Dua kemungkinan terbuka:
1. Keringanan
2. Kehampaan yang terasa tak bermakna.
Perbedaannya sangat jauh dan menentukan.
Jika kita berkata:
“Ah, ini hanya cerita. Tidak terlalu membawa manfaat.”
Maka kita telah bergeser — tanpa sadar — dari śūnyatā (kekosongan) ke arah sikap tidak peduli.
Padahal kekosongan dalam Buddhadharma tidak pernah berarti:
- tidak ada yang penting
- tidak ada nilai
- semuanya sia-sia
Śūnyatā berarti: tidak ada yang memiliki inti tetap dan berdiri sendiri.
Kokosongan tidak berarti: tidak berfungsi.
Pelangi hanyalah pembiasan cahaya,
Namun tetap memukau.
Peran hanyalah proses,
Namun tetap mempengaruhi kehidupan.
Cerita itu kosong dari inti tetap —
tetapi tidak kosong dari dampak.
Buddha Tidak Berhenti pada Kekosongan
caratha bhikṣavaḥ cārikāṃ bahujanahitāya bahujanasukhāya lokānukampāya
arthāya hitāya sukhāya devānāṃ manuṣyāṇām.
Mā ekena dve agamittha.
Deśayata bhikṣavaḥ dharmaṃ ādikalyāṇaṃ madhyakalyāṇaṃ antakalyāṇaṃ
sārthaṃ sabyañjanaṃ kevalaparipūrṇaṃ pariśuddhaṃ brahmacaryaṃ prakāśayata.
Artinya:
“Pergilah, para biksu, mengembaralah demi kesejahteraan banyak orang, demi kebahagiaan banyak orang, karena welas asih
terhadap dunia; demi manfaat, demi kebaikan, demi kebahagiaan para dewa dan manusia.
Janganlah dua orang pergi melalui satu jalan.
Ajarkanlah Dharma yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya; yang bermakna dan jelas
ungkapannya. Nyatakanlah kehidupan suci yang sepenuhnya lengkap dan murni.”
Perhatikan sesuatu yang sangat mendalam
Seruan ini muncul setelah penggugahan.
Setelah melihat tanpa-inti-diri.
Setelah melihat bahwa tidak ada “aku” yang solid.
Setelah memahami kekosongan identitas.
Namun Buddha tidak berkata: “Karena semuanya kosong, maka tidak ada yang perlu dilakukan.”
Beliau berkata: Pergilah.
Mengapa?
Karena melihat 'kekosongan' berarti melihat keterhubungan.
Dan melihat keterhubungan melahirkan tanggung jawab dan kepedulian.
Kekosongan Tidak Menghilangkan Makna
Jika tidak ada diri yang terpisah, maka:
- penderitaan tidak tertutup di dalam “aku” saja
- tindakan tetap memiliki akibat
- peran mungkin lentur, tetapi dampaknya nyata.
Cerita memang kosong dari inti tetap.
Namun, cerita tetap membentuk pengalaman.
Dumadi berarti proses tanpa pusat tetap,
Tetapi proses itu tetap berlangsung.
Kekosongan membebaskan kita dari beratnya 'aku'.
Bukan dari pentingnya welas asih.
Ketika identitas melembut,
tindakan tidak lagi berputar pada “aku”,
melainkan pada medan kehidupan yang sama.
Jika semuanya cerita, apakah semuanya sia-sia?
Di sinilah bodhicitta konvensional menjadi penyeimbang.
Walaupun diri itu kosong,
dukha tetap dialami.
Rasa sakit tetap menyakitkan.
Ketakutan tetap mencekam.
Kebingungan tetap melukai.
Kekosongan tidak menghapus pengalaman penderitaan.
Ia hanya menghapus ilusi pemilik tetapnya.
Karena itu welas asih tetap relevan —
bukan karena “aku harus menjadi baik”,
melainkan karena keterpisahan tidak pernah sungguh-sungguh solid.
Kematangan Pemahaman
Pemahaman awal: “Ini hanya cerita.”
Pemahaman yang matang: “Ini cerita tanpa inti tetap — dan justru karena itu dapat menjadi kendaraan welas asih.”
Kekosongan tanpa welas asih bisa menjadi dingin.
Welas asih tanpa kekosongan bisa menjadi melelahkan.
Ketika keduanya menyatu:
Tidak ada pemangku tetap.
Namun lakon tetap bermakna.
Tidak ada inti diri yang solid.
Namun penderitaan tetap memanggil.
Tidak ada pusat yang harus dipertahankan.
Namun kepedulian mengalir alami.
Mungkin Inilah Cara Menjawab Kekhawatiran Itu
Cerita memang kosong dari esensi.
Namun tidak kosong dari pengaruh.
Peran memang tidak ultima (ultimate), bukan paramarta.
Namun, bermakna selama peran berlangsung.
Dumadi tidak meniadakan tanggung jawab.
Dumadi membebaskan tanggung jawab dari ego.
Dan itulah sebabnya Sang Buddha berkata:
Pergilah.
Bukan karena dunia solid.
Tetapi karena dunia saling bergantung.
Saya ingin ajukan satu pertanyaan lembut:
Jika tidak ada diri tetap yang harus dilindungi,
apa yang menghalangi welas asih untuk bergerak bebas?
Dan jika welas asih bergerak bebas,
masihkah hidup terasa tidak bermakna?
Melihat tanpa pusat
tidak membuat kita berhenti.
Justru membuat kita bisa berjalan lebih ringan.
Caratha
Pergilah.
Bukan karena ada diri yang harus dibuktikan,
tetapi karena kehidupan terus dumadi.
Selamat pagi dan selamat berhari Jumat ...
***
Penulis: Upasaka Salim Lee, 27 Februari 2026.
Artikel terkait: “Dumadi”






