Pencarianku Dalam Hidup
Oleh Pengirim tidak diketahui
Dihantar pada 3 Juli 2026
Lahir dalam keluarga sederhana Buddhis yang berdasarkan tradisi, membuat saya tidak asing dengan ritual sembahyang dan memohon berkah dari para Buddha, Bodhisattva, dan para dewa. Saya mengikuti sekolah minggu ketika berumur lima tahun dan sempat berhenti, kemudian mulai lagi ketika berumur dua belas tahun. Ini berlanjut hingga SMU karena kehadiran kami di vihara mempengaruhi nilai agama kami di sekolah.
Sejak itu, saya aktif mengikuti kegiatan di vihara, menjadi pengurus organisasi, mendengar dan membaca buku Dharma untuk meningkatkan pengetahuan tentang agama Buddha. Tertarik untuk lebih mendalami Dharma dan berusaha mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun ada pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul seperti: Sebenarnya hidup ini untuk apa? Apa gunanya agama? Mengapa harus beragama? Apakah Dharma itu (terlepas dari semua definisi secara konseptual yang saya baca dari buku)? Pertanyaan-pertanyaan ini sering bergema di hati saya. Meskipun sering mendengar dan membaca buku Dharma, tetapi intisari dari pertanyaan di atas, belum terjawab. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu saya pendam dengan harapan suatu hari nanti, saya akan mendapatkan jawaban dan menemukan orang yang bisa membimbing saya.
Perkenalan pertama saya dengan Potowa Center sekitar tahun 2002. Kesan pertama saya ketika mendengarkan Dharma yang disampaikan Om Salim adalah terlalu dalam, rumit, dan bukan untuk saya. Saya mau yang sederhana saja. Oleh karena itu, saya tidak banyak mengikuti kegiatan berbagi Dharma yang diadakan. Hingga suatu hari di tahun 2008, saya mengikuti belabar (belajar bareng) yang diadakan oleh Potowa Center. Di belabar ini, saya melihat banyak hal yang membuat saya kagum dan tersentuh, yakni teman-teman yang bergabung dalam organisasi ini sangat menghormati keberadaan Guru, bersemangat untuk belajar Dharma dari pagi hingga larut malam meskipun ada yang capek, mengantuk, dan ada yang sakit. Antara teman yang satu dengan yang lain juga saling peduli, saling mendukung, dan harmonis. Di retret ini juga, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya pertanyakan, terjawab. Om Salim menjelaskan bahwa usaha apapun yang dilakukan oleh semua makhluk sepanjang hidupnya, baik yang tua-muda, kaya-miskin, dan apapun suku, agama, dan ras, intinya adalah untuk mencari kebahagiaan. Namun ada kesalahpengertian mengenai arti kebahagiaan itu sendiri. Seringkali kita mengartikan kalau kebahagiaan itu sama dengan terpenuhinya semua keinginan. Padahal terpenuhi atau tidaknya suatu keinginan, akan digantikan oleh keinginan yang lain; ini pernyataan yang benar; saya menyukainya. Dan pertanyaan apakah kita memiliki kebebasan dalam hidup ini (freewill)? Ternyata selama ini kita dipaksakan oleh karma kita untuk melihat segala sesuatu yang ada dan bereaksi secara emosional sesuai dengan kebiasaan kita yang terus berulang sejak masa tak berawal. Om juga menjelaskan tentang Empat Kenyataan Para Arya, Karma, Pratityasamutpada, Enam Alam kehidupan, Tilakkhana, dan Catur Apramana. Penjelasan Om membuat saya lebih mengerti maksud yang mau disampaikan oleh Guru Buddha kepada kita semua, lebih jelas dari apapun yang telah pernah saya baca dan dengar. Di sini saya belajar bahwa Buddhadhamma hadir dalam kehidupan sehari-hari, dekat sekali dengan kita, bisa dipraktikkan, dan tidak serumit yang saya bayangkan selama ini. Pesan Om yang sangat berkesan dan berusaha saya praktikkan adalah melakukan kebajikan yang berlandaskan welas asih dan prajna untuk memberi manfaat bagi semua makhluk, hidup dengan pikiran yang awas (mindfull), jangan takut, dan selalu lakukan yang terbaik yang kita bisa.
Demikianlah pengalaman berbagi Dharma ini, semoga ada manfaatnya. Semua potensi positif dari berbagi Dharma ini saya dedikasikan untuk:
Om Salim, agar selalu sehat, panjang umur, dan bersedia mengajar dan membimbing kami hingga dicapainya penggugahan sempurna;
Untuk teman-teman, agar kita selalu bersama, belajar, dan maju dalam Dharma hingga berakhirnya samsara.
Sejak itu, saya aktif mengikuti kegiatan di vihara, menjadi pengurus organisasi, mendengar dan membaca buku Dharma untuk meningkatkan pengetahuan tentang agama Buddha. Tertarik untuk lebih mendalami Dharma dan berusaha mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun ada pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul seperti: Sebenarnya hidup ini untuk apa? Apa gunanya agama? Mengapa harus beragama? Apakah Dharma itu (terlepas dari semua definisi secara konseptual yang saya baca dari buku)? Pertanyaan-pertanyaan ini sering bergema di hati saya. Meskipun sering mendengar dan membaca buku Dharma, tetapi intisari dari pertanyaan di atas, belum terjawab. Akhirnya pertanyaan-pertanyaan itu saya pendam dengan harapan suatu hari nanti, saya akan mendapatkan jawaban dan menemukan orang yang bisa membimbing saya.
Perkenalan pertama saya dengan Potowa Center sekitar tahun 2002. Kesan pertama saya ketika mendengarkan Dharma yang disampaikan Om Salim adalah terlalu dalam, rumit, dan bukan untuk saya. Saya mau yang sederhana saja. Oleh karena itu, saya tidak banyak mengikuti kegiatan berbagi Dharma yang diadakan. Hingga suatu hari di tahun 2008, saya mengikuti belabar (belajar bareng) yang diadakan oleh Potowa Center. Di belabar ini, saya melihat banyak hal yang membuat saya kagum dan tersentuh, yakni teman-teman yang bergabung dalam organisasi ini sangat menghormati keberadaan Guru, bersemangat untuk belajar Dharma dari pagi hingga larut malam meskipun ada yang capek, mengantuk, dan ada yang sakit. Antara teman yang satu dengan yang lain juga saling peduli, saling mendukung, dan harmonis. Di retret ini juga, pertanyaan-pertanyaan yang selama ini saya pertanyakan, terjawab. Om Salim menjelaskan bahwa usaha apapun yang dilakukan oleh semua makhluk sepanjang hidupnya, baik yang tua-muda, kaya-miskin, dan apapun suku, agama, dan ras, intinya adalah untuk mencari kebahagiaan. Namun ada kesalahpengertian mengenai arti kebahagiaan itu sendiri. Seringkali kita mengartikan kalau kebahagiaan itu sama dengan terpenuhinya semua keinginan. Padahal terpenuhi atau tidaknya suatu keinginan, akan digantikan oleh keinginan yang lain; ini pernyataan yang benar; saya menyukainya. Dan pertanyaan apakah kita memiliki kebebasan dalam hidup ini (freewill)? Ternyata selama ini kita dipaksakan oleh karma kita untuk melihat segala sesuatu yang ada dan bereaksi secara emosional sesuai dengan kebiasaan kita yang terus berulang sejak masa tak berawal. Om juga menjelaskan tentang Empat Kenyataan Para Arya, Karma, Pratityasamutpada, Enam Alam kehidupan, Tilakkhana, dan Catur Apramana. Penjelasan Om membuat saya lebih mengerti maksud yang mau disampaikan oleh Guru Buddha kepada kita semua, lebih jelas dari apapun yang telah pernah saya baca dan dengar. Di sini saya belajar bahwa Buddhadhamma hadir dalam kehidupan sehari-hari, dekat sekali dengan kita, bisa dipraktikkan, dan tidak serumit yang saya bayangkan selama ini. Pesan Om yang sangat berkesan dan berusaha saya praktikkan adalah melakukan kebajikan yang berlandaskan welas asih dan prajna untuk memberi manfaat bagi semua makhluk, hidup dengan pikiran yang awas (mindfull), jangan takut, dan selalu lakukan yang terbaik yang kita bisa.
Demikianlah pengalaman berbagi Dharma ini, semoga ada manfaatnya. Semua potensi positif dari berbagi Dharma ini saya dedikasikan untuk:
Om Salim, agar selalu sehat, panjang umur, dan bersedia mengajar dan membimbing kami hingga dicapainya penggugahan sempurna;
Untuk teman-teman, agar kita selalu bersama, belajar, dan maju dalam Dharma hingga berakhirnya samsara.
