebaikan hati.” Kami ingin berbakti kepada orang tua; sehingga suami saya dan kakaknya mengurus papanya sedangkan saya mengurus anak-anak di rumah. Saya juga mulai membantu suami mengurus toko yang ada di rumah. Saya mulai berubah, saya belajar menjadi lebih terbuka, lebih peduli kepada orang lain, dan belajar rendah hati. Kebiasaan menghakimi orang lain pun pelan-pelan berkurang.
Dengan berbagi pengalaman ini, saya dedikasikan agar secepatnya mencapai penggugahan demi kebahagiaan semua makhluk.
Terima kasih.
