Materi Dharma
Transkripsi
Transkripsi
Biji Jeruk dan Buah Jeruk
Lalu bagaimana hubungan biji jeruk dan buah jeruk dalam kehidupan sehari-hari?
Jika kita ingin sehat, benih yang dapat kita tanam adalah merawat orang-orang yang sakit dan orang-orang tua. Kita menghargai kehidupan. Dengan begitu kita menanam benih untuk melihat diri sendiri sehat dan segar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin memahami cara kerja karma misalnya ketika kita sakit - dengan meminum obat tertentu, kadang sakit kepala bisa hilang, tetapi kadang malah menjadi sakit perut atau tambah pusing. Apakah ada obat yang selalu manjur? Tidak ada. Kalau memang obat selalu manjur, maka semua penyakit bisa dihilangkan dari dunia ini. Memang obat bisa menjadi sebab tidak langsung dari kesembuhan, tetapi ada hal utama yang menyebabkan obat itu berfungsi yaitu karma. Obat itu sendiri juga bersifat shunya (tidak mempunyai sifat hakiki dari sisinya sendiri).
Teman saya, seorang dokter di Australia mengatakan, "Kadang saya merasa ngeri ketika mendiagnosis penyakit seseorang. Orang yang sakitnya sama, hasil diagnosisnya sama - tetapi sesudah diberi obat yang sama; yang satu tidak membawa kesembuhan malah bertambah parah, sedangkan yang satunya lagi merasa segar bugar. Terus terang saya tidak mengerti. Saat menulis resep obat, kadang-kadang saya merasa untung-untungan." Hal ini benar. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun mengalami sendiri bahwa jenis obat tertentu yang cocok untuk orang lain, belum tentu cocok untuk kita.
Salah satu sila dalam Pancasila Buddhis sangat erat hubungannya dengan kesehatan, yaitu menghindari pembunuhan dan menghargai kehidupan makhluk lain. Tujuan dari sila ini bukanlah larangan tetapi bagaimana konsekuensi dari tindakan kita, yaitu jika kita membunuh maka akibatnya adalah kita sendiri tidak sehat, kita akan sakit-sakitan - meskipun kita hanya membunuh seekor nyamuk.
Ada yang bertanya pada saya mengapa saya menjalankan panti werdha? Karena yang saya inginkan - bukan hanya para orang tua yang dirawat di sana yang mendapatkan menfaat tetapi orang yang merawat pun mendapatkan manfaat. Sambil merawat para orang tua di panti werdha, mereka menanam benih untuk melihat dirinya sendiri sehat dan segar.
Jika kita ingin punya banyak uang atau 'melihat' kesempatan yang bisa mendapatkan uang banyak, yang perlu 'dimanipulasi' bukan luarnya tetapi dari dalam, yaitu karma. Kunci untuk mendapatkan uang banyak, bukan dengan membeli saham yang konservatif atau lainnya, bukan pula dengan membuka restoran atau percetakan, tetapi dengan mempunyai hati yang pemurah, yang tidak merasa kurang atau keberatan untuk memberi. Pemberian yang dilandasi dengan motivasi yang benar dan cara pandang yang benar adalah dana paramita. Contoh-contoh pemberian yang dapat kita berikan di antaranya adalah kita sama sekali tidak keberatan untuk mendengarkan bila ada teman yang ingin didengarkan walaupun kita sangat capek; kita tetap membantu bila ada yang meminta bantuan walaupun kita sangat sibuk, dan sebagainya.
Memberi tanpa keterikatan. Tidak ada tempat untuk ego. Inilah yang membuat kita kaya. Kalau begitu apakah orang-orang yang sekarang kaya, itu karena dari dulu mereka sudah menanam benih bermurah hati? Jawabannya: ya. Apakah bukan karena mereka pintar? Tidak. Mungkin ada pertanyaan, bukankah tindakan korupsi itu adalah negatif tetapi mengapa orang yang melakukan korupsi bisa mendapatkan banyak uang? Kita salah mengerti cara kerja karma. Sesungguhnya: sekarang mereka mendapatkan uang karena dulunya mereka bermurah hati; ini adalah hasil dari karma yang dulu. Karma korupsi yang mereka lakukan sekarang akan dialami di masa mendatang, mungkin di kehidupan ini atau kehidupan mendatang. Nantinya mereka akan dicuri berulang-ulang. Seandainya mereka tidak korupsi, mestinya mereka juga bisa mendapatkan uang. Mengapa? Karena jika ada karma-nya, mereka pasti akan mendapatkan uang. Ini bukan urusan takdir atau nasib. Justru karena semuanya bersifat shunya (tidak bersifat hakiki dari sisinya sendiri), kita bisa dan mempunyai kesempatan untuk mengarahkan hidup seperti yang kita inginkan.
Kita bisa selidiki hidup kita sekarang. Misalnya, jika kita tidak mempercayai orang lain, kita sering merasa orang lain ingin menipu kita, mengapa demikian? Itu karena dulunya kita sering menipu. Jika kita tidak pernah menipu, kita tidak akan mengenal konsep tipu. Bahkan jika ditipu pun kita tidak tahu. Jadi bila kita tidak tahu ditipu, apakah itu berarti kita ditipu? Jawabannya: tidak, kita tidak ditipu. Saya selalu merekomendasikan untuk menonton film Andy Lau yang berjudul 'A World without Thief'. Dalam film itu diceritakan bahwa jika kita tidak pernah mencuri, kita selalu merasa tidak akan dicuri meskipun dikelilingi oleh banyak pencuri.
Banyak orang yang bertanya, "Saya tidak pernah mencuri dalam kehidupan ini, mengapa saya dicuri?" Ini karena karma bisa matang di kehidupan ini, bisa juga matang di kehidupan yang akan datang. Seandainya cara kerja karma adalah langsung berbuah maka hasilnya akan menakjudkan atau sebaliknya mengerikan. Misalnya setiap kali kita mencuri sesuatu - ketika kita sedang menggunakan telepon kantor untuk keperluan pribadi lalu mendadak saldo rekening kita turun - kita pasti berhenti dan tidak akan melakukannya lagi. Sayangnya, cara kerja karma tidak begitu. Hal kecil-kecil yang kita lakukan, nantinya akan memberi efek yang besar. Karena itu makhluk yang sudah tergugah, Buddha, mengajarkan kita untuk menghormati kepemilikan makhluk lain. Termasuk untuk keperluan Dharma, janganlah menggunakan fotokopi kantor untuk menfotokopi teks atau Sutra.
Lalu bagaimana caranya agar kita selalu mempunyai benih-benih yang positif dan bisa tahu mana yang membawa manfaat? Kita harus selalu memikirkan apakah yang kita kerjakan itu bisa membantu yang lain atau tidak. Atau paling tidak, jangan merugikan yang lain. Dengan begitu, setiap hari kita menjadi orang yang lebih baik.
Sama halnya dengan menanam benih - jika kita tanam biji jeruk di pagi hari, tidak mungkin sore harinya langsung berbuah. Demikian juga cara kerja karma, perlu waktu dan proses bagi karma untuk matang.
Diekstrak dari bincang Dharma 'Bisnis dan Dharma - Tiga Jurus Utama' oleh Upasaka Salim Lee di Vihara Satya Dharma, 21 September 2007. Baca juga penjelasan "Arti Bisnis dan Dharma" dan "Tiga Jurus Utama Dalam Bisnis."
Baca Lebih Lanjut
- Mengapa Atiśa Tidak Memerlukan Tantra di Bodhipathakrama?
- Jaya Jaya Wijayanti (Lanjutan)
- DOA: Lebih dari Sekadar Permohonan
- Bodhipathakrama Ginelar (Gelaran Tahapan Jalan Penggugahan): Ringkasan Sistematis Ajaran Atiśa Kepada Dromtönpa
- Weruh Sadurunge Winarah, Manunggaling Kawula Gusti, dan Aroroning Atunggil






