Jadilah yang Terbaik untuk Orang Lain
Oleh Nevie
Dihantar pada 3 Juli 2026
Kakak saya yang baik berkata, "Jadilah rangking pertama di kelas, jadilah nomor satu agar kelak masa depanmu cerah."
Saya pun patuh dan belajar dengan giat agar menjadi nomor satu. Setiap pulang sekolah, saya membuka kembali buku pelajaran, mengurangi waktu bermain dengan anak tetangga, tidak bergaul dengan teman yang prestasinya kurang, membuat rangking pertama menjadi nyata dan tertera berulang di rapor pada setiap triwulan tahun.
Rangking pertama pun mulai membawaku pada perjalanan untuk selalu menjadi nomor satu di segala aspek hidupku. Saya ingin menjadi pemenang dalam semua hal dan mengalahkan pesaing lainnya; saya selalu membanding-bandingkan dan jika ada yang melebihi diriku, saya keberatan dan tidak dapat menerima kenyataan. Hal yang sangat kecil sekalipun seperti teman melempar kelereng lebih cepat dariku, bisa menjadi beban dan membuatku murung. Saya belajar menjadi seorang pemenang namun tidak sanggup mengatasi hal-hal yang berkecamuk di hati. Singkatnya, selama bertahun-tahun, saya selalu ingin menjadi yang terhebat, penuh kesombongan, dan saya menderita.
Itu ceritaku di bangku sekolah dasar. Menginjak bangku SMP, duduk di sebelahku seorang gadis sepertiku yang penuh ambisi dan cita-cita. Bedanya, dia sangat cantik, dan untuk kesekian kalinya, kenyataan terbesar yang sungguh tidak dapat saya terima adalah orang-orang selalu memperhatikannya, bukan saya, orang-orang bertanya kepadaku tentang dia, bukan mengenaiku, orang-orang menitipkan surat dan hadiah buatnya, tetapi tidak pernah buatku. Api kecemburuan berkobar sesak memenuhi dada. Kesombongan yang mengakar telah membiasakanku melihat segala sesuatu dari kacamata perbandingan, mencari kelemahan orang lain agar merasa lebih hebat. Saya pun menjadi angkuh dan minder dalam waktu bersamaan.
Kemudian, saya mulai merasakan kekurangan dalam diriku. Ketika kepandaian tidak membawa kebahagiaan dan saya bahkan tidak punya teman, saya kehilangan motivasi belajar, prestasiku seperti pesawat yang menukik turun landas. Kemalasan datang meraih semuanya. Saya tidak melakukan apapun dan hanya menjadi seorang pemimpi. Berpikir, barangkali ada sebuah dunia sempurna menantiku di luar sana. Atau barangkali akan datang seorang pangeran untukku yang menghapus semua airmata. Dan semua film remaja yang saya tonton, sinetron, lagu, bahkan film kartun, hanyalah menjual mimpi yang sama, angan-angan yang tak berbeda. Tidak ada jalan keluar bagiku.
Rasanya ingin lari dan saya menemukan tempat pelarian. Bukan klub malam, bukan pula negeri orang, tetapi sebuah vihara. Mengapa vihara? Saya tidak tahu... Saya mulai aktif menjadi pemimpin kebaktian, menyapu lantai, membacakan cerita untuk anak-anak, mendoakan orang sakit dan meninggal, menjadi pengurus inti dan membuat program kerja organisasi. Lulus dari SMU ke bangku kuliah saya tetap aktif di Keluarga Mahasiswa Buddhis, membantu publikasi Dharma. Hampir 10 tahun saya mengumpulkan kebajikan dengan cara ini.
Usaha-usahaku mematangkan karma-karma yang akhirnya membuatku mengerti tentang sesuatu. Dalam rentang waktu yang tidak jauh, saya dinyatakan telak tidak lulus dalam ujian akhir, saya putus dengan pacar, hubungan dengan ibu memburuk, saya harus mencari kerja sambil kuliah, dan merasa miskin, keluargaku tidak harmonis, dan saya tidak mempunyai tempat yang pantas disebut 'rumah.' Saya berjuang sendiri melewati masa-masa sulit ini tanpa ada yang mengulurkan tangan untuk membantu. Dalam malam-malam yang panjang di antara mimpi dan sadar saya berdoa agar ada sebuah tempat untukku berlindung dan berteduh.
Akhirnya datang juga padaku saat dimana semua ini akhirnya membuahkan hasil. Dan seperti sebuah pepatah "Ketika murid siap, Guru akan datang." Setelah semua tragedi datang beruntun, saya dihantarkan pada sebuah retret bertepatan dengan lebaran dekat penghujung tahun.
Awal segala misteri mulai tersingkap, beban pikiran terungkap. Guru yang bajik mengajarkan bahwa ada 84 ribu hal yang mengaduk pikiran; klesha-klesha utama beserta obatnya, membabarkan jurus-jurus penangkis ketika persoalan hidup datang seperti turunnya air hujan, menguraikan realitas (keberadaan ini), dan menunjukkan jalan keluar. Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk menyadari dan menangis bahwa betapa sombongnya saya selama ini. Saya berjuang mati-matian sejak kecil hanya untuk kepentingan saya sendiri. Semua masalah datang beruntun hanya karena saya tidak pernah mau mengalah, egoku terlalu tebal untuk mengakui kesalahan sendiri. Saya tidak sanggup menerima lingkungan sekitarku apa adanya termasuk orang-orang terdekatku.
Semua kecemburuan, kemalasan, rasa minder, putus asa, apapun itu, adalah manifestasi dari egoku. Mungkinkah saya cemburu jika tidak merasa tersaingi, mungkinkah saya malas jika berpikir demi orang lain, mungkinkah saya minder (rendah diri) jika ada kerendahan hati, bisakah saya putus asa ketika semua batasan konsep tentang diri (standar yang mesti dipenuhi untuk membuktikan bahwa saya bisa dan hebat) ini dihilangkan? Ketika semua batasan hilang dari cara pandangku, saya akan sanggup melihat jalan yang tak terbatas di hadapanku dan kemungkinan yang tak terbatas di sekelilingku. Takkan pernah muncul sebuah kata ''buntu." Dan dengan sendirinya saya akan selalu berjuang tanpa lelah untuk menjadi yang terbaik agar lebih berguna bagi yang lain, bukan untuk diri sendiri. Seperti yang selalu Guru katakan "Tidak perlu menjadi nomor satu, lebih baik menjadi yang terbaik yang bisa kita lakukan sehingga kita selalu punya kepercayaan diri dalam menghadapi kehidupan."
Beberapa tahun telah berlalu dan hubunganku dengan ibu kini begitu baik, saya bisa menerima ibu saya apa adanya dan melihat kualitas baiknya yang selama ini tak pernah terlihat. Banyak hal yang berubah tanpa saya sadari dan saya merasa lebih bahagia, biarpun saat ini praktekku masih jauh dari sempurna dan masalah tetap datang seperti turunnya air hujan, saya sadar betapa beruntungnya diriku telah menemukan ajaran ini. Pada ulang tahun Guru, Om Salim, di tahun 2006, ketika ci Metta berlutut mempersembahkan kue ulang tahun dan berkata: "Om, mohon bimbinglah kami hingga samsara berakhir dan jadilah Guru kami selamanya," Om Salim pun menerimanya. Saat itu yang saya tahu hanya: di sekian milyaran dunia yang tak terhitung, di antara jumlah makhluk hidup yang tak terhingga, di dalam semua kelahiranku tanpa awal di samsara, bertemu seseorang seperti-Mu, Guru, adalah ibarat menemukan sebuah pohon permata pengabul keinginan yang paling berharga di alam semesta ini. Airmata tertumpah-ruah membasahi bajuku karena saya tahu bahwa jalan penggugahan secara pasti telah ditunjukkan padaku.
Terima kasih Guru.
Saya pun patuh dan belajar dengan giat agar menjadi nomor satu. Setiap pulang sekolah, saya membuka kembali buku pelajaran, mengurangi waktu bermain dengan anak tetangga, tidak bergaul dengan teman yang prestasinya kurang, membuat rangking pertama menjadi nyata dan tertera berulang di rapor pada setiap triwulan tahun.
Rangking pertama pun mulai membawaku pada perjalanan untuk selalu menjadi nomor satu di segala aspek hidupku. Saya ingin menjadi pemenang dalam semua hal dan mengalahkan pesaing lainnya; saya selalu membanding-bandingkan dan jika ada yang melebihi diriku, saya keberatan dan tidak dapat menerima kenyataan. Hal yang sangat kecil sekalipun seperti teman melempar kelereng lebih cepat dariku, bisa menjadi beban dan membuatku murung. Saya belajar menjadi seorang pemenang namun tidak sanggup mengatasi hal-hal yang berkecamuk di hati. Singkatnya, selama bertahun-tahun, saya selalu ingin menjadi yang terhebat, penuh kesombongan, dan saya menderita.
Itu ceritaku di bangku sekolah dasar. Menginjak bangku SMP, duduk di sebelahku seorang gadis sepertiku yang penuh ambisi dan cita-cita. Bedanya, dia sangat cantik, dan untuk kesekian kalinya, kenyataan terbesar yang sungguh tidak dapat saya terima adalah orang-orang selalu memperhatikannya, bukan saya, orang-orang bertanya kepadaku tentang dia, bukan mengenaiku, orang-orang menitipkan surat dan hadiah buatnya, tetapi tidak pernah buatku. Api kecemburuan berkobar sesak memenuhi dada. Kesombongan yang mengakar telah membiasakanku melihat segala sesuatu dari kacamata perbandingan, mencari kelemahan orang lain agar merasa lebih hebat. Saya pun menjadi angkuh dan minder dalam waktu bersamaan.
Kemudian, saya mulai merasakan kekurangan dalam diriku. Ketika kepandaian tidak membawa kebahagiaan dan saya bahkan tidak punya teman, saya kehilangan motivasi belajar, prestasiku seperti pesawat yang menukik turun landas. Kemalasan datang meraih semuanya. Saya tidak melakukan apapun dan hanya menjadi seorang pemimpi. Berpikir, barangkali ada sebuah dunia sempurna menantiku di luar sana. Atau barangkali akan datang seorang pangeran untukku yang menghapus semua airmata. Dan semua film remaja yang saya tonton, sinetron, lagu, bahkan film kartun, hanyalah menjual mimpi yang sama, angan-angan yang tak berbeda. Tidak ada jalan keluar bagiku.
Rasanya ingin lari dan saya menemukan tempat pelarian. Bukan klub malam, bukan pula negeri orang, tetapi sebuah vihara. Mengapa vihara? Saya tidak tahu... Saya mulai aktif menjadi pemimpin kebaktian, menyapu lantai, membacakan cerita untuk anak-anak, mendoakan orang sakit dan meninggal, menjadi pengurus inti dan membuat program kerja organisasi. Lulus dari SMU ke bangku kuliah saya tetap aktif di Keluarga Mahasiswa Buddhis, membantu publikasi Dharma. Hampir 10 tahun saya mengumpulkan kebajikan dengan cara ini.
Usaha-usahaku mematangkan karma-karma yang akhirnya membuatku mengerti tentang sesuatu. Dalam rentang waktu yang tidak jauh, saya dinyatakan telak tidak lulus dalam ujian akhir, saya putus dengan pacar, hubungan dengan ibu memburuk, saya harus mencari kerja sambil kuliah, dan merasa miskin, keluargaku tidak harmonis, dan saya tidak mempunyai tempat yang pantas disebut 'rumah.' Saya berjuang sendiri melewati masa-masa sulit ini tanpa ada yang mengulurkan tangan untuk membantu. Dalam malam-malam yang panjang di antara mimpi dan sadar saya berdoa agar ada sebuah tempat untukku berlindung dan berteduh.
Akhirnya datang juga padaku saat dimana semua ini akhirnya membuahkan hasil. Dan seperti sebuah pepatah "Ketika murid siap, Guru akan datang." Setelah semua tragedi datang beruntun, saya dihantarkan pada sebuah retret bertepatan dengan lebaran dekat penghujung tahun.
Awal segala misteri mulai tersingkap, beban pikiran terungkap. Guru yang bajik mengajarkan bahwa ada 84 ribu hal yang mengaduk pikiran; klesha-klesha utama beserta obatnya, membabarkan jurus-jurus penangkis ketika persoalan hidup datang seperti turunnya air hujan, menguraikan realitas (keberadaan ini), dan menunjukkan jalan keluar. Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk menyadari dan menangis bahwa betapa sombongnya saya selama ini. Saya berjuang mati-matian sejak kecil hanya untuk kepentingan saya sendiri. Semua masalah datang beruntun hanya karena saya tidak pernah mau mengalah, egoku terlalu tebal untuk mengakui kesalahan sendiri. Saya tidak sanggup menerima lingkungan sekitarku apa adanya termasuk orang-orang terdekatku.
Semua kecemburuan, kemalasan, rasa minder, putus asa, apapun itu, adalah manifestasi dari egoku. Mungkinkah saya cemburu jika tidak merasa tersaingi, mungkinkah saya malas jika berpikir demi orang lain, mungkinkah saya minder (rendah diri) jika ada kerendahan hati, bisakah saya putus asa ketika semua batasan konsep tentang diri (standar yang mesti dipenuhi untuk membuktikan bahwa saya bisa dan hebat) ini dihilangkan? Ketika semua batasan hilang dari cara pandangku, saya akan sanggup melihat jalan yang tak terbatas di hadapanku dan kemungkinan yang tak terbatas di sekelilingku. Takkan pernah muncul sebuah kata ''buntu." Dan dengan sendirinya saya akan selalu berjuang tanpa lelah untuk menjadi yang terbaik agar lebih berguna bagi yang lain, bukan untuk diri sendiri. Seperti yang selalu Guru katakan "Tidak perlu menjadi nomor satu, lebih baik menjadi yang terbaik yang bisa kita lakukan sehingga kita selalu punya kepercayaan diri dalam menghadapi kehidupan."
Beberapa tahun telah berlalu dan hubunganku dengan ibu kini begitu baik, saya bisa menerima ibu saya apa adanya dan melihat kualitas baiknya yang selama ini tak pernah terlihat. Banyak hal yang berubah tanpa saya sadari dan saya merasa lebih bahagia, biarpun saat ini praktekku masih jauh dari sempurna dan masalah tetap datang seperti turunnya air hujan, saya sadar betapa beruntungnya diriku telah menemukan ajaran ini. Pada ulang tahun Guru, Om Salim, di tahun 2006, ketika ci Metta berlutut mempersembahkan kue ulang tahun dan berkata: "Om, mohon bimbinglah kami hingga samsara berakhir dan jadilah Guru kami selamanya," Om Salim pun menerimanya. Saat itu yang saya tahu hanya: di sekian milyaran dunia yang tak terhitung, di antara jumlah makhluk hidup yang tak terhingga, di dalam semua kelahiranku tanpa awal di samsara, bertemu seseorang seperti-Mu, Guru, adalah ibarat menemukan sebuah pohon permata pengabul keinginan yang paling berharga di alam semesta ini. Airmata tertumpah-ruah membasahi bajuku karena saya tahu bahwa jalan penggugahan secara pasti telah ditunjukkan padaku.
Terima kasih Guru.
