Kasih Sayang dan Dharma - Obat yang Ampuh
Oleh A
Dihantar pada 3 Juli 2026
Beberapa tahun yang lalu adik saya menggunakan narkoba. Sejak itu sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sikapnya yang sebelumnya sangat jujur dan baik, tidak ada lagi. Uang gajinya pun tidak pernah cukup. Setiap hari minta uang dan kalau tidak diberikan dia akan marah dan terkadang merusak barang. Barang-barang sering hilang. Sejak itu hidup kami tidak pernah tenang. Selalu merasa takut dan gelisah.
Saya selalu mencari jalan bagaimana cara untuk membantunya agar dia dapat berhenti dan keluar dari lingkaran itu. Pada suatu malam saya membuka radio, saat itu acaranya adalah sharing pengalaman dari 2-3 orang mantan pemakai narkoba yang sudah tidak menggunakan narkoba lagi. Mereka pernah menjalani masa rehabilitasi (penyembuhan) di panti rehabilitasi di Bogor. Saya bersama teman pergi ke panti rehab tersebut dan berkonsultasi dengan konsultan di panti rehab (yang juga pernah menggunakan narkoba tetapi sudah berhenti dan kemudian menjadi konsultan). Mereka memberi saya beberapa buku panduan yang isinya mengenai sifat-sifat para pecandu dan program mereka dalam membantu para pecandu untuk berhenti menggunakan narkoba. Saya tertarik dengan program mereka tetapi kami harus mengantar pasiennya sendiri dan itu agak sulit untuk dilakukan. Lalu kami mencari lagi dan mendapatkan panti rehab yang bisa datang untuk menjemput ke rumah lalu dan adik saya menjalani penyembuhan di panti rehab ini.
Februari 2002, Potowa Center mengadakan kelas mengenai karma, saya memutuskan untuk ikut. Banyak sekali yang saya dapat dari ajaran ini, yang sebelumnya saya tidak tahu. Pada hari terakhir, saya memberanikan diri bertanya kepada Om Salim. Waktu itu beliau menyebut meditasi tonglen dan beberapa hal lainnya. Bagi saya kata 'tonglen' masih sangat asing, tetapi kata itu terus saya ingat.
Setelah lebih kurang dua bulan menjalani masa penyembuhan di panti rehab, adik saya minta dipulangkan. Sebenarnya orang tua dan kakak saya kuatir apakah masa penyembuhan itu sudah cukup. Saya tidak tega melihat wajahnya yang rindu dengan suasana rumah lalu kami ajak dia pulang. Sebenarnya setelah menjalani masa penyembuhan di panti rehab, tugas selanjutnya harus diteruskan oleh keluarganya. Masa yang paling penting bukanlah masa di panti rehab (masa pembersihan dari nikotin) tetapi setelah masa tersebut, yaitu bagaimana mempertahankannya. Mereka membutuhkan teman untuk berbagi. Satu hal yang juga penting, jika kita ingin dia benar-benar sembuh janganlah mencurigainya, kita perlu memberikan kepercayaan, sambil terus memantau dan berdiskusi dengannya untuk memilih aktivitas baru yang bisa dia jalani.
Janganlah kita memusuhinya, menghukum, menjauhi atau menganggapnya sebagai aib. Kalau kita jujur dan berada di posisi mereka, saya yakin pasti kita pun merasa cape dan ingin keluar dari lingkaran tersebut namun mungkin mereka tidak mampu menghadapinya sendirian, sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga. Kita belajar menukar posisi kalau kita jadi dia, apa yang dia inginkan dari kita.
Malam hari, setiap ada kesempatan saya ajak adik saya ngobrol sambil menyampaikan ajaran yang saya dapat dengan bahasa yang sederhana. Lalu dengan semangat dia bilang, dia juga membaca tentang menuai dan menabur pada bab sekian sambil memperlihatkan halaman dari alkitab yang dia pegang. Saya memberikan semangat padanya dan menambahkan penjelasan mengenai pelajaran karma yang saya dapat.
Agustus 2002, Potowa Center mengadakan retreat 3 hari. Pada waktu itu Om Salim membimbing meditasi tonglen. Setelah retreat setiap malam saya melakukan meditasi tonglen yang saya tujukan dan dedikasikan untuk adik saya. Oktober 2002, setelah pembabaran Dharma mengenai Lojong, saya menceritakan kemajuan adik saya kepada Om Salim bahwa adik saya sudah tidak batuk. Lalu Om mengingatkan bahwa kalau melakukan sesuatu jangan mengharapkan hasil tetapi lakukan dengan tulus.
Setiap ada kesempatan saya gunakan untuk berbicara dengan adik saya dan memberikan pengertian kepadanya bahwa sulit sekali mendapatkan kelahiran sebagai manusia. Saya sarankan kepada adik saya untuk mencari teman dan lingkungan baru supaya dia tidak kembali lagi ke kondisi sebelumnya. Suatu hari dia bilang dia mau ikut fitness, tubuhnya pun mulai segar kembali. Hidupnya terus berubah menjadi lebih baik, sikap peduli dan perhatiannya sudah terlihat lagi.
Kemudian, suatu hari adik saya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Teman-teman adik saya yang dikenalnya di tempat fitness sangat terpukul dan mereka bilang almarhum sangat setia kawan, peduli terhadap kesusahan teman, dan memotivasi teman lamanya untuk meninggalkan narkoba.
Dharma telah mengubah hidup saya dan orang-orang di sekitar saya. Terima kasih Om atas ajaran-ajaran, nasihat, waktu dan perhatian yang telah diberikan kepada kami semua. Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang memakai narkoba agar memiliki kondisi-kondisi yang baik dan keluarga yang mendukung. Menghentikan suatu kebiasaan memang tidak mudah. Kita juga diingatkan agar tidak memilih sesuatu karena mudah atau lebih gampang, tetapi pilihlah sesuatu karena itu bermanfaat.
Saya selalu mencari jalan bagaimana cara untuk membantunya agar dia dapat berhenti dan keluar dari lingkaran itu. Pada suatu malam saya membuka radio, saat itu acaranya adalah sharing pengalaman dari 2-3 orang mantan pemakai narkoba yang sudah tidak menggunakan narkoba lagi. Mereka pernah menjalani masa rehabilitasi (penyembuhan) di panti rehabilitasi di Bogor. Saya bersama teman pergi ke panti rehab tersebut dan berkonsultasi dengan konsultan di panti rehab (yang juga pernah menggunakan narkoba tetapi sudah berhenti dan kemudian menjadi konsultan). Mereka memberi saya beberapa buku panduan yang isinya mengenai sifat-sifat para pecandu dan program mereka dalam membantu para pecandu untuk berhenti menggunakan narkoba. Saya tertarik dengan program mereka tetapi kami harus mengantar pasiennya sendiri dan itu agak sulit untuk dilakukan. Lalu kami mencari lagi dan mendapatkan panti rehab yang bisa datang untuk menjemput ke rumah lalu dan adik saya menjalani penyembuhan di panti rehab ini.
Februari 2002, Potowa Center mengadakan kelas mengenai karma, saya memutuskan untuk ikut. Banyak sekali yang saya dapat dari ajaran ini, yang sebelumnya saya tidak tahu. Pada hari terakhir, saya memberanikan diri bertanya kepada Om Salim. Waktu itu beliau menyebut meditasi tonglen dan beberapa hal lainnya. Bagi saya kata 'tonglen' masih sangat asing, tetapi kata itu terus saya ingat.
Setelah lebih kurang dua bulan menjalani masa penyembuhan di panti rehab, adik saya minta dipulangkan. Sebenarnya orang tua dan kakak saya kuatir apakah masa penyembuhan itu sudah cukup. Saya tidak tega melihat wajahnya yang rindu dengan suasana rumah lalu kami ajak dia pulang. Sebenarnya setelah menjalani masa penyembuhan di panti rehab, tugas selanjutnya harus diteruskan oleh keluarganya. Masa yang paling penting bukanlah masa di panti rehab (masa pembersihan dari nikotin) tetapi setelah masa tersebut, yaitu bagaimana mempertahankannya. Mereka membutuhkan teman untuk berbagi. Satu hal yang juga penting, jika kita ingin dia benar-benar sembuh janganlah mencurigainya, kita perlu memberikan kepercayaan, sambil terus memantau dan berdiskusi dengannya untuk memilih aktivitas baru yang bisa dia jalani.
Janganlah kita memusuhinya, menghukum, menjauhi atau menganggapnya sebagai aib. Kalau kita jujur dan berada di posisi mereka, saya yakin pasti kita pun merasa cape dan ingin keluar dari lingkaran tersebut namun mungkin mereka tidak mampu menghadapinya sendirian, sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga. Kita belajar menukar posisi kalau kita jadi dia, apa yang dia inginkan dari kita.
Malam hari, setiap ada kesempatan saya ajak adik saya ngobrol sambil menyampaikan ajaran yang saya dapat dengan bahasa yang sederhana. Lalu dengan semangat dia bilang, dia juga membaca tentang menuai dan menabur pada bab sekian sambil memperlihatkan halaman dari alkitab yang dia pegang. Saya memberikan semangat padanya dan menambahkan penjelasan mengenai pelajaran karma yang saya dapat.
Agustus 2002, Potowa Center mengadakan retreat 3 hari. Pada waktu itu Om Salim membimbing meditasi tonglen. Setelah retreat setiap malam saya melakukan meditasi tonglen yang saya tujukan dan dedikasikan untuk adik saya. Oktober 2002, setelah pembabaran Dharma mengenai Lojong, saya menceritakan kemajuan adik saya kepada Om Salim bahwa adik saya sudah tidak batuk. Lalu Om mengingatkan bahwa kalau melakukan sesuatu jangan mengharapkan hasil tetapi lakukan dengan tulus.
Setiap ada kesempatan saya gunakan untuk berbicara dengan adik saya dan memberikan pengertian kepadanya bahwa sulit sekali mendapatkan kelahiran sebagai manusia. Saya sarankan kepada adik saya untuk mencari teman dan lingkungan baru supaya dia tidak kembali lagi ke kondisi sebelumnya. Suatu hari dia bilang dia mau ikut fitness, tubuhnya pun mulai segar kembali. Hidupnya terus berubah menjadi lebih baik, sikap peduli dan perhatiannya sudah terlihat lagi.
Kemudian, suatu hari adik saya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Teman-teman adik saya yang dikenalnya di tempat fitness sangat terpukul dan mereka bilang almarhum sangat setia kawan, peduli terhadap kesusahan teman, dan memotivasi teman lamanya untuk meninggalkan narkoba.
Dharma telah mengubah hidup saya dan orang-orang di sekitar saya. Terima kasih Om atas ajaran-ajaran, nasihat, waktu dan perhatian yang telah diberikan kepada kami semua. Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang memakai narkoba agar memiliki kondisi-kondisi yang baik dan keluarga yang mendukung. Menghentikan suatu kebiasaan memang tidak mudah. Kita juga diingatkan agar tidak memilih sesuatu karena mudah atau lebih gampang, tetapi pilihlah sesuatu karena itu bermanfaat.
